Masuk“Lagi belajar apa sih, serius amat…!”
Entah disengaja atau tidak, Ajeng sengaja jongkok sambil melihat laptop Satria, sehingga dasternya yang agak longgar memperlihatkan isinya yang bikin mata Satria mau tak mau melirik juga.
“Alamak…” batin pemuda ini, kalamenjingnya mulai bergerak tak beraturan.
Dari pandangannya, ia melihat dengan utuh bagian atas tubuh molek milik Ajeng yang… Satria sendiri tak mampu berkata-kata!
Walaupun selama ini sering bercengkrama, tapi gara – gara ngintip tadi sore, pikiran Satria mulai konslet juga.
Dia pun mulai perhatikan tubuh Ajeng yang baginya sangatlah menggiurkan. Apalagi saat dekat begini, aroma Ajeng sungguhlah sangat menggoda.
“La-lagi…nyangkul…eh maksudnya belajar, eh ngulang pelajaran tadi siang Ka?” jawaban Satria yang terbata-bata bikin Ajeng menahan tawa.
“Kok gugup gitu sih, hayo mikir apa sih?” goda Ajeng, sampai dengus nafasnya terasa di pipi Satria.
“A–anu…” lidah Satria kelu, bicara dekat begini, di tambah ngintip Ajeng dan Om Brata sore tadi sedang olahraga kasur, otak Satria seketika buntu.
“Ehemmm… Kakak mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur yaa?” Ajeng kini menatap tajam wajah tampan Satria, hingga pemuda ini makin salting di kursi belajarnya.
“T-tanya apa ka?”
“Kamu…sore tadi tahu kan kalau Om kamu…eee masuk ke kamar aku?”
Satria menarik napas sejenak, padahal di dalam hatinya ia berjuang keras mencari jawaban paling aman yang terdengar lugu.
"Tidak, Kak. Aku baru pulang kuliah, langsung istirahat di kamar," sahut Satria dengan nada seolah tidak tahu apa-apa.
Ia lantas membalikkan pertanyaan, memasang wajah polos. "Memangnya ada apa? Om Brata masuk kamar Kakak? Mungkin beliau mau kasih bonus atau transfer uang gaji, ya?"
Ajeng terdiam sejenak, lalu tertawa kecil dan mengangguk.
“Iya, ngasih bonus, sebab aku dianggap bagus kerjanya, udah ahh, aku mau istirahat!”
Namun, sebelum beranjak, sekali lagi Ajeng memerhatikan milik Satria yang sedari tadi sesak dibuatnya.
Tanpa ragu Ajeng menyentil genit, lalu melenggang aduhai meninggalkan kamar Satria dan kembali ke kamarnya.
Satria sampai bengong dan kaget bukan main, sore kemarin Tante Vega, malam ini Ajeng yang ‘melakukannya’!
“Dueeh bikin pusing aja, kalau gini terus bisa khilaf aku!” gumam Satria senewen sendiri, lalu buru-buru kunci pintu kamarnya dan kembali konsentrasinya buyar, gara - gara ulah Ajeng tadi.
Akibatnya, tengah malam barulah dia bisa memejamkan mata.
***
Hari ini Satria kuliah pagi, pukul 8.00, sehingga dia memutuskan tak ikut sarapan, takut telat ke kampus, apalagi pelajaran pagi ini dosennya terkenal killer, telat 1 menit di larang masuk kelas.
Rumahnya Om-nya masih sepi, karena dia berangkat pukul 6.15 menitan, usai jalankan kewajibannya.
Setibanya di kampus, setelah satu setengah jam lebih berkutat di jalanan Jakarta yang makin macet saja padahal masih pagi, ia pun jalan dengan tergesa-gesa usai naruh motor di parkiran.
Satria masih sibuk menata pikirannya, dengan kerlingan dan ucapan Tante Vega yang begitu menggoda, sekaligus adegan tadi malam yang bikin dia terngiang-ngiang.
Ditambah lagi sikap Ajeng yang biki otaknya makin mumets, akibatnya dia tak konsentrasi saat berjalan.
Bukkkk….tanpa sengaja ia menabrak seorang mahasiswi berpostur tinggi padat dengan setelan basket.
Bukan si pebasket wanita itu yang terjengkang, tapi tubuh kurus Satria lah yang terhempas ke tanah, hingga tas nya jatuh dan berhamburan, sebab resleting tasnya lupa dia kancing.
“Hmm…meling kemana otak mau, sampai tubuhku yang segede gaban gini tak kamu lihat,” dengus mahasiswi yang ia tabrak ini kesal.
Tapi si wanita tinggi kokoh ini segera membantunya berdiri, keringatnya menetes, tubuhnya atletis—cukup membuat Satria terpaku, harum tubuhnya menyebar, hingga hidung Satria sesaat mekar.
Merasa canggung, Satria segera menjauh tanpa menyadari bahwa dompetnya terjatuh di lapangan.
Si gadis pebasket tadi memungut dompet tersebut dan hendak mengejarnya, tapi Satria keburu menghilang di kerumunan mahasiswa lainnya dan sebab ingin buru- buru masuk kelas.
Tapi kesialan Satria malah bertambah, baru saja hendak memasuki kelas, Satria menabrak tiga laki-laki berbadan besar, dorongan akibat tabrakan itu membuat Satria hampir kembali jatuh.
Salah satu pria langsung menarik kerahnya, merasa tersinggung dan mengancam Satria dengan suara rendah.
Satria yang sejak pagi sudah kebingungan dihadapkan lagi pada situasi yang membuat pertahanannya, baik mental maupun fisik serasa runtuh.
“M-maaf Bang…aku tadi terburu-buru mau masuk kelas,” kata Satria dengan suara pelan.
“Hei kurus, dengar baik-baik, lain kali kalau jalan lihat – lihat, atau aku patahkan kaki kamu itu, huhhh!” bentaknya dengan suara mengguntur.
Setelah berkata begitu, dia hentakan tangannya, hingga Satria terdorong ke belakang dan hampir kena mahasiswa lainnya.
Kembali Satria buru-buru rangkapkan tangannya minta maaf.
Aslinya Satria bukanlah pengecut, di balik tubuh kurusnya dia pernah jawara pencak silat se Kabupaten tingkat SMP dan SMU.
Tapi Satria tahu diri, sebagai mahasiswa yang baru 2 bulan kuliah dan dari kampung pula, dia tak mau bikin masalah.
Namun di sini lah awalnya kenapa Satria justru akan menerima bully-bullyan lainnya. Apalagi ke 3 mahasiswa itu saling pandang dengan isyarat aneh.
Sampai di sini Satria masih belum nyadar, dompetnya terjatuh dan kini dipegang mahasiswi yang juga atlet basket di kampusnya.
**
Lanjut yaaa..
“Kasih yang enak…makanan?” tanya Satria pura-pura o’on, hingga bibi Dewi yang lagi bahagia senyum lebar.“Hmm…coba tebak,” sahut bibi Dewi sambil lumat bibir Satria dan berbisik mesra.“Aihhh…kalau di kasih kue pakis lebat dan bisa nyedot, siapa yang nolak bi, eh tunggu dulu, di sini aman nggak?” bisik Satria, yang tak ingin bikin heboh di desa kecil ini, apalagi mobil mehongnya parkir di depan rumah bidakan ini.“Makanya jangan di sini, kita ke penginapan di Tenggarong ajah sekalian, di sana banyak tempat yang aman dan enak, sekaligus kamu bisa jenguk pamanmu juga kita jemput Soraya nantinya,” cetus bibi Dewi dan kini bangkit dari paha Satria.Lalu berganti pakaian dan kini keduanya sudah berada dalam mobil Satria lagi, untu cuss menuju ke Kota Tenggarong, Kalimantan Timur.Bibi Dewi juga telpon pelayannya di warung itu, untuk pulang saja dan berhenti jualan mulai besok, Satria senyum kecil sambil mengangguk, setuju dengan ucapan bibi Dewi, sebab banyak godaannya di warung tersebut,
Dengan mobilnya, Satria pagi jelang siang menuju ke kecamatan sebelah yang jaraknya lumayan jauh, hampir 15 kiloan, tujuannya ingin cari warung kopi Bibi Dewi.“Hmm…agaknya itu warungnya, masih sepi…?” batin Satria dan menuju ke sebuah warung sederhana yang ada di pinggir jalan.Satria pun parkir di seberang jalan, lalu nyeberang jalan kaki menuju ke warung yang terletak di pinggir Sungai Mahakam ini.Karena tertutup tenda, Bibi Dewi yang sedang menunggu pelanggannya di bantu salah satu pelayannya tak tahu, hari ini akan kedatangan tamu istimewa, mantan mantu sekaligus mantan ayank beb-nya.“Bikinkan kopi, tapi gulanya dikit saja, kalau ada gula aren saja!” kata Satria sambil menatap wanita yang masih terlihat manis ini.“Baik mas…ih k-kamu…Satria?” Bibi Dewi tentu saja kaget bukan main, tamunya adalah pemuda gagah ini.Dengan agak kikuk dia buatkan kopi buat Satria, tidak meminta pelayannya yang sedang masakin gorengan, dan Satria minta 5 gorengan panas dan di masukan ke piring dan d
Namun Satria dan Mery harus menahan hasratsnya sejenak, Elsa belum ngantuk dan dia juga lagi kesenangan banyak mainan saat ini.Setelah hamir jam setengah 10 malam, barulah si bocil ini mulai ngantuk dan Elsa bahkan minta kelonin ibunya saat mau bobo.Tak kekurangan akal, Satria yang sudah ngebet berat lalu ikut rebahan di sisi Mery dan untungnya Elsa tidak tidak protes.“Papa di sini yaa boboknya, boleh yaa sayang,” canda Satria, sambil mepetkan pahanya tepat di bokong bohay Mery.“Iya pah, Elsa mo bobo dulu yaa…ngantuk,” kata si bocil ini dan pipinya di cium Satria, tapi setelahnya malah bibir Mery di lumatnya."Nakal...udah nggak sabaran yaa," bisik Mery terkekeh.Mery tepuk-tepuk pantat Elsa sengaja tak pakai celdam, dia paham saat Satria sudah mulai gesek-gesek pelatuk gedenya dalam posisi miring dan sempat-sempatnya kembali saling kecup, karena Elsa yang berbalik ke kanan mulai pejamkan mata.Lampu sudah di ganti yang temaram, Mery makin mendesah, saat Satria pelan-pelan angkat
“Argghhh…sesaaaak shayyy?” ceracau Mery sambil turun naikan pantat aduhainya, awalnya pelan-pelan, tapi lama-lama mulai nge-gas.“Tapi enakkannn…?” cetus Satria sambil lumat buah pepaya gede Mery yang antuy-antuy seakan minta di sedot, tapi kali ini nggak ada ASI-nya kayak dulu lagi, tapi tetap asoii.“Bangkeee, ehh bangeeettt….!” Desah Mery sambil sodorkan si buah pepayanya, hingga sesaat Satri gelagapan juga."Aduuuh yanggg…keluarrr!” desah Mery dan lunglai di atas tubuh Satria, si bangor ini ikut merasakan milik Mery kedut-kedut, seolah meremas miliknya.“Gantian yaa,” bisik Satria yang kemudian bangkit dan dan mulai pompa tubuh Mery dalam gendongannya sambil berdiri.Bunyi suaranya sangat aduhaii...kruusaak...krusaaak..kayak orang lagi jalan di lumpur ajaaaah. AhaiiiSehingga Mery kembali terbangkit semanagatnya dan melumat bibir Satria, sementara torpedo Korea Utara dengan gagah perkasa keluar masuk lubang gelap penuh rerumputan miliknya ini.Lagi Mery menegang dan klimaks yang k
Kopi yang baru yang di beli dan ini masih mengepul hangat tersaji di depan Satria, setumpuk belanjaan yang baru datang dan di antar pakai gerobak salah satu pembantu di warkop tadi, juga tersusun rapi di sudut rumah kecil ini.Mery tentu bukan main senangnya, si tamu sahabat lama datang dan langsung belikan dia sembako nggak kira-kira.Mery yang tak menyangka kedatangan tamu istimewa ini tak sungkan curhat masalah RT-nya yang hancur, setelah suaminya menikah lagi, setelah punya jabatan lumayan dan gajinya juga naik.“Jadi begitulah Mas, suami aku ternyata punya istri baru lagi, ya udah aku balik ke sini sejak 2 tahun lalu dan kerja serabutan si sini,” sahut Mery sambil hela nafas dan melihat Elsa asyik main sendiri dengan mainan yang baru di belikan Satria tadi.“Tak apa Mery, habis jodoh namanya!” sahut Satria.“Oh ya…setelah lulus kuliah, kamu kerja apa Mas, jadi guru atau jadi apa?” tanya Mery, sebab ia ingat Satria dulu mahasiswa keguruan.“Aku…banting setir, jadi aparat!” lalu Sa
Yang bikin Satria terharu, Femmy lewat sebuah surat yang ia temukan di lemari pakaian di kotak perhiasan yang dulu Satria belikan, meminta 'jatah' batu mutiara buatnya, semuanya buat…Salman Dewantara, anak tunggal mereka.“Pasti sayang…Salman juga anakku, jangankan batu mutiara, uang-uang milik aku pun kelak Salman lah pewarisnya,” gumam Satria, kembali matanya berkaca-kaca dan simpan kembali surat wasiat Femmy itu di kotak perhiasannya.Satria sudah jenguk anaknya dengan Femmy, saat mau mengambilnya, si mantan pengasuh Femmy memohon untuk diperbolehkan merawatnya."Mas Satria kan belum berkeluarga dan masih terikat dinas di luar daerah, biarlah baby Salman ini bibi saja yang asuh yaa?" kata si perawat ini memohon.Satria akhirnya membolehkan, dia juga tak ragu tinggali duit tak sedikit buat si pengasuh ini, buat beli susu dan keperluan Salman Dewantara, anaknya itu, sekaligus buat si pengasuh dan suaminya, yang ternyata tak punya anak.Setelah menciumi bayinya yang makin montok ini,







