Beranda / Romansa / Tergoda Teman Papa / Di mana ia menyentuhmu?

Share

Di mana ia menyentuhmu?

Penulis: ORI GAMII
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 22:41:16

“Kamu… brengsek, Leo!”

Suara Andrew menggeram rendah, berat, dan penuh ancaman. Tatapannya berubah tajam, bukan lagi kemarahan sesaat, melainkan amarah yang sudah melewati batas kendali. Ia terus melangkah maju, hingga Leo refleks mundur selangkah.

“O-om… ini—ini…” Leo menelan ludah dengan susah payah. “Ini cuma hubungan dua pasang kekasih. Ka-kami saling mencintai.”

Ia masih berusaha membela diri. Dalam kepala Leo, ia pikir Andrew belum mengetahui kebenaran ini.

Kalimat itu justru menjadi pemantik terakhir.

Andrew mengangkat tabung apar lebih tinggi, lalu— BRAKK!

Dengan sekuat tenaga, tabung itu ia lemparkan ke arah lemari di belakang Leo. Bukan untuk melukainya, melainkan untuk menunjukkan betapa tipis batas kesabarannya. Pecahan kaca berhamburan, suara benturan menggema keras memenuhi ruangan.

Leo tersentak. Bricia di atas kasur pun ikut terkejut, tubuhnya semakin meringkuk, dan napasnya makin memburu.

Dan sebelum Leo sempat berkata apa pun lagi, Andrew sudah mengepalkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
semoga trauma Bricia gk kambuh lagi.. baru aja sembuh gegara teror Dino sekarang malah dari Leo..
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Kalau trauma Bricia nggak sembuh kelewatan sih ini mah wkwkwk
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
untung andrew datang tepat waktu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tergoda Teman Papa    Waktu yang tepat

    Menjelang waktu makan malam, Feli tiba dengan membawa beberapa bungkus makanan dari kafe. Ia sengaja datang karena diminta Andrew, setidaknya untuk menemani Bricia. Sekaligus sebagai alasan jika ada yang bertanya, Bricia dengan siapa kali ini. Begitu Feli masuk, perhatian Bricia langsung tertuju pada makanan di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk dan melahap isinya. Perutnya benar-benar kosong setelah seharian terkuras emosi dan tenaga. Lagipula, di rumah Andrew hampir tak ada makanan yang sesuai seleranya. “Sabar, Bri… kayak habis naik turun gunung aja. Makanannya sampai nggak sabaran begitu,” tegur Feli sambil terkekeh. Andrew yang duduk tak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis dan memilih diam. Bricia tak peduli. Fokusnya hanya satu, mengisi perutnya yang sejak tadi berontak. Di sela Andrew memperhatikan Bricia makan, ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Yoshi terpampang di layar. Dahinya langsung berkerut samar. Baru sekitar dua jam sejak ia menghubungi lela

  • Tergoda Teman Papa    Andrew mulai bergerak!

    Setelah semua yang terjadi di kamar tadi, Bricia kini duduk di sofa menghadap televisi. Ia mengenakan kaos dan celana training milik Andrew yang kebesaran di tubuhnya. Kedodoran, tapi justru itu yang membuatnya merasa aman. Jauh lebih aman dibanding ia hanya memakai kemeja Andrew, yang ia tahu bisa memicu hasrat Andrew kembali terpancing. Televisi menyala di depannya, gambar dan suara berjalan normal. Namun pandangan Bricia kosong. Matanya menatap lurus, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia tahu betul posisi Andrew. Leo adalah keponakannya. Dan fakta itu, Bricia yakin akan membatasi gerak lelaki itu. Andrew tipe pria yang totalitas. Tapi kali ini… Bricia ragu. Ia takut, hubungan darah itu akan menjadi tembok yang tinggi. Hukuman yang setimpal mungkin tak akan pernah benar-benar ada. “Cokelat panasnya, Baby.” Andrew duduk di sebelahnya, menyerahkan cangkir dengan uap tipis yang masih mengepul. Tangannya mantap, tapi wajahnya menyimpan sesuatu, sebuah amarah yang bel

  • Tergoda Teman Papa    Di mana ia menyentuhmu?

    “Kamu… brengsek, Leo!” Suara Andrew menggeram rendah, berat, dan penuh ancaman. Tatapannya berubah tajam, bukan lagi kemarahan sesaat, melainkan amarah yang sudah melewati batas kendali. Ia terus melangkah maju, hingga Leo refleks mundur selangkah. “O-om… ini—ini…” Leo menelan ludah dengan susah payah. “Ini cuma hubungan dua pasang kekasih. Ka-kami saling mencintai.” Ia masih berusaha membela diri. Dalam kepala Leo, ia pikir Andrew belum mengetahui kebenaran ini. Kalimat itu justru menjadi pemantik terakhir. Andrew mengangkat tabung apar lebih tinggi, lalu— BRAKK! Dengan sekuat tenaga, tabung itu ia lemparkan ke arah lemari di belakang Leo. Bukan untuk melukainya, melainkan untuk menunjukkan betapa tipis batas kesabarannya. Pecahan kaca berhamburan, suara benturan menggema keras memenuhi ruangan. Leo tersentak. Bricia di atas kasur pun ikut terkejut, tubuhnya semakin meringkuk, dan napasnya makin memburu. Dan sebelum Leo sempat berkata apa pun lagi, Andrew sudah mengepalkan

  • Tergoda Teman Papa    Leo pelakunya?

    Di dalam apartemen, Leo mendorong tubuh Bricia ke atas kasur dengan keras. Tubuh Bricia terhuyung sebelum akhirnya jatuh, napasnya tersengal penuh kepanikan. Leo berbalik, melangkah ke pintu, lalu terdengar bunyi kunci diputar. Suara itu membuat dada Bricia serasa diremas. “Leo… jangan,” suaranya bergetar. Ia beringsut mundur ketika Leo kembali mendekat. Punggungnya membentur kepala ranjang. Tak ada lagi ruang untuk lari. Matanya bergerak liar, mencari apa pun, atau apa saja, yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Tapi hasilnya nihil. Leo berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang asing. Duka, amarah, dan sesuatu yang jauh lebih gelap bercampur di sana, menjadikannya sosok yang tak lagi ia kenal. Bricia terus beringsut mundur begitu Leo semakin dekat. Leo bahkan mulai melepas kemeja hitam yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Lalu, dengan tatapan mengintimidasi, ia juga melepas celananya menyisakan celana pendek ketat yang membungkus kemaluannya. "Nggak, Leo! Bukann

  • Tergoda Teman Papa    Unit Leo

    Jalanan sore itu cukup lengang. Akhir pekan membuat sebagian warga memilih piknik ke luar kota, sementara sisanya lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah masing-masing. Kondisi itu justru membuat Bricia senang. Ia tak perlu berlama-lama terjebak macet di jalanan. Kemudian taksi online yang ditumpangi Bricia berhenti di depan gedung apartemen Andrew. Ia turun, mengucapkan terima kasih singkat, lalu melangkah masuk. Ia berani datang seorang diri ke apartemen itu karena yakin Leo masih berada di rumah duka. Dalam situasi seperti itu, rasanya mustahil Leo berada di tempat lain. Ia memasuki lobi dengan tenang, menuju lift, lalu mengirim pesan pada Andrew bahwa dirinya sudah tiba dan sedang naik. Setelah pesan itu terkirim, ia memasukkan lagi ponsel itu ke dalam tasnya. Namun, ada satu hal yang tak diketahui Bricia bahwa Leo berada di apartemennya sendiri. Tadi, setelah mendengar langsung semua tipu daya Grace dan Dino, Leo memilih pergi meninggalkan rumah sewaan i

  • Tergoda Teman Papa    Penyesalan

    Proses pemakaman Annette berlangsung khidmat. Peti jenazahnya diturunkan perlahan, diiringi derai air mata yang jatuh tanpa suara. Kehilangan itu nyata, namun sebelum berangkat ke pemakaman, keluarga sudah lebih dulu sepakat untuk belajar mengikhlaskan, meski perih masih tertinggal di benak mereka. Setelah seluruh prosesi selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hingga akhirnya tersisa empat orang saja. Selena duduk bersimpuh di sisi makam, jemarinya sesekali mengusap pipinya yang basah. Suaminya, Glen, berdiri tak jauh darinya, sesekali menepuk bahu Selena dengan lembut. Andrew berdiri tegak, menatap nisan dengan sorot mata sendu. Sementara Leo duduk terdiam di dekat kaki Andrew, pandangannya kosong, seolah sebagian dirinya ikut terkubur bersama nenek yang paling memahaminya. Tak ada kata yang terucap di sana. Hanya angin pelan yang bergerak di antara mereka, menjadi saksi duka yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat apa pun. Andrew menepuk pelan pundak k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status