LOGIN“Ryan, kamu yakin wajah Aku harus dibuat seperti orang yang sudah meninggal?”
Sinta Larasati menatap Ryan melalui cermin meja rias dengan ekspresi curiga. Sejak lima menit lalu, perempuan itu duduk tanpa berhenti mengomentari setiap kuas, spons, dan kosmetik yang disentuhkan Ryan ke wajahnya. Ia adalah teman sekelas Ryan yang aktif di UKM Teater, sehingga Ryan memilihnya sebagai satu-satunya gangguan buatan untuk eksperimen livestream sore nanti.
“Aku tidak bilang kamu harus terlihat seperti mayat,” jawab Ryan sambil mencampur dua warna alas bedak. “Aku cuma butuh kamu terlihat sedikit tidak wajar.”
Sinta menoleh. “Kalimat itu tidak membuat Aku lebih tenang.”
“Kalau tidak mau, tidak apa-apa.”
“Aku sudah datang jauh-jauh dan kamu sudah janji bayar seratus lima puluh ribu. Aku tidak akan pulang sebelum dibayar.”
Ryan tersenyum tipis. “Kalau begitu jangan banyak bergerak.”
Ia kembali menatap wajah Sinta.
Kemampuan Rias Pascamortem masih terasa aneh baginya. Ryan tidak pernah belajar tata rias secara serius, tetapi begitu kemampuan tersebut diaktifkan, tangannya seakan tahu apa yang harus dilakukan. Ia memahami bentuk tulang pipi, bayangan di bawah mata, warna kulit, sampai cara membuat wajah tampak kehilangan kehangatan tanpa benar-benar terlihat seperti riasan murahan.
Ryan sengaja tidak membuat Sinta menyeramkan secara berlebihan. Ia hanya mengurangi rona hangat di kulit, memperdalam bagian bawah mata, dan membuat bibirnya sedikit pucat.
Sepuluh menit kemudian, Sinta berhenti bercanda.
Ia menatap pantulannya cukup lama.
“Ini benar-benar Aku?”
“Menurut kamu?”
Sinta mendekatkan wajah ke cermin. “Cantik, sih. Tapi rasanya aneh. Seperti melihat foto seseorang yang sudah meninggal beberapa hari lalu.”
Ryan menurunkan kuas.
Deskripsi kemampuan itu ternyata bukan sekadar nama yang dibuat untuk terdengar menyeramkan.
Rias Pascamortem memang dirancang untuk mengembalikan kesan tertentu pada wajah orang mati.
“Aneh sekali,” gumam Ryan.
Sinta langsung melirik. “Apa yang aneh?”
“Tidak ada.”
Ryan segera mengalihkan perhatian ke dua kepala manekin lama yang ia ambil dari ruang jahit ibunya. Dahulu ibunya menggunakan benda itu untuk memasang kerudung dan memeriksa bentuk kain. Permukaannya sudah kusam, tetapi dengan sedikit riasan, Ryan berhasil membuat keduanya tampak jauh lebih hidup.
Sinta yang sejak tadi santai mulai merinding ketika melihat hasil akhirnya.
“Ryan, Aku serius. Kamu belajar dari mana?”
“Internet.”
“Jangan bohong.”
“Banyak video di internet.”
Sinta mendengus, tetapi tidak bertanya lagi.
Ryan lalu menjelaskan tugasnya. Sinta harus bersembunyi di kamar lama Ryan dan menunggu tanda melalui pesan. Setelah Nadira dan Faris masuk ke lorong, Sinta akan muncul secara tiba-tiba. Hanya itu gangguan yang direncanakan.
Tidak ada pintu bergerak sendiri.
Tidak ada suara misterius.
Tidak ada trik cermin.
Ryan ingin eksperimen ini tetap sederhana supaya mereka bisa membedakan kejutan buatan dengan sesuatu yang benar-benar tidak ia kendalikan.
Sinta menyilangkan tangan. “Kalau ada hantu sungguhan bagaimana?”
“Kalau tahu jawabannya, Aku tidak perlu melakukan eksperimen.”
“Itu jawaban paling tidak menenangkan yang pernah Aku dengar.”
Ryan tidak membantah.
Ia memeriksa kembali posisi kamera. Satu dipasang di ruang tengah, satu di lorong, satu di ruang jahit, dan satu mengarah ke kamar mandi. Kamera aksi yang sebelumnya digunakan saat ritual cermin juga masih berfungsi dengan baik.
Setelah semuanya siap, Ryan mencoba Senandung Tanpa Nama melalui pengeras suara kecil yang diletakkan di ruang belakang.
Audio itu baru dimainkan beberapa detik ketika Sinta menoleh tajam.
“Suara apa itu?”
Ryan melihat volume pengeras suara. Sangat rendah.
“Kenapa?”
“Seperti ada orang bersenandung dari kamar belakang.”
“Memangnya terdengar jelas?”
“Tidak. Justru karena tidak jelas rasanya lebih mengganggu.”
Ryan segera mematikan audio.
Ia semakin memahami fungsi hadiah itu. Senandung tersebut tidak memaksa seseorang merasa takut, tetapi mengubah suasana secara perlahan. Suara biasa di rumah menjadi lebih menonjol. Bayangan terlihat lebih gelap. Orang mulai memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
Kalau digunakan saat livestream, efeknya akan sangat kuat.
Namun Ryan juga tahu audio itu tidak boleh dimainkan terlalu lama.
Ia membuka akun Ryan Malam.
Video empat belas detik dari ritual cermin sudah menyebar jauh lebih cepat daripada perkiraannya. Jumlah pengikut telah melewati dua puluh ribu, sementara video tersebut terus diunggah ulang oleh akun lain.
Ada yang menuduhnya melakukan trik.
Ada yang meminta tutorial.
Ada pula yang menantangnya mengulang ritual saat live.
Ryan tidak terlalu peduli dengan komentar, tetapi angka gift dan potensi pendapatan membuatnya tidak bisa mengabaikan perkembangan akun tersebut.
Ia membuka aplikasi pembayaran kampus.
UKT: Rp7.650.000.
Batas pembayaran tinggal enam hari.
Ryan menarik napas pelan.
'Kalau channel ini benar-benar berkembang, aku bisa membayar semuanya tanpa berutang.'
Itu alasan yang cukup untuk terus mencoba.
Bel rumah berbunyi pukul 16.37.
Sinta langsung berdiri. “Itu mereka?”
“Seharusnya.”
Ryan membuka pintu.
Seorang perempuan tinggi dengan rambut hitam diikat sederhana berdiri di depan pagar. Pakaiannya kasual, tetapi cara berdirinya tenang dan tatapannya tajam. Perempuan itu tidak terlihat seperti orang yang mudah terpengaruh cerita hantu.
Di belakangnya ada seorang laki-laki yang tampak lebih muda dan terus melihat bagian dalam rumah dengan rasa penasaran bercampur ragu.
“Ryan Pradana?” tanya perempuan itu.
“Iya.”
“Aku Nadira Maheswari.”
Ia menunjuk laki-laki di belakangnya. “Ini Faris. Junior Aku.”
Faris mengangkat tangan. “Halo.”
Ryan mempersilakan mereka masuk.
Begitu melewati pintu, Faris langsung memperlambat langkah dan melihat lorong menuju kamar mandi.
“Jadi ini rumah yang ada di video?”
“Iya.”
Faris menelan ludah. “Kak Nadira, Aku mau memastikan saja. Kita benar-benar tinggal di sini sampai eksperimennya selesai?”
Nadira menatapnya. “Kamu yang memaksa ikut.”
“Aku cuma memastikan Kak Nadira tidak datang sendiri ke rumah laki-laki yang dikenal dari internet.”
Ryan menahan senyum.
Nadira tidak memedulikan komentar Faris. Ia mengeluarkan laptop kecil dari tas, lalu duduk di ruang tengah.
“Sebelum livestream, Aku ingin melihat rekaman mentahnya. Setelah itu Aku ingin memeriksa kamar mandi dan semua alat yang digunakan.”
“Silakan.”
Ryan menyerahkan kartu memori.
Ia justru ingin Nadira memeriksa semuanya seteliti mungkin.
Semakin sulit seseorang membuktikan bahwa kejadian itu palsu, semakin kuat hasil eksperimen mereka nanti.
Nadira mulai membuka rekaman.
Ryan berdiri sedikit jauh sambil mengawasi layar monitor kamera.
Awalnya tidak ada sesuatu yang aneh.
Sinta masih berada di kamar belakang.
Lorong kosong.
Ruang jahit juga kosong.
Namun beberapa detik kemudian, Ryan melihat sosok perempuan melintas di depan kamera lorong.
Ia berhenti bernapas.
Perempuan itu mengenakan pakaian pucat.
Rambutnya panjang.
Dan ia berjalan menuju kamar mandi.
Ryan langsung menoleh ke kamar tempat Sinta bersembunyi.
Pintunya masih tertutup.
Ia memeriksa ponsel.
Pesan terakhir Sinta baru masuk beberapa detik lalu.
Aku masih di kamar. Jangan lama-lama, panas.
Ryan kembali menatap monitor.
Lorong sudah kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Untuk pertama kalinya sejak Nadira datang, Ryan mulai merasa bahwa eksperimen mereka mungkin sudah dimulai sebelum livestream bahkan dinyalakan.
Kesan pertama Ryan terhadap Wahyu hanya satu: kelelahan.Laki-laki itu tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup tanpa tidur cukup. Tubuhnya kurus, pakaiannya kusut, dan kedua matanya cekung. Bahkan suaranya ketika mengucapkan terima kasih terdengar berat dan serak.“Sama-sama,” jawab Ryan sebelum mengikuti pemilik Rumah Susun Purnama menaiki tangga.Ia sempat menoleh sekali lagi. Wahyu masih memunguti selebaran Maya yang berserakan di lantai, seolah perlakuan kasar pemilik bangunan tadi tidak berarti apa-apa baginya.Lantai dua ternyata jauh lebih buruk daripada lantai pertama.Udara terasa lembap dan pengap. Jaring laba-laba menumpuk di sudut langit-langit, sementara cat pada dinding sudah mengelupas di banyak tempat. Beberapa bagian tembok juga dipenuhi bekas goresan panjang yang sekilas terlihat seperti pernah disayat menggunakan benda tajam.Ryan mengarahkan pandangan ke sepanjang lorong.Hanya dua lampu yang menyala, itu pun cahayanya redup dan sesekali berkedip.Pe
“Apa saja yang dibutuhkan kalau harus menginap semalam di tempat yang mungkin dihuni pembunuh?” Ryan berdiri di depan meja ruang tengah sambil memeriksa isi ranselnya untuk ketiga kali. Ponsel utama dan ponsel hitam sudah masuk. Dua powerbank penuh, charger, senter, baterai cadangan, korek api, kotak P3K, jas hujan tipis, dan sebuah multitool kecil menyusul setelahnya. Ia sempat ragu sebelum mengambil palu multifungsi milik ayahnya dari gudang. Ukurannya tidak terlalu besar dan biasanya digunakan untuk memasang perlengkapan fotografi, tetapi setidaknya benda itu lebih berguna daripada pergi dengan tangan kosong. Terakhir, Ryan mengambil boneka kain buatan ibunya. Lengan boneka yang robek belum sempat diperbaiki. Bekas hitam seperti terbakar juga masih terlihat di bahunya. “Kalau malam ini terjadi sesuatu lagi, aku mengandalkanmu.” Ryan memasukkan boneka itu ke tempat yang mudah dijangkau. Surat
Ryan tidak tahu apakah sosok tadi berkaitan dengan gelar Disukai Para Arwah atau berasal dari Surat Cinta Terkutuk.Yang jelas, membuang surat tersebut bukan pilihan terbaik. Jika sistem memberikan benda itu sebagai hadiah langka, kemungkinan besar benda tersebut memiliki fungsi yang belum ia pahami.Ryan mengambil kotak plastik kecil, memasukkan surat beserta pembungkusnya, lalu memasukkannya ke dalam ransel.“Aku tidak tahu kamu bisa melakukan apa, tapi malam ini jangan membuat masalah.”Tentu saja tidak ada jawaban.Setelah rasa gugupnya sedikit mereda, Ryan kembali memikirkan masalah yang jauh lebih mendesak.Rumah Susun Purnama.Kasus Percobaan hanya bisa dilakukan sekali. Jika ia melewatkan waktunya, jalur kasus tersebut akan tertutup selamanya.Lebih penting lagi, ayahnya pernah berada di sana beberapa hari sebelum menghilang.Ryan membuka laptop dan mulai mencari informasi mengenai Rumah Susun P
Jarum Roda Kesialan bergerak semakin pelan sebelum akhirnya berhenti pada satu petak berwarna merah tua.Ryan mencondongkan tubuh, menunggu tulisan di layar berubah. Entah kenapa, hanya dengan melihat warna petak tersebut, ia sudah merasa keputusan menekan tombol putar tadi mungkin bukan ide yang bagus.Beberapa detik kemudian, layar ponsel hitam berkedip.﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣﹣HASIL RODA KESIALANPutaran selesai.Hadiah diperoleh:Surat Cinta TerkutukTipe:
“Kenapa riasannya bisa membuat orang hidup terlihat seperti sudah meninggal?”Pertanyaan Nadira membuat Ryan terdiam sesaat. Sebagai mahasiswa kedokteran, perempuan itu pernah berhadapan dengan kadaver saat praktikum anatomi dan beberapa kali mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan forensik. Ryan bisa mengarang alasan kepada Sinta atau Faris, tetapi Nadira jelas akan menyadari kalau penjelasannya terlalu asal.“Teknik riasnya memang agak khusus,” jawab Ryan akhirnya. “Aku memainkan warna kulit, bayangan di sekitar mata, dan pencahayaan. Ditambah suasana rumah yang sudah membuat kalian tegang sejak awal, otak bisa menangkap wajah Sinta dengan cara berbeda.”Nadira masih memperhatikan Sinta selama beberapa detik. “Kamu belajar rias seperti ini dari internet?”“Kurang lebih.”Jawaban itu sengaja dibuat pendek. Ryan tidak mungkin mengatakan bahwa pengetahuan merias jenazah mendadak muncul di kepalanya setelah menyelesaikan ritual cermin dari ponsel peninggalan ayahnya.Nadira tampaknya m
“Yang membuat aku pingsan itu cerminnya.”Faris mengucapkan kalimat itu sambil duduk di sofa dengan wajah masih pucat. Nadira baru saja selesai memeriksa denyut nadi dan pupil matanya, sementara Sinta berdiri tidak jauh dari mereka sambil terus melirik lorong menuju kamar mandi.Ryan yang sedang memegang ponsel hitam langsung berhenti.Ucapan Faris membuatnya teringat Misi Mimpi Buruk semalam. Sosok di dalam cermin seharusnya gagal keluar karena sesuatu telah menghalanginya. Boneka kain milik ibunya juga muncul tanpa penjelasan dan salah satu lengannya ditemukan gosong.Namun kejadian beberapa menit lalu membuktikan satu hal.Makhluk itu belum pergi.Ia mungkin tidak lagi terjebak hanya di cermin kamar mandi. Selama eksperimen, sosok perempuan muncul di kamera lorong, memengaruhi Faris, bahkan membuat kamera merekam dua Faris pada waktu yang sama.Ryan menatap layar ponsel hitam.[Entitas tidak dikenal telah menemukan jalur menuju dunia pengguna.]Kalimat itu terasa jauh lebih menggan







