Share

BAB 11

Penulis: Ellailaist
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-12 01:00:47
"Kau pikir kostum ini bisa menyembunyikan kehancuranmu, Aruna?"

Suara bariton itu memotong keriuhan Distrik Komersial Viance yang padat. Aruna tersentak, tubuhnya yang terbungkus kostum badut berbulu tebal mendadak kaku. Di bawah terik matahari siang yang mencapai puncaknya, udara di dalam kostum itu terasa mencekik, panas, dan berbau apak. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, membakar matanya yang sudah perih, namun ia harus terus bergerak.

Aruna menolak untuk memberikan jawaban. Di balik topeng kepala badut yang besar, lebar, dan selalu tersenyum konyol itu, ia sedang menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa besi darah mulai terasa. Ia hanya terus mengayunkan tangan berbulunya yang berat, membagikan brosur kedai kopi Pak Hasan kepada para pejalan kaki yang lewat tanpa peduli.

Ini adalah strategi terakhirnya. Pagi hingga siang ia menjadi badut jalanan untuk mempromosikan toko-toko kecil, dan sore hingga malam ia kembali mencuci cangkir di kedai kopi. Ia butuh setiap keping E
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Ceritanya semakin seru di bab selanjutnya guys...️
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 263

    Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 262

    “Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 261

    Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 260

    Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 259

    Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha

  • Terbelenggu di Kamar Hasrat Sang Bos   BAB 258

    Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status