Share

Astaga

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-09-13 17:47:29

Sepulang dari makan siang yang penuh ketegangan itu, Devan mengekor di belakang langkah lebar Dewa menuju ruang kerja sang CEO. Begitu pintu kayu mahoni itu tertutup rapat, Devan melangkah mendekati meja kerja Dewa.

​"Pak, apa kita melenceng dari rencana kita?" tanya Devan dengan kening berkerut cemas.

​Dewa mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, lalu menyandarkan punggung seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh intrik. "Iya, biarkan saja lanjut ke tahap kedua. Nanti di tahap akhir,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Pengen Jenguk Si Kecil

    Akhirnya, hari-hari di mana Fira harus tinggal diam-diam di apartemen Devan resmi berakhir. Tekanan dari keluarga besar membuat Fira dengan terpaksa harus mengemas barang-barangnya dan kembali menetap di rumah utama keluarga Erlangga. Menariknya, kali ini Devan justru menjadi orang pertama yang sangat setuju dan mendukung keputusan tersebut. Bukan karena ia ingin berjauhan, melainkan karena ia merasa memang belum waktunya tinggal bersama. ​Malam harinya, suasana kamar pribadi Dewa dan Alya terasa jauh lebih tenang setelah hiruk-pikuk kepulangan Fira sore tadi. Dewa yang baru saja selesai mandi merebahkan diri di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya perlahan, tampak masih memikirkan rentetan omelan sang mama.​"Lama-lama aku bisa benar-benar stres memikirkan urusan Fira dan Devan itu," keluh Dewa lirih, menatap langit-langit kamar.​Alya yang sedang bersandar di kepala ranjang menaikkan sebelah alisnya. "Stres kenapa sih, Mas? Perasaan semuanya sudah beres, kan?"​"Gimana nggak stre

  • Terapi Gila Atasanku   Gak Boleh!

    Sore itu, suasana kediaman keluarga Erlangga yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Begitu Dewa dan Alya melangkah masuk usai pulang dari kantor, mereka dibuat terkejut bukan kepalang saat mendapati kedua orang tua Fira—Om dan Tante mereka—sudah duduk di ruang tamu. ​"Om, Tante... Kok sudah sampai di sini?" tanya Dewa kaget, melirik jam tangannya. ​Pasangan paruh baya itu tersenyum ramah. "Iya, jadwalnya dipercepat, Dewa, " jawab sang om. ​Dari arah dapur, Mama Dewa menyusul keluar sambil membawa nampan berisi teh. "Kemarin itu rencananya memang masih tiga hari lagi, Dewa. Tapi karena urusan ommu di luar kota selesai lebih cepat dari perkiraan, akhirnya jadwal kepulangan kesini dimajukan," jelas Mama Dewa. ​Dewa mengangguk-angguk paham. Namun sedetik kemudian, kernyitan di dahinya muncul. "Mana Fira?" tanya sang mama, mengedar pandangan ke segala penjuru rumah. ​Dewa terdiam, spontan melirik ke arah Alya di sampingnya. Setelah sang istri memberikan anggukan kecil seolah mem

  • Terapi Gila Atasanku   Tahap Isap Menghisap

    "Kalau tidak keras, bagaimana caranya kamu terpuaskan, Sayang?" bisik Devan dengan suara berat yang menggelitik telinga Fira.​Fira menelan salivanya susah payah. Matanya masih takjub menatap ke arah kejantanan Devan yang berdiri perkasa. Di dalam kepalanya, ia membayangkan bagaimana mungkin "benda" sebesar dan sekeras itu nantinya bisa masuk ke dalam rongga intim miliknya.​"Ih, Mas... Pasti milikku bakal sakit banget kalau benda sebesar itu masuk ke dalam sana," cicit Fira ngeri-ngeri sedap.​Devan tersenyum miring, menatap calon istrinya penuh arti. "Nggak bakal sakit, Sayang. Malah enak... bikin ketagihan."​"Hih, dasar!" Fira memukul pelan dada bidang Devan dengan wajah bersemu merah padam karena malu. "Sudah, sana cepat pakai pakaianmu lagi, sebelum benda itu bangun dan nggak bisa diajak kompromi!"​Setelah sama-sama mengenakan pakaian mereka kembali dengan rapi, suasana canggung yang sempat membara perlahan mereda. Keduanya kini duduk berdampingan di kursi balkon apartemen, men

  • Terapi Gila Atasanku   Kenapa Keras Sekali

    Suasana di dalam kamar itu kian memanas, membawa keduanya hanyut dalam pusaran kenikmatan murni yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup. Fira mendambakan sentuhan yang lebih dalam, sementara Devan, dengan segala gairah barunya, juga terbakar keinginan untuk menjelajahi sang calon istri seutuhnya.​"Uhh... Mas..." rintih Fira tertahan, giginya perlahan menggigit bibir bawahnya, menahan gelombang sensasi asing yang kian menghantam rongga dadanya.​Melihat ekspresi Fira yang begitu rapuh sekaligus memabukkan di bawah kungkungannya, pertahanan terakhir Devan nyaris runtuh. Hasratnya membuncah hebat, melesat cepat tanpa bisa dikendalikan. Di balik celananya, bagian bawah tubuhnya kini telah menegang sempurna, menuntut pelepasan.​Tanpa pikir panjang, tangan Devan yang tadinya berada di atas mulai merayap turun, menyusuri perut rata Fira, lalu mendarat tepat di bagian inti kewanitaan wanita itu.​Seketika, mata Fira terbelalak lebar. Napasnya terengah, dan kakinya secara spontan terbu

  • Terapi Gila Atasanku   Nikmatnya Mas

    "Jangan bertanya aku belajar dari mana. Sekarang, nikmati saja," bisik Devan dengan suara serak yang sukses membuat bulu kuduk Fira meremang. ​Perubahan drastis Devan yang kini jauh lebih berani, tegas, dan mendominasi membuat Fira merasa terpana. Di matanya, pria itu terlihat berkali-kali lipat jauh lebih keren dibandingkan sosok kaku dan dingin yang dikenalnya dulu. ​"Boleh... aku buka?" tanya Devan tiba-tiba dengan tatapan menuntut yang penuh gairah. ​Fira terbelalak kaget. Nyalinya yang tadinya membuncah kini mendadak ciut seketika. "Buka...?" ulangnya terbata. ​Lalu Fira tertawa kecil salah tingkah, mencoba mencairkan suasana. "Nggak perlu, Mas..." ​Devan menyunggingkan senyum miring, lalu mendekatkan wajahnya dengan tatapan menggoda. "Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang suka pria yang agresif dan sat-set? Kenapa sekarang malah tidak boleh?" ​Melihat Devan yang semakin mendominasi dan berniat maju, Fira buru-buru mendorong dada calon suaminya dengan kedua tangan. "Eh—jan

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Belajar Dari Mana Mas?

    Keesokan harinya, Fira sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tentu setelah drama antara Dokter, dirinya dan Dewa. "Gara-gara sandiwara ini aku harus bayar puluhan juta." Gumam Dewa. "Lah kan ini rencana Mas Dewa sendiri, ngapain protes sekarang." Sahut Fira tertawa. "Demi siapa coba, ingatlah kebaikan kakakmu ini." Ujar Dewa. Sore itu juga Fira bersiap, Devan yang baru saja ambil obat mengajak Fira untuk pulang. Namun, alih-alih kembali ke kediaman keluarga Erlangga, ia justru meminta langsung ke apartemen Devan. "Sayang kamu serius mau langsung ke apartemen aku?" "Serius Mas." Akhirnya Dewa, Alya dan Fira ke apartemen Devan. Sesampainya disana, Devan meninggalkan tamunya karena dia ingin ke kamar mandi. ​Kebetulan, saat Devan tengah membersihkan diri di kamar mandi, Dewa dan Alya mengajak ngobrol Fira. ​"Kamu ini ya, ada-ada saja... Nekat betul langsung minta tinggal di apartemen Devan," tegur Dewa dengan sebelah alis te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status