LOGINTok…tok…tok!
“Satria, kamu sudah pulang ya dari kampus?” terdengar suara dari Ajeng dari luar kamarnya, Satria dengan malas-malasan membuka dan si ART bertubuh penuh ini sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Baru bangun tidur yaa?”
“Iya ka Ajeng, aku tadi di kampus kurang enak badan, makanya setelah pulang langsung bobok,” kata Satria berbohong pastinya.
“Hmm…gitukah?” Ajeng yang masih basah rambutnya terlihat sangsi dengan jawaban anak muda kurus ini, tapi saat menatap mata Satria yang agak merah, Ajeng pun percaya.
“Kamu….eee..ya..ya udahlah, aku mau beres-beres dulu,” sahut Ajeng lagi dan dengan lenggang kangkung perlihatkan pinggulnya yang tak kalah aduhainya dengan milik Tante Vega, si ART ini pun berlalu dari hadapan Satria.
“Amboii…pinggul itulah yang goyang koplo Om aku,” batin Satria menahan tawa.
Kini sebuah rahasia besar sudah dia ketahui di rumah ini, Om Brata sepupu ayahnya yang mantan tentara, tapi kini berkarir di pemerintahan, diam – diam memiliki skandal dengan…Ajeng sang ART.
Hanya yang bikin Satria heran, sejak dia tinggal di sini, Andrea sepupunya, yang juga anak Om Brata dengan mendiang istri pertamanya tak pernah terlihat di rumah besar dan mewah ini.
“Kemana dia ya, dulu Om Brata bilang Andrea baru lulus kuliah dan jadi asisten dosen?”
Tapi Satria tidak mau memusingkan itu berlebihan, kini dia kembali termenung, dua hari berturut-turut dirinya tak sengaja melihat pemandangan yang bikin otaknya konslet.
Walaupun nakal dan suka ngintip, Satria aslinya sampai kini masih perjaka, dia tak pernah macam – macam dengan wanita manapun.
Di Jakarta sini pun dia kuliah di Prodi Keguruan targetnya harus wisuda kurang dari 4 tahun.
Ia sudah niatkan di tahun 3 sudah persiapan skripsi. Otaknya encer dan sejak SD, hingga SMU, selalu jawara kelas, bahkan saat lulus SMU, dia terbaik se Kabupaten, sehingga dapat beasiswa dan kuliah di kampus bonafit di Indonesia ini.
Mengintip selalu menjadi satu-satunya kenakalan Satria, terutama jika ada pengantin baru di kampung mereka. Dan kini, kebiasaan buruk itu kembali kambuh di rumah Om-nya, menyeretnya masuk ke dalam rahasia kelam: skandal cinta antara Om Brata dan Ajeng, si ART.
Kebingungan pun mendera benaknya. "Kenapa aneh sekali? Mengapa Om Brata loyo saat dengan Tante Vega, tapi begitu perkasa saat bersama Ajeng? Apa sih rahasia yang membuat Om Brata bisa tampil beringas untuk Ajeng, namun mendadak lemah di hadapan istrinya sendiri?" Satria tak habis pikir.
Satria tambah mumet sendiri, sebab di matanya, bini kedua Om-nya ini sangatlah sempurna, berkulit putih bak wanita blasteran dan memiliki body aduhai.
Apalagi dulu seingatnya, sebelum menikah dengan Om-nya Tante Vega ini mantan model, sehingga memiliki tubuh yang tinggi.
Sedangkan Ajeng…hanya seorang ART, lulusan pun hanya SMU Paket C! Walaupun Ajeng biarpun agak sintal, juga tak kalah aduhainya dan bibir tebalnya sangatlah menggoda.
Malamnya…di meja makan,
"Satria, Om besok harus terbang ke luar negeri. Ada kunjungan kerja sangat penting untuk mengurus negosiasi kontrak strategis yang harus Om tangani langsung. Perjalanannya akan memakan waktu lama, Om akan mampir ke dua benua, dan Om mungkin sulit dihubungi. Om pesan, jaga rumah dan Tante kamu baik-baik. Pulang kuliah kalau tak ada kegiatan yang nggak perlu, langsung pulang yaa. Kamu kan pintar beladiri silat, kalau ada apa-apa, kamu bisa diandalkan," pesan Om Brata.
“Si-siap Om, aku akan patuhi pesan Om!” sahut Satria cepat. Satria sudah tak aneh, Om Brata jarang lama ada di rumah, selalu sibuk dengan urusan kantor.
Tanpa Satria sadari, saat Om-nya berkata begitu, Tante Vega terlihat keluarkan seutas senyuman.
“Makan yang banyak Satria, masa udah 2 bulanan di sini badan kamu masih kurus begitu, kayak kurang gizi saja,” sela Tante Vega. Om Brata diam saja dengan ucapan istrinya, dia malah menatap tubuh kurus Satria.
“Hmm…benar juga, ayoo tambah nasi.” Om Brata sodorkan nasi tambah dan mau tak mau Satria pun makan hingga 1,5 piring porsi penuh.
Tak ada kejadian aneh malam ini, karena Satria usai makan langsung kembali ke kamarnya dan sibuk belajar, Satria memang selalu mengulang pelajaran yang diberikan dosen, inilah kebiasaan sejak SD yang bikin dia jenius dan mudah paham.
Tapi gangguan justru datang dari…Ajeng.
“Lagi belajar ya, nih aku buatin kopi jahe, kan kamu bilang badan kurang enak tadi sore, minum ini biar segar badannya!”
Ajeng yang sebelumnya tahu kamar Satria tak dikunci nyelonong masuk sambil letakan kopi jahe panas di samping buku-buku Satria, anehnya Ajeng bukannya menjauh, dia tetap berdiri di samping meja belajar Satria.
“Makasih ka Ajeng!”
“Sama-sama Ganteng…!” sahut Ajeng kenes.
Ajeng mengangguk dalam hati, menyetujui penilaian Tante Vega.
Andai saja Satria mau menggemukkan badan, si jangkung kurus ini pasti akan sangat tampan, bahkan macho, pikirnya.
Bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di pipinya sudah menjadi daya tarik tersendiri.
Pandangan Ajeng kemudian turun, mendarat dan terpaku pada paha Satria yang saat itu hanya dibalut celana pendek.
Seketika, matanya berkilat tajam. Ada sesuatu yang terbentuk jelas, memberontak di balik bahan celana pendek itu...!!
**
Makin penasaran ya, lanjut lagi…
“Kasih yang enak…makanan?” tanya Satria pura-pura o’on, hingga bibi Dewi yang lagi bahagia senyum lebar.“Hmm…coba tebak,” sahut bibi Dewi sambil lumat bibir Satria dan berbisik mesra.“Aihhh…kalau di kasih kue pakis lebat dan bisa nyedot, siapa yang nolak bi, eh tunggu dulu, di sini aman nggak?” bisik Satria, yang tak ingin bikin heboh di desa kecil ini, apalagi mobil mehongnya parkir di depan rumah bidakan ini.“Makanya jangan di sini, kita ke penginapan di Tenggarong ajah sekalian, di sana banyak tempat yang aman dan enak, sekaligus kamu bisa jenguk pamanmu juga kita jemput Soraya nantinya,” cetus bibi Dewi dan kini bangkit dari paha Satria.Lalu berganti pakaian dan kini keduanya sudah berada dalam mobil Satria lagi, untu cuss menuju ke Kota Tenggarong, Kalimantan Timur.Bibi Dewi juga telpon pelayannya di warung itu, untuk pulang saja dan berhenti jualan mulai besok, Satria senyum kecil sambil mengangguk, setuju dengan ucapan bibi Dewi, sebab banyak godaannya di warung tersebut,
Dengan mobilnya, Satria pagi jelang siang menuju ke kecamatan sebelah yang jaraknya lumayan jauh, hampir 15 kiloan, tujuannya ingin cari warung kopi Bibi Dewi.“Hmm…agaknya itu warungnya, masih sepi…?” batin Satria dan menuju ke sebuah warung sederhana yang ada di pinggir jalan.Satria pun parkir di seberang jalan, lalu nyeberang jalan kaki menuju ke warung yang terletak di pinggir Sungai Mahakam ini.Karena tertutup tenda, Bibi Dewi yang sedang menunggu pelanggannya di bantu salah satu pelayannya tak tahu, hari ini akan kedatangan tamu istimewa, mantan mantu sekaligus mantan ayank beb-nya.“Bikinkan kopi, tapi gulanya dikit saja, kalau ada gula aren saja!” kata Satria sambil menatap wanita yang masih terlihat manis ini.“Baik mas…ih k-kamu…Satria?” Bibi Dewi tentu saja kaget bukan main, tamunya adalah pemuda gagah ini.Dengan agak kikuk dia buatkan kopi buat Satria, tidak meminta pelayannya yang sedang masakin gorengan, dan Satria minta 5 gorengan panas dan di masukan ke piring dan d
Namun Satria dan Mery harus menahan hasratsnya sejenak, Elsa belum ngantuk dan dia juga lagi kesenangan banyak mainan saat ini.Setelah hamir jam setengah 10 malam, barulah si bocil ini mulai ngantuk dan Elsa bahkan minta kelonin ibunya saat mau bobo.Tak kekurangan akal, Satria yang sudah ngebet berat lalu ikut rebahan di sisi Mery dan untungnya Elsa tidak tidak protes.“Papa di sini yaa boboknya, boleh yaa sayang,” canda Satria, sambil mepetkan pahanya tepat di bokong bohay Mery.“Iya pah, Elsa mo bobo dulu yaa…ngantuk,” kata si bocil ini dan pipinya di cium Satria, tapi setelahnya malah bibir Mery di lumatnya."Nakal...udah nggak sabaran yaa," bisik Mery terkekeh.Mery tepuk-tepuk pantat Elsa sengaja tak pakai celdam, dia paham saat Satria sudah mulai gesek-gesek pelatuk gedenya dalam posisi miring dan sempat-sempatnya kembali saling kecup, karena Elsa yang berbalik ke kanan mulai pejamkan mata.Lampu sudah di ganti yang temaram, Mery makin mendesah, saat Satria pelan-pelan angkat
“Argghhh…sesaaaak shayyy?” ceracau Mery sambil turun naikan pantat aduhainya, awalnya pelan-pelan, tapi lama-lama mulai nge-gas.“Tapi enakkannn…?” cetus Satria sambil lumat buah pepaya gede Mery yang antuy-antuy seakan minta di sedot, tapi kali ini nggak ada ASI-nya kayak dulu lagi, tapi tetap asoii.“Bangkeee, ehh bangeeettt….!” Desah Mery sambil sodorkan si buah pepayanya, hingga sesaat Satri gelagapan juga."Aduuuh yanggg…keluarrr!” desah Mery dan lunglai di atas tubuh Satria, si bangor ini ikut merasakan milik Mery kedut-kedut, seolah meremas miliknya.“Gantian yaa,” bisik Satria yang kemudian bangkit dan dan mulai pompa tubuh Mery dalam gendongannya sambil berdiri.Bunyi suaranya sangat aduhaii...kruusaak...krusaaak..kayak orang lagi jalan di lumpur ajaaaah. AhaiiiSehingga Mery kembali terbangkit semanagatnya dan melumat bibir Satria, sementara torpedo Korea Utara dengan gagah perkasa keluar masuk lubang gelap penuh rerumputan miliknya ini.Lagi Mery menegang dan klimaks yang k
Kopi yang baru yang di beli dan ini masih mengepul hangat tersaji di depan Satria, setumpuk belanjaan yang baru datang dan di antar pakai gerobak salah satu pembantu di warkop tadi, juga tersusun rapi di sudut rumah kecil ini.Mery tentu bukan main senangnya, si tamu sahabat lama datang dan langsung belikan dia sembako nggak kira-kira.Mery yang tak menyangka kedatangan tamu istimewa ini tak sungkan curhat masalah RT-nya yang hancur, setelah suaminya menikah lagi, setelah punya jabatan lumayan dan gajinya juga naik.“Jadi begitulah Mas, suami aku ternyata punya istri baru lagi, ya udah aku balik ke sini sejak 2 tahun lalu dan kerja serabutan si sini,” sahut Mery sambil hela nafas dan melihat Elsa asyik main sendiri dengan mainan yang baru di belikan Satria tadi.“Tak apa Mery, habis jodoh namanya!” sahut Satria.“Oh ya…setelah lulus kuliah, kamu kerja apa Mas, jadi guru atau jadi apa?” tanya Mery, sebab ia ingat Satria dulu mahasiswa keguruan.“Aku…banting setir, jadi aparat!” lalu Sa
Yang bikin Satria terharu, Femmy lewat sebuah surat yang ia temukan di lemari pakaian di kotak perhiasan yang dulu Satria belikan, meminta 'jatah' batu mutiara buatnya, semuanya buat…Salman Dewantara, anak tunggal mereka.“Pasti sayang…Salman juga anakku, jangankan batu mutiara, uang-uang milik aku pun kelak Salman lah pewarisnya,” gumam Satria, kembali matanya berkaca-kaca dan simpan kembali surat wasiat Femmy itu di kotak perhiasannya.Satria sudah jenguk anaknya dengan Femmy, saat mau mengambilnya, si mantan pengasuh Femmy memohon untuk diperbolehkan merawatnya."Mas Satria kan belum berkeluarga dan masih terikat dinas di luar daerah, biarlah baby Salman ini bibi saja yang asuh yaa?" kata si perawat ini memohon.Satria akhirnya membolehkan, dia juga tak ragu tinggali duit tak sedikit buat si pengasuh ini, buat beli susu dan keperluan Salman Dewantara, anaknya itu, sekaligus buat si pengasuh dan suaminya, yang ternyata tak punya anak.Setelah menciumi bayinya yang makin montok ini,







