LOGINSiang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala
Ningsih berdiri di tengah kamar kecil itu, tanpa dikomando tangannya langsung menanggalkan kaos dan roknya. Bayu sudah siap dengan ponsel di tangan, matanya berbinar antusias. Ia berjalan mendekati kakak iparnya masih dengan handuk melilit pinggangnya, tapi ekspresinya tak lagi polos, ada campuran nafsu dan kemenangan di sana.“Ya sudah, cepat foto, Yu. Aku mau pulang,” gumam Ningsih, suaranya jengkel. Ia merasa harga dirinya seperti diinjak-injak. Dasar anak ini, perlakukan aku seperti apa? Pikirannya bergejolak, tapi ia ingat uang 10 juta itu, uang yang bisa membayar tagihan sekolah Arga, belanja bulanan, bahkan mungkin sedikit tabungan. Ini cuma adik ipar nakal yang lagi iseng. Turutin saja, nggak ada yang tahu, batinnya mencoba menenangkan.Ningsih mundur merapat ke tembok, menyandarkan punggungnya. Tubuh putih mulusnya hanya terlindungi secarik bra dan CD, mata menatap ke lantai, kedua tangannya menyilang menutupi dada dan perutnya. “Cukup foto gini aja, ya?”Bayu menggeleng, ters
“Yu… ini maksudnya apa?” suara Ningsih bergetar. “Kamu tiba-tiba transfer segini banyaknya… dari mana kamu dapat uang ini?” lanjut Ningsih dengan suara terbata. Ia spontan menoleh ke arah Nasrul.Mata Ningsih tertuju pada layar ponselnya lagi, angka Rp 10.000.000,- itu masih terpampang jelas di notifikasi dompet digital. Jarinya gemetar saat hendak menekan tombol keluar. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Ia menarik napas panjang, balik badan perlahan. Tasnya kembali diletakkan di meja, bokongnya kembali didaratkan pada kursi yang masih hangat bekas duduknya tadi, tatapannya kosong ke arah Bayu yang masih duduk santai dengan ponsel di tangan.Bayu hanya tersenyum tipis, lalu bangkit. “Tunggu dulu ya, Mbak. Aku ngerasa gerah banget nih, mau mandi bentar”. Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Ningsih sendirian dengan pikiran yang berputar-putar.Kucuran air keran memecah keheningan. Ningsih menatap pintu kamar mandi yang tertutup, jantungnya masih
“Gha… Ibumu ke mana kok pagi-pagi udah nggak ada?” Nasrul baru saja selesai mandi, handuk masih melilit di pinggangnya. Penasaran sang istri tak kelihatan batang hidungnya.Arga menikmati nasi goreng di depan TV, menjawab polos tanpa menoleh, “Ibu pagi-pagi udah mandi, trus pake helm, bilang mau pergi sebentar, Yah”Nasrul mengangguk pelan. “Emmm.”Dalam benaknya merasa ada hal yang aneh, tak seperti biasanya. Ning, istrinya, di hari Minggu pagi paling banter cuma ikut nyerbu pedagang sayur keliling bersama emak-emak lainnya di pertigaan ujung jalan. Kok pagi ini, kata Arga sudah pakai helm. Apalagi hari ini libur, tidak ada urusan kantor.Tapi Nasrul cepat-cepat menepis pikiran curiga itu. “Ning orang baik. Lugunya kelewatan kadang. Mana mungkin kluyuran nggak jelas”Usai ganti baju, Nasrul ke dapur turut menyerok sisa nasi goreng di wajan lalu menemani sang anak sarapan sambil menonton serial kartun di TV. Di layar, sebuah robot biru kecil sedang menjelaskan kepada bocah si pemilik
Ningsih menunduk, malu campur marah membuat pipinya panas. “Udah, Yu. Nggak usah ngoceh yang aneh-aneh.”Bayu mengangguk, tapi matanya menyantap panorama indah itu. “Ya, Mbak. Sekarang mulai mijit. Dari bahu dulu.”Ningsih berlutut lagi, menumpahkan lotion dari botol ke telapak tangannya. Saat jari-jarinya menyentuh bahu Bayu, ia merasakan hangat tubuh adik iparnya itu. Gerakan memutar yang biasa, tapi kali ini terasa berbeda, lebih intim, lebih salah. Bayu mendesah pelan, matanya setengah terpejam tapi sesekali membuka untuk melihat tubuh Ningsih yang bergerak di depannya.“Ganti ke dada, Mbak,” bisik Bayu, suaranya serak. Ekspresinya penuh kenikmatan.Ningsih menurut, tangannya meluncur ke dada Bayu, merasakan detak jantung yang mengencang. Dadanya bergoyang pelan saat ia menekan lebih keras, dan Bayu tak melewatkan itu, matanya menyipit, senyum nakal tersungging dari bibirnya.“Lepas behanya juga, Mbak. Biar lebih bebas,” kata Bayu tiba-tiba, tangannya naik menyentuh pinggang Nings
“Aku juga mau mbak dipijit sampai muncrat, hehe”Chat terakhir dari Bayu itu terus mendengung di kepala Ningsih. Sejak itu, jantungnya tak pernah benar-benar berhenti berdegup. Jari-jarinya membeku tak mampu dan bingung mau balas apa. Tanpa sadar keringat dingin mengalir di pelipis, dan satu keinginan yang membuncah: besok harus menemui Bayu!Pagi Minggu terasa datang sangat lambat. Ningsih bersiap pergi menyelesaikan masalah itu secepatnya usai menyiapkan sarapan untuk anaknya, Arga yang juga libur sekolah karena hari Minggu. Nasrul masih mendengkur di kursi ruang tamu berbantal jaket. Ningsih bahkan tak meliriknya lagi, itu pemandangan yang sudah biasa tersaji selama beberapa bulan terakhir, suaminya pulang larut bahkan subuh, dan terpaksa tak bisa masuk kamar karena ia kunci.Setelah memacu motor maticnya setengah jam lebih, sampailah Ningsih di hotel yang kemarin ia singgahi. Setelah bertanya kesana kesini kepada para rekan kerja Bayu akhirnya Ningsih menuju ke kosan adik iparnya







