Share

47. Ketahuan

Penulis: Angsa Kecil
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 19:02:09

Di sisi lain koridor rumah sakit.

Varen berdiri bersandar pada dinding kaca, menatap langkah terburu-buru Rianti yang kini menerobos masuk ke ruang direktur.

Dia menyeringai dingin. ‘Bagus. Sangat mudah terpancing. Ini akibat dari keserakahan putramu. Sudah memiliki istri dan calon istri baru, tapi masih tidak kenyang juga. Dasar buaya serakah.’

Rianti berjalan dengan wajah memerah menahan emosi yang meluap-luap, ditemani seorang pria kepercayaannya. Wanita itu tampak siap meledakkan emosinya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   138

    “Aku serius, Kyra,” ucap Varen dingin, berusaha keras untuk tidak mengunyah gadis itu. “Gajinya besar, fasilitas lengkap, dan semua kebutuhanmu dijamin. Bukankah kamu sedang butuh pekerjaan untuk menghidupi mereka. Kalau kamu keras kepala dan terlalu gengsi, kesempatan ini akan aku lempar pada orang lain.”Kyra menatap Varen dengan tatapan menyelidik. “Gaji besar? Fasilitas lengkap? Hei, Tuan Muda Sad boy, di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Pasti ada udang di balik bakwan dari tawaran aneh ini. Jangan-jangan kamu mau jadikan aku kelinci percobaan menu beracun?”“Aku tidak punya waktu meracuni orang. Nggak usah banyak mikir kamu itu mau atau tidak. Kalau tidak mau, banyak orang yang sangat senang dengan tawaran ini.”Kyra mendengus, membuang tatapan ke arah anak-anak panti yang masih mengintip dari kejauhan. Dia memang membutuhkan pekerjaan itu. Tapi kan ceritanya dia harus jaga image dan gengsi.“Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuanmu yang tiba-tiba bersikap baik padaku dan pu

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   137

    Kyra refleks berhenti berputar. Dia mengira itu adalah salah satu anak panti yang sengaja diam di tempat. Dengan gerakan cepat, kedua tangan Kyra langsung meraba pundak dan lengan sosok tinggi tegap tersebut.“Aha! Ketemu kamu, Jagoan kecil!” seru Kyra penuh kemenangan, lalu membuka kain penutup matanya dengan cepat.Namun, tawa di wajah Kyra langsung membeku seketika.Sosok yang ada di hadapannya bukanlah anak kecil berumur tujuh tahun. Melainkan seorang pria berpostur tinggi tegap, mengenakan kemeja putih rapi berkerah tegas, dengan tatapan tajam dan rahang mengeras menahan gengsi.Varen berdiri tepat di hadapannya.Suasana mendadak hening selama tiga detik. Jarak di antara mereka begitu dekat.Jantung Kyra berdetak dua kali lebih cepat karena kaget, sementara jantung Varen mendadak berdegup kencang karena terjebak dalam situasi paling canggung sedunia.Anak-anak panti yang melihat kejadian itu bertepuk tangan riuh rendah sambil bersorak-sorak menggoda.“Wah! Kakak dapat pangeran ga

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   136

    Mobil berhenti di lampu merah persimpangan jalan besar.“Belok kanan atau lurus, Pak?” tanya Niko tenang tanpa menoleh ke samping.“Belok kanan,” jawab Varen singkat, pandangannya lurus ke depan. “Masuk ke kawasan industri lama.”Niko memutar setir pelan, lalu melirik sekilas dari ujung matanya dengan senyum tanpa dosa yang menyebalkan. “Oh, ke alamat wanita yang kemarin saya selidiki. Calon pacarnya Bos, ya?”PLAK!Varen melayangkan jitakan dari belakang kursi kemudi di kepala Niko.“Aduh! Sakit, Pak!” aduh Niko refleks mengusap kepalanya sembari meringis.“Mulutmu itu perlu dicuci pakai cairan pembersih lantai, Niko!” bentak Varen dengan wajah memerah padam, gengsi tingginya langsung meroket ke udara. “Calon pacar dari mana?! Otakmu itu sudah konslet, hah?! Aku dan wanita itu tidak ada hubungan apa-apa! Dia itu cuma ... cuma preman sok jagoan! Jangan sembarangan membuat spekulasi!”Niko tetap memasang wajah polos tanpa dosa, sama sekali tidak merasa bersalah. “Ya ampun, Pak Varen. K

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   135

    Devika ikut maju menyejajarkan posisinya di samping sang ibu, menatap petugas tajam. “Buka mata kalian lebar-lebar! Kalian mau saja dibodohi oleh drama wanita sok teraniaya seperti dia! Dasar petugas tidak berguna!”“Waktu lima belas menit ekstra yang kami berikan sudah habis,” potong juru sita tersebut tanpa terpengaruh oleh makian kedua wanita itu. Dia memutar tubuhnya dan memberi isyarat tangan kepada dua personel. “Kawal mereka keluar dari area properti sekarang juga.”Dua polisi berseragam tegap langsung melangkah maju, memotong jarak dan memposisikan tubuh mereka di kanan-kiri Sofie dan Devika.“Silahkan melangkah ke luar gerbang, Nyonya. Sekarang!” ujar salah petugas dsngan suara berat.Sofie menyentakkan bahunya kasar saat lengan petugas bergerak mendekat. “Jangan sentuh aku! Tangan kotor kalian tidak berhak menyentuh kulitku!”Sekian puluh menit kemudian, di dalam sebuah taksi online yang sedang melaju menyusuri jalanan kota.Koper-koper besar mereka menumpuk memenuhi bagasi

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   134

    “Baik! Kami beres-beres! Lepaskan kami!” teriak Sofie. “Kami akan bawa semua barang milik kami!”Petugas melepaskan cengkeraman mereka, membiarkan Sofie dan Devika berlari kencang menaiki anak tangga menuju lantai dua.Di dalam kamar utama yang serba mewah, suasana berubah menjadi ruang kegilaan.Sofie melempar koper-koper berukuran besar ke atas ranjang king-size. Wanita itu membuka pintu lemari pakaian yang berisi deretan gaun desainer, menyambar puluhan gaun mahal itu secara kasar dan melemparkannya begitu saja ke dalam koper tanpa dilipat.“Wanita sialan! Tidak tahu diri!” kutuk Sofie sembari menarik laci meja riasnya kasar. “Megha Kirana! Semoga hidupmu hancur berantakan di tangan Bima! Semoga kamu dibuang setelah pria itu bosan padamu!”Di kamar sebelah, Devika meraung-raung histeris. Gadis itu berlutut di depan lemari perhiasannya, menyambar kotak-kotak beludru berisi kalung berlian, gelang emas, dan jam tangan mewah.“Nggak mau! Aku nggak mau pergi dari rumah ini!” jerit Devi

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   133

    Di rumah utama keluarga Kirana, suasana pagi yang tadinya tenang mendadak pecah oleh dentuman pintu gerbang utama yang didorong paksa dari luar. Dua mobil hitam berstiker resmi instansi hukum beserta satu juru sita pengadilan yang didampingi lima pria tegap berjas rapi melangkah masuk ke halaman depan.Di dalam rumah, Sofie sedang menikmati teh hangat di ruang tamu mewah sambil membolak-balik majalah mode. Di sebelahnya, Devika sibuk memoles kuku jarinya sambil bersandar malas di sofa kulit impor.Satpam dan pembantu yang melihat ketakutan, mereka yang ingin berlari masuk untuk mengirim pada majikannya justru dicegat dan ditahan.“Permisi. Selamat pagi.” Suara tegas dari juru sita pria berjas abu-abu menggelegar.Sofie tersentak, meletakkan cangkir porselennya agak kasar ke atas meja. Matanya membelalak menatap rombongan pria asing yang melangkah masuk tanpa izin ke dalam rumahnya.“Siapa kalian?! Berani-beraninya masuk ke rumah orang sembarangan tanpa ketuk pintu! SATPAM!! SATPAM!”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status