LOGIN"Iya, Mas... pasti," sahut Alya tersenyum haru, matanya berkaca-kaca."Katanya pria itu nanti akan mengalami masa puber kedua. Mereka akan merasakan jatuh cinta kembali... Dan kalau saat itu tiba, aku berharap orang yang membuatku jatuh cinta tetaplah kamu. Aku ingin berkali-kali jatuh cinta pada wanita yang sama, yaitu kamu, Alya," ungkap Dewa dengan tatapan mendalam.Mendengar ucapan manis dari suaminya, Alya menatap Dewa penuh haru. "Aku juga sama, Mas. Aku juga ingin berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama... yaitu kamu."Keduanya pun saling merengkuh erat di depan pagar cinta tersebut, menikmati kehangatan di tengah sejuknya angin kota London.Usai menyematkan gembok cinta, Dewa dan Alya berjalan santai menuju stasiun kereta terdekat. Dewa ingin mengajak istrinya mencoba pengalaman berbeda dengan menaiki kereta antarkota secara acak."Kita mau ke mana lagi, Mas?" tanya Alya saat mereka berdiri di peron."Sudahlah, kita ikuti saja ke mana kereta ini membawa kita. Nant
"Ah, sial! Kenapa aku tak kunjung mendapatkan pekerjaan?!" gerutu Sinta frustrasi. Kakinya terasa pegal luar biasa setelah berjam-jam berjalan membagikan lamaran kerja ke sana kemari tanpa hasil.Saat melepas lelah di depan sebuah minimarket, Sinta tak sengaja disapa oleh seorang wanita paruh baya berpakaian rapi yang baru saja keluar membawa kantong belanjaan. Wanita itu menyerahkan sebuah kartu nama."Saya tadi tidak sengaja mendengar keluhan Anda. Apa Anda benar-benar sedang butuh pekerjaan?" tanya wanita itu ramah."Iya, aku memang sangat perlu pekerjaan," jawab Sinta cepat."Apa Anda mau bekerja di rumah majikan saya?"Mendengar tawaran itu, alis Sinta bertaut. "Maksudmu... aku jadi Asisten Rumah Tangga?"Wanita itu mengangguk. "Meskipun jadi ART, gaji di sana sangat besar. Semua pengeluaran ditanggung penuh. Tempat tinggal gratis, makan gratis. Bukankah uang gajinya nanti utuh tanpa terpotong untuk biaya hidup?"Sinta terdiam, mencerna penjelasan itu. Benar juga sih... ba
Sebagai pria yang selama ini hidup mandiri dan tinggal seorang diri di apartemen, Devan tentu sangat mahir dalam urusan dapur.Meski ia hanya memasak kwetiau goreng sederhana dengan campuran telur dan suwiran ayam, hasil masakannya terlihat begitu menggoda. Aroma harum minyak bawang dan racikan bumbu gurih yang ditambahkan benar-benar memanjakan indra penciuman, membuat Fira tak sabar untuk mencicipinya.Setelah kwetiau goreng hangat itu tersaji cantik di atas piring, Fira langsung mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma yang menggugah selera."Mas, wangi banget baunya!" puji Fira dengan mata berbinar."Kamu coba dulu saja, takutnya ada yang kurang," ujar Devan tersenyum seraya menyodorkan sebuah garpu.Fira tanpa ragu menyambar garpu tersebut dan menyuap segumpal kwetiau ke dalam mulutnya. Saat cita rasa gurih dan lezat itu menyapa lidahnya, mata Fira seketika membelalak sempurna."Mas, ini enak banget!" serunya kagum. Tanpa menunggu lama, ia kembali menyuap kwetiau itu deng
"I Love you too, Mas," sahut Alya.Dewa mengendus leher sang istri gemas, aroma parfum campur keringat Alya membuat Dewa ingin terus mengendus istrinya. "Mas geli kena bulu kamu." Alya nampak kegelian. Bukannya menyudahi Dewa malah semakin menempelkan wajahnya. "Mas...." Teriak Alya sambil tertawa. Melihat Alya bahagia seperti ini Dewa pun sangat bahagia pula. Lalu tanpa kata, Dewa langsung menggendong Alya secara bridal style, membawa sang istri menuju ranjang mereka. "Mas, kamu mau apa?" tanya Alya terkejut."Menunjukkan rasa cintaku," jawab Dewa lembut."Mas, kita baru saja sampai dan masih lelah. Masa iya kamu mau 'bekerja'?" Alya berusaha menolak dengan manja."Aku enggak lelah. Setiap kali dekat denganmu, rasa lelahku langsung hilang." Sahut Dewa. "Ah, gombal banget."Tak ingin berlama-lama, Dewa pun mengeluarkan jurus andalannya. Dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri, melumatnya dengan lembut dan menikmati kehangatan peraduan mereka."Engh..." er
Pagi itu, Sinta telah memasukkan pakaian di dalam tasnya. Ada rasa senang di dalam hatinya bisa keluar dari apartemen ini. Dengan tas pakaian di genggaman, ia berdiri di ambang pintu, menatap Randy yang baru saja terbangun dari tidurnya."Terima kasih, Mas. Aku pamit," ucap Sinta lirih.Randy menatap wanita itu sejenak dengan raut tenang yang jarang terlihat sebelumnya. "Iya, jaga dirimu baik-baik," sahut Randy pendek.Sinta mengangguk pelan, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen yang selama ini menjadi saksi penderitaannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung memesan taksi menuju sebuah penginapan sederhana. Sebelum mencari rumah kontrakan dan pekerjaan tetap, ia memilih menetap di penginapan itu untuk sementara waktu.Siang harinya, Sinta melangkah keluar dari kamar penginapan dan berjalan menuju sebuah kafe terdekat untuk mengisi perut. Saat pandangannya menyapu area kafe, matanya menangkap sosok Rehan yang sedang duduk menikmati makan siang sendirian.Mera
Malam itu, Papa Dewa pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Pak Brata."Bagaimana?" tanya Papa Dewa begitu melangkah masuk ke dalam ruang rawat VIP.Pak Brata yang semula berbaring terlentang kini langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan raut segar bugar. "Tadi aku meminta orang kepercayaanku menyelidiki apartemennya. Sepertinya teman-teman Rendy langsung pulang. Bisa jadi malam ini mereka tidak melakukan hal aneh-aneh," kata Pak Brata.Papa Dewa tersenyum lega. "Syukurlah, anakmu itu ternyata masih bisa diselamatkan.""Ini semua berkat ide sandiwara kalian," kata Pak Brata seraya terkekeh pelan. "Bocah itu memang kalau tidak digertak dengan sandiwara seperti ini tidak akan mau menurut. Semoga saja dia benar-benar bertobat.""Aku yakin dia pasti bertobat. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu akan terus berpura-pura dirawat di rumah sakit seperti ini?" tanya Papa Dewa."Sepertinya begitu. Sampai dua minggu ke depan aku terpaksa menginap di rumah sakit," ja







