LOGINmakin seru yaah, ikutin terus
Suara bariton berat milik si pemilik rumah menggema, ramah namun terdengar ganjil di pagi buta itu, meminta agar Rasman dan Irman segera keluar untuk sarapan pagi bersama.“Irman, kita makan dulu. Jaga sikap dan jangan tunjukkan kepanikanmu,” ajak Rasman dengan nada suara yang teramat tenang tanpa ada rasa curiga dan takut sedikit pun.Batinnya yang kuat membuat emosinya tetap stabil. Irman hanya bisa mengangguk pasrah, mengusap sisa keringat dingin di pelipisnya, lalu bangkit merapikan jaketnya.Keduanya kini melangkah menuju ke area dapur yang merangkap ruang makan keluarga.Di atas tikar purun yang terbentang, aroma masakan tradisional langsung menyerbak menusuk hidung.Nasi putih di dalam bakul anyaman tampak mengepul panas, bersanding dengan lauk-pauk yang sangat sederhana namun teramat menggugah selera.Ada ikan asin goreng garing, ikan gabus goreng khas sungai, sayur bening, ditambah sambal terasi pedas dan lalapan segar.Semuanya dimasak langsung oleh tangan jemari istri si pem
Dengan tubuh yang gemetaran hebat menahan dinginnya udara pagi perbatasan yang menusuk tulang, Irman melangkah tergesa-gesa ke kamar mandi dapur.Ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air sumur yang sedingin es demi menuntaskan mandi wajibnya.Setelah berwudu dan berpakaian cepat-cepat, dengan tingkat kekhusyukan yang belum pernah ia miliki sebelumnya, Irman langsung menggelar sajadah. Ia melaksanakan salat sunah fajar, disusul dengan salat wajib Subuh dua rakaat secara mandiri.Ajaibnya, suasana ganjil dan hawa mistis mencekam yang sempat menggelayuti kamar kayu itu sejak subuh jelang pagi mendadak luruh dan berubah menjadi normal kembali, tepat saat adiknya ini dengan tulus melaksanakan kewajiban spiritualnya. Bau anyir dan sisa uap minyak pirunduk yang samar di udara seketika menguap digantikan kesegaran pagi yang asli.‘Agaknya, memang ada sesuatu yang tidak beres di rumah panggung ini. Jangan-jangan istri si pemilik rumah bertubuh tambun itu diam-diam memiliki sebuah ajian pelet ja
‘Dasar bangor! Habis mencangkul ladang orang, sekarang pura-pura bobok lagi?’ batin Rasman menyumpah serapah jenaka di dalam hati.Ia kemudian merebahkan kembali tubuh bidangnya di sisi sang adik, memejamkan mata, dan mencoba memaksakan diri untuk kembali tidur guna mengumpulkan sisa stamina.Sebab, hanya dalam waktu beberapa jam lagi, matahari pagi akan terbit dan mereka harus segera menempuh sisa 50 kilometer perjalanan paling mematikan membelah jalur mistis demi memburu kedai gaib tempat bersemayamnya Mak Ketoh.Irman mengucek-kucek matanya yang masih terasa sepet. Di luar, waktu subuh baru saja menjelang dan suasana masih sangat gelap, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Saat melihat posisi di samping kasurnya kosong, Irman berbalik ke arah sudut kamar. Matanya seketika berkedip kaget, namun sedetik kemudian senyum tipis terukir di wajahnya, sang abang sedang tampak sangat khusyuk menjalankan kewajiban salat Subuh.‘Alim banget sekarang setelah memiliki istri.
Dinihari sekitar pukul 03.15 menitan pagi, kesunyian di dalam rumah panggung kayu itu terasa sangat pekat dan menusuk.Rasman mendadak terbangun karena kandung kemihnya terasa penuh, ingin buang air kecil. Namun, saat meraba kasur di sampingnya, dia tidak melihat adiknya di sisinya. Kasur itu sudah dingin.‘Hmm.. kemana lagi sih si anak nakal ini?’ batin Rasman mulai tak enak hati, rasa cemas perlahan merayap di dadanya mengingat peringatan kerasnya semalam.Tapi Rasman sementara tidak terlalu menggubris itu. Rasa ingin kencingnya sudah di ujung tanduk.Dia pun melangkah pelan membelah kegelapan koridor rumah, menuju ke bagian dapur yang merangkap area kamar mandi untuk buang hajat.Baru saja selesai menuntaskan hajatnya di kamar mandi yang remang, bulu kuduk Rasman mendadak meremang.Telinga tajamnya mendengar ada suara-suara desahan yang aneh dari arah luar. Suara itu lirih, namun ritmenya sangat cepat bercampur deru napas yang memburu di tengah keheningan dinihari yang sedingin es i
Mendengar nama 'Kampung Lok Latat' disebut, atmosfer di dalam warung kayu itu mendadak drop menjadi sunyi senyap sejenak. Pemilik warung menghentikan tangannya yang sedang mengelap meja.“Waduh... masih jauh kampung itu. Sekitar 50 kiloan lagi dari sini. Mana jalan ke sana rusak parah, apalagi sekarang sudah mulai masuk musim hujan begini, jalurnya bisa jadi kubangan lumpur hidup,” salah satu warga paruh baya menyela dengan logat Dayak Kalimantan Tengah yang kental dan berat.“Hati-hati, Om... Kampung di sana itu mistisnya masih sangat kuat. Orang luar jarang ada yang berani masuk ke sana kalau tidak ada urusan nyawa,” sambung warga satunya lagi dengan suara setengah berbisik, matanya melirik tajam ke arah luar warung seolah takut ada yang menguping.Mendengar penuturan itu, Rasman dan Irman sesaat saling pandang. Bulu kuduk mereka berdesir tipis.Isu mistis yang kuat di Kampung Lok Latat seolah menegaskan bahwa tempat bersemayamnya Mak Ketoh dan sisa-sisa terkutuk dari sejarah minyak
“Makasih, Bang. Kamu makin sakti aja,” canda Irman terkekeh, mencoba mencairkan ketegangan batinnya setelah berhadapan langsung dengan manifestasi gaib silsilah Hantu Siti.“Teror Iblis Pirunduk memang akan selalu membayangi kita di sepanjang jalur ini, Man. Makanya kamu perlu ekstra hati-hati dan tetap fokus,” sahut Rasman kalem. Matanya menatap lurus ke depan.Kali ini, roda-roda tangguh SUV mereka sudah jauh menempuh jalur pedesaan yang bervariasi. Kadang mereka melintasi jalanan tanah bergelombang yang gersang, kadang berganti aspal mulus saat memasuki area pemukiman warga.Mereka kini sudah bergerak jauh meninggalkan pusat Kota Kandangan, membelah hamparan hutan tropis Kalimantan yang rimbun dan sesekali melewati perkampungan terpencil di pinggiran kabupaten.Sembari menatap lurus ke jalanan yang mulai menyempit, Irman kembali membuka obrolan sensitif yang sejak semalam mengganjal di otaknya.“Bang, aku sebenarnya bingung. Bagaimana kelak tanggapan ketiga Mami kita di Jakarta kala







