LOGINApakah ada skandal lagi, ikutin terus yaah...??
"Kapan kamu terakhir kali ha es Sisca?” tanya Satria, mulai kumat lagi nakal, agaknya kali ini Satria ingin bersikap lebih padaa terapis cantik ini.“Tentu saja dengan pacarku Om, tapi sudah lama banget, hampir 2,5 tahunan, dia nggak suka aku kerja di salon. Padahal janjinya mau nikahin aku, yah mulut laki-laki nggak bisa di pegang, nggak tahunya dia malah punya anak bini,” sahut Sisca blak-blakan.Sisca yang kini masih nggak percaya hari ni ketiban rejeki nomplok dari laki-laki gagah dan royal ini, makin terbuka saja, sehingga keduanya bak kenal sudah lama.“Gitu yaah!” kata Satria menahan senyum.“Kalau Om nggak percaya bisa di lihat bentuk fefek aku masih sempit loh Om, pasti donk Om pengalaman, walaupun tad Om bilang baru pertama kali ke tempat ginian,” kata Sisca lagi, hingga Satria melongo sesaat tapi senyum kecil lagi.“Masa sih…mana aku lihat,” canda Satria.Harus Satria akui, matanya mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Sisca ini kayak ada turunan Cina, walaupun le
“Berbalik Om, bagian depannya lagi,” kata Sisca, Satria yang tadi hampir terlelap kini telentang dan otomatis mata Sisca kaget menatap torpedo gede yang ter bungkus boxer tipis ini.Nafas Sisca sampa ngosan-ngosan di buatnya. Satria yang melihat kelakuan Sisca menahan senyum saja dan mulai mikir, jangan - jangan Sisca baru kali ini melihat torpedo gede dari pelanggannya.“Kenapa Sisca, baru lihat ada pelatuk pelanggan yang gede ya?” seloroh Satria.“B-bukan gitu Om, jujur baru hari ini loh aku layani pelanggan, selama semingguan ini aku kan di kursus dulu oleh yayasan. Nah, hari ini Om adalah pelanggan pertama aku,” kata Sisca polos, hingga Satria kaget, nggak menyangka si cantik denok ini baru hari ini dapat pelanggan dan dirinya yang jadi pelanggan itu.“Oh yaa…kok kamu mau sih jadi terapis?” pancing Satria lagi mulai kepo.“Awalnya aku di salon Om, tapi penghasilan di sana nggak seberapa, godaannya malah yang bikin pusing, lalu ada kawan yang nawarin kerja di sini, katanya per jam
"Hemmm…tak salah dugaannku,” batin Satria menahan amarah yang mau meledak di dadanya, saat tahu pelaku penabrak Soraya adalah Joni, mantan suami Soraya.Kini Satria terus kuntit dua orang itu yang terihat berjalan dan menuju ke sebuah THM merangkap spa, Satria melihat arlojinya dan ini sudah sore jelang malam.“Mau kemana Om?” tahan seorang penjaga saat melihat Satria yang berbaju preman ingin nyelonong masuk ke tempat ini.“Aku….ingin message,” sahut Satria sekenanya, sebab matanya melihat-lihat kemana dua orang tadi ngilangnya di THM dan spa ini.Satria lalu cabut dompetnya dan serahkan 2 lembar 100 ribuan, kemudian dengan terbungkuk-bungkuk si penjaga ini arahkan Satria ke bagian resepsionest.“Met sore jelang malam, silahkan Om, mau yang kategori A, B atau C?” kata si resepsionest ini.“Kok ada yang kategori segala, sebutin apa kelebihannya,” sahut Satria heran sendiri, sebab baru pertama kali ketempat ginian.“Kalau yang C, per jam-nya 250 ribu, hanya di kamar yang di lapisi dind
Tapi….Tante Vega kembali tertawa berderai dan menggelengkan kepala, geli juga hatinya, Satria tetap tak berubah, masih nakal dan ganjen.“Sat, aku sudah tua, ku harap kamu jangan memaksa aku begitu lagi, walaupun secara hati, aku pun kangen denganmu, tapi saat ini...jujur aku lagi nggak mood, lagian aku lagi merah,” sahut Tante Vega dan Satria pun tak memaksa.Setelah berbasa-basi, Satria pun pamit dan Tante Vega hanya bisa hela nafas panjang. “Aku belum siap terbuka Sat, kalau kita sudah memiliki anak yang autis,” batin Tante Vega, sambil menatap mobil mewah Satria keluar dari pagar rumahnya.Satria pun hargai penolakan Tante Vega dan bukan tipikal dia yang memaksakan kehendak. Satria lau fokuskan ke tugasnya yang tersisa 6 harian lagi di Bandung sini.Pas di hari ke 6 setelah selesai ngajar, Satria bukan main terkejutnya saat dapat telpon dari ART-nya, yang mengatakan ada insiden yang menimpa Soraya. “Non Soraya Tuan muda, beliau kecelakaan dan di sekarang ada di rumah sakit,” ka
“Boleh aku bertamu dan masuk ke rumah kamu Tante Vega?” Satria menatap si cantik yang makin matang ini, tubuhnya juga makin menggiurkan di usia 37 tahunan ini.“B-boleh Satria, ayooh masuk,” Tante Vega buru-buru membuka pintu dan Satria mengikuti dari belakang.“Makin montok ajee ni cewek,” batinnya, tapi tentu saja Satria dulu dan kini beda, dia tidak mau menunjukan ke bangoranya pada si mantan istri Om Brata ini, dia adalah pria matang dan kenyang pengalaman.Dengan gaya yang sopan dan elegan Tante Vega kini menatap pria yang pernah bikin dia sayang dan jatuh cinta...hasilnya, si Irwansyah itulah, anaknya yang tampan, tapi sayangnya autis, tanpa setahu Satria pastinya.“Di mana suami kamu sekarang, papanya Irwansyah?” tanya Satria berbasa-basi, Tante Vega kontan terdiam, hampir saja ia mengaku.Tapi saat ingat wanita yang bersama Satria di mal Plaza Indonesia, kontan Tante Vega menahan mulutnya.“Kami…sudah pisah, dia tak mau punya anak autis. Yaah tak apalah, aku tetap akan besarka
Dan Soraya terpekik manja, saat dari belakang Satria langsung serbu pantat bohaynya dan melumatnya dengan ganas, sehingga acara coba-coba baju baru tertunda, karena Soraya mlenguh-lenguh lagi di hajar si bangor cap biawak ini dengan gaya doggy style.“Manaa tahaannn…liat bokong semok kamu,” canda Satria sambil pompa Soraya hingga kamar ini berubah jadi lenguhan-lenguhan dan desahan manja Soraya.“Silahkan Bang, mulai saat ini, kapanpun Abang mau, aku berikan,” bisik Soraya sambil menahan tubuhnya yang terguncang-guncang aduhai ini, upoiii….!Pertandingan senggama dengan beragam gaya ini berakhir setelah keduanya sama mencapai puncaknya, dengan seperti biasa 3-1, alias Soraya 3X klimaks dan Satria 1X klimaks.Sejak hari itulah, Satria membiarkan Soraya tinggal di rumah besar dan mewahnya dan berlakon bak istri, Satria tak tidak tega ‘mengusirnya’ pulang. Lagian…adanya Soraya membuatnya kini jadi betah di rumah, sebab Soraya selalu perhatikan kesehariannya dan juga cara berpakaiannya
Paginya di meja makan…Soraya menatap tajam wajah Satria, Bibi Dewi sedang ke pasar bersama ART dan saat ini mereka berduaan di meja makan ini.“Ehemmm…pasti tadi malam sangat nyenyak bobok ya?” pancing Soraya sambil kupas buas mangga perlahan.“Iya, ranjang si Bonar kan empuk, aku sampai hampir ke
Om Brata, Tante Vega dan Ajeng juga Mang Jaja kaget bukan main saat Satria pulang di antar sahabatnya Syarif dengan kondisi tubuh bekas babak belur.Begitu tahu penyebabnya, Om Brata yang mantan tentara kontan gemelutukan giginya, melihat keponakannya babak belur begini di permak di kantor parcok!“
Satria melihat rumah ortunya kini di rombak, kamar juga di bikin 3 dan dikit diperluas dengan yang ada.Uang yang dia berikan hasil jadi suami Soraya dimanfaatkan ortunya buat perbaikin ni rumah, tentunya jauh lebih baik dari sekarang, kalau kelak sudah selesai dan jadi.Untungnya juga tanah ortunya
Sesampainya di sebuah hotel merangkap vila dan ada restorannya, Satria hanya dengarkan keluh kesah Berlina, yang tak mau dinikahkan dengan ajudan ayahhnya.Tiba-tiba ide brilian muncul di otaknya.“Gini Berli, mending kamu bilang saja mau masuk perwira, terserah mau masuk polisi atan tentara, setela







