공유

Positif!

작가: ORI GAMII
last update 최신 업데이트: 2026-01-18 22:49:00

Jemari Andrew mengetuk gelisah di atas setir. Kadang hanya ketukan pendek, kadang meremas kuat seolah ingin menyalurkan kegelisahan yang tak kunjung reda.

Pukul enam pagi, mobilnya melaju menuju rumah Selena. Ada satu hal yang harus ia pastikan sendiri, yaitu keadaan Selena.

Tadi malam, Yoshi sudah mengabari semuanya. Penangkapan Leo, barang bukti lengkap, dan para pelaku lain diamankan, dan Leo terkena timah panas di betisnya.

Andrew menarik napas dalam. Ia tahu semua ini berakibat buruk
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (9)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
nah loh udah positif narkoboy ditambah pula positif hamil si Grace.. btw bapaknya siapa? Leo atau Dino nih? hayoloh bingung kan jadinya?
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Nah loh si Grace hamil anak siapa?? Dino atau Leo??
goodnovel comment avatar
BunNa
terus kuwi anak e sopo
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Tergoda Teman Papa    Beban yang luruh

    “Ibu?” Suara Feli hampir seperti bisikan. Tubuhnya mendadak kaku. Bukan karena rasa nyeri di perutnya, melainkan karena perasaan yang campur aduk menyerangnya sekaligus. Kaget, rindu, dan luka lama yang belum sembuh. Retno hanya mampu menahan tangis di tempatnya berdiri. Tangannya gemetar, dipenuhi rasa bersalah dan getir yang selama ini ia simpan. Ia ingin memeluk putrinya yang kini terbaring lemah, ingin menghapus semua jarak yang pernah tercipta. Tapi ia juga sadar, kesalahannya tak kecil. Bricia yang berdiri di belakang Retno perlahan memegang bahu wanita itu. Dengan dorongan lembut, ia membimbingnya mendekat ke ranjang Feli. “Ayo, Tante…” suara Bricia lirih, seolah memberi kekuatan. Retno akhirnya melangkah. Meski ia ingin berlari, namun ia hanya bisa berjalan perlahan. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di sisi ranjang dan cukup dekat untuk melihat jelas wajah Feli yang pucat namun tetap menatapnya tanpa berpaling. “Fe–li,” ucapnya terbata. Tangannya mengusap kasar air ma

  • Tergoda Teman Papa    "Ibu?"

    Feli membuka matanya perlahan. Cahaya di atasnya sedikit redup, sehingga tak membuat silau langsung menyerang retinanya. Pandangannya buram beberapa detik, lalu dengan pelan ia menutup matanya dan membukanya kembali. Setelah itu pandangan di atasnya sedikit lebih jelas. Terdapat langit-langit kamar berwarna putih. Bau antiseptik terasa menyengat di indera penciumannya. Dan suara monitor berbunyi pelan di sampingnya. Ia mencoba menarik napas. Ada selang oksigen di hidungnya. Tangannya pun terasa berat karena selang infus masih terpasang di sana. Perutnya juga terasa nyeri, membuat alisnya sedikit berkerut. “Sudah sadar, Kak?” suara perempuan terdengar lembut. Feli memutar bola matanya pelan. Seorang perawat berdiri di sampingnya, dan memperhatikan monitor di samping ranjangnya. “Kalau dengar saya, coba kedip dua kali.” Feli menurut, meski gerakannya lambat. “Bagus. Operasinya sudah selesai. Dan bersyukur semua berjalan dengan lancar,” jelas perawat itu singkat. Kata

  • Tergoda Teman Papa    Janji Harry

    Mobil yang Andrew kendarai berhenti dengan suara decitan panjang di depan Instalasi Gawat Darurat. Lampu putih rumah sakit langsung terasa menyilaukan mata, kontras dengan gelapnya malam yang baru saja mereka lewati. Harry tidak menunggu Andrew mematikan mesin sepenuhnya. Ia sudah membuka pintu belakang dan kembali membopong tubuh Feli ke dalam pelukannya. Hangat darah yang merembes menembus gaun Feli membuat dadanya terasa sesak. Belati itu masih menancap di perut kiri bawah perempuan itu. Darahnya merembes di sekeliling gagang dan membasahi gaun putih yang kini berwarna merah di beberapa bagian. “Tolong! Pasien luka tusuk! Senjatanya masih tertancap!” teriak Andrew berharap perawat segera mendekat. Harry sudah meletakkan tubuh Feli di salah satu brankar yang kosong. Para tenaga medis langsung mendekat dan bergerak cepat. Ekspresi mereka berubah serius begitu melihat kondisi Feli. “Jangan dicabut!” tegas salah satu perawat ketika Harry refleks hendak menyentuh gagang belati

  • Tergoda Teman Papa    Bertahanlah...

    Sementara di luar, mobil Andrew berhenti tepat di depan pagar kos. Harry sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk, wajahnya terlihat tegang dan napasnya memburu. Andai saja bukan karena Eric menyuruhnya menunggu, mungkin ia sudah mendobrak pintu kamar itu tanpa pikir panjang. “Apa ada pergerakan?” tanya Eric cepat begitu keluar dari mobil. Ia sempat menoleh pada Louisa yang masih duduk di tempatnya. “Kamu tetap di dalam, jangan keluar dulu.” Louisa mengangguk patuh meski wajahnya pucat. “Nggak ada, Pak Eric,” jawab Harry dengan suara tertahan. “Sepi. Nggak ada gerakan mencurigakan.” Mata Eric langsung tertuju pada pintu kamar Feli. Lampunya masih menyala. Rahangnya lagi-lagi mengeras. Ia punya firasat buruk. “Aku yakin Feli lagi dalam kondisi freeze,” ucap Eric serius. Harry menoleh cepat. “Freeze?” “Itu respons tubuh terhadap trauma,” lanjut Eric. “Selain fight atau flight, ada satu lagi yaitu freeze. Tubuh bisa kaku, suara hilang, bahkan tidak bisa berteriak atau bergerak wa

  • Tergoda Teman Papa    "Kalau begitu... lakukan saja!"

    “Om, STOP!” Suara Bricia memekik tajam di dalam kabin mobil. Mereka baru saja hendak pulang ke rumah setelah urusan di hotel selesai. Andrew yang berada di balik kemudi refleks menginjak rem mendadak. Ban berdecit keras beradu dengan aspal, diikuti klakson panjang dari mobil di belakang mereka. Beruntung jarak kendaraan di belakang mobil mereka tak terlalu dekat, sehingga tak menyebabkan kecelakaan beruntun. “Kenapa, Bri?” tanya Eric cepat. Tangannya langsung menahan bahu Louisa untuk memastikan istrinya tidak terbentur. “Kamu nggak apa-apa, Sayang?” “Aku nggak apa-apa,” jawab Louisa, masih sedikit terkejut. “Om… Om, ayo cepat ke kosan Feli!” Bricia sudah hampir menangis. Wajahnya memerah, napasnya terputus-putus karena panik. Tak ingin menyebabkan kemacetan, Andrew kembali melajukan mobilnya lalu menepi di bahu jalan. Ia mematikan lampu sein dan menoleh ke samping dengan wajah serius. “Tenang dulu, Bri. Ada apa? Coba bilang yang jelas.” Bricia justru menoleh ke belakang d

  • Tergoda Teman Papa    Mengakhiri semuanya

    Dering ponsel itu berbunyi nyaring di dalam mobil. Getarannya membuat dashboard ikut bergetar, memantulkan suara kecil yang berulang-ulang di ruang kosong kendaraan tersebut. Namun sang pemilik tak ada di sana. Harry baru saja turun dan melangkah masuk ke sebuah toko kue. Andrew sudah memesan beberapa kotak untuk pegawai kafenya, sebuah rutinitas bulanan yang tak pernah terlewat. Harry hanya berniat mengambil pesanan itu sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Sementara itu, di kamar kos yang terasa semakin sempit, Feli menunggu dengan napas tak teratur. Layar ponsel di sampingnya menunjukkan panggilan yang masih mencoba tersambung tapi masih belum diangkat. Jantungnya seperti ditahan agar tak bernapas menunggu detik-detik itu. Tangannya kembali beralih ke aplikasi perbankan sambil menunggu panggilan itu tersambung. Ia mengetik nominal dengan penglihatan yang bergetar. Angka-angka di layar ponselnya terasa seperti menghimpit napasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Yosi s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status