MasukKlik suka, ya. Supaya tersimpan di rak pustaka. Baca runut setiap bab, supaya tidak nyasar. Komentar juga, nanti Emak balas ^^
35Malam harinya, Harvitha sibuk bolak-balik mengangkut tambahan lauk dari dapur, ke meja prasmanan di teras samping kanan. Harvitha merasa harus membantu lebih banyak, karena dia tidak sesibuk para perempuan lain, yang tengah hamil atau pun memiliki anak kecil. Harvitha baru meletakkan tambahan ayam kalasan ke wadah stainless steel, ketika merasakan kaki kirinya dipegangi. Harvitha menunduk dan beradu pandang dengan sepasang mata sipit bocah perempuan berkuncir dua. Harvitha spontan berjongkok, lalu menggendong putri pertama Zikria dan Asmiratih, yang menunjuk ke meja prasmanan. "Cici mau apa?" tanya Harvitha. "Ayam," jawab Zeira. "Ayam goreng?" "Hu um. Kiluk-kiluk." Harvitha memaksa otaknya berpikir cepat, lalu dia bertanya, "Kriuk-kriuk?" "Hu um." "Mau berapa?" "Lima." Harvitha mengangkat alisnya. "Semuanya buat Cici?" "Hu um." Harvitha mengulum senyuman, lalu dia mengambil piring melanin khusus buat kiddos, dan meletakkan beberapa potongan ayam crispy. Harvitha berpur
34Hari berganti. Harvitha telah berada di Jakarta sejak Minggu malam. Senin dia istirahat seharian. Selasa pagi, Harvitha sudah sibuk di kantor VYJA. Siangnya, Harvitha dan ketiga sahabatnya, bergabung dengan banyak orang lainnya di kediaman Heru. Pasangan pengantin baru akan tiba di rumah esok siang. Sebab itu, kediamannya dirapikan supaya bisa menampung keluarga inti Zinnia, yang hendak menghadiri acara ngunduh mantu. Harvitha membantu Tania dan Naysila, guna merapikan kamar utama. Utari dilarang membantu angkat berat dan hanya bisa berbaring di kamarnya, yang pernah dihuninya sebelum menikah dengan Hisyam.Sepulang dari Salatiga, perut Utari keram sampai dua hari. Hal itu menyebabkan semua orang panik, dan memaksanya untuk bed rest. Utari tidak bisa membantah dan patuh untuk berdiam diri di kamar itu, sambil bekerja secara daring. Beberapa ajudan pria memasuki kamar utama guna memindahkan ranjang lama ke luar, karena akan digantikan dengan yang baru. Alvaro muncul bersama keli
33"Pernikahan besok akan tetap dilaksanakan, dan ... aku yang akan menikahi Zinnia," tukas Heru. Suasana ruangan seketika hening. Semua orang saling menatap, sebelum kembali memandangi Heru yang tengah mengambil KTP dari dompetnya, lalu diserahkan ke Kardi, Adik Warsito, yang merupakan pegawai kelurahan. Kardi segera keluar dari rumah dan mengendarai motornya, guna menuju kediaman kepala KUA setempat, untuk mengganti nama calon pengantin pria, di dokumen pernikahan."Mas, yakin?" tanya Atalaric. Heru mengangguk. "Ya," sahutnya. "Ibu maksa Mas?" "Aric," potong Sulistiana. "Ibu endak maksa!" protesnya. "Bagus kalau nggak maksa. Tapi, aku mesti nanya, kan, Bu. Daripada penasaran," kilah Atalaric. "Ibu beneran nggak maksa aku," jelas Heru. "Tadi, kami berembuk. Aku, Ibu, Paman Warsito, Bi Dina, Paman Kardi, dan Eyang Titi. Sama Zinnia juga," lanjutnya. "Aku cuma mau melindungi nama baik Zinnia dan keluarganya," terang Heru, sembari menatap gadis berjilbab biru yang sejak tadi hany
32 Malam sebelum walimahan, suasana kediaman Warsito yang semula tampak gembira, mendadak berubah tegang. Keluarga besar Warsito dan Dina yang telah datang dari berbagai kota, berkumpul di bawah tenda biru yang menutupi halaman luas, sambil menunggu percakapan belasan orang di ruang tamu. Zinnia Ruhina termangu, sesaat setelah mendengar penuturan dari seorang perempuan berjilbab hitam, yang merupakan istri sah calon suami Zinnia, Ginanjar. Meskipun saat itu rumah tangga Ginanjar dan Yunengsih memang tengah dalam proses perceraian, tetapi hal itu tidak serta merta memperbolehkan Ginanjar untuk menikahi Zinnia, karena status perkawinan pertamanya belum selesai. Yunengsih tidak menyalahkan Zinnia, karena sang calon pengantin itu juga dibohongi oleh Gunawan. Selain itu, Yunengsih tahu, jika hubungan Zinnia dan Gunakan baru dimulai setelah dirinya mengajukan perceraian setahun silam. Lamanya proses perceraian itu, karena pembagian harta gono-gini yang memang cukup banyak. Gunawan yang
31Harvitha tercenung, kala mobil yang ditumpanginya, berhenti di depan gedung yang bertuliskan khusus pesawat pribadi atau carteran. Pada awalnya, Harvitha mengira bila mereka akan menaiki pesawat komersil, tetapi ternyata tidak. Harvitha mengikuti langkah Atalaric yang jalan terlebih dahulu, sembari menarik kedua koper. Harvitha bergegas menyambangi Sulistiana yang jalan sambil dipegangi Tania. Harvitha memegangi lengan kiri perempuan tua berjilbab putih, yang langsung mengajaknya berbincang. Maheen dan yang lainnya melenggang di belakang sambil membawa barang masing-masing. Hampir semua keluarga Dewawarman ikut dalam penerbangan itu, kecuali Utari dan keluarganya. Sebab tengah hamil muda, Utari terpaksa tidak ikut, demi menjaga keselamatan diri dan janinnya. Hisyam juga tidak ikut berangkat, karena dia akan membantu Utari di kantor Dewawarman. Demikian pula dengan Kyle, yang tengah dinas ke Jepang bersama tim proyek aliansi. Setibanya di ruang tunggu, Harvitha duduk di dekat N
30Hari berganti menjadi minggu. Kamis pagi menjelang siang, Harvitha berpamitan pada keluarganya. Arfan sempat meminta untuk ikut ke Salatiga, tetapi Harvitha menegaskan jika dirinya hendak bekerja, bukan ingin liburan. Arfan akhirnya kembali diam, setelah Faiz menjanjikan untuk berenang di wahana wisata, Sabtu nanti. Selain itu, Harvitha juga berjanji akan membawakan oleh-oleh buat Arfan. Maheen muncul di depan rumah bersama Alzam. Maheen akan menemani Harvitha dalam perjalanan tersebut. Sedangkan Alzam memang hendak menjemput Harvitha, guna diantarkan ke kantor Dewawarman. Hampir 1 jam terlewati. Kehadiran Harvitha di kantor Dewawarman, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian banyak pegawai. Mereka sudah mendengar tentang kekasih Atalaric, tetapi memang baru kali itu Harvitha muncul di sana. Kendatipun tidak suka menjadi pusat tatapan banyak orang, tetapi Harvitha tetap berusaha tenang. Dia bersalaman dan berkenalan dengan staf direksi, termasuk dengan keempat petugas servis







