LOGINSetelah sepuluh tahun menikah, Maya yakin tak ada yang bisa memisahkannya dari Bima. Hingga mereka pindah ke rumah baru yang harganya terlalu murah untuk diabaikan. Sejak itu, Bima mulai memanggil nama perempuan lain dalam tidurnya. Wangi melati memenuhi kamar, rambut hitam panjang muncul di bantal, dan tatapan suaminya perlahan berubah asing. Suatu malam, Bima membuka mata dan berkata, “Kamu bukan dia.” Maya mengira ada perempuan lain yang mengusik rumah tangganya. Namun, kebenaran yang menunggunya jauh lebih mengerikan. Sesosok kuntilanak telah hadir di antara mereka, merebut perhatian Bima sedikit demi sedikit. Siapakah Laras, dan mengapa makhluk itu menginginkan suaminya?
View MoreMaya terbangun karena dingin.
Bukan dingin AC. Ia tahu betul bedanya. AC kamar ini sudah ia matikan sebelum tidur, karena Bima bilang udara rumah baru ini sudah cukup sejuk. Ini dingin yang lain. Dingin yang merayap pelan dari ujung kaki, naik ke betis, lalu berhenti tepat di tengkuknya.
Ia membuka mata.
Gelap. Hanya ada cahaya merah dari jam digital di atas nakas.
02.13.
Maya mengerang pelan dan menarik selimut sampai dagu. Besok ada rapat dengan klien jam sembilan. Presentasinya belum selesai. Anak-anak harus berangkat sekolah jam tujuh. Ia butuh tidur, bukan terbangun tengah malam hanya karena dingin yang tidak jelas asalnya.
Ia memejamkan mata lagi.
Lalu ia mendengarnya.
"...Laras."
Mata Maya terbuka lagi.
Suara itu berasal dari sebelahnya. Dari Bima.
Ia menoleh perlahan. Suaminya berbaring miring menghadapnya, dengan mata terpejam dan napas yang teratur. Wajahnya tampak tenang dalam remang cahaya jam. Terlalu tenang. Bibirnya melengkung, tersenyum tipis, seperti orang yang sedang bermimpi sangat indah.
Maya menahan napas.
Mungkin aku salah dengar.
"Laras..." bisik Bima lagi.
Ia tidak salah dengar.
Itu bukan sekadar menyebut nama. Maya sudah sepuluh tahun tidur di samping lelaki ini. Ia hafal cara Bima mengigau. Biasanya hanya gumaman tidak jelas, kadang soal kerjaan, kadang soal bola. Sekali pernah Bima berteriak "Gol!" di tengah malam sampai Maya tertawa sendiri sampai pagi.
Tapi ini lain.
Cara Bima mengucapkan nama itu lain. Lembut. Menggantung. Seperti seseorang yang memanggil sesuatu yang sangat ia rindukan, dan takut kalau suaranya terlalu keras, orang itu akan pergi.
Maya mengenal nada itu.
Dulu, di awal pernikahan mereka, begitulah Bima memanggil namanya.
Maya... Sayang...
Dada Maya mengencang.
Siapa Laras?
Ia mencoba mengingat. Rekan kerja? Klien? Teman lama? Ia mencari-cari di dalam kepalanya, di antara nama-nama yang pernah Bima sebut di meja makan. Tidak ada satu pun yang bernama Laras.
"Mas." Ia menyentuh bahu suaminya. "Mas Bima."
Tidak ada reaksi.
"Mas."
Tangan Bima bergerak. Bukan ke arahnya. Lelaki itu mengulurkan lengan ke udara kosong di sisi lain tubuhnya, di ruang yang tidak ditempati siapa pun. Jemarinya membuka, lalu menutup pelan, seolah menggenggam tangan seseorang.
"Jangan pergi," gumamnya. "Di sini aja... temani aku."
Seluruh bulu kuduk Maya berdiri.
Ia bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Jantungnya berdegup keras sampai terasa di telinga. Ia berkata pada dirinya sendiri: tenang, Maya. Itu cuma mimpi. Semua orang bermimpi.
Tapi mimpi tentang siapa, yang membuatnya tersenyum seperti itu?
Maya menatap suaminya. Lelaki yang tiga minggu lalu masih memeluknya sambil bercanda di depan rumah baru mereka. Rumah dengan halaman luas, plafon tinggi, dan tangga kayu yang melingkar di tengah ruangan. Rumah yang harganya hampir separuh dari harga pasaran.
"Ini rezeki, Sayang," kata Bima waktu itu, matanya berbinar. "Rumah sebesar ini, segini harganya. Anak-anak bisa lari-larian. Kita nggak perlu ngontrak lagi."
Maya ikut senang. Mereka berdua bekerja keras bertahun-tahun untuk ini. Maya menjabat manajer di perusahaan konsultan, Bima di perusahaan distribusi. Mereka berangkat pagi dan pulang malam, mempercayakan Kinan dan Arka pada Siska dan Mbak Darmi. Hidup mereka sibuk, tapi hangat. Mereka jarang bertengkar. Mereka masih saling menggenggam tangan di bioskop.
Lalu mereka pindah.
Dan sejak itu, semuanya terasa sedikit... bergeser.
Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Mungkin Bima kelelahan. Mungkin pekerjaan sedang menumpuk. Mungkin mimpi itu hanya potongan film yang ia tonton.
Ia memutuskan untuk berbaring lagi.
Saat itulah ia mencium baunya.
Melati.
Wangi bunga melati. Manis, pekat, dan dingin. Baunya begitu dekat, seolah ada seseorang yang baru saja lewat di sampingnya dengan rambut yang masih basah oleh air bunga.
Maya mengernyit.
Mereka tidak punya melati. Tidak ada pewangi ruangan beraroma melati. Parfum Maya wangi buah. Parfum Bima kayu dan sedikit rempah. Halaman rumah ini bahkan belum mereka tanami apa-apa, baru rumput liar dan tanah kosong.
Ia menoleh ke jendela. Tirai tidak bergerak. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci.
Tapi wanginya semakin kuat.
Pelan-pelan ia meraih lampu nakas dan menyalakannya. Cahaya kuning hangat memenuhi kamar. Bayangan-bayangan yang tadi tampak mengintai kini kembali menjadi lemari, kursi rias, dan tumpukan kardus yang belum sempat mereka bongkar.
Normal. Semuanya normal.
Ia menunduk, hendak menarik selimut Bima yang melorot, dan menemukannya.
Di bantal. Tepat di samping kepala suaminya.
Sehelai rambut.
Hitam. Lurus. Panjang sekali.
Maya mengambilnya dengan ujung jari dan mengangkatnya ke bawah cahaya lampu. Panjangnya hampir satu setengah jengkal tangannya. Mungkin lebih. Licin, berkilau, dan sedikit lembap.
Ia menyentuh rambutnya sendiri. Pendek sebahu. Ia mewarnainya cokelat gelap sebulan lalu.
Bukan miliknya.
Pikirannya langsung menyusun daftar. Kinan? Rambutnya hanya sepundak dan selalu dikepang. Arka masih berambut tipis seperti anak laki-laki umur empat tahun. Siska mengikat rambutnya pendek-pendek. Mbak Darmi berkerudung.
Lalu rambut siapa ini?
Dan kenapa ada di bantal suaminya?
"Mas." Suara Maya bergetar, lebih keras dari yang ia inginkan. "Mas Bima!"
Kali ini Bima bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan.
Maya menunggu. Menunggu suaminya mengerjap, menguap, bertanya ada apa, Sayang? dengan suara serak yang ia hafal. Menunggu semuanya kembali normal.
Tapi Bima hanya menatapnya.
Dan tatapannya salah.
Mata Bima terbuka lebar, tapi seperti tidak melihat Maya. Ia menatap ke arahnya seakan sedang mencari seseorang di balik wajahnya. Keningnya berkerut. Sorot matanya berubah. Dari lembut menjadi bingung, lalu kecewa.
Seperti orang yang memanggil kekasihnya, lalu mendapati yang berdiri di depannya adalah orang asing.
"Mas?" bisik Maya.
Bibir Bima bergerak.
"Kamu bukan dia."
Suaranya datar. Pelan. Tanpa emosi sama sekali.
Lalu matanya kembali menutup. Kepalanya terkulai ke bantal. Napasnya kembali teratur, seolah tidak ada yang terjadi.
Maya membeku.
Beberapa detik. Mungkin semenit. Ia tidak tahu. Lampu nakas masih menyala, rambut panjang itu masih terjepit di antara jemarinya, dan wangi melati itu masih melayang pelan di udara kamar mereka.
Kamu bukan dia.
Tiga kata. Dari mulut suaminya sendiri. Di ranjang mereka sendiri.
Mata Maya panas. Ia mengerjap cepat, berusaha menahan sesuatu yang mulai menggenang. Ia bukan perempuan cengeng. Ia tidak mudah menangis. Tapi malam ini, di rumah yang baru mereka tinggali tiga minggu, di samping lelaki yang sepuluh tahun ia pikir ia kenal luar dalam, Maya merasa asing di kamarnya sendiri.
Ia menatap rambut itu sekali lagi.
Lalu ia merasakannya.
Hangat.
Rambut itu hangat. Bukan hangat karena tersentuh kulitnya. Hangat seperti baru saja terlepas dari kepala seseorang yang masih hidup.
Maya menjatuhkannya ke lantai dengan tangan gemetar.
Di luar kamar, di bawah, jauh di lantai satu, ia mendengar sesuatu. Bunyi pelan, nyaris seperti desahan. Seperti pintu yang pelan-pelan terbuka.
Pintu kamar tamu.
Ia menoleh ke jam digital.
02.13.
Angkanya tidak berubah.
Padahal sudah lama sekali Maya duduk di sini.
Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang
Suamiku Direbut KuntilanakBab 8: Gambar di Jendela(POV 3 terbatas: Kinan)Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh e
Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha
Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.