Share

BAB 7

“Kau bagaimana? Masih hidup kan, Nin?”

Suara diseberang terdengar menjengkelkan. Rena menelpon dengan suara nyaring memekakan telinga. Sayup terdengar Wulan ikut terpingkal. Mereka tahu kalau hari ini Hanin bertemu pak tua. Keduanya sedang menunggu cerita Hanin apakah perempuan itu dimaki habis-habisan, atau naasnya terlempar dari gedung berlantai tiga itu.

“Aku selamat!” ketusnya.

Semakin nyaring tawa Rena dan Wulan.

“Kau sekarang di mana? Aku sama Wulan mau ke rumahmu. Menginap. Kau tak lupa kan orangtua Wulan sedang keluar kota dan itu artinya tuan putri ini sedang butuh teman.”

Hanin berdehem. “Setengah jam lagi aku sampai. Aku sedang di jalan. Kalau kalian sudah diperjalanan, kalian langsung masuk kamarku saja, ada Mbak Sari.”

Setelah dijawab beres oleh dua sahabatnya, Hanin melanjutkan jalan. Taxi online pesanannya sudah datang, ia akan bergegas pulang. Tadi pagi saat mendung, dari balik kaca mobil Hanin menatap tetesan hujan seolah tak bersalah telah jatuh ke bumi sepagi itu. Siang ini, dari balik jendela kaca dengan posisi yang sama, Hanin menatap cerahnya jalanan kota sebab matahari mulai mengeluarkan cahayanya. Sudah pukul sebelas lewat tiga puluh menit, komando ibadah sayup terdengar dari kejauhan. Panas se terik ini tiba-tiba Hanin meminta sopir berhenti di taman kota. Sepertinya menunggu tukang es doger keliling langganannya bersama Karsa seperti biasanya, lumayan segar. Hanin turun, mempersilakan sopir meninggalkannya. Duduk di kursi taman menikmati surai rambut hitamnya menari tertiup angin. Menggelitik wajahnya saat beberapa anak rambut menjalar ke wajah juga matanya. Astaga, damai sekali rasanya.

Kebetulan saat membuka mata setelah menikmati diamnya, tukang es doger lewat. Pesan satu rasanya sudah cukup menghilangkan haus di tenggrokannya. Seusai membayar, Hanin menikmatinya ditemani satu dua Merpati berkeliaran di undakan air mancur belakang kursi tempat Hanin duduk. Tak lama, seseorang yang Hanin kenal terlihat memandangnya dari kejauhan. Berjalan menuju kursi di mana Hanin duduk tanpa melepas tatapannya.

“Hanin! Aku takut salah orang. Padahal daritadi aku melihatmu di sini. Sedang apa?”

Masih terkejut, Hanin menormalakan raut wajahnya.

“Lagi ngadem, Din. Kau sendiri dari mana?”

Perempuan bernama Diana duduk di samping kiri Hanin. Meletakkan kresek berlogo supermarket dengan berbagai macam isi cemilan. Kalau ditelisisk perlahan, Diana sepertinya baru pulang dari kampus. Tas punggung hitamnya masih terlihat menampung beberapa buku terlihat dari kacing tas yang terbuka. Pakaiannya juga masih rapi. Levis hitam panjang, bajunya maroon dan jam tangan putih di pergelangan tangan kirinya.

“Pulang dari kampus sekalian beli cemilan. Kau tumben siang-siang ada di sini? Kerjaan lagi kosong?”

Hanin menggaruk kepalanya.

“Enggak juga sih. Baru pulang dari kantor. Pas lewat sini jadi istirahat sebentar sekalian beli ini,” Hanin menunjukkan se gelas plastik es dogernya. “Seger Din, cuma beli satu sih.”

Diana tertawa. Gadis ayu teman akrab Karsa sejak masuk bangku perkuliahan menyandarkan punggungnya. Ikut menatap arah pandang Hanin pada segerombolan siswa SMP sedang menyebrang jalan.

“Sibuk ya akhir-akhir ini? Aku suka tulisanmu, Nin. Astaga, rasanya apapun yang kau tulis sepertinya cocok semua denganku. Apalagi yang kemarin, aku senyum-senyum sendiri membacanya.”

“Yang jatuh cinta paling rumit itu dengan sahabat sendiri, iya?”

Keduanya tertawa.

“Iya enggak rumit sih sebenarnya. Tergantung kita saja memandang cinta itu bagaimana. Tapi ya susah juga apalagi yang namanya sahabat sudah tahu baik buruknya kita, lebih kurangnya kita, apa-apa dilakukan bersama. Ya rumitnya disitu, ketika jatuh cinta kita seperti buku terbuka saja di depan satu sama lain.”

“Kenapa rumit?”

“Kalau sudah pisah, akan sulit membiasakan diri dari yang apa-apa dilakukan bersama, jadi harus bisa sendiri, Din. Ya... meskipun dalam satu hubungan tidak harus apa-apa berdua, tapi yang namanya kebiasaan seperti makan bareng, jalan berdua, sering tukar pikiran, cerita sana sini, ketika sudah sendiri ya lebih terasa saja sepinya.”

“Seperti kau dengan Karsa?”

Hanin  tersedak. Setelahnya tertawa.

“Kok Karsa?”

“Ya kan kalian sahabat juga, dekat. Kemana-mana berdua.”

Hanin tertawa lebih kencang dari yang pertama.

 “Bedanya denganmu? Kau kan juga sahabatnya Karsa, Din. Bukankah kalian kenal sejak awal masuk kuliah?”

Diana tersenyum. Wajahnya tidak sesumringah pertama tadi. Gadis itu sekarang medunduk. Lebih tertarik pada sepatu bertalinya ketimbang pembahasan tentang Karsa.

“Aku suka sama dia, Nin. Salah enggak sih? Kau orang pertama yang tahu ini. Perasaanku tidak bisa ditahan lagi. Rasanya aku ingin bercerita saja kesiapapun dan beruntungnya aku berani bercerita kepadamu hari ini.”

Sepertinya mendengar teriakan anak SMP berebut menyebrang jalan dibantu petugas sekolah lebih asik dibanding pengakuan Diana siang ini. Hanin dan Diana tidak begitu akrab hanya sebatas tahu bahwa Diana sahabat Karsa, Diana satu fakultas dengan Rena dan Wulan. Selebihnya mereka hanya bertemu di organisasi itu pun Diana sudah tidak aktif lagi ketika Hanin menjabat jadi ketuanya. Sekarang rasanya aneh kalau ia harus jadi pendengar pertama perihal isi hati gadis di sampingnya ini. Apalagi menyangkut Karsa. Lelaki yang tidak bisa dibilang biasa bagi Hanin. Mereka dekat, sebatas rekan organisasi dan teman bercerita.

Saat itu, Hanin belum paham perasaan nyaman yang sering ia rasakan bersama Karsa adalah cinta. Hanin belum memahaminya.

“Aduh, aku bingung, Din.” Hanin terkekeh. “Kalau dibilang salah sih enggak, ya memang tidak pernah ada yang salah dari perasaan manusia ke manusia lainnya.”

“Anggap saja aku curhat, Nin. Barangkali bisa jadi inspirasi menulismu.”

Dua perempuan yang sedang duduk nyaman ditemani teriakan siswa SMP juga burung Merpati, tertawa. Ceritanya berlanjut.

“Lebih tepatnya kapan, aku tidak tahu kapan perasaan ini berani-beraninya menyukainya. Ya seperti katamu tadi, rumit ketika sahabat menyukai sahabatnya sendiri. Aku merasakannya sekarang. Karsa tetaplah Karsa yang seperti itu. Yang tidak pernah mau membuka pintu bagi siapapun masuk ke perasaannya. Yang tidak pernah mengijinkan perempuan manapun naik ke motornya, tapi rasanya kau pengecualian karena aku sering melihat kalian boncengan berdua,”Hanin menggaruk pelipisnya, canggung. “Karsa tetaplah lelaki tertutup yang sulit sekali diajak duduk berdua dengan tujuan yang sama, perasaan cinta misalnya.”

Udara sekitar Hanin sama sekali tidak enak. Apa cuma Hanin yang merasakan punggungnya tiba-tiba panas dingin seperti kerasukan? Cerita Diana lebih horor daripada film thriller kesukaan Rena.

“Itulah sebabnya aku terus memahaminya. Terlepas kami yang sering kumpul-kumpul bersama yang lain, sebenarnya aku sangat berharap duduk berdua hanya dengannya dan bercerita apa saja termasuk perasaan yang aku rasakan. Menurutmu aku harus bagaimana, Nin?”

Kaget Hanin ditodong pendapat mendadak seperti sekarang. Hanin masih menormalkan detak jantungnya yang ia yakin bukan perasaan cemburu tapi lebih ke perasaan aneh ketika mengulang kejadian beberapa akhir ini di mana untuk duduk berdua dengan Karsa, sudah seperti bertemu Rena dan Wulan. Sering.

“Kau yakin ingin meminta pendapat dariku, Din?”

“Yakin. Meskipun aku sudah lama mengenal Karsa, tapi aku jamin kau yang lebih memahaminya.”

Astaga. Salah rasanya Hanin singgah di taman siang ini. Ia takut salah bicara terlebih mengingat kalau Diana dan Karsa adalah teman akrab.

Hanin menarik napas panjang.

“Pernah dengar kalau cinta tidak pernah bisa dipaksa? Semau apa kita pada orang itu sedang orang itu sedang tidak mau membuka pintu bagi siapapun, untuk apa perasaan itu tetap ada? Hanya ada dua kemungkinan yang nantinya akan kau rasakan, Din. Mungkin pertama, kau akan terus terjebak pada perasaan suka yang belum tentu ada balasannya sebelum kau memilih mengubur dalam perasaan itu. Kedua, kau akan mendapat jawaban menyakitkan semisal kau berani mengutarakannya. Mungkin bisa jadi pengecualian jika orang yang kau suka sedang tidak menutup perasaannya. Sedang katamu, Karsa yang tidak pernah mau membuka pintu bagi siapapun masuk ke perasaannya, kan? Ya selebihnya terserah padamu, itu pendapatku.”

“Itulah sebabnya aku tidak pernah berani bercerita tentang perasaan ini, Nin. Aku takut bila diminta berhenti atau lebih sakitnya lagi mengubur perasaan ini.”

“Eh, itu hanya pendapatku, Din. Kalau bagimu menakutkan, ya jangan dilakukan.”

Diana sempurna mengatupkan bibirnya. Lima menit dalam diam, lima menit itu juga memunculkan berbagai pertanyaan.

“Kau menyukai Karsa, Nin?” inilah salah satu pertanyaannya.

Hanin melongo.

“Kenapa?” Hanin meminta pengulangan. Takut salah dengar atau mungkin Hanin tidak mau mendengar pertanyaan itu.

“Kau menyukai Karsa?”

Bingung mau menjawab apa. Bagi Hanin, ia dan Karsa adalah teman biasa yang tiba-tiba saja nyaman. Karsa mudah menebak isi kepalanya. Seperti Hanin sedang suntuk dengan pekerjaan, Hanin sedang ribut dengan keluarganya, Hanin sedang ingin mengeluh, Hanin sedang tidak baik-baik saja, Karsa tahu. Mungin hanya perasaan nyaman dengan seadanya.

“Aku nyaman dengan Karsa, Din. Tidak berarti nyaman bisa diartikan memiliki perasaan cinta atau suka, kan? Sepertinya aku baru menemukan sosok lelaki dewasa seperti Karsa dengan begitu mudah menebak apa saja isi kepalaku ketika sedang tidak baik-baik saja. Ya bagaimana kau menyimpulkan itu terserahmu, hanya saja sukaku dan sukamu terhadap Karsa memiliki arti yang berbeda.”

Saat itu, Hanin belum paham perasaan nyaman yang sering ia rasakan bersama Karsa adalah cinta. Hanin belum memahaminya bahkan diusianya yang sudah dua puluh tahun.

Diana tersenyum dalam diamnya. Hanin mungkin benar, perasaannya memiliki arti berbeda. Diana menyukai Karsa seperti perempuan ketika merasakan ada cinta dalam hatinya. Tentang rasa nyaman, Diana juga merasakan hal yang sama. Ia nyaman ketika berkumpul dengan teman-temannya dan ada Karsa di sana sedang bagaimana perasaan lelaki itu, Diana sama sekali tidak pernah tahu sebab keingintahuannya tertutup pintu tinggi dan terkunci dengan pemilik tunggal adalah Karsa.

Percakapan dengan Diana terus berkelindan dalam pikiran Hanin bahkan saat menaiki taxi online pesanannya menuju rumah. Hanin terus memikiran pengakuan terberani dari seorang gadis dengan raut putus asa seolah perasaan cintanya tidak pernah diamini semesta. Hanin rasanya ikut memiliki perasaan itu, putus asa dengan tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti kau ingin mewujudkan mimpimu tapi hanya bisa diam, duduk tenang sebab keadaan tidak pernah mengizinkan. Sulit. Tentang perasaan sepihak yang rasanya sulit sekali mengelak.

Waktu kemudian menarik lamunan Hanin saat sopir taxi mengatakan bila tujuannya telah sampai. Berterimakasih, Hanin membuka pintu mobil setelah membayar biaya yang sudah tertera di aplikasi handphone miliknya. Berjalan pelan sembari membuka pagar, ia lupa kalau di rumahnya sudah ada Rena dan Wulan. Keterlambatan tidak bisa ditoleransi saat melirik alroji putih di pergelangan tangan kirinya menunjukkan lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan. Rena pasti mengamuk.

“Lama! Kau pergi kemana dulu sih, Nin? Karsa lagi?”

Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua bahasan manusia-manusia sejak dari taman selalu membahas Karsa? Hanin menjawab pertanyaan Rena dengan decakan. Masuk kamar mandi tidak peduli dengan omelan Rena akibat keterlambatannya. Andai perempuan itu bisa selembut Wulan, andai Rena bisa sekalem Wulan. Tapi, kalau kedua temannya bersifat sama, lantas siapa yang akan menegurnya secara terang-terangan kalau ia salah? Rena dan Wulan punya porsi masing-masing untuk Hanin. Mereka punya caranya tersendiri ketika harus menegur ataupun memberikan pendapat tentang apa saja yang Hanin keluhkan atau tentang apa-apa yang Hanin permasalahkan.

“Aku ketemu Diana tadi,” ujar Hanin setelah selesai bersih-bersih dan berganti pakaian rumahan. Kulot selutut dan kaos putih ia kenakan bahkan rambutnya hanya terikat asal.

“Diana sekelasku?”

Hanin mengangguk. “Dia menyukai Karsa.”

“Demi apa?!”

Rena tersedak air munum yang baru ia teguk mendengar teriakan Wulan. Telinganya berdengung pun hidungnya terasa perih. Rena batuk-batuk sedang dua yang lain terpingkal tidak berbelaskasihan.

“Aku terlambat pulang karena tiba-tiba kami bertemu. Awalnya obrolan biasa sampai aku juga heran kenapa pembicaraan mengarah ke Karsa. Dia bilang menyukai Karsa. Lebih anehnya dia tanya, apa aku juga menyukai Karsa?”

“Jawabanmu?”

“Ya enggak lah! Mana mungkin Hanin mau jawab iya. Kau seperti lupa saja temanmu satu ini gengsinya setinggi apa. Aku rasa gunung pun kalah tinggi dengan gengsinya Hanin!” Jawaban Rena sempurna membuat ruangan ber-cat krem lengang.

Hanin melempar wajah Rena dengan bantal yang sedari tadi dipangkunya.

“Ya aku jawab hanya sebatas nyaman. Lagi pula aku rasa perasaanku selama ini hanya sebatas nyaman. Nyaman bukan berarti cinta atau suka kan? Kalian sudah tahu kalau sejauh ini hanya Karsa lelaki pertama yang begitu apik mengenalku. Tempat ternyaman selain kalian berdua lebih tepatnya.”

“Cih! Orang-orang tanpa kau jelaskan sudah paham, Nin, baik kau atau Karsa sama-sama memiliki rasa suka. Kalian saja yang tidak pernah mengambil kesempatan itu atau parahnya tidak pernah mau menyadari itu. Cinta juga tumbuhnya dari rasa nyaman dan jangan lupakan kalau cinta bisa datang dari kebiasaan; kebiasaan bersama misalnya.”

Rena mungkin benar. Cinta bisa datang kapan saja melalui pintu mana saja termasuk saling bersama. Hanin tidak pernah mau menyangkal perasaan nyaman ini tapi ia juga tidak bisa menjawab perasaan lain yang tumbuh dalam hatinya sekarang ini. Bukan cinta. Bukan. Takut kehilangan?

“Kau benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Karsa, Nin?” Wulan bertanya.

“Kami teman. Sejauh ini hanya itu.”

“Kenapa tidak pernah mau lebih dari teman?”

“Aku tidak pernah bilang seperti itu, Lan. Ya memang kami hanya teman. Terlepas apa yang terjadi ke depan, aku juga tidak pernah tahu akan berbuat seperti apa. Sejauh ini aku rasa lebih nyaman seperti ini. Toh apa kelebihan dari dua orang yang memutuskan berpacaran? Hanya pengakuan.”

"Iya, rasa nyaman yang lama kelamaan membahayakan.” Celetuk Rena.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status