Share

Dua Dosen Muda

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 19:00:55

Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore.

"Mao! Mao! Dia memanggil seperti orang dekat!" gerutu Maorielle, suaranya naik satu oktav karena dongkol.

Erina yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa tertawa lepas. "Mao, tenang... napas dulu. Lagipula, panggilan 'Mao' itu terdengar... manis kalau dia yang mengucapkannya," Erina terkekeh.

Maorielle berdiri dari bangku mulai merasa tidak nyaman berada di sana. Bayangan Khai dengan kaus olahraga hitam dan caranya menatap matanya tadi masih terbayang-bayang di benaknya.

"Ayo kita pulang. Moodku sudah hancur," ajak Maorielle sambil menyampirkan tasnya dengan kasar.

"Lho, baru juga dapat tiga subjek. Kurang dua lagi," protes Erina sambil mengekor di belakang sahabatnya.

"Kita cari subjek lain di jalan saja. Di sini udaranya sudah... terkontaminasi dosen itu," sahut Maorielle sambil melangkah cepat.

Maorielle terus berjalan dengan langkah cepat. Namun, di dalam kepalanya, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal. Khai memperhatikan spiral yang ia gambar. Itu berarti, mata pria itu tidak pernah lepas dari gerak-gerik Maorielle.

Lampu-lampu di area parkir mulai menyala, menebarkan cahaya kekuningan yang temaram. Maorielle mempercepat langkahnya, segera menuju motor. Namun, langkahnya mendadak melambat saat matanya menangkap dua sosok pria yang berdiri di dekat SUV hitam di parkiran.

Di bawah pilar lampu, Khai sudah mengenakan jaket denim. Dia berdiri bersandar pada pintu mobil. Di hadapannya, berdiri Pak Angin yang terlihat tertawa lebar. Sementara Khai tampak tertawa lepas menanggapi ucapan Pak Angin. Tidak ada jarak, tidak ada formalitas. Mereka terlihat seperti dua sahabat yang menyelesaikan sesi olahraga bersama.

"Lho, itu Om Angin," Erina bergumam pelan, langkahnya ikut terhenti di samping Maorielle.

Maorielle memang belum cerita pada Erina soal pertemanan mereka. Selama beberapa hari ini dia terlalu sibuk dengan tugas observasi.

"Beberapa hari yang lalu, aku lihat mereka juga ngobrol akrab di ruang dosen. Pak Khai memanggil Pak Angin dengan sebutan 'Mas'," bisik Mao pelan.

"Wah, semakin seru nih!" ujar Erina.

"Seru apanya?" Tanya Maorielle tidak mengerti.

"Ada orang yang bisa jadi pusat informasi tentang pak Khai,"

"Memang apa yang mau kamu gali dari pak Khai?" Maorielle menarik lengan Erina. "Ayo cepat pergi, Rin. Sebelum mereka melihat kita di sini," desak Mao.

Mao segera mengarahkan motornya ke luar gerbang. Pikirannya sekarang tidak lagi soal tugas observasi. Dia hanya ingin pergi tanpa perlu berinteraksi dengan kedua dosen itu. Akan memperpanjang masalah. Maorielle akan menjadi bahan candaan mereka.

***

Aroma masakan rumahan yang gurih dan wangi menyambut Erina begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah. Sabtu siang itu, suasana rumah pak Angin terasa hangat dan tenang. Erina memang sudah seperti bagian dari keluarga ini. Ia sering mampir untuk sekadar mengobrol dengan Ibu Pak Angin atau mencicipi kue buatan kakaknya ketika bosan menjadi anak kos.

Setelah puas mengobrol di dapur, Erina melihat Pak Angin sedang bersantai di teras belakang. Terlihat dia sedang membaca buku sambil menyesap kopi.

"Om Angin, sibuk nggak?" tanya Erina sambil menarik kursi rotan di seberang dosen senior itu.

Angin menurunkan bukunya, lalu tersenyum lebar. "Nggak, Rin. Cuma lagi baca. Tumben mampir hari Sabtu, biasanya jadwalmu padat sama Maorielle."

Mendengar nama Maorielle disebut, Erina langsung merasa punya jalan masuk. "Nah, justru itu Om. Erina mau tanya soal... Pak Khai."

Alis Pak Angin terangkat sebelah. Ia meletakkan bukunya di meja, ada binar jenaka di matanya. "Khai? Kenapa? Dia bikin masalah di kelas kalian?"

"Nggak masalah sih, Om... Cuma, kemarin sore Erina lihat Om akrab banget sama Pak Khai di parkiran kampus. Kami dengar dia memanggil om dengan sebutan 'mas'."

Pak Angin tertawa kecil, suara tawanya terdengar lepas hingga membuat beberapa burung di dahan pohon mangga terkejut. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas meja kayu.

"Oalah, jadi kalian memata-matai kami, ya?" Pak Angin menggeleng-gelengkan kepala. "Khai itu adik tingkat Om waktu zaman SMA dulu. Sampai sekarangkami masih sering ngobrol."

Erina menggeser kursinya lebih dekat, rasa penasaran di wajahnya semakin menjadi-jadi. "Berarti... Om sering cerita-cerita soal mahasiswa kalian?"

Pak Angin menyesap kopinya lagi, membiarkan uap panasnya menyentuh wajah seolah sengaja menciptakan ketegangan yang dramatis. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap lurus ke arah Erina dengan binar mata yang mendadak tajam namun jenaka.

"Ya, sesekali kalau kami lagi ngopi. Kami memang suka bertukar cerita tentang dinamika mahasiswa di kelas kami," Angin menjeda kalimatnya, lalu ia mencondongkan tubuh ke depan, mengunci pandangan Erina.

"Sekarang Om yang tanya," tembaknya telak. "Kamu... atau Mao yang sebenarnya lagi tertarik sama Khai?"

Erina tersedak ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka dosen senior sekaligus saudaranya ini akan melontarkan pertanyaan sefrontal itu. "Lho, kok jadi kami yang dituduh, Om?"

Angin terkekeh melihat wajah Erina yang mendadak salah tingkah. "Kamu tiba-tiba bertanya tentangnya kan? Jadi, yang mana? Siapa yang mulai sering salah fokus kalau Khai lewat?"

Erina langsung tertawa canggung sambil mengibaskan tangannya. "Aduh, Om. Kalau Erina sih jujur saja ya... Pak Khai itu ganteng banget! Siapa sih yang nggak suka lihat wajahnya? Erina tim yang menikmati pemandangan saja, Om."

Pak Angin mengangkat alisnya, tersenyum simpul menunggu kelanjutan kalimat keponakannya itu.

"Tapi kalau Mao..." Erina menjeda, suaranya merendah seolah sedang membocorkan rahasia negara. "Dia itu yang paling vokal bilang kalau Pak Khai menjengkelkan. Katanya Pak Khai itu terlalu provokatif dan suka banget mancing emosi dia di kelas. Pokoknya tiap habis kelas MKU atau ketemu Pak Khai, Mao pasti ngomel panjang lebar."

"Menjengkelkan, ya?" Pak Angin terkekeh, tampak sangat terhibur.

"Iya! Padahal menurut Erina, Pak Khai nggak semenjengkelkan itu. Dia cuma pintar membaca situasi. Tapi bagi Mao, itu serangan pribadi," lanjut Erina dengan semangat. "Mao itu defensif banget kalau sudah urusan Pak Khai."

Pak Angin kembali menyandarkan punggungnya ke kursi rotan, mengetuk-ngetukkan jari di pinggiran cangkir kopi yang sudah mulai dingin. "Kalau Khai sampai berani memancing Mao, itu artinya dia melihat sesuatu yang menarik di balik sifat defensif temanmu itu."

Erina menyipitkan mata, otaknya yang jahil mulai bekerja. "Maksud Om... Pak Khai sengaja cari perhatian dengan cara bikin Mao kesal?"

Pak Angin hanya mengangkat bahunya misterius, lalu kembali meraih bukunya. "Om nggak bilang begitu. Tapi coba kamu perhatikan saja. Orang kalau sudah terlalu benci, batasnya tipis sekali dengan rasa yang sebaliknya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Intervensi

    Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Saujana

    Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Garis Batas Sang Sahabat

    Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Menjatuhkan Umpan

    Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Melodi dan Kepastian

    Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Gema Kekecewaan

    Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status