Suamiku Digoda Kuntilanak

Suamiku Digoda Kuntilanak

last updateLast Updated : 2026-10-15
By:  Lana SmrtiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah sepuluh tahun menikah, Maya yakin tak ada yang bisa memisahkannya dari Bima. Hingga mereka pindah ke rumah baru yang harganya terlalu murah untuk diabaikan. Sejak itu, Bima mulai memanggil nama perempuan lain dalam tidurnya. Wangi melati memenuhi kamar, rambut hitam panjang muncul di bantal, dan tatapan suaminya perlahan berubah asing. Suatu malam, Bima membuka mata dan berkata, “Kamu bukan dia.” Maya mengira ada perempuan lain yang mengusik rumah tangganya. Namun, kebenaran yang menunggunya jauh lebih mengerikan. Sesosok kuntilanak telah hadir di antara mereka, merebut perhatian Bima sedikit demi sedikit. Siapakah Laras, dan mengapa makhluk itu menginginkan suaminya?

View More

Chapter 1

Nama yang Bukan Namaku

Maya terbangun karena dingin.

Bukan dingin AC. Ia tahu betul bedanya. AC kamar ini sudah ia matikan sebelum tidur, karena Bima bilang udara rumah baru ini sudah cukup sejuk. Ini dingin yang lain. Dingin yang merayap pelan dari ujung kaki, naik ke betis, lalu berhenti tepat di tengkuknya.

Ia membuka mata.

Gelap. Hanya ada cahaya merah dari jam digital di atas nakas.

02.13.

Maya mengerang pelan dan menarik selimut sampai dagu. Besok ada rapat dengan klien jam sembilan. Presentasinya belum selesai. Anak-anak harus berangkat sekolah jam tujuh. Ia butuh tidur, bukan terbangun tengah malam hanya karena dingin yang tidak jelas asalnya.

Ia memejamkan mata lagi.

Lalu ia mendengarnya.

"...Laras."

Mata Maya terbuka lagi.

Suara itu berasal dari sebelahnya. Dari Bima.

Ia menoleh perlahan. Suaminya berbaring miring menghadapnya, dengan mata terpejam dan napas yang teratur. Wajahnya tampak tenang dalam remang cahaya jam. Terlalu tenang. Bibirnya melengkung, tersenyum tipis, seperti orang yang sedang bermimpi sangat indah.

Maya menahan napas.

Mungkin aku salah dengar.

"Laras..." bisik Bima lagi.

Ia tidak salah dengar.

Itu bukan sekadar menyebut nama. Maya sudah sepuluh tahun tidur di samping lelaki ini. Ia hafal cara Bima mengigau. Biasanya hanya gumaman tidak jelas, kadang soal kerjaan, kadang soal bola. Sekali pernah Bima berteriak "Gol!" di tengah malam sampai Maya tertawa sendiri sampai pagi.

Tapi ini lain.

Cara Bima mengucapkan nama itu lain. Lembut. Menggantung. Seperti seseorang yang memanggil sesuatu yang sangat ia rindukan, dan takut kalau suaranya terlalu keras, orang itu akan pergi.

Maya mengenal nada itu.

Dulu, di awal pernikahan mereka, begitulah Bima memanggil namanya.

Maya... Sayang...

Dada Maya mengencang.

Siapa Laras?

Ia mencoba mengingat. Rekan kerja? Klien? Teman lama? Ia mencari-cari di dalam kepalanya, di antara nama-nama yang pernah Bima sebut di meja makan. Tidak ada satu pun yang bernama Laras.

"Mas." Ia menyentuh bahu suaminya. "Mas Bima."

Tidak ada reaksi.

"Mas."

Tangan Bima bergerak. Bukan ke arahnya. Lelaki itu mengulurkan lengan ke udara kosong di sisi lain tubuhnya, di ruang yang tidak ditempati siapa pun. Jemarinya membuka, lalu menutup pelan, seolah menggenggam tangan seseorang.

"Jangan pergi," gumamnya. "Di sini aja... temani aku."

Seluruh bulu kuduk Maya berdiri.

Ia bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Jantungnya berdegup keras sampai terasa di telinga. Ia berkata pada dirinya sendiri: tenang, Maya. Itu cuma mimpi. Semua orang bermimpi.

Tapi mimpi tentang siapa, yang membuatnya tersenyum seperti itu?

Maya menatap suaminya. Lelaki yang tiga minggu lalu masih memeluknya sambil bercanda di depan rumah baru mereka. Rumah dengan halaman luas, plafon tinggi, dan tangga kayu yang melingkar di tengah ruangan. Rumah yang harganya hampir separuh dari harga pasaran.

"Ini rezeki, Sayang," kata Bima waktu itu, matanya berbinar. "Rumah sebesar ini, segini harganya. Anak-anak bisa lari-larian. Kita nggak perlu ngontrak lagi."

Maya ikut senang. Mereka berdua bekerja keras bertahun-tahun untuk ini. Maya menjabat manajer di perusahaan konsultan, Bima di perusahaan distribusi. Mereka berangkat pagi dan pulang malam, mempercayakan Kinan dan Arka pada Siska dan Mbak Darmi. Hidup mereka sibuk, tapi hangat. Mereka jarang bertengkar. Mereka masih saling menggenggam tangan di bioskop.

Lalu mereka pindah.

Dan sejak itu, semuanya terasa sedikit... bergeser.

Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Mungkin Bima kelelahan. Mungkin pekerjaan sedang menumpuk. Mungkin mimpi itu hanya potongan film yang ia tonton.

Ia memutuskan untuk berbaring lagi.

Saat itulah ia mencium baunya.

Melati.

Wangi bunga melati. Manis, pekat, dan dingin. Baunya begitu dekat, seolah ada seseorang yang baru saja lewat di sampingnya dengan rambut yang masih basah oleh air bunga.

Maya mengernyit.

Mereka tidak punya melati. Tidak ada pewangi ruangan beraroma melati. Parfum Maya wangi buah. Parfum Bima kayu dan sedikit rempah. Halaman rumah ini bahkan belum mereka tanami apa-apa, baru rumput liar dan tanah kosong.

Ia menoleh ke jendela. Tirai tidak bergerak. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci.

Tapi wanginya semakin kuat.

Pelan-pelan ia meraih lampu nakas dan menyalakannya. Cahaya kuning hangat memenuhi kamar. Bayangan-bayangan yang tadi tampak mengintai kini kembali menjadi lemari, kursi rias, dan tumpukan kardus yang belum sempat mereka bongkar.

Normal. Semuanya normal.

Ia menunduk, hendak menarik selimut Bima yang melorot, dan menemukannya.

Di bantal. Tepat di samping kepala suaminya.

Sehelai rambut.

Hitam. Lurus. Panjang sekali.

Maya mengambilnya dengan ujung jari dan mengangkatnya ke bawah cahaya lampu. Panjangnya hampir satu setengah jengkal tangannya. Mungkin lebih. Licin, berkilau, dan sedikit lembap.

Ia menyentuh rambutnya sendiri. Pendek sebahu. Ia mewarnainya cokelat gelap sebulan lalu.

Bukan miliknya.

Pikirannya langsung menyusun daftar. Kinan? Rambutnya hanya sepundak dan selalu dikepang. Arka masih berambut tipis seperti anak laki-laki umur empat tahun. Siska mengikat rambutnya pendek-pendek. Mbak Darmi berkerudung.

Lalu rambut siapa ini?

Dan kenapa ada di bantal suaminya?

"Mas." Suara Maya bergetar, lebih keras dari yang ia inginkan. "Mas Bima!"

Kali ini Bima bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan.

Maya menunggu. Menunggu suaminya mengerjap, menguap, bertanya ada apa, Sayang? dengan suara serak yang ia hafal. Menunggu semuanya kembali normal.

Tapi Bima hanya menatapnya.

Dan tatapannya salah.

Mata Bima terbuka lebar, tapi seperti tidak melihat Maya. Ia menatap ke arahnya seakan sedang mencari seseorang di balik wajahnya. Keningnya berkerut. Sorot matanya berubah. Dari lembut menjadi bingung, lalu kecewa.

Seperti orang yang memanggil kekasihnya, lalu mendapati yang berdiri di depannya adalah orang asing.

"Mas?" bisik Maya.

Bibir Bima bergerak.

"Kamu bukan dia."

Suaranya datar. Pelan. Tanpa emosi sama sekali.

Lalu matanya kembali menutup. Kepalanya terkulai ke bantal. Napasnya kembali teratur, seolah tidak ada yang terjadi.

Maya membeku.

Beberapa detik. Mungkin semenit. Ia tidak tahu. Lampu nakas masih menyala, rambut panjang itu masih terjepit di antara jemarinya, dan wangi melati itu masih melayang pelan di udara kamar mereka.

Kamu bukan dia.

Tiga kata. Dari mulut suaminya sendiri. Di ranjang mereka sendiri.

Mata Maya panas. Ia mengerjap cepat, berusaha menahan sesuatu yang mulai menggenang. Ia bukan perempuan cengeng. Ia tidak mudah menangis. Tapi malam ini, di rumah yang baru mereka tinggali tiga minggu, di samping lelaki yang sepuluh tahun ia pikir ia kenal luar dalam, Maya merasa asing di kamarnya sendiri.

Ia menatap rambut itu sekali lagi.

Lalu ia merasakannya.

Hangat.

Rambut itu hangat. Bukan hangat karena tersentuh kulitnya. Hangat seperti baru saja terlepas dari kepala seseorang yang masih hidup.

Maya menjatuhkannya ke lantai dengan tangan gemetar.

Di luar kamar, di bawah, jauh di lantai satu, ia mendengar sesuatu. Bunyi pelan, nyaris seperti desahan. Seperti pintu yang pelan-pelan terbuka.

Pintu kamar tamu.

Ia menoleh ke jam digital.

02.13.

Angkanya tidak berubah.

Padahal sudah lama sekali Maya duduk di sini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status