Di arena kompetisi, ketegangan meningkat ketika tim Nadira mencoba menyabotase proyek Aruna cat tumpah, alat rusak, dan komentar provokatif di depan juri. Namun Aruna tetap tenang, mengatur timnya dengan disiplin. Ezra, yang melihat dari samping, kadang ikut membantu, memberi arahan teknis atau moral, tanpa menonjolkan diri.Momen puncak datang saat penilaian final: karya Aruna harus dipresentasikan di hadapan seluruh sekolah. Nadira melakukan fitnah halus, menanyakan latar belakang Aruna dan Ezra dengan nada merendahkan. Aruna menelan napas, menatap Ezra. Seketika, kepercayaan yang mereka bangun selama berminggu-minggu memberikan kekuatan padanya.Aruna dengan suara tenang, tapi tegas, “Karya ini bukan tentang siapa yang terkenal atau siapa yang bisa menyebarkan gosip. Ini tentang usaha, kreativitas, dan kerja sama.”Sorak sorai teman-teman mulai mengiringi. Ezra tersenyum bangga, dan bahkan beberapa anggota juri tampak terkesan. Nadira yang mencoba merusak momen itu hanya bisa melih
Sekolah penuh warna: lampion, stan makanan, panggung musik.Café kelas Aruna laris karena pesona Aruna sebagai pelayan cosplay banyak murid cowok rela antre hanya untuk dilayani olehnya. Ezra muram sepanjang hari.Nadira sibuk di pusat informasi, dengan headset dan walkie-talkie seperti komandan perang.Raska memamerkan karya seni lukisnya, dan dengan lembut menarik Aruna untuk melihat. Ezra langsung menegangkan rahang.Seseorang menyebar foto yang tampak seperti Aruna sedang bersama “orang asing” di malam hari (hasil editan).Gosip itu menyebar cepat, menodai reputasi Aruna.Nadira yang tahu cara kerja gosip sekolah langsung bergerak mencari siapa dalangnya.Ezra menghadapi siswa yang mulai berbisik-bisik, melindungi Aruna dengan tatapan membunuh.Api unggun dinyalakan di lapangan sekolah. Semua murid berkerumun, tertawa, beberapa saling bergandeng tangan. Musik akustik mengalun pelan.Aruna duduk agak jauh, menatap nyala api yang bergoyang. Dari belakang, Ezra mendekat, menyampirkan
Ia akhirnya membuka semua isi hatinya.Nadira dengan nafas tersengal,“Sejak kecil aku dibentuk Umbra. Aku tidak tahu apa artinya memilih. Aku cuma tahu bagaimana cara taat. Dan tadi… aku sadar, untuk pertama kalinya aku ingin salah. Aku ingin salah demi kalian, bukan demi Umbra.”Suasana sunyi. Ezra menutup matanya, Aruna menggenggam tangan Nadira erat.Nadira akhirnya terisak di bahu Aruna. “Kalau kalian masih mau… izinkan aku belajar jadi manusia. Bukan pion.”Aruna mengangguk dengan lembut. Ezra tidak menjawab, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menolak.Gudang yang jadi tempat persembunyian berubah jadi semacam “rumah sementara.”Aruna bangun lebih dulu, memasak sarapan seadanya telur orak-arik gosong setengah matang.Ezra menatap dengan alis terangkat.Ezra suara datarnya khas, “Kau yakin itu makanan? Atau bagian latihan survival?”Aruna menggertakkan gigi, “Diam dan makan. Kau masih hidup k
Kabut asin dari laut menebal, suara ombak memecah di kejauhan. Lampu-lampu dermaga berkelip samar, menciptakan bayangan panjang yang menegangkan.Di tengahnya sebuah kontainer baja. Pintu terbuka, di dalamnya bom dengan timer:00:00:59.Aruna, Ezra, dan Nadira berdiri terpaku. Napas mereka berat, detak jantung seirama dengan suara detik… detik… detik…Ezra menendang pintu agar terbuka penuh, lalu mendekat dengan wajah tegang. Kabel merah, biru, hijau, hitam melilit seperti sarang ular.Ezra dengan suara serak, “Kalau aku salah potong… habis sudah.”Aruna dengan nada datar, tegas, “Tak ada waktu ragu.”Nadira melangkah maju, wajahnya pucat.“Aku… aku pernah lihat ini. Umbra pakai pola kabel yang—”Ezra menoleh tajam.“Jangan berani-berani menipu kami.”Air mata Nadira jatuh, suaranya bergetar. “Aku muak jadi pion mereka. Kalau aku salah… aku yang tanggung. Tolong percayai aku sekali ini
Tiba-tiba, suara letupan peluru memecah keheningan. Peluru menghantam tiang kayu dekat kepala Aruna. Dari atas derek kapal, sniper Umbra mengawasi, siap menembak.Aruna langsung menarik Nadira ke bawah.Aruna merasa geram, “Sial, mereka tidak akan biarkan kita hidup, bahkan kalau bom ini bisa kita jinakkan.”Ezra berlari ke sisi kontainer, tubuhnya jadi tameng. Kakinya yang masih cidera terasa perih, tapi ia tetap berdiri tegak.“Aku akan tahan tembakan. Kau fokus pada bom, Aruna!”Timer: 00:00:38.Aruna membuka panel bom dengan tangan bergetar. Kabel-kabel berwarna merah, biru, hijau, dan hitam tersambung ke detonator.Aruna berbisik, “Mana yang benar…?!”Nadira berlutut di sampingnya, menunjuk kabel hijau. “Yang ini… biasanya kabel penghubung utama.”Ezra kembali berteriak dari belakang, “Biasanya?! Nadira, ini nyawa kita taruhannya!”Nadira menutup mata sejenak, air mata jatuh. “Kalau aku salah… aku yang tanggung. Potong sekarang, Aruna.”Aruna menatapnya lama, lalu dengan nekat
Kabut laut malam itu pekat, lampu-lampu jalan berkelip samar seperti enggan menyinari. Dermaga tua itu nyaris kosong kecuali suara burung camar dan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu lapuk.Aruna melangkah lebih dulu, wajahnya tertutup hoodie hitam. Ezra berjalan di sisi kirinya, tegap tapi penuh waspada. Nadira mengikuti di belakang, jemarinya terus meremas ponsel berisi pesan dari Umbra: “Laksanakan, atau keluargamu binasa.”Ezra berbisik dengan sangat pelan sekali, “Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Ini bukan undangan, ini perangkap.” “Aku tahu. Justru itu kita harus masuk.”Mereka tiba di barisan kontainer yang berjajar seperti dinding besi. Nadira berhenti, menatap angka-angka yang disemprot cat merah di salah satu kontainer.Nadira berauara pelan, “Ini tanda… pesan untukku.”Ia mengingat instruksi Umbra: buka kontainer itu, serahkan “barang” Aruna ke dalam, lalu pergi. Nadira menggigil, tubuhnya tak sanggup bergerak.Aruna melihatnya dengan tatapan tajam.“Jangan bilang kau mas