Share

Janji

Auteur: ORI GAMII
last update Dernière mise à jour: 2026-01-10 22:35:46

Pagi harinya, bahkan sebelum matahari muncul, kediaman Eric sudah diliputi kepanikan.

Louisa muntah-muntah sejak pukul empat pagi. Suara muntahnya membuat seisi rumah terbangun.

Eric adalah orang yang paling kalang kabut. Namun setiap kali ia mencoba mendekat, Louisa justru semakin mual dan tak segan memarahinya. Bau Eric, gerakan paniknya dan semuanya membuat kondisi Louisa memburuk. Itu membuat Eric frustrasi setengah mati.

“Udah,” cegah Bricia sambil menahan langkah Eric yang hendak masuk ke kamar. “Papa diem di ruang tamu aja. Biar aku yang jagain Louisa.”

“Tapi, Bri—nggak bisa gitu dong,” Eric membalas dengan nada tertekan. “Papa itu khawatir.”

“Aku tahu, Pa. Tapi setiap Papa masuk, Louisa makin parah.” Bricia menatap ayahnya tegas. “Udah, jangan ngeyel. Duduk di ruang tamu, ya.”

Eric terdiam. Bahunya turun dan tubuhnya terlihat lesu.

Akhirnya ia berbalik dan melangkah ke ruang tamu. Namun setiap dua langkah, ia menoleh ke arah kamar Louisa, bibirnya maju, menyimpan rasa k
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (7)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Dih Andrew nggak tau aja pacar Leo itu pacar mu juga wkwkwk
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
mana mungkin andrew mau membantu leo untuk mengembalikan kekasihnya, kalau tau kekasihnya itu bri, yang ada om andrew bakal menghajar kamu leo
goodnovel comment avatar
BunNa
nungguin part Leo digebukin sama om Andrew
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Penyesalan

    Proses pemakaman Annette berlangsung khidmat. Peti jenazahnya diturunkan perlahan, diiringi derai air mata yang jatuh tanpa suara. Kehilangan itu nyata, namun sebelum berangkat ke pemakaman, keluarga sudah lebih dulu sepakat untuk belajar mengikhlaskan, meski perih masih tertinggal di benak mereka. Setelah seluruh prosesi selesai, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hingga akhirnya tersisa empat orang saja. Selena duduk bersimpuh di sisi makam, jemarinya sesekali mengusap pipinya yang basah. Suaminya, Glen, berdiri tak jauh darinya, sesekali menepuk bahu Selena dengan lembut. Andrew berdiri tegak, menatap nisan dengan sorot mata sendu. Sementara Leo duduk terdiam di dekat kaki Andrew, pandangannya kosong, seolah sebagian dirinya ikut terkubur bersama nenek yang paling memahaminya. Tak ada kata yang terucap di sana. Hanya angin pelan yang bergerak di antara mereka, menjadi saksi duka yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat apa pun. Andrew menepuk pelan pundak k

  • Tergoda Teman Papa    Janji

    Pagi harinya, bahkan sebelum matahari muncul, kediaman Eric sudah diliputi kepanikan. Louisa muntah-muntah sejak pukul empat pagi. Suara muntahnya membuat seisi rumah terbangun. Eric adalah orang yang paling kalang kabut. Namun setiap kali ia mencoba mendekat, Louisa justru semakin mual dan tak segan memarahinya. Bau Eric, gerakan paniknya dan semuanya membuat kondisi Louisa memburuk. Itu membuat Eric frustrasi setengah mati. “Udah,” cegah Bricia sambil menahan langkah Eric yang hendak masuk ke kamar. “Papa diem di ruang tamu aja. Biar aku yang jagain Louisa.” “Tapi, Bri—nggak bisa gitu dong,” Eric membalas dengan nada tertekan. “Papa itu khawatir.” “Aku tahu, Pa. Tapi setiap Papa masuk, Louisa makin parah.” Bricia menatap ayahnya tegas. “Udah, jangan ngeyel. Duduk di ruang tamu, ya.” Eric terdiam. Bahunya turun dan tubuhnya terlihat lesu. Akhirnya ia berbalik dan melangkah ke ruang tamu. Namun setiap dua langkah, ia menoleh ke arah kamar Louisa, bibirnya maju, menyimpan rasa k

  • Tergoda Teman Papa    Seorang perempuan

    Setelah situasi kembali kondusif, Andrew dan Bricia berpindah. Mereka duduk bersebelahan, dengan Bricia masih memeluk Andrew, dengan wajahnya bersandar di dada lelaki itu. Ada rasa tenang yang akhirnya ia dapatkan. Tenang yang pelan-pelan menenangkan detak jantungnya dan membuatnya enggan beranjak. Apalagi ketika wangi bergamot yang bersih bercampur vetiver dan kayu sandal menguar lembut dari tubuh Andrew. Aroma khas lelaki dewasa yang mahal, rapi, dan menenangkan, menusuk indera penciumannya, membuat Bricia semakin larut dalam pelukan itu. Lengannya mengencang, jemarinya mencengkeram punggung Andrew seolah takut ketenangan itu pergi begitu saja. Andrew menunduk sedikit, dagunya menyentuh puncak kepala Bricia. Tangannya mengusap punggung perempuan itu perlahan dan ritmis, seperti sedang menenangkan anak kecil yang baru saja melewati mimpi buruk. “I’m here, Baby,” bisiknya rendah. “You’re safe with me.” Bricia memejamkan mata. Setelah beberapa hari yang terasa panjang , akhirny

  • Tergoda Teman Papa    "Peluk aku, Om."

    Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Tak ada teror susulan yang menghampiri Bricia. Semua berjalan seolah kembali ke awal, tenang dan normal. Trauma yang sempat mencengkeramnya perlahan mulai terkendali. Sesekali ia masih tersentak setiap kali notifikasi pesan masuk, tetapi tak lagi disertai gemetar yang melumpuhkannya. Hanya rasa was-was kecil dan itu pun kini mudah ia atasi. Sabtu ini, Bricia sudah meminta izin pada Eric untuk datang ke kafe Andrew. Alasannya menemani Feli, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan dua perempuan itu. Karena tujuan jelas Bricia ingin bertemu Andrew. Selama satu minggu terakhir, mereka sama sekali belum bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih Bricia yang sudah mulai bekerja dan bahkan sempat lembur beberapa hari lalu. Dengan menaiki taksi online, Bricia tiba tepat di jam makan siang. Suasana kafe tampak ramai, baik di lantai bawah maupun atas. Ia melangkah masuk dengan sedikit sungkan, hingga matanya menangkap sosok Feli. Tanpa ragu, B

  • Tergoda Teman Papa    Apa kamu menuduhku, Kak?

    Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Gerry dan Grace duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka, Romi dan Risa. Meja itu dipenuhi hidangan hangat, tawa kecil, dan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh suara sendok dan piring yang beradu. Untuk sesaat, mereka tampak seperti keluarga utuh yang tengah menikmati malam tanpa beban. Setelah lulus kuliah di Bandung, Grace memang kembali ke Jakarta dan mulai tinggal bersama keluarga kecilnya, meski di akhir pekan. Tante yang sejak awal memang tidak memiliki keturunan, akhirnya mengasuh keponakan lain dari pihak suaminya, sehingga Grace pun bisa pulang tanpa rasa bersalah. Ia memandangi satu per satu orang tuanya. Tak ada marah, apalagi benci, karena mereka pernah menitipkanny

  • Tergoda Teman Papa    Grace

    Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status