Teilen

Sesal Tak Ada Arti

last update Veröffentlichungsdatum: 23.09.2026 21:01:21

Rehan berlari keluar kamar dengan napas memburu, langkah kakinya bergelut deras menyusuri lorong rumah hingga menemukan mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.

​"Ma! Apa Mama yang mengambil semua cek dan tabungan tunai di brankas Rehan?!" tanya Rehan histeris, matanya membelalak penuh kecemasan.

​Sang Mama terperanjat kaget mendengarnya. "Enggak! Mama enggak pernah menyentuh brankas kamu! Lagian, ngapain Mama masuk-masuk ke kamar kamu tanpa izin, Rehan?!"

​Rehan mengepalkan tangannya kuat-kuat
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Terapi Gila Atasanku   Sesal Tak Ada Arti

    Rehan berlari keluar kamar dengan napas memburu, langkah kakinya bergelut deras menyusuri lorong rumah hingga menemukan mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.​"Ma! Apa Mama yang mengambil semua cek dan tabungan tunai di brankas Rehan?!" tanya Rehan histeris, matanya membelalak penuh kecemasan.​Sang Mama terperanjat kaget mendengarnya. "Enggak! Mama enggak pernah menyentuh brankas kamu! Lagian, ngapain Mama masuk-masuk ke kamar kamu tanpa izin, Rehan?!"​Rehan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jika bukan mamanya, maka tidak ada orang lain lagi di rumah ini yang tahu kode brankas tersebut selain satu orang.​Sinta.​Dengan dada bergemuruh menahan amarah yang membakar, Rehan merogoh saku, mencengkeram ponselnya, dan langsung mendial nomor istrinya.​"Sinta! Kamu kan yang menguras habis semua uang dan cek di brankas aku?!" cercar Rehan tanpa basa-basi begitu suara di ujung telepon menyapa.​"Apaan sih, Mas? menelpon langsung tuduh!" sangkal Sinta santai dari balik telepon.​"Jangan boh

  • Terapi Gila Atasanku   Keguguran

    Rehan yang panik seketika menggendong Shinta dan melarikan wanita itu ke rumah sakit. Namun, setibanya di sana dan dilakukan pemeriksaan intensif, dokter menyampaikan kabar duka: Shinta mengalami keguguran dan janin di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.​Mendengar hal itu, histeris Shinta seketika pecah di ruang perawatan. Ia menunjuk wajah Rehan dengan mata memerah dan penuh amarah.​"Ini semua gara-gara kamu, Mas! Kalau kamu enggak dorong aku tadi, anak kita enggak akan mati! Kamu pembunuh!" teriak Shinta penuh emosi.​Rehan yang panik dan enggan disalahkan sepenuhnya langsung berkilah membela diri. "Aku dorong kamu cuma pelan, Sin! Dorongan pelan kayak gitu enggak mungkin sampai bikin kamu keguguran! Jangan melimpahkan semua kesalahan ke aku!"​Melihat perdebatan panas yang makin tak terkendali, dokter melangkah maju untuk menenangkan situasi.​"Harap tenang Bapak, Ibu," potong dokter tegas. "Perlu saya jelaskan, kondisi keguguran ini bukan semata-mata karena dorongan ters

  • Terapi Gila Atasanku   Ah Perutku...

    Rehan pulang ke rumah malam itu dengan kepala yang serasa mau pecah. Tanpa menunda waktu, ia langsung menghubungi seluruh pihak terkait dan petinggi perusahaannya. Ia memerintahkan agar proyek bersama Dewa segera diaktifkan kembali. Semua dana cadangan yang tersisa ia kucurkan habis-habisan demi menyelamatkan proyek tersebut.​"Pak, kalau semua dana dicurahkan ke sini, arus kas perusahaan kita akan macet total. Kita bahkan bakal kesulitan membayar gaji karyawan bulan depan," peringat salah satu petinggi perusahaan melalui telepon.​"Tenang saja, aku masih punya dana darurat. Yang penting proyek ini jalan dulu!" tegas Rehan nekat.​Ketika Rehan menyudahi rapat daringnya, Shinta rupanya masih belum tidur. Wanita itu menghampirinya tanpa rasa bersalah, lalu meminta sejumlah uang.​"Mas, aku minta uang dong buat belanja. Aku sudah lama enggak belanja, bosan di rumah terus. Aku juga ingin pergi liburan," ujar Shinta santai.​Rehan menatap Shinta dengan rahang mengeras. Di saat kepalanya ma

  • Terapi Gila Atasanku   Berantakan

    Shinta menghendaki sebuah pernikahan yang mewah dan megah. Namun, Rehan enggan mengabulkannya karena pernikahan semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ​"Kita sudah hidup bersama. Ngapain sih nikah harus megah-megah? Mending uangnya kita tabung buat biaya kelahiran anak kita nanti," sanggah Rehan mencoba rasional. ​"Kamu kenapa sih, Mas? Pelit sekali!" protes Shinta tak terima. "Uang dp investasi dari Pak Dewa kan masih banyak. Kita ambil sedikit buat biaya pernikahan saja, Mas. Masa kamu enggak mau?" ​"Enggak! Enggak bisa!" tegas Rehan menguatkan suara. "Kalau sampai ketahuan Pak Dewa, dia bisa membatalkan kerja samanya! Lebih baik kita nikah di KUA saja. Yang penting sah secara hukum dan anak ini pas lahir punya status yang jelas." ​Shinta pun menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan gusar. Di matanya, Rehan kini sangat berbeda dan tak lagi royal seperti dulu. ​Awalnya Shinta beranggapan hidupnya akan bergelimang kemewahan setelah berhasil menggeser posisi Alya,

  • Terapi Gila Atasanku   Bagiku Kamu Yang Pertama

    Dewa menatap kue dan hadiah di atas meja dengan pandangan muak. Ia menoleh ke arah Devan yang masih berdiri lemas.​"Devan, bawa keluar kue dan kado dari mantan itu. Terserah mau kamu buang atau berikan ke orang lain," perintah Dewa dingin. "Lalu, bawa masuk kue dan hadiah yang sudah kamu siapkan."​Devan sigap mengangguk. Ia segera membawa keluar kue dari Rehan, lalu tak lama kemudian kembali ke ruangan kerja dengan membawa kotak kue baru serta bingkisan kado yang jauh lebih elegan.​Melihat Devan kembali membawa kue, Alya mengerutkan dahi heran. "Ini kue siapa lagi? Bukankah tadi kuenya sudah dibawa keluar?"​"Ini dari Pak Dewa, Aya," jawab Devan tersenyum tipis sebelum pamit keluar ruangan.​Dewa melangkah mendekat, menatap Alya dengan pandangan hangat namun masih tersisa sedikit kekesalan. Ia menyerahkan kue tersebut ke hadapan wanita yang dicintainya itu.​"Selamat ulang tahun, Alya," ucap Dewa lembut. Senyumnya mengembang, meski rahangnya kembali mengeras saat mengingat kejadian

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Lagi

    Pagi itu di kantornya, Rehan sengaja memesan sebuah kue ulang tahun dan hadiah khusus. Semalam saat mencari dokumen, Rehan tak sengaja melihat tanggal lahir Alya pada berkas peninggalan aset mantan istrinya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kejutan singkat.​Melihat kue dan kado mewah bertengger di atas meja kerja Rehan, Shinta yang baru masuk langsung salah paham.​‘Mas Rehan... perasaan ulang tahunku masih bulan depan? Tapi dia sudah menyiapkannya dari semalam. Apa dia mau minta maaf soal pertengkaran kami semalam?’ batin Shinta sambil tersenyum-senyum sendiri, merasa sangat diperhatikan.​Namun, begitu Shinta mulai fokus bekerja, Rehan diam-diam menyelinap keluar kantor membawa kue, kado, serta berkas penting menuju kantor Dewa. Alasannya sederhana: ia ingin menyerahkan langsung berkas aset peninggalan almarhum orang tua Alya.​Saat Rehan melangkah masuk ke ruangan kerja Dewa, matanya menangkap sosok Alya yang kebetulan sedang bera

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status