INICIAR SESIÓNSuaminya sibuk mencari nafkah di negeri orang, sementara Alina harus melewati malam-malam panjang seorang diri. Hingga suatu malam, ia bertemu Arkan, jin tampan yang menghuni rumahnya dan mengaku telah menunggunya selama bertahun-tahun. Arkan bukan sekadar penghuni gaib. Ada perjanjian lama yang mengikat keluarga suaminya, dan tanpa sepengetahuan Alina, namanya telah menjadi bagian dari janji tersebut. Semakin Alina berusaha menjauh, semakin sulit ia melepaskan diri dari sosok misterius itu!
Ver más“Mas, malam ini bisa video call? Aku kangen.”
Dua centang biru menyapa penglihatannya. Pesan itu sudah dibaca, tetapi dibiarkan mengantung tanpa balasan.
Alina melirik jam dinding kayu di ruang tengah untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.
22.17 WIB.
Ponsel di atas meja makan masih membisu. Tidak ada nada dering, tidak pula vibrasi singkat yang ia harapkan sejak tadi.
Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lelah dan kesepian yang mengendap saban hari.
Di hadapannya, dua piring makanan masih tertutup rapat oleh tudung saji.
Uap hangat dari sup ayam yang ia masak penuh ketelitian sejak sore tadi sudah lama menguap, digantikan dinginnya udara malam.
Padahal, ia sengaja memasak lebih banyak porsi malam ini, berharap Rangga akan menyapa lewat panggilan video dan menemaninya makan secara virtual.
Namun, harapan itu kembali berakhir menjadi keheningan yang tawar.
Sejak suaminya menerima penugasan di luar negeri, Alina dipaksa berteman akrab dengan sunyi.
Rangga hanya pulang dua minggu sekali, itu pun sekadar singgah dua atau tiga hari sebelum kembali terbang menembus batas negara.
Awalnya, Alina mencoba bersikap bijak. Gaji Rangga lebih dari cukup untuk menopang kehidupan mereka, bahkan terbilang sangat mewah.
Ia tinggal di rumah dua lantai yang megah, tidak perlu memusingkan pekerjaan kantor, dan bebas melakukan apa saja.
Namun, seiring berjalannya waktu, Alina sadar akan satu hal: uang tidak pernah bisa diajak berbincang ketika tengah malam tiba.
Dan layar televisi tidak akan pernah bisa mengulurkan lengan untuk memeluknya saat rasa sepi mulai menggerogoti dada.
Dengan jemari yang sedikit ragu, Alina kembali meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan, menatap baris percakapan terakhirnya dengan Rangga yang dikirim dua jam lalu.
"Hebat. Pesan dari istri sendiri kalah penting sama tumpukan berkas," gumam Alina pahit.
Ia mencoba mengetik balasan baru untuk meluapkan kekesalannya, namun jemarinya mendadak kaku.
Ia menghapus ketikan itu, mengetik kalimat lain, lalu menghapusnya lagi. Pada akhirnya, Alina memilih meletakkan benda bermerek itu kembali ke meja.
Ada rasa gengsi dan takut yang beradu di dadanya; ia tidak ingin terlihat seperti istri manja yang menuntut perhatian berlebihan dari suami yang sedang berjuang di negeri orang.
Lagipula, Mas Rangga pasti sedang sibuk, batinnya, menyuarakan alasan klasik yang selalu ia pakai untuk menghibur hatinya sendiri.
Dengan langkah pelan, Alina mulai membereskan meja makan. Makanan dingin itu ia pindahkan ke wadah, lalu membawa piring-piring kotor menuju dapur.
Namun, ketika kakinya melangkah melewati lorong remang yang menghubungkan ruang tengah dengan area belakang, langkahnya mendadak terhenti.
Tok. Tok. Tok.
Alina menoleh cepat. Jantungnya berdesir aneh.
Suara ketukan itu tidak berasal dari pintu depan, melainkan dari daun pintu di ujung lorong paling gelap.
Kamar terlarang.
Ruangan yang selalu terkunci rapat sejak pertama kali mereka menempati rumah ini delapan bulan lalu.
Alina teringat saat pertama kali menanyakan ruangan itu.
Rangga menyahut pendek, mengklaim bahwa kamar itu hanya berisi tumpukan barang bekas peninggalan keluarganya, dan ia melarang Alina memasukinya karena kuncinya sudah hilang entah ke mana. Saat itu Alina tidak menaruh curiga.
Namun malam ini, ritme ketukan itu terdengar begitu jelas dan disengaja.
Tok. Tok. Tok.
"S-siapa?" tanya Alina spontan. Suaranya terdengar bergetar di tengah lorong yang sepi.
Tidak ada balasan.
Alina memaku pandangannya pada daun pintu kayu itu selama beberapa detik. Ia meremas kain apronnya, berusaha menyerap logika sehat.
"Mungkin cuma tikus besar," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengusir rasa penasaran yang bercampur cemas.
Ia kembali mengayunkan langkah.
Namun baru dua pijakan, ketukan itu berulangkali ini menghantam pintu dengan dentuman keras!
BRAK!
"ASTAGA!"
Alina melonjak kaget. Piring-piring di tangannya hampir saja melayang dan hancur di lantai.
Beruntung refleksnya cepat, meski kini ritme jantungnya mendadak berantakan tak beraturan.
Dengan napas memburu, ia buru-buru menaruh piring-piring kotor itu di wastafel dapur, lalu menyambar gagang sapu lidi yang bersandar di samping kulkas.
Jika yang ada di dalam sana memang hama pembuat onar, ia akan mengusirnya. Jika itu seorang pencuri, setidaknya ia memiliki sesuatu untuk membela diri.
Walau logikanya menyindir tajam: sejak kapan sapu lidi bisa memenangkan duel melawan pencuri bersenjata?
Alina menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan.
"K-kalau kamu maling, aku peringatkan ya! Rumah ini dipasangi CCTV!" teriaknya mencoba berani.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada pelan dan meringis, "Walaupun aku belum belajar cara mengecek rekamannya."
Lorong itu kembali dicekam kesunyian yang menggantung.
Mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa, Alina melangkah pelan mendekati kamar tersebut.
Tiba-tiba, lampu pijar di lorong berkedip sekali sebelum meredup, membuat Alina spontan memeluk gagang sapu erat-erat di depan dadanya.
"Jangan aneh-aneh, ya. Rumah ini baru selesai renovasi," bisiknya gemetar.
Langkahnya terhenti tepat beberapa meter di depan pintu.
Dari celah di bagian bawah pintu, tampak pendar cahaya tipis berwarna kekuningan.
Alina mengerutkan dahi. Ia yakin betul kamar itu tidak berpenghuni dan tak ada lampu yang menyala di dalamnya.
Kemudian, dari balik pintu kayu tipis itu, terdengar sebuah pergerakan.
Bukan gesekan tubuh tikus. Bukan pula suara barang rubuh. Itu adalah pergeseran langkah kaki yang amat jelas.
Perlahan. Berat. Dan mantap.
Alina mendadak mundur satu langkah, bulu kuduknya berdiri tegap. "M-Mas Rangga?" panggilnya ragu.
Entah mengapa, nama suaminya yang terlintas pertama kali.
Ada secuil harapan bahwa Rangga sengaja pulangnya lebih cepat untuk memberinya kejutan, walau caranya sangat kekanak-kanakan.
Namun harapan itu sirna ketika ia mengingat suaminya berada ribuan kilometer di luar negeri.
BZZZ! BZZZ!
Ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat. Alina nyaris menjerit karena kaget. Dengan tangan yang merinding dan gemetar, ia merogoh sakunya. Nama "Mas Rangga" tertera di layar.
Alina buru-buru menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Mas!" serunya panik.
"Kenapa?" Suara Rangga di ujung telepon terdengar begitu datar dan dingin. "Kamu kenapa berteriak?"
Alina menatap pintu kamar terlarang itu tanpa berkedip. "Mas... kamu pulang? Kamu ada di kamar belakang?"
Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela
Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.