Accueil / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Bulan Madu Ke Eropa

Partager

Bulan Madu Ke Eropa

Auteur: CitraAurora
last update Date de publication: 2026-10-05 20:41:55

Sinta yang lelah berteriak akhirnya menyerah. Ia membalikkan badan dan melangkah gontai keluar dari area rumah Rehan. Sambil berjalan pincang di tepi jalan yang sepi, air matanya tak henti-hentinya menetes. Ia benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana lagi. Kembali ke apartemen Rendy hanya akan membuat hidupnya kian hancur dan terhina—ia akan terus dijadikan budak seks oleh pria-pria bejat itu. Namun jika tidak kembali, ia harus tinggal di mana? Ia sudah tak memiliki uang sepeser pun, tak
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Terapi Gila Atasanku   Sungai Aare

    Setibanya di rumah, Fira langsung melangkah tergesa-gesa menuju lantai atas. Meskipun di ruang tengah tampak Mama Dewa sedang duduk bersantai, ia sama sekali tidak berniat menyapa atau sekadar melirik tantenya itu. Langkah kakinya mendaki anak tangga dengan cepat, menyembunyikan wajahnya yang masih basah oleh air mata. ​"Fira... tumben jam segini sudah pulang?" tanya Mama Dewa heran, menatap punggung keponakannya yang berlalu begitu saja. ​Namun, Fira bergeming seribu bahasa. Ia mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya, dan yang terdengar hanyalah suara ketukan sepatunya yang bergegas menaiki tangga. ​Anak itu kenapa, ya? gumam Mama Dewa dalam hati, merasa ada yang tidak beres dengan perangai Fira hari itu. Di dalam kamarnya Fira langsung ambruk di tempat tidur, dia menangis di bawah bantal. "Kenapa sih harus begini, aku dan Mas Dafa tidak ada hubungan apa-apa Mas." ​Di belahan bumi yang lain, suasana duka dan canggung di rumah terasa sangat kontras dengan keindahan pemandangan di

  • Terapi Gila Atasanku   Maafkan Aku Mas

    Fira langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya seketika menetes deras membasahi pipinya. Tanpa peduli pada rasa canggung, ia melangkah memutar meja dan mendekati kursi kebesaran tempat Devan duduk.​"Mas, kamu benar-benar salah paham, Mas... Beneran!" ratap Fira dengan suara serak menahan tangis. "Aku memang tadi makan siang dengannya, tapi kami hanya makan siang biasa..."​"Lalu pelukan itu? Canda tawa itu? Genggaman tangan itu... apa, Fir?!" potong Devan tajam, menatap Fira dengan sorot mata terluka. "Aku tidak mungkin salah paham. Aku melihatnya langsung dengan kepala mataku sendiri!"​"Iya, maafkan aku, Mas! Maaf..." jerit Fira terisak. "Tapi serius, aku dan Mas Dafa sama sekali tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dia itu cuma mantan seniorku waktu di kampus dulu. Kami bertemu siang ini karena sore ini dia harus kembali ke kota asalnya, dan setelah ini dia harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Jadi pelukan itu... itu cuma pelukan perpisahan, Mas." Fira menj

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Membohongiku Fir?

    "Kalau sudah kembali ke kantor, kenapa tidak mengabariku? Kenapa tidak menerima teleponku? Apa kamu sibuk?" tanya Fira dalam pesan singkat yang dia kirim lagi.​Devan hanya melihat pesan itu di layar ponselnya, membaca baris demi baris kata yang dikirimkan calon istrinya, lalu meletakkan kembali ponselnya di meja kerja tanpa niat membalas.​Fira yang melihat tanda centang biru dua pada pesannya merasa kian terheran-heran. Ada apa sebenarnya dengan calon tunangannya itu? Perasaan tadi pagi sampai jam makan siang semuanya terasa baik-baik saja, tapi kenapa sekarang Devan bersikap sangat dingin dan aneh?​Fira yang tak tahan lagi menanggung rasa penasaran dan ganjalan di dadanya akhirnya memutuskan untuk meminta izin ke kepala divisi keuangan.​"Kamu mau ke mana, memangnya?" tanya kepala divisi keuangan saat melihat Vira bergeming merapikan meja.Fira menoleh lalu mentapa kepala Divisi. ​"Saya mau ke toilet sebentar, Bu," jawab Fira beralasan.​Kepala keuangan mengangguk dan mempersilak

  • Terapi Gila Atasanku   Pelukan Terakhir

    Setelah menyelesaikan makan siang dan mengobrol asyik, kini waktunya Fira untuk segera kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir usai. Begitu pula dengan Dafa, pria itu harus bersiap-siap kembali ke kota asalnya untuk mengurus berkas dan segala persiapan penerbangannya ke Amerika Serikat.​"Kamu yakin enggak mau aku antar, Fir?" tanya Dafa memastikan seraya mereka berjalan bersama menuju pintu keluar restoran.​"Enggak usah, Mas. Aku bisa naik taksi online. Lagipula kantor tempatku bekerja dan hotel tempatmu menginap kan arahnya berlawanan," tolak Fira secara halus.​Dafa tertawa kecil. "Ya sudah kalau begitu. Aku juga enggak mau memaksa, nanti malah mau lagi aku antar hehe."​Fira yang merasa digoda langsung melayangkan cubitan gemas ke perut Dafa. "Kamu ini lucu banget sih, Mas! Kenapa dulu pas kuliah enggak coba daftar jadi pelawak saja?"​Dafa terkekeh renyah sambil memegangi perutnya. "Sudah pernah daftar, tapi sayangnya kalah bersaing sama pelawak-pelawak senior."​Gelak taw

  • Terapi Gila Atasanku   Perpisahan Termanis

    Siang itu, suasana kantor Devan cukup sibuk. Begitu jarum jam menunjukkan pukul dua belas, jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Fira yang baru saja merapikan berkas-berkas di mejanya menghela napas lega. Namun, kelegaannya tak bertahan lama saat layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Dafa.​“Nanti sore aku akan kembali ke kotaku. Bisa enggak kita bertemu?”​Membaca pesan itu, Fira mendadak dilanda rasa bingung yang luar biasa. Jemarinya menggantung di atas papan ketik ponselnya. Sebenarnya, ada rasa tak enak hati yang bersarang di dada Fira terhadap Dafa. Selama Dafa berada di ibu kota (pria yang sejatinya datang khusus hanya demi menemui dirinya) Fira terus-menerus menolak untuk bertemu. Ia melakukan itu semua bukan tanpa alasan. Fira hanya ingin menjaga perasaan Devan dan tidak ingin kekasihnya itu terbakar cemburu.​Karena Fira tak kunjung membalas, beberapa menit kemudian Dafa kembali mengirimkan pesan lanjutan.​“Anggap saja ini makan siang perp

  • Terapi Gila Atasanku   Visi Menggoda Gagal

    Keesokan harinya, Dewa dan Alya kembali ke hotel utama mereka di pusat Kota London. Tanpa menunda waktu, Dewa segera membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan reproduksi istrinya.​Untuk penyakit yang kerap dikeluhkan Alya selama ini, dokter menyatakan tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Namun, terkait ketakutan Alya soal kesulitan memiliki anak, dokter kandungan di rumah sakit tersebut langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh.​Dari hasil USG, organ reproduksi Alya tampak sangat sehat dan tidak ditemukan kelainan apa pun.​"Dari hasil pemeriksaan, tidak ada hambatan atau kelainan yang mengganggu proses reproduksi di dalam rahim Anda. Sebelumnya, apakah Anda pernah atau sedang menggunakan kontrasepsi seperti KB?" tanya dokter ramah.​"Iya, Dok... Sebelumnya saya pernah menggunakan pil KB," jawab Alya jujur.​Dokter mengangguk paham. "Penggunaan pil KB memang kerap memengaruhi keseimbangan hormon untuk sementara waktu.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status