Share

7. Semakin Dekat

Author: Silvia Dhaka
last update Last Updated: 2021-10-01 10:58:47

Rosaline menerima email yang menyatakan bahwa Adhikari diterima kerja di perusahaan kenalannya itu. Tentu saja ia merasa sangat senang. Pulang dari kantor buru-buru ia menuju ke rumah Adhikari untuk menyampaikan kabar baik ini. Namun sebelum itu, ia mampir dulu ke sebuah toko pakaian untuk membelikan hadiah untuk kekasihnya yang sebentar lagi akan mulai bekerja di tempat yang baru.

“Tante,” sapa Rosaline saat ia melihat ibu dari kekasihnya sedang menyiram tanamannya di depan rumah.

“Rose?!” seru Ruwina. Ia senang sekali melihat calon menantunya itu mengunjungi rumahnya.

“Ayo masuk,” ajak Ruwina.                     

“Adhi-nya ada, Tante?” tanya Rosaline.

“Ada di dalam.” Ruwina menggiring Rosaline memasuki rumahnya. “Kamu duduk dulu, biar Tante panggilkan Adhi dulu.” Ruwina berjalan menaiki anak tangga untuk memanggil putranya.

Tak lama kemudian Ruwina turun bersama Adhi. Ruwina masuk ke dapur, sedangkan Adhi berjalan menghampiri Rosaline.

“Hai, Rose,” sapa Adhi seraya tersenyum.

“Aku ke sini bawa berita baik buat kamu. Mulai besok kamu udah bisa kerja di tempat kerja kamu yang baru!” seru Rosaline senang.

“Oh ya?! Syukurlah ...aku juga senang dengar kabar ini,” seru Adhikari.

“Ada apa ini? Kedengarannya senang sekali?” Ruwina berjalan seraya membawa sebuah nampan berisi minuman untuk Rosaline.

“Ma, mulai besok aku pindah kerja. Aku diterima di perusahaan besar,” ucap Adhikari memberitahu Ruwina.

“Oh iya?! Wah selamat ya.” Ruwina meletakkan nampannya ke atas meja.

“Ini ada hadiah buat kamu.” Rosaline mengulurkan sebuah kotak pada Adhikari.

“Hadiah?!” seru Adhikari.     

“Heem ... bukalah,” ucap Rosaline seraya tersenyum.

Adhikari membuka kotak yang ada di tangannya. Ternyata isinya dua buah kemeja.

“Waahh ... ini bagus sekali, Nak,” puji Ruwina.

“Terima kasih, Rose,” ucap Adhikari. “Aku akan memakainya besok,” imbuh Adhikari.

“Kamu pasti akan terlihat sangat tampan, Nak. Pasti akan ada banyak perempuan yang naksir sama kamu,” ucap Ruwina.

“Mama jangan gitu dong, nanti Rose cemburu. Kalau sampai dia ngamuk gimana? Aku nggak sanggup kalau dicuekin sama dia,” ucap Adhikari.

“Iya ... iya kalian memang cocok. Cantik dan tampan. Cepat resmikan hubungan kalian,” ucap Ruwina seraya tersenyum. Ia membelai rambut Rosaline dengan penuh rasa sayang.

Rosaline tersenyum malu-malu saat mendengar ucapan Ruwina.

“Semoga hubungan kalian langgeng,” ucap Ruwina.

“Amin,” sahut Rosaline dan Adhikari bersamaan.

“Rose, mulai sekarang kamu harus sudah berlatih manggil tante dengan sebutan mama karena sebentar lagi kamu akan jadi menantu di keluarga ini. Iya kan, Adhi?!” ucap Ruwina.

“Iya, Ma,” sahut Adhikari seraya melemparkan senyumnya kepada Rosaline.

“Sama seperti Adhikari, Badrika, Laksmi dan juga Ivana, kamu juga harus manggil aku mama dan manggil papa ke Papanya Adhi,” ucap Ruwina.

“Iya, Tante. Eem ... maksudku, Mama,” ucap Rosaline.

“Ya sudah, Mama ke dalam dulu ya,” pamit Ruwina. Ia lalu berjalan meninggalkan Adhikari dan Rosaline di ruang tamu.

“Kamu udah sangat diterima di keluarga ini, Rose. Aku janji, setelah punya sedikit tabungan lagi aku akan segera melamar kamu,” ucap Adhikari.

Rosaline tak menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya karena ia malu menatap wajah kekasihnya itu.

Adhikari mengangkat dagu Rosaline agar mata mereka bisa bertemu. “Aku cinta sama kamu, Rose.” Adhi mulai mendekatkan wajahnya hingga kini permukaan bibir mereka bisa bersentuhan. Hanya bersentuhan. Setelah itu baik Rosaline maupun Adhikari saling memisahkan diri mereka.

Rosaline tersenyum malu-malu seraya membuang wajahnya ke samping. Ia tak sanggup melihat wajah Adhikari yang malah semakin membuat hatinya berdebar-debar. Sedangkan Adhikari malah senang terus menerus memandangi wajah malu-malu Rosaline.

“Buruan nikah, biar puas pandang-pandangannya,” ucap Badrika.

Rosaline dan Adhikari mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.

“Bahkan kalian bisa melakukan lebihhhh dari sekedar saling pandang memandang. Astaga ... Rose kamu kok tambah cantik ya kalau lagi senyum malu-malu gitu,” goda Ivana.

“Kak Ivan nih lama-lama tambah nyebelin deh,” dengus Adhikari.

“Jadi kapan kalian mau nikah?” desak Ivana.

“Kakak lahiran dulu baru bantu-bantu dinikahanku,” dengus Adhikari.

“Ada apa ini rame-rame? Oh ternyata ada Rose.” Panji mucul dari dalam kamarnya.

“Apa kabar, Om?” sapa Rosaline.

“Rose, tadi mama sudah bilangkan kalau mulai sekarang kamu harus manggil kita dengan sebutan mama dan Papa,” tegur Ruwina.

“Iya, Ma,” sahut Rosaline.

“Kamu makan malam di sini kan?” tanya Ruwina.

“Eemm ....” Rosaline menatap Adhikari karena bingung menjawab pertanyaan Ruwina. Setelah Adhikari mengangguk, Rosaline juga mengangukan kepalanya.

“Baiklah kalau begitu. Ivana ayo bantu mama menyiapkan meja makan,” ajak Rosaline.

“Iya, Ma.”

“Aku juga mau bantu Mama,” ucap Rosaline.

“Baiklah, ayo,” sahut Ruwina.

Mereka semua berjalan menuju ruang makan. Rosaline sangat senang karena ia sangat disambut hangat oleh keluarga Adhikari. Dalam hati Rosaline hanya berdoa semoga Adhikari adalah pelabuhan cinta pertama dan terakhirnya.

Setelah makan malam usai dan sedikit berbincang dengan keluarga Adhikari, Rosaline berpamitan pulang karena hari sudah semakin malam. Adhikari mengantarkan Rosaline sampai ke depan rumahnya, setelah itu ia masuk saat Rosaline mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.

***

“Rose, kamu pulang selarut ini?” tanya Mardina saat Rosaline.

“Iya, Ma.”

“Lembur ya?” tanya Mardina.

“Enggak, tadi aku mampir ke rumahnya Adhi pas mau pulang diajak makan malam dulu,” sahut Rosaline.

“Ohh ... ya sudah. Kamu cepetan mandi sana.”

“Iya, Ma. Aku ke atas dulu ya.” Rosaline berjalan menuju kamarnya. Sampai di kamar ia tak langsung mandi. Ia berdiri di depan cermin untuk melihat pantulan dirinya. Ia meraba bibirnya yang tadi sempat dikecup oleh Adhikari. Ini adalah ciuman pertamanya. Bukan, kecupan tadi apakah bisa disebut sebagai sebuah ciuman?

Tok tok tok.

“Kak Rose, senyum-senyum aja dari tadi. Padahal aku udah ketuk pintu berulang kali loh. Sampai nggak dengar gitu.” Ucap Jasmine yang kini berdiri di ambang pintu.

“Jasmine, kamu ngapain berdiri di situ?”

“Aku masuk ya.” Jasmine berjalan memasuki kamar kakaknya itu.

“Kakak kelihatan seneng banget,” ucap Jasmine.

“Iya. Besok Adhi udah mulai berangkat kerja ke tempat kerja yang baru.”

“Syukurlah ... kalau gitu sebentar lagi Kak Adhi pasti lamar Kak Rose dong. Secara kerjaan Kak Adhi kan udah mulai mapan.”

“Iya, Jasmine. Tadi Adhi juga udah ngomong gitu ke aku. Ya doakan saja semoga hal baik itu segera terlaksana ya,” sahut Rosaline malu-malu.

“Amin. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakakku yang tersayang ini.” Jasmine memeluk Rosaline dari arah samping.

Rosaline tersenyum. Ia sangat bersyukur karena ia dikelilingi oleh banyak orang yang menyayanginya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 6

    Adhikari dan Rosaline sudah tak sabar menantikan kelahiran buah hati mereka yang kedua. Setelah di USG diketahui saat ini Rosaline sedang mengandung bayi perempuan. Kamar dan pernak-perniknya sudah mereka persiapkan setelah usia kandungannya lebih dari tujuh bulan.Seperti yang Rosaline alami saat kehamilan pertamanya dulu, kini dikehamilannya yang kedua ia juga mengalami morning sickness yang berlebihan sampai usia kandungannya empat bulan, setelah itu ia sudah kembali normal meski terkadang ia juga merasakan pusing dan mual.Di usia kehamilan Rosaline yang ke delapan bulan ini ia senang sekali jika perutnya diusap oleh sang suami. Tentu saja Adhikari tak menolak karena ini adalah hal yang baru baginya.Dulu Adhikari tak melihat perkembangan Abrisam saat masih ada dalam kandungan Rosaline, untuk itu di kehamilan kedua istrinya ini ia tak ingin jauh-jauh dari Rosaline. bahkan setiap harinya selambat mungkin ia akan pergi ke kantor lalu saat sore hari secep

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 5

    Hari cepat sekali berlalu, tak terasa sudah empat bulan Rosaline kembali ke tanah air dan kembali menjalin hubungan dengan Adhikari. Sejak hari pertemuan Rosaline dan Adhikari kembali, rencana pernikahan sudah langsung dipersiapkan karena dari kedua belah pihak juga sudah sangat setuju dengan pernikahan Rosaline dan Adhikari terlebih sekarang sudah ada Abrisam di antara mereka.Adhikari ingin sekali cepat meresmikan hubungannya dengan Rosaline namun ia tak bisa egois karena ia tahu Rosaline pasti juga seperti wanita-wanita di luaran sana yang memimpikan menjadi seorang pengantin dan menikah secara sakral dan meriah dengan disaksikan oleh orangtua, keluarga, teman serta kerabat. Untuk itu ia harus bisa sedikit lebih bersabar dengan persiapan pernikahan yang tentunya sedikit memakan waktu.Hingga kini tibalah saat yang membahagiakan untuk semua orang terlebih untuk Adhikari dan Rosaline karena hari ini mereka telah melangsungkan pernikahan. Pesta digelar dengan begitu me

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 4

    Adhikari mengantarkan Rosaline dan Abrisam pulang ke rumah. Sebenarnya Rosaline tak mengijinkannya mengantar sampai masuk ke rumah namun Adhikari tetap ngeyel dan tetap berjalan memasuki rumah orangtua Rosaline.“Silakan masuk, Mas.” Bik Lastri mempersilakan Adhikari duduk di ruang tamu.“Rosaline, kamu baru pulang? Kamu pulang sama siapa?” Mardina keluar menghampiri Rosaline untuk bertanya pada Rosaline.Rosaline tak menjawab pertanyaan mamanya yang kedua. “Abrisam sudah tidur, Ma. Aku akan menidurkan Abrisam dulu ke kamar.” Rosaline berjalan meninggalkan mamanya menuju kamarnya.Mardina melihat ke arah ruang tamu, ia terkejut mendapati Adhikari yang sudah duduk di sofa ruang tamu.“Kamu ada di sini?” tanya Mardina.“Iya, Ma.”&n

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 3

    Adhikari mendapat pesan singkat dari Jasmine yang menyuruhnya untuk segera datang ke sebuah butik tanpa memberitahu alasannya. Hal itu tentu saja membuatnya panik sekaligus penasaran. Untuk itu ia segera menuju ke tempat yang Jasmine maksud.Adhikari memarkirkan mobilnya lalu dengan tergesa ia memasuki butik yang Jasmine maksud. Pandangannya menyusuri setiap sudut dalam butik itu untuk mencari keberadaan Jasmine tapi bukan Jasmine yang ia temukan, melainkan sesosok wanita yang begitu ia rindukan.“Rosaline,” gumam Adhikari. Harusnya ia langsung menghampiri sesosok wanita yang ia duga dan ia lihat seperti Rosaline tersebut. Tapi entah mengapa tubuhnya malah menegang kaku. Semua ini bagaikan mimpi untuknya hingga beberapa kali ia mengucek matanya dan mengedip-ngedipkan matanya.Wanita yang dilihat Adhikari masih terus fokus dengan balita yang ada di dalam gendongannya. Melihat balita itu, Adhikari semakin yakin kalau wanita yang ia lohat sekarang ini m

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 2

    Benjamin dan Mardina berjalan beriringan seraya menarik koper mereka, sedangkan Rosaline menggendong Abrisam yang tengah tertidur. Mereka mengedarkan pandangan mereka ke seluruh penjuru arah untuk mencari keberadaan Jagat dan Jasmine yang menjemput mereka di bandara.“Pa, itu Jasmine sama Jagat,” ucap Mardina memberitahu.“Iya.”Mereka semua berjalan ke arah Jagat dan Jasmine berada.“Mama, Papa!” seru Jasmine memeluk Benjamin dan Mardina bergantian.“Kak Rose, akhirnya kamu pulang juga. Aku udah kangen banget sama Kakak.” Ucap Jasmine saat ia memeluk tubuh Rosaline.“Mari kita ke mobil, Pa, Ma, Rose,” ajak Jagat setelah ia juga melepas rind

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   Ekstra Part 1

    Tak terasa sudah dua tahun Rosaline tinggal di Amerika tanpa pernah sekali pun ia menginjakkan kakinya kembali ke tanah kelahirannya. Ia sudah sangat bahagia hidup bersama dengan Abrisam, putranya, buah cintanya bersama pria yang dulu sangat dicintainya bahkan hingga sekarang.“Mamama.” Si kecil Abrisam berjalan tertatih menghampiri Rosaline yang sedang memainkan ponselnya.“Ada apa, Sayang?”“Mum ucu.” Ucap Abrisam seraya mengulurkan kedua tangannya kepada sang mama.“Mum ucu?” goda Rosaline yang tak kunjung meraih tangan putranya itu.“Mum ucuu ....” Abrisam sudah mulai merengek dan menelungkupkan tubuh gembulnya ke kaki jenjang Rosaline.Rosaline tersenyum lalu mengangkat putranya itu untuk ia dudukan di pangkuanny

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   80. Abrisam Rajendra Dimitri

    Rosaline merasa kesakitan di bagian perutnya saat baru saja ia akan tidur setelah makan malam. Rasa sakit itu terasa sangat sakit lalu tiba-tiba menghilang setelah beberapa saat. Begitu terus berulang-ulang. Dari beberapa hari yang lalu ia sudah menunggu saat-saat seperti ini setelah usia kandungannya berusia sembilan bulan.“Adduhh.” Rosaline keluar dari kamarnya menuju kamar orangtuanya.“Papa, Mama.” Rosaline mengetuk pintu kamar orangtuanya.“Ada apa, Sayang?” tanya Mardina saat ia sudah membuka pintu kamarnya.“Ma, perut aku sakit. Dari tadi mules-mules terus.” Ucap Rosaline seraya memegang perutnya. Keringat sudah membanjiri wajah dan punggungnya.“Mungkin kamu udah waktunya melahirkan, Sayang.”“Ada apa, Ma?” Tanya Benjamin yang baru saja keluar.“Sepertinya Rose mau melahirkan, Pa,” sahut Mardina.“Apa?! Kalau begitu ayo kita ke ru

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   79. Harapan Baru

    Adhikari tetap tak putus asa untuk mencari keberadaan Rosaline. Selain melamun, ia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk berkeliling kota mencari keberadaan Rosaline.Tak patah semanagtnya untuk terus bertanya kepada Jagat dan Jasmine tentang keberadaan Rosaline. Kali ini Adhikari kembali mengunjungi rumah Jasmine dan Jagat.“Jasmine, aku mohon. tolong beritahu aku di mana Rosaline berada.”“Aku nggak bisa kasih tahu, Kak. Aku udah janji sama Papa, Mama dan Kak Rose,” sahut Jasmine.“Rose?” gumam Adhikari saat mendengar nama Rosaline disebut.“Iya. Selain Papa dan Mama yang nggak ingin Kak Rose ketemu sama Kak Adhi, Kak Rose sendiri juga nggak mau ketemu sama Kak Adhi,” ucap Jasmine pada akhirnya.Selama enam bulan ini Jasmine dan Jagat terus saja bungkam tentang keberadaan Rosaline, keadaan, maupun alasan kepergian Rosaline. Selama enam bulan terakhir ini Jasmine lebih banyak menghindar dan

  • Tenggelam Cinta Masa Lalu   78. Terpuruk

    Sudah satu minggu Rosaline rawat inap di rumah sakit. Kini saatnya ia keluar dari rumah sakit.Jasmine dan Jagat membawa serta bayi mereka yang masih berumur satu minggu untuk kembali menuju rumah sakit guna mengantar kepergian Rosaline, Benjamin dan Mardina sampai ke bandara.“Gimana, udah siap semua?” tanya Jagat.“Udah.” Jagat dan Benjamin membawa koper-koper, sedangkan Mardina menggendong cucunya yang masih sangat kecil itu. Rosaline dan Jasmine berjalan beriringan keluar dari rumah sakit.Mereka menaiki dua mobil menuju ke bandara.“Jagat, kamu jaga Jasmine dan anak kalian baik-baik.” Ucap Benjamin saat ia memeluk Jagat. Saat ini merek

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status