Se connecterAuwhhh, Bima cari masalah lagi 😍😍😍🫰😆
Danu menekan rahangnya rapat-rapat, mengusap wajahnya yang mendadak banjir keringat dingin. “Kalau berita ini bocor ke media besok pagi, saham perusahaan kita bisa anjlok total. Mau ditaruh di mana muka kita di depan para konglomerat malam ini?!”“Aduh, Pa, cepat pikirkan cara buat matikan layar itu!” desak Rianti, matanya bolak-balik menatap kolega bisnis yang mulai mencibir. “Masa nama baik keluarga Mavendra dijatuhkan begitu saja di rumah kita sendiri? Aku bisa gila kalau sampai ditertawakan orang-orang!”Suara dari layar proyektor menggema.“Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku,” bisik Veronica di dalam layar sambil makin mengeratkan pelukannya.Pria berjas itu terdiam sejenak, lalu terdengar suaranya membalas pelan, “Benarkah?”Tiba-tiba, pria di dalam layar melepas pelukan Veronica secara kasar. Dia memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah kamera hidden yang terpasang. Wajah pria itu sangat jelas terlihat. Dan ….Sama sekali bukan Bima, melainkan seorang pria lain den
“Pak, Anda tidak minum minuman dari Pak Jefri tadi, kan?” tanya Dilan, menatap Bima dengan raut khawatir.Bima menyeringai tajam, mengibaskan kerah jasnya. “Mana mungkin aku bisa dia bodohi dengan trik sekuno itu?”Sebenarnya sejak awal Bima sudah membaca pergerakan jangga Jefri saat memojokkannya dengan alih-alih obrolan bisnis. Ketika gelas minuman disodorkan padanya, Bima menerima gelas itu, tapi sama sekali tidak meminumnya. Dia terus memegang gelas sambil berakting mendengarkan, lalu memanfaatkan celah saat melewati pot tanaman hias, dan cepat menyiramkan seluruh isinya “Siapkan stuntman-nya sekarang, Dilan. Baju dan posturnya harus identik,” perintah Bima.“Siap, Pak. Semua sudah standby di dekat ruangan,” balas Dilan cepat.“Kerjakan cepat. Aku masuk duluan,” ucap Bima melangkah menuju kamar itu.Pintu kamar terdorong.Veronica yang mendengar suara engsel pintu langsung mengambrukkan dirinya ke ranjang, menangis sesegukan dengan gaun yang sengaja dibuat berantakan. Di tangan
Muka Jefri merah padam menahan dongkol. “Dasar wanita tidak tahu untung!” ketusnya kasar, lalu berbalik dan menyingkir pergi dengan langkah lebar geram. Megha kini berdiri sendirian di sudut, napasnya agak terengah menahan luapan emosi yang sejak tadi ditahannya rapat-rapat. Dari kejauhan, Varen yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan rasa khawatir, kini melangkah mendekat. “Dasar, Megha. Dia tetep saja nggak bisa diam dan ngalah. Om Jefri begitu kejam, bagaimana kalau dia kenapa-napa!” Pikirannya yang tajam sudah bisa menebak alur permainannya. Jelas rencana jebakan Veronica dan Bima baru saja masuk tepat ke dalam perangkap. Dia nggak peduli dengan akhir dari Bima, yang penting baginya hanyalah Megha. Tanpa membuang waktu, Varen memotong kerumunan tamu yang sibuk mengobrol. Dia memangkas jarak hingga berdiri tepat di belakang Megha. “Ikut aku sekarang, Megha!” bisik Varen cepat di samping telinganya. Ekor mata Jefri melirik tajam Varen yang menyambar Megha, la
“Om saja nggak tahan melihat kamu yang pamer mesra sama istrimu. Apalagi Veronica, yang akan menjadi istri yang sesungguhnya!”Bima terdiam. Dadanya berdenyut pelan, sementara ekor matanya melirik Megha dengan sejuta rasa yang sulit diartikan.Dia paham, Jefri sedang sengaja memancing kesalahan pahaman di depan mereka. Hanya saja, yang membuatnya gelisah, takut jika Megha mulai berpikiran yang tidak-tidak. “Tenang saja. Jangan dengarkan dan jangan percaya kalau Om Jefri ngomong,” bisik Bima.Megha yang posisinya masih menempel rapat di sebelah Bima dalam pose pura-pura romantis itu menekan rahangnya. “Jangan dengarkan? Kamu kira aku tuli? Aku masih bisa mendengar jarak satu meter lebih. Suruh saja calon mertuamu ini yang diam!” balas bisiknya.Bima menahan kesal dan gelisah jadi satu. Istri satu-satunya itu benar-benar menyebalkan. Tapi cinta.“Ehem! Sepertinya kamu terlalu nyaman di sebelah Bima sampai lupa waktu. Mungkin sudah saatnya kamu pergi. Jangan membuat mataku sakit!” Jefri
Bima berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominan dan karisma luar biasa. Di sampingnya, Megha melangkah anggun, dengan gaun berkilau diterpa cahaya lampu. Kombinasi sempurna antara kecantikan yang berkelas dan aura dingin yang mempesona. Mereka berdua berjalan bersisian bak pasangan paling romantis dan berkuasa di jagat raya, memancarkan kombinasi visual yang benar-benar mematikan. Semua orang di ruangan itu tercengang tanpa terkecuali. Beberapa tamu penting sampai menatap tanpa berkedip. “Ini benar-benar istri Bima Mavendra?” bisik seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap tak berkedip ke arah tangga. “Luar biasa. Auranya sama sekali tak tenggelam di sebelah Bima.” Pengusaha lain di sampingnya membetulkan posisi kerah jasnya sambil mengangguk pelan. “Gaya jalannya tenang sekali. Cantik, tapi tatapannya dingin berkelas. Pantas saja Bima merahasiakannya selama ini.” “Saya pikir cuma wanita biasa yang beruntung,” timpal seorang wanita bergaun elegan d
“Jangan berpikir mau pakai kostum kelinci, untuk mempertegas spesies-mu. Kamu pakai kostum macam begitu, tetap nggak akan kelihatan manis.”Megha membolakan matanya geregetan. Lalu, dia menatap gaun di depannya.“Aku nggak mau pakai gaun yang kamu siapkan ini. Aku mau pilih gaun sendiri. Lagian ini cuma acara keluarga, bukan pesta megah kelas dunia. Nggak perlu pakai gaun sebagus ini,” ketus Megha sambil membuang napas lemas.Gaun satin bertali tipis warna emerald green itu punya potongan backless yang cukup rendah dan belahan di paha kiri yang lumayan tinggi. Modelnya simpel, modern, dan sangat elegan, tapi jelas menunjukkan lekuk tubuh dengan sangat pas. Megha cuma merasa terlalu terekspos karena tidak terbiasa memakai pakaian terbuka seperti itu.Bima mendengkus pelan, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya super percaya diri. “Kamu bilang ini bagus? Menurut standarku, gaun ini biasa aja. Lagipula, ini bukan sekadar pesta keluarga biasa, Megha. Kamu itu berdiri di sebelahku. Mengim







