Share

20. PENYERAHAN MAHKOTA

Author: LUFI
last update Last Updated: 2025-11-18 01:11:02

Tiba-tiba, Arum menghentikan gerakannya, wajahnya mendongak ke atas, sorot matanya memancarkan hasrat yang mendesak. Ia meraih kedua sisi wajah Nasrul, menahannya untuk menatapnya. Semua rasa malu telah lenyap, digantikan oleh api yang membakar.

"Mas, sekarang aku ingin ngerasain sensasi bercinta yang sesungguhnya ," Arum memohon, napasnya tersengal. " merebahkan tubuhnya pasrah di hadapan nasrul yang masih setengah berdiri dengan kedua lututnya bertumpu di kasur.

"Rum, aku..." Nasrul tampak ragu menyadari permintaan Arum yang sepenuhnya ia pahami.

"Tolong, Mas," Arum memotong, suaranya lirih dan parau. "Aku ingin kau ambil semuanya. Aku ingin menyerahkan mahkotaku ini... hanya menjadi milikmu. Terima mas..!"

"Tapi, Rum! Bagaimana kalau nanti suamimu kecewa mendapati dia bukan yang pertama?"

Arum merangkak mendekati Nasrul, memeluk pinggangnya dengan erat. "Aku hanya ingin kau, Mas. Kenapa aku harus memikirkan dia yang tega membiarkanku terus merana."

Nasrul menatap mata Arum yang be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   30. DIABAIKAN…DISEPELEKAN

    Siang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   29. LEBIH BESAR DARI PUNYA MAS NASRUL

    Ningsih berdiri di tengah kamar kecil itu, tanpa dikomando tangannya langsung menanggalkan kaos dan roknya. Bayu sudah siap dengan ponsel di tangan, matanya berbinar antusias. Ia berjalan mendekati kakak iparnya masih dengan handuk melilit pinggangnya, tapi ekspresinya tak lagi polos, ada campuran nafsu dan kemenangan di sana.“Ya sudah, cepat foto, Yu. Aku mau pulang,” gumam Ningsih, suaranya jengkel. Ia merasa harga dirinya seperti diinjak-injak. Dasar anak ini, perlakukan aku seperti apa? Pikirannya bergejolak, tapi ia ingat uang 10 juta itu, uang yang bisa membayar tagihan sekolah Arga, belanja bulanan, bahkan mungkin sedikit tabungan. Ini cuma adik ipar nakal yang lagi iseng. Turutin saja, nggak ada yang tahu, batinnya mencoba menenangkan.Ningsih mundur merapat ke tembok, menyandarkan punggungnya. Tubuh putih mulusnya hanya terlindungi secarik bra dan CD, mata menatap ke lantai, kedua tangannya menyilang menutupi dada dan perutnya. “Cukup foto gini aja, ya?”Bayu menggeleng, ters

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   28. JANJI SALING MENAFKAHI?

    “Yu… ini maksudnya apa?” suara Ningsih bergetar. “Kamu tiba-tiba transfer segini banyaknya… dari mana kamu dapat uang ini?” lanjut Ningsih dengan suara terbata. Ia spontan menoleh ke arah Nasrul.Mata Ningsih tertuju pada layar ponselnya lagi, angka Rp 10.000.000,- itu masih terpampang jelas di notifikasi dompet digital. Jarinya gemetar saat hendak menekan tombol keluar. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Ia menarik napas panjang, balik badan perlahan. Tasnya kembali diletakkan di meja, bokongnya kembali didaratkan pada kursi yang masih hangat bekas duduknya tadi, tatapannya kosong ke arah Bayu yang masih duduk santai dengan ponsel di tangan.Bayu hanya tersenyum tipis, lalu bangkit. “Tunggu dulu ya, Mbak. Aku ngerasa gerah banget nih, mau mandi bentar”. Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Ningsih sendirian dengan pikiran yang berputar-putar.Kucuran air keran memecah keheningan. Ningsih menatap pintu kamar mandi yang tertutup, jantungnya masih

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   27. SEBENTAR LAGI, ISTRIKU PASTI BANGGA PADAKU!

    “Gha… Ibumu ke mana kok pagi-pagi udah nggak ada?” Nasrul baru saja selesai mandi, handuk masih melilit di pinggangnya. Penasaran sang istri tak kelihatan batang hidungnya.Arga menikmati nasi goreng di depan TV, menjawab polos tanpa menoleh, “Ibu pagi-pagi udah mandi, trus pake helm, bilang mau pergi sebentar, Yah”Nasrul mengangguk pelan. “Emmm.”Dalam benaknya merasa ada hal yang aneh, tak seperti biasanya. Ning, istrinya, di hari Minggu pagi paling banter cuma ikut nyerbu pedagang sayur keliling bersama emak-emak lainnya di pertigaan ujung jalan. Kok pagi ini, kata Arga sudah pakai helm. Apalagi hari ini libur, tidak ada urusan kantor.Tapi Nasrul cepat-cepat menepis pikiran curiga itu. “Ning orang baik. Lugunya kelewatan kadang. Mana mungkin kluyuran nggak jelas”Usai ganti baju, Nasrul ke dapur turut menyerok sisa nasi goreng di wajan lalu menemani sang anak sarapan sambil menonton serial kartun di TV. Di layar, sebuah robot biru kecil sedang menjelaskan kepada bocah si pemilik

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   26. MAKASIH MBAK, AKU SANGAT PUAS!

    Ningsih menunduk, malu campur marah membuat pipinya panas. “Udah, Yu. Nggak usah ngoceh yang aneh-aneh.”Bayu mengangguk, tapi matanya menyantap panorama indah itu. “Ya, Mbak. Sekarang mulai mijit. Dari bahu dulu.”Ningsih berlutut lagi, menumpahkan lotion dari botol ke telapak tangannya. Saat jari-jarinya menyentuh bahu Bayu, ia merasakan hangat tubuh adik iparnya itu. Gerakan memutar yang biasa, tapi kali ini terasa berbeda, lebih intim, lebih salah. Bayu mendesah pelan, matanya setengah terpejam tapi sesekali membuka untuk melihat tubuh Ningsih yang bergerak di depannya.“Ganti ke dada, Mbak,” bisik Bayu, suaranya serak. Ekspresinya penuh kenikmatan.Ningsih menurut, tangannya meluncur ke dada Bayu, merasakan detak jantung yang mengencang. Dadanya bergoyang pelan saat ia menekan lebih keras, dan Bayu tak melewatkan itu, matanya menyipit, senyum nakal tersungging dari bibirnya.“Lepas behanya juga, Mbak. Biar lebih bebas,” kata Bayu tiba-tiba, tangannya naik menyentuh pinggang Nings

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   25. AKU INI IPARMU, YU! JAGA SIKAPMU!

    “Aku juga mau mbak dipijit sampai muncrat, hehe”Chat terakhir dari Bayu itu terus mendengung di kepala Ningsih. Sejak itu, jantungnya tak pernah benar-benar berhenti berdegup. Jari-jarinya membeku tak mampu dan bingung mau balas apa. Tanpa sadar keringat dingin mengalir di pelipis, dan satu keinginan yang membuncah: besok harus menemui Bayu!Pagi Minggu terasa datang sangat lambat. Ningsih bersiap pergi menyelesaikan masalah itu secepatnya usai menyiapkan sarapan untuk anaknya, Arga yang juga libur sekolah karena hari Minggu. Nasrul masih mendengkur di kursi ruang tamu berbantal jaket. Ningsih bahkan tak meliriknya lagi, itu pemandangan yang sudah biasa tersaji selama beberapa bulan terakhir, suaminya pulang larut bahkan subuh, dan terpaksa tak bisa masuk kamar karena ia kunci.Setelah memacu motor maticnya setengah jam lebih, sampailah Ningsih di hotel yang kemarin ia singgahi. Setelah bertanya kesana kesini kepada para rekan kerja Bayu akhirnya Ningsih menuju ke kosan adik iparnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status