Home / Romansa / Terbakar Asmara Bosku / Bab 1. Audisi Yang Gagal

Share

Terbakar Asmara Bosku
Terbakar Asmara Bosku
Author: North Star Jewel

Bab 1. Audisi Yang Gagal

last update Last Updated: 2025-10-03 16:17:31

“Mengapa kita di sini?”

Honey menarik pelan tangan Charlotte yang membawanya ke klub malam dekat hotel yang mereka tempati di Boston.

Charlotte hanya tersenyum dan menarik kembali tangan Honey agar ikut masuk ke dalam. “Sudah ikut saja!”

Lampu neon bar berkilauan, menyorot wajah-wajah riuh yang bersenandung bersama dentuman musik. Honey menunduk sembari menyesal. Seharusnya dia tetap berada di kamar hotel untuk beristirahat. Besok adalah audisi terakhir bagi Honey untuk mewujudkan impiannya sebagai penyanyi.

Tapi ia ada di sini saat Charlotte malah memintanya menemani. Padahal Charlotte adalah salah satu saingan Honey pada audisi itu.

“Ini minumanmu!” Charlotte menyodorkan segelas besar bir. Senyum Charlotte tampak manis, tapi tatapannya penuh tekanan.

Honey membesarkan mata menatap gelas. “Aku tidak bisa, Char. Besok kita harus audisi dan itu sangan penting banget buatku.”

Charlotte menyandarkan dagu di telapak tangan, pura-pura kecewa. “Kamu selalu terlalu serius. Hanya satu gelas. Kamu butuh relax biar bisa tampil maksimal. Aku janji, habis ini kita langsung kembali ke hotel.”

Honey menggigit bibir bawahnya. Di satu sisi, ia ingin menolak tegas. Di sisi lain, Charlotte juga temannya dan ia berharap Honey mau menemaninya. Honey yang polos mengira Charlotte terlalu gugup sehingga mengajaknya minum. Akhirnya, Honey mengangguk pelan lalu menyesap minumannya. Rasanya manis di awal, tapi getir di akhir.

Charlotte menatapnya puas, meski bibirnya tetap tersenyum lembut.

Lima belas menit kemudian, Honey mulai merasa aneh. Pandangannya berkunang-kunang, napasnya terasa berat. Ia berdiri dengan susah payah.

“Charlotte, kenapa rasanya panas sekali?” gumamnya mendesah pelan.

Charlotte pura-pura terkejut. “Apa kamu baik-baik aja? Apa kita pulang saja?”

Honey mengangguk setuju dan mencoba berjalan, tapi lututnya gemetar. Charlotte menahan tubuhnya, memapah dengan cepat ke arah lift hotel yang berada di atas klub itu.

Di lorong sepi, Charlotte berhenti. Keringat dingin menetes dari pelipis Honey. “Aku mau ke toilet,” bisik Honey lemah.

Charlotte menatapnya sekilas. “Maaf, Honey. Aku juga tidak punya pilihan.

Ia tidak menuntun ke toilet. Sebaliknya, Charlotte menekan tombol lift menuju lantai atas. Saat pintu terbuka, ia menggiring Honey ke koridor yang lebih sunyi.

Rencananya sederhana, ia harus mencegah Honey tidak kembali ke audisi esok hari. Biar hanya dirinya yang lolos. Charlotte tahu kemampuannya akan mudah dikalahkan oleh Honey sedangkan hanya ada satu orang yang lolos mewakili Pennsylvania.

Namun, sebelum Charlotte sempat pergi, seorang pria berjas hitam melintas. “Permisi, kamu butuh bantuan?” Pria itu sedikit menunduk melihat Honey yang sudah terduduk tak sadarkan diri di lantai.

Charlotte berpikir cepat. Kalau ia terlihat panik, ia akan dicurigai. Jadi ia tersenyum sopan. “Ya, benar. Temanku seharusnya bertemu seseorang di sini, tapi aku harus harus pergi.”

Pria itu mengalihkan pandangan dari Honey ke Charlotte. “Oh, aku mengerti maksudmu. Biar kuantarkan dia.”

Charlotte pun meninggalkan Honey begitu saja. Saat langkahnya menghilang di ujung lorong, Honey hanya bisa merintih, tubuhnya semakin lemas.

Pandangan Honey sudah kabur, kepalanya terasa berat seakan dunia berputar saat pria berjas itu membawanya ke sebuah pintu. Pria itu memencet bel kamar sekali dan tak lama pintu terbuka. Samar-samar Honey melihat sosok pria muda berdiri di depannya. Tubuhnya tegap, hanya mengenakan celana panjang tapi wajahnya kabur oleh pusing yang berdenyut di kepala Honey.

“Aku tidak memesan siapa pun.” Suara berat pria itu terdengar.

“Tapi dia mengaku kenalan dan ingin menemuimu.”

Honey masih bisa mendengar dan ingin protes tapi ia tak punya cukup tenaga untuk bicara. “Tolong ... aku tidak kenal dia,” batin Honey terus bicara.

Setelah itu hanya ada rasa gamang dan Honey terhuyung. Ia tak mampu menangkap kata-katanya, hanya gaung samar di telinganya. Tubuhnya seakan jatuh, namun sebuah tangan kuat menahan tubuh mungilnya.

Honey mengerjap lemah. Aroma asing memenuhi hidungnya—cedar dan sisa alkohol. Dadanya berdebar menarik lebih banyak oksigen agar kembali sadar. “Siapa … kamu?” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Tubuhnya digiring ke dalam ruangan. Kaki Honey masih bisa sekilas merasakan dinginnya lantai sebelum melayang. Di tengah deru napas tersengal, punggungnya menyentuh permukaan ranjang yang empuk. Kelopak matanya semakin berat, wajahnya memanas, dan nafasnya terengah.

Dalam kabut kesadarannya, Honey meraih lengan yang melingkar memapahnya. Suaranya pecah, lirih dan putus asa. “Tolong … jangan tinggalkan aku.”

Tidak ada jawaban, hanya ia bisa merasakan selimut hangat menutupi dirinya hingga bahu. Honey mencoba membuka mata sekali lagi, namun pandangan langsung menghitam hingga ia akhirnya terlelap.

Keesokan harinya, Honey terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Ia melihat sekeliling dan perlahan menyadari jika itu bukan kamar sewaannya.

Di mana aku? Apa yang terjadi semalam?

Selimut masih melingkupinya. Ia menoleh dan terkejut melihat seorang pria asing tertidur di sebelahnya.

Dengan jantung berdegup kencang, Honey buru-buru meraih pakaiannya di kursi, lalu mengenakannya dengan tangan gemetar. Air mata membasahi pipinya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal pasti. Honey sudah tidur dengan pria asing.

Dengan langkah limbung, ia berlari keluar kamar, menekan tombol lift sambil menahan isak.

“Ya Tuhan … jangan sampai aku terlambat. Kumohon,” bisiknya berulang-ulang di dalam lift.

Honey berlari mencari taksi hingga ia tiba di tempat audisi yaitu tempat hotelnya menginap. Di lobi hotel, kerumunan orang sudah ramai. Begitu sampai di lobi hotel, Honey mendapati kerumunan orang sudah ramai. Banner besar bertuliskan Final Audition: New Skylar Rising Star terpampang di pintu masuk ballroom. Suara riuh, tawa, dan obrolan bercampur dari para peserta yang sudah selesai tampil.

Honey berdiri di sana dengan wajah pucat, masih menggenggam tasnya yang sedikit lusuh.

Langkahnya berhenti. Terlambat sudah. Jam di ballroom menunjukkan pukul 01.13 siang. Audisi sudah selesai tadi pagi. “Aku terlambat ....” bisiknya dengan suara patah. Impian yang ia bawa jauh-jauh dari Pennsylvania hancur hanya dalam satu malam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 151. Ablivient

    Napas Rei tercekat kala teleponnya diputuskan sepihak oleh Axel Clarkson. Yang lebih mengejutkan adalah ketika Axel ternyata mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Rei pada Honey di Boston. Rei kemudian berdiri dari posisi duduknya dengan kepala penuh pertanyaan. Entah bagaimana caranya masalah itu bisa keluar dan diketahui oleh Axel.Rei lantas mengambil lagi ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel Honey lagi. namun yang terjadi malah ponsel Honey telah dimatikan total. Rasa cemas di hati Rei masuk dan membuatnya resah. Ia tak bisa memungkiri jika rasa takut akan kehilangan Honey mulai masuk dan menguasai hatinya.Axel Clarkson bukan orang yang ramah pada Rei Harristian. Dari awal mereka bertemu, Axel sudah benci setengah mati padanya. Sekarang saat ia mengetahui yang dilakukan oleh Rei pada Honey, pastilah Axel tak akan pernah bisa menoleransinya sama sekali.“Shit ... apa yang harus gue lakuin sekarang?” ucap Rei merutuki dirinya se

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 150. Tanpa Ampun

    Selama perjalanan bulan madunya, Arjoona terus menghubungi putranya Rei memberikannya kabar setiap hari. Sama seperti hari ini saat malam hari, Rei baru saja di apartemennya sendirian dan tengah menerima sambungan telepon dari sang ayah.“Kamu terdengar bahagia? Apa ada yang terjadi?” tanya Arjoona di tengah pembicaraan soal bulan madu kedua Arjoona dan Claire melalui sambungan telepon. Rei terkekeh kecil dan mendengus.“Dad, aku sedang jatuh cinta!” jawab Rei dengan santainya bersandar separuh berbaring di sofa ruang tengah sambil tersenyum lebar.“Oh ya? Apa ... yang kamu maksud itu Axel?” tebak Arjoona dengan santai. Rei terkekeh karena tebakan yang benar dari sang Ayah. “Kok Daddy tau aja? Daddy ngintip ya!” canda Rei lalu terkekeh lagi. Arjoona tak ikut tertawa tapi Rei yakin jika ayahnya juga ikut bahagia.“Kamu tuh! Apa kamu yakin dengan pilihan kamu sekarang?” tanya Arjoona membuat suara kekeh Rei berhenti. Ia memutar bola matanya melirik ke beberapa arah di ruangan tempatnya

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 149. Akankah Kamu Peduli?

    “Honey ... apa benar yang dikatakan Daddy! Si Brengsek itu yang sudah menghamilimu!” hardik Axel menaikkan nada suaranya nyaris membentak Honey. Abraham cukup terkejut dengan perubahan sikap Axel. Ternyata ia benar-benar tak tahu tentang hal tersebut. Abraham ikut berdiri dan memegang pundak Axel.“Kamu tidak tahu soal ini?” Axel menoleh pada ayahnya dengan kening mengernyit.“Jadi Daddy tahu dan tak bilang padaku!” Axel makin menaikkan suara pada ayahnya itu. Abraham memandang Axel yang malah terlihat marah padanya. Axel kecewa dengan Abraham yang tak mengatakan apa pun soal Rei Harristian. Sementara Honey makin terisak.“Aku melakukan penyelidikan dan menemukan jika Rei Harristian adalah orang yang telah memberikan cek pada Honey, satu hari setelah kejadian itu. Honey meminta aku untuk menghentikan semua penyelidikanku soal Rei! Dia meminta aku melupakan semua itu dan memulai semuanya dari awal lagi!” jelas Abrah

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 148. Memohon

    “Bekerja samalah denganku! Atau aku akan mempermalukanmu ke media. Jika aku membuka skandal percintaanmu dengan Dalton, bosmu itu tak akan menyukainya! Dia kan akan menghancurkan hidupmu!” sambung Christina makin menakut-nakuti. Charlotte menelan ludah pahit dan getir karena takut.“D-Dia bukan Axel Clarkson yang asli. A-Aku rasa dia bukan seorang pria!” aku Charlotte setelah tak tahan diancam seperti itu. Christina terdiam dan mengernyitkan keningnya. Rasanya ada yang aneh dengan semua itu.“Apa maksudmu dia bukan pria?” tanya Christina penuh keheranan. Charlotte mencoba menenangkan dirinya.“Itu hanya perkiraanku. Aku tidak punya buktinya!” elak Charlotte membuat Christina memicingkan mata padanya.“Bagaimana kamu bisa berspekulasi seperti itu? Apa kamu mengenal sosok asli asisten itu yang sebenarnya?” Charlotte tercekat dan pikirannya bergolak. Ia tengah mempertimbangkan apakah akan memberitah

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 147. Kekecewaan

    Rei mengantarkan Honey sampai ke depan pintu lobi depan apartemennya setelah membukakan pintu untuknya. Ia tersenyum dan hendak ikut naik ke atas lobi sampai Honey berbalik dan Rei pun berhenti berjalan.“Terima kasih sudah mengantarkan aku, Pak!” ucap Honey seperti mencegah Rei untuk bisa naik dan masuk ke dalam. Rei tersenyum perlahan dan mencoba menyentuh jemari Axel alias Honey lagi. Tapi Axel dengan cepat memindahkan tangannya.“Apa aku boleh masuk ke dalam? Aku ingin memastikan jika kamu masuk dengan selamat,” ujar Rei mencoba membuat alasan agar bisa naik ke atas. Axel masih menghalangi dengan tetap berdiri di posisi yang sama.“Aku baik-baik saja. Kamu boleh pulang, Pak!” balas Honey menolak permintaan Rei yang ingin mengantarkannya masuk ke dalam. Rei mengangguk paham dan masih tersenyum manis.“Kalau begitu aku akan meneleponmu lagi nanti malam. Aku harap kamu akan mengangkat telepon dariku!” Honey

  • Terbakar Asmara Bosku   Bab 146. Kejatuhan

    Christina Megan berdiri di balik sebuah dinding menunggu kesempatannya seperti seekor cheetah tengah memangsa. Matanya menatap ke arah pintu masuk lobi Tritone menunggu seseorang yang muncul dari sana. Target itu muncul menjawab rasa sabar Christina yang sudah menunggunya selama nyaris dua jam.Target itu adalah Charlotte Harper yang kembali menggunakan taksi. Ia kembali dengan sebuah spekulasi yang akan ia jual pada Dalton Curt. Kini Charlotte menebak jika yang menjadi Axel Clarkson adalah Honey yang merupakan saudara kandung Axel. Dengan langkah terburu-buru, Charlotte masuk ke dalam lift menuju lantai tempat Dalton tengah berada sekarang.Belum sempat pintu tertutup sempurna seseorang menerobos masuk. Dia adalah Cristina Megan yang langsung menekan tombol pintu tertutup. Mata Charlotte sontak membesar melihat keberadaan Christina yang tiba-tiba berdiri di depannya seperti akan menerkamnya.Christina tak terlihat bersahabat sama sekali. ia memandang tajam pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status