MasukKepanikan seketika merayap naik, mencengkeram dada Wira jauh lebih menyakitkan dari pada guratan tato urat nadi hitam di lehernya.
Pria bertubuh tegap itu berlutut di atas lantai semen yang dingin, memandangi tubuh Senjana yang kini terbujur kaku tak berdaya. Napasnya sendiri memburu tak beraturan, menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat di rongga dada. Dengan tangan yang gemetar hebat, Wira mengulurkan dua jari tangan kanannya yang kasar ke leher Senjana. Kulit wanita itu terasa sedingin es, membuat Wira sempat menahan napas karena ketakutan setengah mati. Namun, sedetik kemudian, sebuah denyutan halus namun beraturan menyapa ujung jarinya. Dug. Dug. Dug. Wira mengembuskan napas panjang yang gemetar. Detak jantungnya masih ada. Wanita ini hanya pingsan, mungkin ambruk karena syok setelah dinding kesadarannya dihantam badai trauma masa lalu yang tak sengaja dipicu oleh bentakannya. Tanpa membuang waktu, Wira menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tekukan lutut dan punggung ringkih Senjana. Saat mengangkatnya, hati Wira kembali mencelos. Tubuh wanita ini terasa begitu ringan, seolah-olah dia hanyalah tumpukan kelopak bunga kering yang siap hancur ditiup angin malam. Ia membawanya melewati tirai pembatas menuju kamar istirahatnya yang sederhana di belakang studio. Sebuah ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter dengan ranjang kayu kecil berselimut seprai abu-abu kusam. Setelah membaringkan Senjana dengan hati-hati, gaun backless bertali tipis minim yang dikenakan wanita ringkih itu kini sepenuhnya mengekspos tubuhnya. Di bawah temaram lampu pijar kuning, napas Wira seketika tercekat. Tubuh ringkih itu tak ubahnya sebuah kanvas yang telah dicabik-cabik. Bukan hanya di punggung, bekas luka mengerikan juga bertebaran di sekujur tubuh Senjana. Ada barisan luka parut yang menghitam di lengan kirinya, serta memar-memar parah yang gagal sembuh di sepanjang tulang kering kakinya. Satu-satunya yang selamat dari bekas luka itu hanya wajah cantiknya, yang seakan dijaga agar si wanita tetap terlihat baik-baik saja jika mengenakan pakaian tertutup. Pemandangan pilu itu seolah menghipnotis Wira. Langkahnya terseret mendekat ke tepi ranjang. Tatapannya terkunci pada bagian dada kanan Senjana, tepat di atas potongan tali tipis gaunnya. Di sana terdapat bekas luka bakar yang paling besar, melepuh dan berkerut akibat sundutan besi panas atau puntung rokok yang dipaksakan berulang kali. Dengan tangan bergetar, ujung jemari kasar Wira perlahan menyentuh tepian luka bakar tersebut. Deg! Sentuhan kulit tanpa sekat itu seketika memicu hantaman keras di kepala Wira. Rasa perih dari luka Senjana seperti membuka paksa kotak pandora di otaknya. Kilasan masa lalu yang kelam mendadak bangkit dan menghantam kesadarannya tanpa ampun. Ia mengingat dirinya saat baru berusia 12 tahun. Terbangun di tepi jalanan yang dingin dalam kondisi kelaparan, linglung, dan kehilangan seluruh ingatan masa kecilnya. Satu-satunya memori yang tersisa di kepalanya hanyalah kobaran api yang membumbung tinggi ke langit. Ia tahu ia telah selamat dari kebakaran besar yang mengerikan itu berkat pengorbanan seorang anak perempuan kecil. Namun, Wira sama sekali tidak ingat siapa nama, bagaimana rupa, atau di mana anak perempuan itu sekarang. Kenangan pahit itu berlanjut. Setelah telantar di jalanan, ia dipungut dan diangkat anak oleh seorang wanita paruh baya yang sangat baik hati. Sayangnya, wanita itu bersuamikan pria bejat yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan. Demi memuaskan kecanduan judi sang suami, ibu angkat Wira dipaksa memeras keringat menjadi buruh cuci, sementara Wira yang masih remaja dipaksa putus sekolah dan bekerja keras sebagai kuli bangunan demi menghasilkan uang. Tak cukup sampai di situ, si bapak angkat yang serakah terus menumpuk utang di banyak tempat, mulai dari tetangga hingga ke lingkaran rentenir kelas kakap yang kejam. Kini, ibu angkat yang menyayanginya telah lama meninggal akibat sakit dan kelelahan, sementara si bapak angkat mendekam di penjara akibat kasus kriminal. Namun, penderitaan Wira belum usai. Ia justru terjebak, menanggung warisan dosa berupa utang-utang menggunung sang bapak angkat yang terus mengejarnya hingga hari ini. Wira menarik kembali tangannya dari dada Senjana dengan napas tersengal-sengal. Tatapannya beralih pada wajah pucat wanita yang masih pingsan di hadapannya. Air mata tersamar menggenang di sudut mata pria sedingin es itu. "Apa yang telah kamu lalui dalam hidupmu...?" bisik Wira parau ke dalam keheningan kamar yang menyedihkan. Dua jiwa yang sama-sama hancur dan dirampas masa kecilnya, kini dipertemukan dalam takdir yang kian rumit di balik studio yang terkunci.Di dalam kamar, aroma parfum menyengat dari tubuh Rosa mendadak bertabrakan dengan bau antiseptik dan minyak kayu putih yang mengendap kaku di udara. Pemandangan di dalam ruangan itu begitu kacau. Pecahan cermin rias tua berhamburan mengilap di semen dingin, sebagian tercoreng noda darah segar yang menetes dari telapak kaki Senjana. Di sudut ruangan yang paling gelap, gadis itu meringkuk kaku memeluk tubuhnya. Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya rapat-rapat, seolah-olah raga di balik pakaian rapuh itu adalah monster yang tak boleh terlihat oleh siapa pun. Isak tangis Senjana terhenti sejenak ketika mendengar derap langkah sepatu hak tinggi menapak pelan mendekatinya. "Siapa kau..." suara Senjana meluncur sangat parau, tercekat oleh tenggorokan yang kering dan keputusasaan yang meluap. "Pergi... Aku tidak ingin bertemu siapa pun." Rosa berhenti sekitar tiga langkah dari tempat Senjana meringkuk. Ia menatap ke sekeliling ruangan dulu—melihat jarum infus yang terlepas
Suara pintu kayu tua yang tertutup merapat itu bergema kaku di lorong tengah rumah Guntur. Wira melangkah tertatih, seolah-olah seluruh tulang dan sendinya mendadak dilucuti dari raganya. Tubuhnya yang mampu menahan tembakan peluru tajam dan membalikkan bangkai truk berbobot belasan ton kini terasa begitu ringkih dan tak berdaya. Dengan napas yang berburu berat dan tenggorokan yang tercekat rasa sesak, Wira menjatuhkan tubuhnya, terduduk pasrah meluncur di sisi dinding luar kamar Senjana. Pria bertato itu menundukkan kepala dalam-dalam saat isak tangis Senjana yang terendam dari balik dinding papan terus meremas dadanya tanpa ampun. "Apa yang harus kulakukan...?" suara Wira meluncur lirih dan gemetar, bergetar hebat menembus keheningan lorong. "Aku hanya ingin menyelamatkannya... Aku hanya ingin membantunya..." Guntur yang berdiri tak jauh dari sana menghembuskan napas panjang. Pria berjaket kulit itu berjalan pelan mendekat, lalu menjatuhkan badannya berlutut di sebelah Wira.
Cahaya remang yang menerobos sela-sela jendela kayu tua itu terasa begitu menusuk di mata Senjana. Manik matanya yang sayu bergerak lambat, menyapu langit-langit papan yang lapuk, aroma antiseptik yang menyengat, hingga selang bening yang menancap di punggung tangan kirinya. Lingkungan yang sama sekali tak ada di dalam ingatan terakhirnya. Di samping ranjang, Wira berdiri terpaku dengan dada berombak tajam. Harapan yang membumbung tinggi saat melihat kelopak mata itu terbuka kini bercampur dengan getaran cemas yang luar biasa. "Senjana..." bisik Wira sangat pelan. Tangannya terulur lambat, mencoba menggapai jemari dingin yang terlentang di atas selimut kusam. "Kamu... kamu sudah sadar?" Namun, belum sempat ujung jemari Wira menyentuh kulitnya, Senjana menarik tangannya secara refleks. Gerakan itu kasar dan ketus, membuat selang infus bergoyang hebat. Senjana perlahan menggerakkan lehernya yang kaku. Kulit leher sebelah kirinya terasa tertarik, kencang, dan menyengat perih saat
Sambungan telepon di genggaman Wira mendadak hening sejenak, hanya menyisakan hembusan napas berat Bagas yang teratur di balik pengeras suara ponsel. Pria berjas kaku yang menjadi tangan kanan sang Gubernur baru itu jelas mengerti seluk-beluk permainan kekuasaan di kota ini jauh lebih baik daripada siapa pun. "Dengar, Wira," potong Bagas sebelum Wira sempat memutus sambungan. Suaranya meluncur makin dalam, sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah. "Haryo tidak hanya menyisir kota untuk menemukan Senjana. Dia juga sedang mengerahkan intelijen dan orang-orang kepercayaannya untuk memburu keberadaanmu!" Wira memicingkan matanya. Manik mata cokelat keemasannya memancarkan pendar dingin saat mendengar hal itu. "Mencariku?" "Marco memang sudah mati, tapi Haryo tidak tahu siapa yang menghabisinya," lanjut Bagas cepat. "Haryo curiga ada sosok yang memiliki kekuatan tak wajar di balik runtuhnya Black Serpent. Dan mungkin orang itu berkaitan dengan tato magismu, Sekarang dia juga mulai
Napas Wira terengah lambat saat rasa dingin fajar kembali menyentuh kulitnya. Pendar mistis di dadanya telah padam sepenuhnya, meninggalkan rasa kebas yang menjalar ke seluruh persendian. Di dalam dekapannya, kini tubuh Senjana yang berganti mendadak terasa teramat berat. Sepertinya, begitu menyadari Wira telah kembali tenang dan terbebas dari jeratan aura merah membara, ketegangan yang menopang raga Senjana runtuh tanpa sisa. Kesadaran dan sisa-sisa kekuatannya sirna seketika. Tubuhnya yang lemas, kelelahan hebat akibat penderitaan bersama Marco semalaman, bertambah parah oleh luka bakar merah akibat menyerap radiasi panas ekstrem dari raga Wira. Gadis itu limbung, ambruk pasrah di dalam pelukan Wira. "Senjana? Senjana!" jerit Wira parau. Pria itu menyambar tubuh Senjana sebelum menyentuh tanah, merengkuh raga rapuh yang tak lagi merespons pemanggilannya. *** Waktu berlalu tanpa ampun. Tiga minggu lebih telah berganti—hampir genap satu bulan sejak malam berdarah di gudang tua
Hawa panas yang menguar dari tubuh Wira kian membumbung tinggi, menciptakan gelombang distorsi udara yang tampak menari-nari di tengah kegelapan gudang tua pelabuhan. Aroma belerang dan bau kulit terbakar bercampur pekat dengan amis darah yang menggenang di sekitar tubuh Marco. Pria kepala mafia itu kini sudah terkulai tak sadarkan diri, atau mungkin mati mengenaskan di atas semen basah, sementara puluhan anak buahnya tetap bersujud kaku, bertekuk lutut ketakutan di bawah bayang-bayang aura merah membara yang terus menggerogoti raga Wira. Dari atas mezanin, Bagas menatap pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia perlahan melangkah menuruni anak tangga besi satu per satu. Gerakannya yang biasa tegas dan teratur kini tampak ragu. Begitu kakinya memijak lantai dasar semen gudang, pria berjas kaku itu mencoba melangkah mendekati Wira. Namun, baru beberapa tapak melangkah, langkah Bagas mendadak tertahan kaku. Sssss... Hawa menyengat bagaikan dinding api tak kasat mata langsung m







