LOGINDengan satu sentakan napas Penguasa Utama, Satria memurnikan seluruh cairan magma purba di dalam tubuhnya menjadi pendar keemasan yang murni. Inti jiwa jahat Leluhur Purba hancur lebur tanpa sisa di dalam saluran aura Satria. Sisa-sisa energi murni yang telah dibersihkan itu meluncur halus dari telapak tangan Satria menuju dahi Nagendra—menghadiahkan pendar kekuatan suci yang membuat tubuh bayi mungil itu perlahan turun dan tertidur lelap kembali di dalam pelukan Liana.Keheningan kembali menguasai angkasa Benua Utara. Asap dan kabut racun di Lembah Tengkorak Hitam sirna total, tersapu oleh pendar keemasan Satria yang membumbung tinggi menembus awan.Satria merapikan kemeja gelapnya yang sedikit koyak di bagian lengan. Pendar emas di matanya berangsur-angsur meredup, kembali menjadi manik mata hitam yang tenang namun dalam.Pak Baskoro mendesah napas lega yang teramat dalam, menyunggingkan senyum bangga yang luar biasa pada menantunya. "Ancaman Trah Sangkala di Benua Utara... akhirny
"Nagendra!"Suara Liana menjerit tertahan dari balik dinding kapal udara Garuda Hitam. Di dalam kamar utama, tubuh bayi mungil itu melayang mulus beberapa jengkal di atas ranjang kayu. Pendar keemasan murni melingkupi raga kecilnya, sementara dari dahi mungil Nagendra membias pendar merah tipis—merespons berkas cahaya yang menyambung lurus dari tubuh raksasa Leluhur Purba di luar sana. Larasati yang berdiri di geladak kapal seketika melompat masuk ke lorong dalam, disusul oleh Hendra. Manik mata jernih Larasati membelalak menyaksikan fenomena misterius tersebut. Pedang perak di tangannya bergetar halus merespons lonjakan energi yang teramat sangat murni."Mbak Liana, jangan mendekat dulu!" seru Larasati seraya menahan bahu Liana. "Ini bukan serangan racun! Ini... resonansi darah!"Di atas udara Lembah Tengkorak Hitam, Satria Wisesa membeku di tempatnya.Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertempuran Penguasa Utama, gerakan telunjuk Satria terhenti di udara. Manik mata keemasannya be
"Satria, tanah di bawah kapal kita ambles!"Suara Larasati berteriak dari balik komunikator, memecah gemuruh dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan Lembah Tengkorak Hitam. Gelombang kejut dari dasar bumi merambat begitu cepat, membuat tebing-tebing batu hitam di sekeliling lembah runtuh berkeping-keping. Kapal udara Garuda Hitam yang semula melayang stabil di bawah perlindungan kubah emas Satria kini terguncang hebat akibat tarikan gravitasi liar yang menyembur dari rekahan jurang bawah tanah.Di puncak benteng yang telah hancur separuh, Satria Wisesa berdiri mematung.Mantel hitamnya berkibar di tengah gumpalan debu dan asap belerang. Manik mata keemasannya berotasi pekat, menatap lurus ke dalam jurang tanpa dasar tempat tubuh Tetua Agung Utama baru saja diseret oleh dua tangan raksasa dari besi hitam dan api purba. Pendar Netrakawaskitan di dalam mata Satria berkilau tajam—menembus kegelapan bawah tanah hingga kedalaman belasan kilometer.Di kedalaman bumi yang tak tersentuh ca
"Satria, jangan dengarkan gertakannya!"Suara Pak Baskoro bergema menembus komunikator internal. Dari geladak kapal Garuda Hitam yang melayang terombang-ambing di bawah tekanan Tirai Merah, sang Ketua Klan Himawan menatap tajam ke arah puncak benteng melalui teropong gaib. Wibawa veteran Pak Baskoro menyala hebat, namun ia tahu betul betapa kejam dan liciknya ajian terlarang Trah Sangkala.Di puncak Benteng Tengkorak Hitam, angin beracun meliuk-liuk kencang. Satria membeku di tempatnya. Jari telunjuknya yang dipenuhi pendar emas suci berhenti hanya sesenti di depan kening Tetua Agung Utama.Manik mata keemasan Satria berotasi tajam dengan pendar Netrakawaskitan tingkat puncak, menembus lurus ke dalam kristal merah yang berdetak di rongga dada musuhnya. Batin Satria bergetar hebat—penglihatannya mengonfirmasi kenyataan pahit itu.Di dalam kristal merah tersebut, mengalir utas jalinan energi yang sangat halus, membias warna hijau zamrud yang terhubung langsung secara gaib menuju boks ba
"Hendra bawa Liana dan Nagendra!" titah Baskoro lugas. "Fokuskan seluruh sisa pasokan energi cadangan kapal ke perisai bawah! Jangan biarkan aura racun dari empat pilar menembus tempat perlindungan mereka!""Siap, Pak Baskoro! Sistem pertahanan dalam sudah terkunci penuh di bawah pendar giok!" sahut Pak Hendra dari balik konsol kendali luar.Di puncak benteng tengkorak raksasa, Tetua Agung Utama tertawa melengking. Jubah merah darahnya berkibar liar ditiup angin beracun. Di samping kiri dan kanannya, lima Tetua Sangkala lainnya berdiri memegang bejana giok hitam—siap menampung darah murni jika perisai Satria berhasil diruntuhkan."Lihatlah betapa malangnya kalian!" raung Tetua Agung Utama dengan suara melengking yang memantul di dinding-dinding batu Lembah Tengkorak. "Di dalam Formasi Pembantai Empat Iblis ini, seluruh energi gaib di udara berpihak pada Trah Sangkala! Bahkan seorang Penguasa Utama yang membawa takdir Naga Murni sekali pun akan kehabisan aura dalam waktu sepuluh menit!
BOOOOOOOOOOOOMMM!Raungan Satria Wisesa meledak menghantam kegelapan, memecahkan dinding suara dan mengguncang dimensi terlarang hingga batasnya. Tubuh Satria meluncur bagai meteor emas murni, membelah angkasa dengan kecepatan yang melampaui logika. Manik mata keemasannya berotasi pekat, memancarkan pendar Netrakawaskitan tingkat puncak yang membakar habis kabut racun di sekelilingnya.CRACK-CRACK-PRANNGGG!Hanya dalam hitungan sepersekian detik, Satria telah menerobos masuk ke dalam lorong kapal Garuda Hitam yang hampir sepenuhnya terhisap ke dalam pusaran merah. Melihat Liana yang bersimbah darah dengan kulit lengan terkelupas akibat hawa racun, serta Nagendra yang dadanya memancarkan tanda naga merah menyala, hawa membunuh di dalam diri Satria meledak hingga ke tingkat yang teramat sangat mengerikan. Aura Naga Murni berwarna emas pekat bercampur pendar zamrud menyembur liar dari tubuh Satria, membentuk riak gelombang kejut yang seketika menyapu bersih seluruh hawa pembusukan







