ログインHoney duduk termenung di depan banner besar audisi. Kepalanya masih berdenyut, tubuhnya lemah. Semua terasa hancur. Audisi yang ia perjuangkan jauh-jauh dari Pennsylvania lenyap begitu saja.
“HONEY!” suara lantang memecah lamunannya.
Honey mendongak. Angelica, sahabatnya yang ikut datang ke Boston berlari dari seberang jalan. Begitu sampai, ia langsung memeluk Honey erat.
“Apa yang terjadi semalam? Aku mencarimu di kamar dan kamu tidak ada!” Angelica mencecar cemas setelah mereka duduk di sebuah kafe waffle.
Honey menunduk, jemarinya menggenggam cangkir teh hangat. “Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, Angelica. Aku terbangun di kamar hotel lain … dengan seorang pria asing. Entah apa yang sudah terjadi, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa ada di sana.” Honey berbisik pelan dengan raut kebingungan serta sedih.
Air matanya menetes perlahan dan ia menunduk. Angelica tertegun, lalu meraih tangannya. “Apa kamu tidak bertanya pada pria itu?”
“Aku takut. Kalau Ayahku tahu, dia akan kecewa. Kalau Axel dengar, dia akan marah. Aku tidak mau menjadi beban mereka lagi.”
Angelica menarik napas panjang. Ia tahu Honey pasti ketakutan sehingga tidak berpikir panjang.
Saat ingin kembali bertanya, mata Angelica lalu jatuh pada leher Honey. “Eh, kalungmu mana?”
Honey refleks meraba lehernya. Matanya seketika melotot saat menyadari jika ia kehilangan kalungnya. “Kalungku! Tidak mungkin … itu peninggalan Ibuku. Aku tidak boleh kehilangan kalung itu!”
Angelica mengangguk dan langsung berdiri. “Mungkin tertinggal di hotel itu. Ayo kita ke sana!” Honey pun langsung mengangguk.
Mereka berdua langsung kembali ke hotel tempat Honey keluar tadi pagi. Sesampainya di lobi, seorang manajer hotel menghampiri. “Nona Clarkson? Ada titipan untuk Anda.” Ia menyodorkan sebuah amplop.
Honey menerima dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada kalung kesayangannya. Ia hampir melepaskan napas lega dengan senyuman. Namun, sebuah cek bernilai sepuluh ribu dolar dan secarik catatan singkat, membuat senyuman itu kembali datar.
[Aku harap ini kembali padamu. Maaf tentang kejadian semalam. Semoga keberuntungan menyertaimu]
Honey terdiam. Cek itu seolah menegaskan bahwa benar ada yang terjadi semalam tanpa ia sadari telah merenggut semuanya. Angelica yang ikut membaca menoleh pada Honey dengan raut cemas.
“Kita akan cari tahu siapa pria ini. Dia harus menjelaskan yang terjadi.”
“Apa pun alasannya, aku sudah kehilangan semuanya,” bisik Honey melirih pilu dengan air mata yang menetes.
Angelica lantas mengajak Honey kembali ke hotel tempat mereka menginap agar mereka bisa bersiap kembali ke Crawford. Mimpi Honey yang hilang kini tak berguna ditangisi.
“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Angelica saat mereka sudah duduk di kereta dalam perjalanan pulang. Honey hanya menoleh lemah dengan senyuman tipis.
“Meneruskan kuliah. Aku harus mencari tempat magang jika ingin lulus tahun ini.”
Saat di perjalanan, ayah Honey yaitu Abraham menelepon. Ia ingin mengetahui kabar audisi Honey hari ini. Honey terpaksa jujur dan mengakui kegagalannya.
“Tidak apa, Sayang. Kamu kan masih bisa meneruskan kuliahmu dan mencari pekerjaan lain.”
Honey tersenyum mendengar kalimat lembut sang ayah. “Terima kasih, Dad. Aku berencana mengambil kesempatan bersama Axel di New York. Mungkin di sana, kesempatanku akan lebih baik.”
“Baiklah, kita bicarakan itu setelah kamu sampai nanti. Hati-hati, Sayang. Aku akan menjemputmu di stasiun. I love you.”
Honey nyaris meneteskan air matanya saat mendengar dan membalas ucapan dari ayahnya. Ia sudah mengecewakan ayahnya dengan gagal audisi. Jika ia mengetahui yang terjadi di hotel, Honey tidak bisa membayangkan patah hati sang ayah dan adik laki-lakinya, Axel.
Meski tidak bisa mengingat yang terjadi, Honey yakin jika pria asing itu sudah mengambil kehormatan yang ia jaga untuk pria yang akan menikahinya nanti. Namun, Honey memilih tak ingin bicara. Ia ingin melupakannya selamanya.
Seminggu kemudian, Honey mengambil tawaran magang dari Skylar Labels di New York agar ia dapat menyelesaikan kuliahnya. Masalahnya, hanya pria yang diterima di sana. Honey pun mengambil risiko itu dengan menyamar sebagai Axel Clarkson.
Ia datang dengan kemeja putih dan dasi milik adiknya yang membuatnya berpenampilan seperti seorang pria. Di dada terdapat badge bertuliskan Axel Clarkson menempel di saku.
Honey menarik napas panjang dengan gugup terus merapal dalam hati. “Aku harus lakukan ini. Aku harus mendapatkan surat magang itu.”
Honey memberanikan diri melangkah dengan percaya diri ke meja resepsionis. “Selamat pagi, saya ingin bertemu dengan manajer HRD, Nyonya Mills,” ucapnya dengan senyuman aneh.
“Ada yang bisa kubantu?”
Honey mengangguk cepat dan langsung memberikan sebuah surat. Resepsionis itu membaca sebentar sebelum memberikan petunjuk agar Honey pergi ke lantai lima dan melaporkan diri.
“Ini badge pengujungmu dan segera temui staf HR!”
Honey pun bergegas masuk ke dalam lift menuju ruangan HRD. Manajer HR belum datang dan seorang staf yang menerima laporan Honey langsung memberikannya tugas pertama.
“Tolong bereskan ruang kerja The Midas.”
Honey membelalak. “Eh? Aku … aku bukan petugas kebersihan.”
Staf itu langsung menatapnya tajam. “Apa kamu tidak membaca email job description? Jangan membantah apa lagi kamu hanya staf magang.”
Honey menelan ludah, lalu mengangguk. Dengan hati berdebar, ia masuk ke ruangan luas di lantai paling atas.
Mulut Honey terbuka, tertegun saat melihat dinding kaca besar yang memisahkannya dengan pemandangan gedung pencakar langit di luar. Di depannya ada meja kerja dengan kertas berserakan. Tanpa instruksi, Honey mengasumsikan hal yang harus ia bereskan. Ia pun mengambil kertas-kertas itu lalu menumpuknya rapi dan menyusun ke dalam laci.
“Semoga orang itu tidak marah,” gumamnya lirih.
"Josh, apa aku boleh meminta bantuanmu jika kamu tidak keberatan?""Tentu saja. kamu boleh meminta apa saja padaku!" sahut Josh menjawab dengan cepat. Bahkan tak ada keraguan sama sekali pada kalimatnya. Jewel menarik napasnya lebih panjang dan mulai bicara."Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah Charlotte? Aku dengar dia sudah bebas dan aku ingin bicara dengannya," pinta Jewel langsung mengungkapkan maksudnya."Apa! Kamu bilang Charlotte sudah bebas?!" pekik Josh dengan nada lebih tinggi."Aku kira kamu sudah tahu ..." gumam Jewel separuh tak sadar."A-Aku benar-benar tidak tahu ..." Jewel terdiam sejenak dan menarik napasnya."Tapi, aku rasa itu bukan ide yang bagus untuk bertemu dengannya. Dia sangat membencimu, Jewel!" jawab Josh menambahkan lagi. Jewel menggigit bibir bawahnya terdiam mendengarkan Josh bicara."Aku pernah bicara padanya saat ia masih di penjara NYPD. Dan dia dengan terang-terangan mengatakan jika membencimu. Jad
"Apa yang kamu lakukan, Rei? Kau gila ya?" hardik Andrew mendorong Rei yang malah terkekeh kecil dan mendengus mengejek sambil memperbaiki jaket hoodienya."Aku hanya bersenang-senang. Lagi pula harusnya orang seperti itu pukuli saja kepalanya!" tunjuk Rei ke arah pintu kamar perawatan Dalton."Aku pun ingin melakukannya, tapi semua ada caranya! Kamu tidak bisa datang dan membuat keributan seperti ini!" hardik Andrew lagi. Rei menghela napasnya dan mengangguk."Aku sedang melindungimu di sini! Jadi bantu aku dengan tidak menambah masalah, mengerti?" sambung Andrew masih menghardik Rei. Rei mengangguk paham dan akhirnya meminta maaf."Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menambah masalahmu. Aku hanya kesal dia malah mau menuntut NYPD!" Andrew mendengus pelan."Aku tahu. Aku pun kesal. Tapi biar itu jadi urusanku! Sekarang katakan apa maumu?""Aku ingin bicara dengan Christina!" Andrew sontak mengernyit mendengar Rei bicara hal tersebut. Ia sempat
Dalton Curt tak berhenti membuat tindakan yang makin menjerumuskannya. Kali ini, ia menuntut pihak kepolisian karena sudah melakukan kekerasan dan pelanggaran terhadap penangkapannya. Dalton yang masih ditahan di rumah sakit karena dirawat akibat luka yang ia peroleh di rahangnya kini sadar dan menuntut polisi yang sudah menangkapnya. Sehingga terjadi keributan di ruang rawatnya."Ada apa ini?" tegur Andrew Miller dengan nada agak sedikit besar. Beberapa polisi berseragam yang tengah mengamankan sekaligus menenangkan Dalton pun sedikit menyingkir."Maaf, Pak. Tuan Curt tidak bersedia di borgol dan dibawa. Pengacaranya mengatakan bahwa sampai polisi ditindak mereka tak bersedia untuk diproses!" lapor salah satu petugas pada Andrew. Andrew mendengus kesal dan mengernyitkan keningnya. Ia menoleh pada pengacara Dalton yang sedang berdiri di depan Dalton untuk memagari kliennya. Andrew kemudian mendekat sambil berkacak pinggang."Apa yang kau lakukan, pengacara?" teg
Persiapan pernikahan Grey Hunter dan Lenora Smith telah memasuki akhir. Gedung dan tempat diadakannya resepsi nantinya telah dipersiapkan. Oleh karena beberapa aset keluarga Belgenza belum sepenuhnya dipulihkan karena telah dijual oleh pihak yang tidak berkepentingan seperti menara Il Rosso. Menara itu adalah bangunan saksi bisu pernikahan James Belgenza dan istrinya Delilah Belgenza. Grey tengah mengalihkan lagi ke pemilikannya atas milik Cass Belgenza sebagai warisan miliknya.Karena keadaan itu, Grey tak bisa mengadakan pernikahannya di menara yang sama, meskipun ia ingin melakukannya. Namun Bryan Alexander meminta dengan khusus agar pernikahan Grey dan Lenora dilakukan di menara The Heist. Dan Grey telah menyetujuinya.Hari ini, Grey mengunjungi tempat akan diadakannya pesta pernikahannya. Ia ingin mengecek kesiapan tempat dan persiapan pesta yang sedianya akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Grey harus melakukan pernikahannya dalam beberapa hari karena dua
“Aku menghubungimu untuk mengatakan jika jaminan Charlotte Harper sudah disetujui oleh Jaksa dan dia baru saja keluar penjara. Charlotte dikenakan tahanan rumah dan dia tidak boleh keluar rumah sama sekali,” sambung Andrew menjelaskan pada Rei tentang yang terjadi pada Charlotte.Rei masih diam mendengarkan sembari berpikir. Wajahnya tampak serius memikirkan hal tersebut.“Apa menurutmu dia akan melarikan diri?” tanya Rei masih dengan nada cemas.“Tidak menutup kemungkinan meskipun aku ragu dia akan melakukannya. Jika terjadi kedua orang tuanya juga bisa ditangkap atas tuduhan menyembunyikan tersangka,” jawab Andrew mulai menjelaskan dengan lebih serius.“Jangan lupa dia orang yang nekat melakukan apa saja!” jelas Rei mengingatkan pada Andrew. Rei sedikit melirik pada Jewel tapi ia terlihat masih cuek dan tak peduli padanya.“Aku tahu. Itu mengapa aku menempatkan satu mobil patroli di depan ruma
Dengan ditangkapnya Christina, maka pengacara Charlotte Harper mencoba peruntungan sekali lagi dengan mengajukan jaminan pembebasan bersyarat untuk Charlotte.Alasan yang dipakai adalah Charlotte tak terlibat dalam skenario percobaan pembunuhan terhadap The Midas Rei. Menurut bukti yang diperoleh oleh pihak polisi, hanya Christina yang terbukti memasukkan racun tersebut ke dalam minuman.Namun Charlotte masih bisa disangkakan dengan tuduhan konspirasi karena dianggap sebagai pengalih perhatian saat Christina masuk ke dalam ruangan The Midas Rei untuk mencampurkan racun tersebut ke dalam minuman. Setidaknya sebelum segala tuduhan itu dilontarkan, ia punya kesempatan untuk bebas lebih awal.Jaminan Charlotte pun diterima dan dia tetap akan menjalani proses pengadilan atas kasusnya yang terlibat pada konspirasi rencana pembunuhan The Midas Rei.Saat Charlotte keluar, ia dijemput oleh kedua orang tuanya. Charlotte tampak pucat dan lusuh. Ia menangis hampir kehilangan suaranya di pundak ib
Dengan langkah gontai, Rei berjalan dan hendak membuka pintu mobil. Namun sebuah cekalan tangan lantas menghalanginya. Rei menoleh dan mengernyit hebat. Christina sudah menungguinya dari beberapa jam yang lalu dan sekarang baru memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.Rei langsun
Rei masih uring-uringan dengan keadaannya sekarang. Ia datang ke restoran milik Brema dan curhat panjang lebar tentang Axel alias Honey yang dipaksa untuk berhenti bekerja di Skylar. Masalahnya Brema masih mengira jika Honey dan Axel adalah orang yang berbeda yang dimaksudkan oleh Rei.&ld
Jake Wienzel masuk cukup pagi-pagi sekali ke studio di Skylar. Ia memiliki beberapa alasan untuk masuk pagi. Pertama, ia ingin membahas tentang lagu baru yang akan naik rekaman dalam beberapa hari ini. Lagu itu sesungguhnya adalah lagu yang dinyanyikan secara solo namun entah mengapa semalaman Ja
Pintu lift terbuka, Rei Harristian terlihat keluar dari lift sendirian dengan sebuah buket bunga di tangannya. Ia memakai jas tuxedo dengan cummerbund warna merah maroon sama seperti hiasan di saku jas depannya. Ia berjalan dengan senyuman tipis dan seorang pegawai hotel lantas membukakan pintu u







