Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Ada Apa Di bawah Mejamu?

Share

Ada Apa Di bawah Mejamu?

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-09-24 20:39:49

Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat.

​"Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.

​Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tida
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Tamparan

    Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.​Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam.​"Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"​Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."​Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Gila Mas!

    Fira melangkah makin mendekat ke meja kerja Alya dengan dahi berkerut curiga. Pandangannya mengarah tepat ke sela-sela bawah meja yang tertutup rapat oleh panel kayu depan.​"Mbak Alya beneran enggak apa-apa? Suaranya aneh banget, kayak ada orang di bawah..." ujar Fira seraya membungkukkan tubuhnya, hendak mengintip ke kolong meja.​Jantung Alya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di bawah sana, Dewa sengaja menghentikan pergerakan jarinya, namun pria itu justru sengaja mengecup pangkal paha dalam Alya, membuat tubuh Alya gemetar hebat menahan sensasi yang membakar.​Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membumbung tinggi, Alya sengaja menyenggol tumpukan berkas dan wadah pulpen di tepi mejanya hingga jatuh berserakan ke lantai.​Berbagai alat tulis dan kertas bertebaran tepat di depan kaki Fira, menghentikan niat gadis itu untuk mengintip.​"Aduh! Maaf, Fira... tanganku lemas banget, pusing," potong Alya cepat dengan suara bergetar.

  • Terapi Gila Atasanku   Ada Apa Di bawah Mejamu?

    Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat.​"Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.​Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tidak cair, karyawan bakal mogok dan terus menuntut perusahaan. Kantor bisa hancur, Pak!"​"Tolong beri saya waktu," bisik Rehan pasrah sebelum menutup telepon. Kepala Rehan serasa mau pecah.​Dalam kondisi bingung setengah mati, ia mulai menghubungi satu per satu kolega bisnisnya untuk meminjam uang. Namun, respons yang diterimanya sungguh menyakitkan. Sebagian besar menolak secara halus, sementara beberapa yang bersedia meminjamkan hanya mampu memberi angka kecil yang jauh dari kata cukup.​Sebaga

  • Terapi Gila Atasanku   Sesal Tak Ada Arti

    Rehan berlari keluar kamar dengan napas memburu, langkah kakinya bergelut deras menyusuri lorong rumah hingga menemukan mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.​"Ma! Apa Mama yang mengambil semua cek dan tabungan tunai di brankas Rehan?!" tanya Rehan histeris, matanya membelalak penuh kecemasan.​Sang Mama terperanjat kaget mendengarnya. "Enggak! Mama enggak pernah menyentuh brankas kamu! Lagian, ngapain Mama masuk-masuk ke kamar kamu tanpa izin, Rehan?!"​Rehan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jika bukan mamanya, maka tidak ada orang lain lagi di rumah ini yang tahu kode brankas tersebut selain satu orang.​Sinta.​Dengan dada bergemuruh menahan amarah yang membakar, Rehan merogoh saku, mencengkeram ponselnya, dan langsung mendial nomor istrinya.​"Sinta! Kamu kan yang menguras habis semua uang dan cek di brankas aku?!" cercar Rehan tanpa basa-basi begitu suara di ujung telepon menyapa.​"Apaan sih, Mas? menelpon langsung tuduh!" sangkal Sinta santai dari balik telepon.​"Jangan boh

  • Terapi Gila Atasanku   Keguguran

    Rehan yang panik seketika menggendong Shinta dan melarikan wanita itu ke rumah sakit. Namun, setibanya di sana dan dilakukan pemeriksaan intensif, dokter menyampaikan kabar duka: Shinta mengalami keguguran dan janin di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.​Mendengar hal itu, histeris Shinta seketika pecah di ruang perawatan. Ia menunjuk wajah Rehan dengan mata memerah dan penuh amarah.​"Ini semua gara-gara kamu, Mas! Kalau kamu enggak dorong aku tadi, anak kita enggak akan mati! Kamu pembunuh!" teriak Shinta penuh emosi.​Rehan yang panik dan enggan disalahkan sepenuhnya langsung berkilah membela diri. "Aku dorong kamu cuma pelan, Sin! Dorongan pelan kayak gitu enggak mungkin sampai bikin kamu keguguran! Jangan melimpahkan semua kesalahan ke aku!"​Melihat perdebatan panas yang makin tak terkendali, dokter melangkah maju untuk menenangkan situasi.​"Harap tenang Bapak, Ibu," potong dokter tegas. "Perlu saya jelaskan, kondisi keguguran ini bukan semata-mata karena dorongan terse

  • Terapi Gila Atasanku   Ah Perutku...

    Rehan pulang ke rumah malam itu dengan kepala yang serasa mau pecah. Tanpa menunda waktu, ia langsung menghubungi seluruh pihak terkait dan petinggi perusahaannya. Ia memerintahkan agar proyek bersama Dewa segera diaktifkan kembali. Semua dana cadangan yang tersisa ia kucurkan habis-habisan demi menyelamatkan proyek tersebut.​"Pak, kalau semua dana dicurahkan ke sini, arus kas perusahaan kita akan macet total. Kita bahkan bakal kesulitan membayar gaji karyawan bulan depan," peringat salah satu petinggi perusahaan melalui telepon.​"Tenang saja, aku masih punya dana darurat. Yang penting proyek ini jalan dulu!" tegas Rehan nekat.​Ketika Rehan menyudahi rapat daringnya, Shinta rupanya masih belum tidur. Wanita itu menghampirinya tanpa rasa bersalah, lalu meminta sejumlah uang.​"Mas, aku minta uang dong buat belanja. Aku sudah lama enggak belanja, bosan di rumah terus. Aku juga ingin pergi liburan," ujar Shinta santai.​Rehan menatap Shinta dengan rahang mengeras. Di saat kepalanya ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status