Compartilhar

Gatal dan Gatal

Autor: CitraAurora
last update Data de publicação: 2026-10-16 19:26:27

Alea melangkah gontai meninggalkan ruang kerja suaminya dengan air mata yang tumpah semakin deras membasahi pipinya. Setibanya di kamar pribadinya, ia langsung menutup pintu dan merosot jatuh duduk di lantai, bersandar di balik daun pintu sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Tangisnya pecah sekencang-kencangnya, menyalurkan segala sesak yang menghimpit rongga dadanya.

​"Aku sangat mencintaimu, Mas... sungguh, sangat-sangat cinta." gumam Alea di antara isak tangisnya yang memilukan. "Tapi ke
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
CitraAurora
Iya maaf ya kak.. buat selingan aja tokoh lainnya
goodnovel comment avatar
Herawati Wiria
gak jelas nih novel , tokoh critanya ganti2...hadeuuuh
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Terapi Gila Atasanku   Pingsan

    Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjalanan liburan romantis Dewa dan Alya terus berlanjut melintasi negara-negara indah di Benua Biru. Dari keasrian pegunungan Swiss, mereka terbang menikmati hangatnya Spanyol, menjelajahi terusan kanal di Belanda, menyusuri sudut-sudut bersejarah Jerman, menikmati momen manis di Prancis, hingga mengagumi indahnya pesisir Yunani dan beberapa negara Eropa lainnya. ​Mereka benar-benar menikmati momen berharga berdua, melepaskan segala beban dan kejenuhan yang ada. Hingga tanpa terasa, malam ini telah menjadi malam terakhir keberadaan mereka di benua Eropa. ​Di dalam kamar hotel berbintang tempat mereka menginap, Alya bersandar di dada bidang Dewa seraya menatap kerlap-kerlip lampu kota dari balik jendela. ​"Rasanya baru kemarin kita berangkat dari Jakarta ya, Mas... eh, sekarang tahu-tahu sudah mau pulang saja," celetuk Alya sedikit berat hati. ​Dewa menunduk, mengusap lembut bahu polos istrinya lalu tersenyum manis. "Kenapa, Sayang? Apa kamu ma

  • Terapi Gila Atasanku   Gatal dan Gatal

    Alea melangkah gontai meninggalkan ruang kerja suaminya dengan air mata yang tumpah semakin deras membasahi pipinya. Setibanya di kamar pribadinya, ia langsung menutup pintu dan merosot jatuh duduk di lantai, bersandar di balik daun pintu sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Tangisnya pecah sekencang-kencangnya, menyalurkan segala sesak yang menghimpit rongga dadanya.​"Aku sangat mencintaimu, Mas... sungguh, sangat-sangat cinta." gumam Alea di antara isak tangisnya yang memilukan. "Tapi kenapa! kamu memperlakukanku dengan seburuk ini?"​Sementara itu di ruang kerjanya, kekacauan yang sama tengah terjadi di dalam batin David. Pria itu menatap nanar meja kerjanya, lalu dengan napas memburu dan emosi yang meledak-ledak, ia menyapu bersih semua buku, berkas, dan cangkir yang ada di atas meja hingga berserakan jatuh ke lantai. Pecahan keramik dan buku-buku berhamburan ke segala arah.​David mencengkeram tepi meja kuat-kuat, rahangnya mengeras hebat. Jantungnya bergemuruh menolak tenan

  • Terapi Gila Atasanku   Melakukan Di Depan Matamu!

    Dasar Dewa! Tak peduli di dalam kamar, kamar mandi, balkon, bahkan di tempat terbuka yang rawan terlihat orang pun, begitu hasratnya muncul, ia selalu ingin melampiaskannya saat itu juga. Untung saja ini di negeri barat, di mana hal-hal yang dianggar tabu di sana kerap dianggap lumrah di negeri ini. ​"Baiklah, tapi sebentar saja ya! Jangan lama-lama!" ancam Alya sambil cemberut. ​"Iya, iya, Sayang... enggak lama kok, cuma sebentar. Paling-paling cuma satu jam," kekeh Dewa. ​Alya mendengus kesal. Satu jam itu sangat lama! Ia takut sewaktu-waktu ada penduduk lokal atau wisatawan yang melintas di sekitar sungai tersembunyi ini. ​"Sejauh mataku memandang, tidak ada orang sama sekali di sini, Sayang," rayu Dewa lembut seraya makin mempererat dekapannya. ​"Kenapa sih, Mas? Enggak nanti saja di hotel? Kamu ini mengganggu saja, padahal aku ingin jalan-jalan dengan tenang menikmati keindahan alam negeri ini," protes Alya manja. ​"Maka dari itu, ayo biar cepat selesai!" bujuk Dewa tak sa

  • Terapi Gila Atasanku   Sungai Aare

    Setibanya di rumah, Fira langsung melangkah tergesa-gesa menuju lantai atas. Meskipun di ruang tengah tampak Mama Dewa sedang duduk bersantai, ia sama sekali tidak berniat menyapa atau sekadar melirik tantenya itu. Langkah kakinya mendaki anak tangga dengan cepat, menyembunyikan wajahnya yang masih basah oleh air mata. ​"Fira... tumben jam segini sudah pulang?" tanya Mama Dewa heran, menatap punggung keponakannya yang berlalu begitu saja. ​Namun, Fira bergeming seribu bahasa. Ia mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya, dan yang terdengar hanyalah suara ketukan sepatunya yang bergegas menaiki tangga. ​Anak itu kenapa, ya? gumam Mama Dewa dalam hati, merasa ada yang tidak beres dengan perangai Fira hari itu. Di dalam kamarnya Fira langsung ambruk di tempat tidur, dia menangis di bawah bantal. "Kenapa sih harus begini, aku dan Mas Dafa tidak ada hubungan apa-apa Mas." ​Di belahan bumi yang lain, suasana duka dan canggung di rumah terasa sangat kontras dengan keindahan pemandangan di

  • Terapi Gila Atasanku   Maafkan Aku Mas

    Fira langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya seketika menetes deras membasahi pipinya. Tanpa peduli pada rasa canggung, ia melangkah memutar meja dan mendekati kursi kebesaran tempat Devan duduk.​"Mas, kamu benar-benar salah paham, Mas... Beneran!" ratap Fira dengan suara serak menahan tangis. "Aku memang tadi makan siang dengannya, tapi kami hanya makan siang biasa..."​"Lalu pelukan itu? Canda tawa itu? Genggaman tangan itu... apa, Fir?!" potong Devan tajam, menatap Fira dengan sorot mata terluka. "Aku tidak mungkin salah paham. Aku melihatnya langsung dengan kepala mataku sendiri!"​"Iya, maafkan aku, Mas! Maaf..." jerit Fira terisak. "Tapi serius, aku dan Mas Dafa sama sekali tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dia itu cuma mantan seniorku waktu di kampus dulu. Kami bertemu siang ini karena sore ini dia harus kembali ke kota asalnya, dan setelah ini dia harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Jadi pelukan itu... itu cuma pelukan perpisahan, Mas." Fira menj

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Membohongiku Fir?

    "Kalau sudah kembali ke kantor, kenapa tidak mengabariku? Kenapa tidak menerima teleponku? Apa kamu sibuk?" tanya Fira dalam pesan singkat yang dia kirim lagi.​Devan hanya melihat pesan itu di layar ponselnya, membaca baris demi baris kata yang dikirimkan calon istrinya, lalu meletakkan kembali ponselnya di meja kerja tanpa niat membalas.​Fira yang melihat tanda centang biru dua pada pesannya merasa kian terheran-heran. Ada apa sebenarnya dengan calon tunangannya itu? Perasaan tadi pagi sampai jam makan siang semuanya terasa baik-baik saja, tapi kenapa sekarang Devan bersikap sangat dingin dan aneh?​Fira yang tak tahan lagi menanggung rasa penasaran dan ganjalan di dadanya akhirnya memutuskan untuk meminta izin ke kepala divisi keuangan.​"Kamu mau ke mana, memangnya?" tanya kepala divisi keuangan saat melihat Vira bergeming merapikan meja.Fira menoleh lalu mentapa kepala Divisi. ​"Saya mau ke toilet sebentar, Bu," jawab Fira beralasan.​Kepala keuangan mengangguk dan mempersilak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status