Mag-log in"Seperti dulu kamu tidak begitu saja, Mas!" sahut Fira kesal, mengerucutkan bibirnya lebar-lebar karena jalannya menuju kamar terhalang.Dewa terkekeh geli melihat wajah cemberut adik sepupunya. "Nanti dulu dong, kita kan masih mau mengobrol dengan pengantin baru. Kalian ini kok buru-buru amat sih mau ke kamar? Ini baru jam berapa?" tawa Dewa menggoda. "Malam pertama itu ya dilakukannya malam hari, bukan siang-siang bolong begini. Memangnya kalian tidak pernah dengar?"Godaan Dewa yang frontal itu membuat Devan mendadak salah tingkah hingga ke telinga. Wajahnya memerah padam.Devan melempar senyum canggung, lalu mengelus pelan pundak istrinya. "Iya, Sayang... Kita di sini dulu sebentar ya, mengobrol dengan keluarga," bujuk Devan lembut."Padahal aku penginnya cepat-cepat ke kamar..." gerutu Fira tanpa dosa, lalu menghentakkan kakinya dan duduk kembali di sofa dengan wajah cemberut.Melihat tingkah polos dan blak-blakan Fira, tawa semua orang di ruang tamu seketika pecah."Astaga
Hari pernikahan Fira dan Devan akhirnya tiba. Mengingat konsep yang diusung adalah acara sederhana yang sakral, mereka tidak menggelar pesta besar-besaran. Fira tampak anggun dalam balutan gaun pengantin sederhana namun elegan, sementara Devan berdiri gagah mengenakan jas senada. Sederet seserahan dan cincin pernikahan sederhana menjadi lambang keseriusan cinta Devan untuk meminang wanita pujaan hatinya."Kamu sudah siap, Devan?" tanya Dewa sambil menepuk pelan bahu asisten setianya itu. Devan menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis debaran di dadanya. "Siap, Pak Dewa," sahutnya dengan nada setegas mungkin."Bagus. Nanti di depan penghulu, jangan sampai gemetar. Rileks saja supaya kamu nggak salah sebut saat ijab kabul," pesan Dewa menyemangati."Baik, Pak Dewa, saya akan rileks," jawab Devan, meski keringat dingin mulai merayap di pelipisnya.Dewa tersenyum tipis. "Suasana ini beda, Devan. Menghadapi klien jutaan dolar untuk memenangkan proyek itu gampang. Tapi ini murni ja
"Galak sekali," gerutu Dewa setengah berbisik begitu punggung sang mama dan tantenya benar-benar hilang di balik pintu dapur. Pria itu lantas menarik tangan Alya dengan lembut, membuka pintu kulkas, dan mengeluarkan sekotak susu segar untuk meracik minuman yang diinginkan istrinya.Sambil menunggu susu itu siap, Alya menatap suaminya dengan ragu. "Kira-kira Mama marah nggak ya, Mas, kalau tahu kita sering... itu?" tanyanya pelan, sedikit khawatir.Dewa terkekeh renyah, lalu merangkul pinggang Alya dan mencubit hidung istrinya gemas. "Ya nggaklah, Sayang, ngapain marah? Lagi pula kan wajar saja, kita kan suami istri sah." Jelas Dewa.Alya mengangguk pelan, "Iya." Meski mengangguk tapi nyatanya Alya seperti masih memikirkan ancaman mama mertuanya tadi. "Sudah, nggak usah memikirkan Mama terus. Yang penting kita senang, kamu sehat, anak kita juga sehat di dalam," hibur Dewa penuh percaya diri.Setelah keduanya menikmati susu dingin penghilang penat itu, mereka kembali ke kamar dan t
Puas menikmati keindahan dada sang istri, Dewa tak membuang waktu. Dengan napas yang kian memburu, ia menurunkan ciumannya perlahan, menelusuri garis perut rata Alya yang kini tampak semakin memesona dengan bentuk kehamilannya, hingga berhenti tepat di pusar wanita itu.Alya meremajakan jemarinya di rambut tebal Dewa, meremasnya pelan sembari menggigit bibir bawahnya saat kehangatan napas suaminya menerpa kulit sensitif di perut bagian bawahnya."Mas..." desah Alya tertahan, tubuhnya bergetar hebat kala lidah Dewa mulai bermain semakin turun, mengeksplorasi setiap jengkal area pribadinya dengan sentuhan yang begitu telaten dan penuh pengalaman.Dewa benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya agar merasa menjadi wanita paling berharga sekaligus paling liar di atas ranjang. Sentuhan tangannya yang kokoh menahan pinggul Alya, sementara lidahnya bekerja tanpa kenal lelah, menciptakan gelombang nikmat yang merambat naik dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepala Alya."Ahhh
Akhirnya, hari-hari di mana Fira harus tinggal diam-diam di apartemen Devan resmi berakhir. Tekanan dari keluarga besar membuat Fira dengan terpaksa harus mengemas barang-barangnya dan kembali menetap di rumah utama keluarga Erlangga. Menariknya, kali ini Devan justru menjadi orang pertama yang sangat setuju dan mendukung keputusan tersebut. Bukan karena ia ingin berjauhan, melainkan karena ia merasa memang belum waktunya tinggal bersama. Malam harinya, suasana kamar pribadi Dewa dan Alya terasa jauh lebih tenang setelah hiruk-pikuk kepulangan Fira sore tadi. Dewa yang baru saja selesai mandi merebahkan diri di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya perlahan, tampak masih memikirkan rentetan omelan sang mama."Lama-lama aku bisa benar-benar stres memikirkan urusan Fira dan Devan itu," keluh Dewa lirih, menatap langit-langit kamar.Alya yang sedang bersandar di kepala ranjang menaikkan sebelah alisnya. "Stres kenapa sih, Mas? Perasaan semuanya sudah beres, kan?""Gimana nggak stre
Sore itu, suasana kediaman keluarga Erlangga yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Begitu Dewa dan Alya melangkah masuk usai pulang dari kantor, mereka dibuat terkejut bukan kepalang saat mendapati kedua orang tua Fira—Om dan Tante mereka—sudah duduk di ruang tamu. "Om, Tante... Kok sudah sampai di sini?" tanya Dewa kaget, melirik jam tangannya. Pasangan paruh baya itu tersenyum ramah. "Iya, jadwalnya dipercepat, Dewa, " jawab sang om. Dari arah dapur, Mama Dewa menyusul keluar sambil membawa nampan berisi teh. "Kemarin itu rencananya memang masih tiga hari lagi, Dewa. Tapi karena urusan ommu di luar kota selesai lebih cepat dari perkiraan, akhirnya jadwal kepulangan kesini dimajukan," jelas Mama Dewa. Dewa mengangguk-angguk paham. Namun sedetik kemudian, kernyitan di dahinya muncul. "Mana Fira?" tanya sang mama, mengedar pandangan ke segala penjuru rumah. Dewa terdiam, spontan melirik ke arah Alya di sampingnya. Setelah sang istri memberikan anggukan kecil seolah mem







