Share

138

Penulis: Melyana_Arum
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-27 17:11:09

Setelah kegemilangan festival, banyak murid mulai mengidolakan Aruna. Komentar di forum sekolah penuh pujian:

“Keyboardist itu keren banget, siapa namanya?”

“Aruna ya? Kayaknya dia lebih berbakat daripada Nadira.”

Nadira geram. Ia tak terima spotlight direbut. Maka, ia mulai menyebar gosip:

“Tahu nggak? Aruna cuma bisa naik karena Ezra. Katanya mereka tinggal serumah…”

Awalnya hanya bisik-bisik, tapi gosip itu menyebar cepat. Murid mulai melihat Aruna dengan tatapan sinis.

Nadira tak puas hanya dengan gosip. Ia menyusun rencana lebih besar,

Menggunakan foto Aruna pulang malam dari klub DJ (masa lalu yang Aruna simpan rapat-rapat).

Memalsukan chat seakan-akan Aruna menawarkan “jalan pintas” untuk menang kompetisi antar klub.

Menyebarkannya lewat akun anonim di forum sekolah.

Hasilnya? Aruna dicap “anak liar” dan “pembohong”.

Suasana sekolah berubah drastis.

Ada teman yang mulai menjauh.

Guru menatapnya dengan ragu.

Beberapa murid bahkan menempelkan selebaran fitnah di loker Aruna.

“Wa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   148

    Ia akhirnya membuka semua isi hatinya.Nadira dengan nafas tersengal,“Sejak kecil aku dibentuk Umbra. Aku tidak tahu apa artinya memilih. Aku cuma tahu bagaimana cara taat. Dan tadi… aku sadar, untuk pertama kalinya aku ingin salah. Aku ingin salah demi kalian, bukan demi Umbra.”Suasana sunyi. Ezra menutup matanya, Aruna menggenggam tangan Nadira erat.Nadira akhirnya terisak di bahu Aruna. “Kalau kalian masih mau… izinkan aku belajar jadi manusia. Bukan pion.”Aruna mengangguk dengan lembut. Ezra tidak menjawab, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menolak.Gudang yang jadi tempat persembunyian berubah jadi semacam “rumah sementara.”Aruna bangun lebih dulu, memasak sarapan seadanya telur orak-arik gosong setengah matang.Ezra menatap dengan alis terangkat.Ezra suara datarnya khas, “Kau yakin itu makanan? Atau bagian latihan survival?”Aruna menggertakkan gigi, “Diam dan makan. Kau masih hidup k

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   147

    Kabut asin dari laut menebal, suara ombak memecah di kejauhan. Lampu-lampu dermaga berkelip samar, menciptakan bayangan panjang yang menegangkan.Di tengahnya sebuah kontainer baja. Pintu terbuka, di dalamnya bom dengan timer:00:00:59.Aruna, Ezra, dan Nadira berdiri terpaku. Napas mereka berat, detak jantung seirama dengan suara detik… detik… detik…Ezra menendang pintu agar terbuka penuh, lalu mendekat dengan wajah tegang. Kabel merah, biru, hijau, hitam melilit seperti sarang ular.Ezra dengan suara serak, “Kalau aku salah potong… habis sudah.”Aruna dengan nada datar, tegas, “Tak ada waktu ragu.”Nadira melangkah maju, wajahnya pucat.“Aku… aku pernah lihat ini. Umbra pakai pola kabel yang—”Ezra menoleh tajam.“Jangan berani-berani menipu kami.”Air mata Nadira jatuh, suaranya bergetar. “Aku muak jadi pion mereka. Kalau aku salah… aku yang tanggung. Tolong percayai aku sekali ini

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   146

    Tiba-tiba, suara letupan peluru memecah keheningan. Peluru menghantam tiang kayu dekat kepala Aruna. Dari atas derek kapal, sniper Umbra mengawasi, siap menembak.Aruna langsung menarik Nadira ke bawah.Aruna merasa geram, “Sial, mereka tidak akan biarkan kita hidup, bahkan kalau bom ini bisa kita jinakkan.”Ezra berlari ke sisi kontainer, tubuhnya jadi tameng. Kakinya yang masih cidera terasa perih, tapi ia tetap berdiri tegak.“Aku akan tahan tembakan. Kau fokus pada bom, Aruna!”Timer: 00:00:38.Aruna membuka panel bom dengan tangan bergetar. Kabel-kabel berwarna merah, biru, hijau, dan hitam tersambung ke detonator.Aruna berbisik, “Mana yang benar…?!”Nadira berlutut di sampingnya, menunjuk kabel hijau. “Yang ini… biasanya kabel penghubung utama.”Ezra kembali berteriak dari belakang, “Biasanya?! Nadira, ini nyawa kita taruhannya!”Nadira menutup mata sejenak, air mata jatuh. “Kalau aku salah… aku yang tanggung. Potong sekarang, Aruna.”Aruna menatapnya lama, lalu dengan nekat

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   145

    Kabut laut malam itu pekat, lampu-lampu jalan berkelip samar seperti enggan menyinari. Dermaga tua itu nyaris kosong kecuali suara burung camar dan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu lapuk.Aruna melangkah lebih dulu, wajahnya tertutup hoodie hitam. Ezra berjalan di sisi kirinya, tegap tapi penuh waspada. Nadira mengikuti di belakang, jemarinya terus meremas ponsel berisi pesan dari Umbra: “Laksanakan, atau keluargamu binasa.”Ezra berbisik dengan sangat pelan sekali, “Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Ini bukan undangan, ini perangkap.” “Aku tahu. Justru itu kita harus masuk.”Mereka tiba di barisan kontainer yang berjajar seperti dinding besi. Nadira berhenti, menatap angka-angka yang disemprot cat merah di salah satu kontainer.Nadira berauara pelan, “Ini tanda… pesan untukku.”Ia mengingat instruksi Umbra: buka kontainer itu, serahkan “barang” Aruna ke dalam, lalu pergi. Nadira menggigil, tubuhnya tak sanggup bergerak.Aruna melihatnya dengan tatapan tajam.“Jangan bilang kau mas

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   144

    Malam itu di rumah aman, udara begitu tebal dengan ketegangan. Tidak ada yang banyak bicara setelah keputusan dibuat, besok malam mereka akan menuju dermaga.Nadira duduk memeluk lutut di sofa, lampu redup menyinari wajahnya yang pucat. Di tangannya, ponsel dengan pesan Umbra masih menyala. Ia menatapnya lama, seperti menimbang hidup dan mati.Nadira berbisik,“Kenapa harus aku? Kenapa aku selalu dijadikan alat? … Aku tidak pantas bersama mereka. Tapi… aku ingin menebus semuanya, meski tubuhku hancur sekalipun.”Air matanya jatuh tanpa suara.Aruna masuk diam-diam, berdiri di ambang pintu. Ekspresinya dingin, tapi matanya menyimpan gejolak.“Kau masih memikirkan pesan itu?”Nadira terkaget, buru-buru hapus air mata, “Aku… tidak. Aku cuma—”Aruna memotong, “Jangan bohong. Aku bisa lihat wajahmu penuh takut. Kalau kau benar-benar berniat menyerahkanku ke Umbra, katakan sekarang. Aku lebih suka kebenaran pahit daripada pengkhianatan manis.”Nadira menunduk, suaranya bergetar.“Aku benci

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   143

    Ezra membuat misi kecil yang sengaja tampak penting: menyusup ke gudang logistik sekolah tempat beberapa berkas rahasia tersimpan padahal sebagian informasi sudah dipindahkan.Nadira diberi tugas “menjaga pintu belakang” dan memastikan mereka tidak ketahuan.Ezra diam-diam menyebarkan informasi palsu bahwa ada akses ke server Umbra di dalam gudang. jika Nadira masih setia pada Umbra, ia akan tergoda untuk mengkhianati mereka.Saat malam tiba, mereka bertiga bergerak. Gudang gelap, hanya diterangi lampu redup.Ezra berpura-pura sibuk membongkar kunci digital.Aruna pura-pura fokus dengan berkas.Nadira ditinggalkan sendirian di pintu belakang, dengan kesempatan “menghubungi Umbra” kalau ia mau.Di sinilah dilema Nadira muncul. Tangannya sempat meraih ponsel burner kecil yang disembunyikan di saku jaketnya hadiah terakhir dari Umbra. Napasnya tercekat.Nadira bergumam dalam hati, “Jika aku laporkan ini… Umbra akan menganggapku masih berguna. Aku tidak akan sendirian lagi. Tapi… kalau a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status