LOGINlanjutt yaah
Satu setengah bulan kemudian pasca tragedi berdarah di taman…Satria baru saja keluar dari kantor polisi, dia berikan keterangan soal penembakan Tante Vega dan mendiang Irwansyah, Satriaa juga sekaligus sengaja ingin tahu perkembangan kasus penembakan Tante Vega dan mendiang Irwansyah.“Dari rekaman CCTV di lokasi kejadian, pelakunya satu orang,” kata polisi sambil perlihatkan rekaman ini, wajah si penembak sudah di buat sketsanya dan gambar itu sudah Satria simpan di ponselnya.“Kenapa aku tak lacak ke rumah Tante Vega, siapa tahu di sana ada petunjuk,” batin Satria, yang kemudian arahkan mobilnya ke rumah mewah milik Tante Vega yang berada di sebuah kompleks perumahan menengah atas tak jauh dari pusat kota Bandung.Rumah ini sepi, begitu Satria tiba, ART sekaligus baby sitter Irwansyah langsung sambut Satria dan dipersilahkan masuk.“Boleh aku masuk ke kamar pribadi Tante Vega?” tanya Satria sambil menatap si ART yang juga sangat syok dengan musibah Tante Vega dan Irwansyah.“Boleh
Satria dan Tante Vega kini CLBK, layaknya orang lagi jatuh cinta, keduanya selalu bergandeng mesra kemanapun berjalan.Tapi ada satu pemandangan berbeda, yakni ada Irwansyah, si anak autis yang begitu bahagia sebab ‘ayah-ibunya’ hari ini komplet dan menemaninya jalan-jalan.Irwansyah pada dasarnya anak yang pintar dan dia tidak begitu merepotkan kedua ayah bundanya dengan kekurangannya.Satria senyum saja melihat tingkah adik Salman yang begitu ‘pintar’ ini. Saat bergandengan tangan, sesekali keduanya saling pandang, rona bahagia terlihat sekali dari wajah Tante Vega, juga pastinya Satria.“Maafkan aku sayang, baru sekarang bisa bikin kamu bahagia dengan anak kita,” bisik Satria, Tante Vega yang sejak CLBK tiada henti senyum ini mengangguk.“Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali yank! Lihat anak kita bahagia banget, moga ini selamaanya yaah...” balas Tante Vega tertawa kecil dan Satria kecup pipi ayank bebnya yang makin jelitaaah ini.“Jangan lama-lama di luar, mending kit
Satria yang pada dasarnya diam – diam mencintai Tante Vega kini lakukan gaya bercinta yang agak beda…yakni sama-sama guanaass neeekkk.Mereka sebenarnya pasangan yang saling mengisi, gaya penolakan Tante Vega di awal adalam bumbu, sehingga percintaan mereka makin panas.Kuku-kuku jari Tante Vega tak segan cengkram punggung Satria sambil terus melumat mulut pemuda ini.Satria tak mau kalah, selain kecup leher dan ketik mulus, lalu buaah melon kencang si cantik ini, cap merah juga tertempel di mana bibir Satria dengan ganas melakukan ciuman, akaii.Begitu bibir Satria menyentuh labira mayora pink, erangan dan desahanTante Vega makin menjadi, sampai rambut Satria dia kunyik-kunyik sambil terus mendesah, sehingga Satria semakin bernafsu melumat fefek basah yang tiada henti keluarkan pelumas.Saat Satria bangkit, sambil angkat satu kaki Tante Vega, mata si cantik ini kontan terbeliak dan erangan ini pun berubah jadi desisan, karena torpedo besar sudah menembus radar pertahanannya, dan kin
“Baru sampai…!” sahut Satria sengaja berdusta, Tante Vega langsung tarik nafas lega, ini tak luput dari perhatian Satria.Tante Vega lupa, kalau Satria adalah seorang agen berpengalaman dan setiap perubahan lawan bicaranya adalah petunjuk baginya! “Sat, ada acara apa kamu ke sini?” tanya Tante Vega lagi sambil menatap pria tampan macho ini.“Santai saja di sini, nggak ada yang khusus, apakah tante juga begitu?” pancing Satria sambil teguk minumannya dan nyalakan rokoknya.Mata indah Tante Vega sesaat melirik ke sebuah titik dan Satria pura-pura tak lihat, padahal dia sejak tadi selalu waspada.Lalu terdengar helaan nafasnya yang plong, sehingga Satria senyum kecil.“Bagaimana usaha kamu sekarang tan?” tanya Satria, yang tentu saja tak lupa pernah nanam saham tak sedikit di perusahaan Tante Vega ini.“Agak tersendat Sat, maaf aku selama 1 tahunan ini tidak pernah bagi deviden ke rekening khusus kamu,” sahut Tante Vega mulai tak enak hati.“It’s okay, nggak masalah,” sela Satria tenan
Satu setengah bulan kemudian…Satria lega Soraya sudah diperbolehkan pulang, Satria bahkan sewakan jet pribadi saat Soraya pulang kembali ke Kalimantan Timur bersama kedua orangtua dan Amar.Dari sinilah pa Jarwo dan bibi Dewi termasuk Soraya dan Amar tahu, kalau Satria bukan perwira kaleng-kaleng, tapi seorang perwira bintang tajir melintir.“Jangan nakal lagi yaa…kali ini aku yang marah kalau kamu masih nakal, Bang Amar pria yang baik dan bertanggung jawab!” canda Satria senyum kecil, saat melepas Soraya yang masih duduk di kursi roda di Bandara Soetta.Amar dan Bibi Dewi dan juga paman Jarwo sengaja membiarkan kedua orang ini ngobrol. Amar sudah tahu riwayat keduanya, dia juga tak pernah cemburu dengan Satria, tuh dia sudah tahu bagaimana baiknya si perwira ini, selama bergaul sambil jagain Soraya di rumah sakit.“Bang…kamu mau tau siapa ayah anakku?” bisik Soraya.“Iyah…siapa?” sahut Satria jadi ingin tahu sambil tetap jongkok menatap wajah Soraya yang masih agak pucat, karena ja
Kini Satria memantau tempat yang akan di jadikan transaksi, terlihat dua orang sedang asyik merokok di depan sebuah ruko.Satria kini cabut pistolnya, dia malam ini tak ragu akan bertindak terukur, kalau Joni benaran muncul."Buang -buang peluru saja kasih tembakan peringatan," batin Satria gemas.Setelah hampir 1,5 jam, datanglah sebuah mobil jenis MPV dan Satria kontan melotot saat tahu mobil ini sama dengan mobil yang menabrak Soraya dulu, tapi nomor polisinya sudah ganti yang baru.Terlihat seseorang keluar dari mobil ini, sambil membawa sebuah bungkusan. Salah satu dari dua orang yang Satria kuntit masuk ke dalam ruko dan keluar lagi sambil bawa tas kresek warna hitam.Begitu serah terima di lakukan, setelah masing-masing cek barangnya…Dorr…dorrr…dorrr…Tiga kali tembakan Satria lesakan, ke tiga orang ini kontan terjengkang.Tapi salah satu orang yang Satria duga adalah Joni berusaha masuk ke mobil lagi dan secepatnya melarikan mobil MPV tersebut, tapi saking gugupnya dan juga t
Satria tak punya pilihan lain, dia terpaksa meletakan ponselnya di meja dan berdiri, lalu perlahan pelorotkan celana pendek-nya dan…!Mata indah Andrea melotot melihat bentuk belalai guedeee Satria.“OMG…Sat, kok bisa gede begitu, kamu apain sih? Mana kepalanya besar gitu?” seru Andrea terkaget-kage
Bonia tak mau kalah, dia kini jongkok sambil mencoba menggigit pelatuk menggemaskan ini, karena mulutnya tak muat, sehingga Satria kadang meringis juga kena gigi tajam Bonia.Tapi Satria tak mau nganggur, dengan entengnya dia angkat pinggul Bonia yang kini sudah polos seutuhnya, lalu haapppp....mulu
Satria tertawa terbahak melihat kelakuan Manda yang kayak anak kecil, nyanyi-nyanyi sepuas hati dan dia di minta wajib kasih saweran dan tepuk tangan.Dengan cueknya Satria berikan saweran sambil dimasukan ke dalam blouse Manda, hingga si model cantik menepuk tangan Satria sambil balas mencubit peru
“Rayain tahun baru dengan teman se kampus tante!” sahut Satria kalem.“Sama cewek yaa…?” bisik si Tante makin kepo, hingga Satria makin senyum di kulum, dia kini mulai paham, wanita kalau sudah cemburu, pasti bawel.“Iya…tapi kan rame-rame tante, aman kok, milik tante tetap the best deh, aku juga ka







