LOGINReaksi Bima seketika mengeras. Pria itu makin geregetan menatap layar ponselnya. “Perisai diri? Terancam? Memangnya aku penjahat! Dan masalah akan terselesaikan kalau dia jinak dan menurut. Sudah jelas aku adalah solusi cepat pada semua masalah hidupnya, bagaimana ceritanya aku dibilang ancaman!”Meski jengkel pada jawaban pertama, Bima masih mengetikkan pertanyaan kedua. [Lalu apa artinya kalau seorang istri yang selalu ingin membuat suaminya marah dan sengaja terus memancing emosi?][Itu cara dia mencari perhatian tanpa harus mengakui perasaannya. Memancing emosi adalah bentuk komunikasi pasif-agresif agar Anda tetap berfokus sepenuhnya pada dirinya.]Mata Bima melebar dengan senyum tipis. Kata ‘Cari perhatian’ sangat disukainya.“Ck, sudah kuduga kalau tidak akan ada yang kuat menolak pesonaku. Mungkin Megha hanya terjebak rasa gengsinya saja, jadi dia malu mengakuinya. Baiklah, akan kumaklumi. Asal jangan lama-lama cari masalahnya,” ucapnya sangat percaya diri.Penasarannya makin
Megha tetap diam dengan senyum tipis di bibirnya. Dia berjalan kembali ke ranjang, lalu mulai menata barisan jarum-jarum tajam itu secara sejajar di tengah-tengah kasur, membentuk garis lurus yang membelah area tidur mereka menjadi dua bagian.Bima membelalak menatap barisan logam kecil nan tajam itu di atas sprei mewahnya. “Kamu gila?! Jangan konyol, Megha?!”“Ini garis batas,” sahut Megha datar, menancapkan jarum terakhir sebagai penutup. “Perjanjiannya adalah kita tidur di satu ranjang yang sama, bukan saling menempel. Jadi siapa pun yang berani melewati batas ini saat tidur nanti, akan langsung mendapat hukuman tertusuk jarum-jarum ini.”Bima sampai geregetan dan frustasi setengah mati. “Ini ranjang milikku! Kamu pikir aku anak kecil yang harus kamu batasi dengan mainan tajam begini? Singkirkan benda-benda membahayakan itu sekarang! Kalau sampai aku terluka, kamu akan dapat masalah.”“Kalau kamu nggak berniat macam-macam atau melintasi batas, harusnya kamu nggak perlu takut, kan?”
Saat ekor matanya melirik ke arah istrinya, Bima mendesis kesal dalam batinnya, ‘Kenapa wajahnya masih tetap seperti itu?! Apa dia nggak capek pasang wajah seperti itu?’ Megha melangkah tenang keluar dari kamar mandi. Pakaian tidurnya sangat tertutup rapat, serba panjang, dan dijamin anti seksi. Membuat Bima menarik napas pelan, berusaha mengendalikan diri sambil meyakinkan otaknya sendiri. ‘Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima.’ Seperti sedang merapalkan mantra dalam hati. Saat Megha hampir mendekati sisi ranjang, Bima meletakkan iPad ke nakas di sebelah. Lalu, Pria itu menurunkan kedua kakinya ke lantai, sambil menatap istrinya dari ujung atas kepala sampai ke ujung kaki. “Besok saat acara besar keluarga. Jangan sampai kamu berpenampilan konyol begini di depan mereka.” Megha menaikkan satu alisnya, menghentikan langkahnya tepat di sebelah ranjang. “Kenapa? Kamu takut aku tampil dengan penampilan seperti ini? Lagipula, gaya seperti ini adalah penampi
“Kenapa kamu nggak bilang sejak awal kalau Bima itu suaminya Megha!” Napas Varen memberat.Veronica menoleh dengan tatapan tajam, lalu menyunggingkan senyum sinisnya. “Kak Varen saja yang bodoh. Sudah lama kenal Kiran, tapi masih saja nggak tahu kalau dia itu Megha, istrinya Bima. Dibodohi dan dimanfaatkan begitu saja diam saja, malah kelihatan senang.”Varen mencebik, membuang muka sejenak, lalu kembali menatap adik sepupunya itu. “Dan itu alasanmu yang hampir membuat Megha celaka kemarin di laut?”Veronica melotot tajam, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. “Karena aku sangat membencinya! Memangnya Kakak juga tidak ingin mencelakai Bima saat ini karena tahu faktanya? Apalagi tahu kalau mereka tidak jadi cerai! Jadi, nggak usah banyak tanya lagi apa alasanku ingin Megha atau Kiran itu musnah dari muka bumi ini!”Varen menekan rahangnya kuat-kuat, sorot matanya tajam. “Kalau kamu berani macam-macam lagi sama Megha, semua kebusukanmu akan kubongkar sekalian. Masih untung kemari
‘Foto ranjang dan bukti kalau benar-benar tidur satu ranjang.’Megha merinding geli sekaligus kesal setengah mati membaca isi pesan itu. Giginya bergemeletuk menahan geram.Bima menurunkan ponselnya sambil menyunggingkan senyum tipis yang tertahan di bibirnya. “Bagaimana sekarang? Masih mau menolak tidur bersama?”Padahal, jika saja Megha bisa mengusap layar ponsel itu dan membaca bagian atasnya, pesan dari pengacara Kakek sebenarnya sama sekali tidak se-ekstrem itu. Pria paruh baya itu hanya menanyakan kabar biasa. Bima sengaja memancing hingga semua kalimat itu terbit, demi memojokkan istrinya.Megha lalu menghentakkan napasnya kasar dengan wajah geram memerah. “Mana surat perjanjian nikah yang baru? Aku mau tambah banyak poin di dalamnya!”Bima mendelik pelan. “Surat perjanjian hitam di atas putih memang belum kita tanda tangani, tapi persetujuan lisan sudah kamu lakukan. Dan sekadar mengingatkan, saat ini ayahmu sedang dalam proses pemindahan ke rumah sakit terbaik. Dilan sedang m
CUP!Bima menekan ciumannya lebih dalam.Megha menegang sekejap, matanya membelalak lebar, tapi otaknya tetap sadar dan akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong dada itu agar bibir mereka terlepas.“Kamu gila, Bima!” pekik Megha. Melipat bibirnya.Jantung Megha dalam bahaya. Dadanya itu berdegup liar, hampir saja rasanya melompat. Matanya menegang dengan napas tertahan. “Mesum!”Bima justru menyeringai tipis tanpa dosa. “Aku hanya bertindak sesuai pesananmu saja.”Megha melotot dengan napas berat naik turun. “Pesanan bagaimana?! Jangan mengada-ada! Kamu sengaja mengambil kesempatan!”Bima menaikkan satu alisnya. “Kamu menggodaku dan mengirim sinyal secara eksplisit. Sebagai suami yang sangat pengertian, tentu harus langsung tanggap dan tahu diri untuk membahagiakan istriku. Lantas, apa salahku?”Megha merinding geli mendengarnya. “Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar sudah menyentuh langit.”Megha berputar hendak mundur menjauh, tetapi Bima bergerak jauh lebih cepat. Tangan pria itu







