Share

Observasi

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-01-06 20:00:32

Ruang kelas terasa sedikit berangin karena beberapa jendela terbuka. Sesekali terdengar bunyi gesekan ranting pohon yang saling bergesekan. Pemandangan yang monoton yang menambah keseriusan suasana di dalam ruangan. Khai melangkah maju, menjauh dari mejanya. Cahaya dari proyektor di belakang membiaskan bayangan panjang pria itu.

"Cukup teorinya," suara Khai bergema pelan namun tegas. Ia mematikan proyektor dengan remot di tangan. "Minggu ini, saya ingin kalian keluar dari zona nyaman. Saya tidak butuh ringkasan buku atau hafalan definisi."

Khai berjalan ke arah papan tulis, lalu menuliskan satu kata besar dengan spidol hitam: OBSERVASI.

"Tugas kelompok," lanjutnya sambil meletakkan spidol itu kembali. Dia berjalan di sepanjang lorong barisan kursi.

"Cari tempat publik. Amati orang yang sedang berinteraksi tanpa kalian mengganggu mereka, catat komunikasi nonverbal yang terjadi. Bagaimana satu lirikan mata, atau satu gerakan jari bisa mengubah makna sebuah percakapan."

Khai kemudian berhenti tepat di barisan Maorielle. Ia menghadap sedikit pada Maorielle, membuat refleks Maorielle menarik bukunya ke dada.

"Dan khusus untuk kalian, calon psikolog," Khai menatap Maorielle dengan intensitas yang sulit dibaca.

"Jangan hanya mencatat apa yang dilihat. Catat apa yang kalian rasakan dari interaksi itu. Terkadang, bahasa tubuh adalah kebohongan yang paling rapi. Saya ingin kalian membongkarnya." Khai sedikit mendekatkan kepalanya.

"Pastikan kalian tidak terlihat sedang mengamati. Jika subjek menyadari mereka sedang diobservasi, perilaku mereka akan berubah. Mereka akan memakai 'topeng."

Khai kembali ke depan kelas dan merapikan tumpukan kertasnya. "Batas waktu pengumpulan hari Jumat depan. Deskripsikan tempatnya dengan detail. Suhu udara, bau lingkungan, hingga benda-benda di sekitar subjek. Semakin detail, semakin baik."

Sebelum menutup kelas, Khai melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Maorielle yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. "Satu lagi," tambah Khai sambil mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki.

"Jangan pilih tempat yang terlalu sepi. Karena di tempat yang sepi, kalianlah yang akan menjadi subjek observasi bagi orang lain tanpa kalian sadari."

Mao dan Erina saling menatap sejenak, lalu kembali melempar pandangan ke arah Khai. Kalimat penutup itu menggantung di udara.

***

Awan mendung yang menggantung sejak pagi akhirnya mulai hilang, menyisakan hawa lembap yang menempel di selasar lantai satu. Maorielle dan Erina berdiri di dekat papan pengumuman. Sejak beberapa hari ini mereka saling argumen yang belum menemui titik temu.

"Stasiun, Mao! Pikirkan potensinya," desak Erina sambil menggerakkan tangannya heboh. "Orang-orang di sana sedang terburu-buru, ada perpisahan, ada pertemuan kembali. Itu gudang emosi non-verbal!"

Maorielle menggeleng tegas, jemarinya sibuk merapikan tasnya. "Terlalu chaos, Er, suasananya terlalu bising. Juga terlalu jauh."

"Kalau begitu kafe?" tawar Erina lagi.

"Kafe itu terlalu dibuat-buat. Orang-orang di kafe biasanya sadar dengan citra diri mereka karena ada cermin atau jendela kaca di mana-mana," balas Mao praktis. Ia menghela napas, matanya menatap lapangan hijau yang luas di depan gedung. "Kita butuh tempat di mana orang merasa benar-benar bebas, tapi tetap dalam jangkauan pengamatan kita."

Erina memutar bola matanya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Taman kampus? Tempatnya luas dan biasanya orang ke sana untuk berinteraksi santai dan berolah raga sore".

Mao terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Taman itu memang memiliki akustik alami yang tenang dan sudut-sudut yang sempurna untuk seorang observer. "Oke, taman itu kedengarannya masuk akal. Hari ini Kamis kan? Sekarang saja kita ke sana?"

"Sepakat!" Erina menjentikkan jarinya.

Udara sore di taman kampus terasa begitu hidup. Matahari yang mulai turun menciptakan siluet panjang dari pepohonan mahoni yang berjajar rapi. Bunyi gesekan sepatu para pelari di lintasan semen berpadu dengan tawa mahasiswa yang duduk berkelompok di atas rumput.

Maorielle dan Erina memilih bangku beton yang sedikit menjorok ke dalam bayangan pohon peneduh, memberi mereka jarak pandang yang luas tanpa terlihat terlalu mencolok. Maorielle segera membuka buku catatannya, sementara Erina mulai memasang mode detektif.

"Oke," bisik Erina, menunjuk dengan dagunya ke arah sepasang mahasiswa yang duduk di dekat kolam. "Si cowok terus-menerus menggaruk tengkuknya, sementara si cewek melipat tangan di dada. Analisis?"

Maorielle memperhatikan dengan saksama. "Si cowok merasa inferior atau sedang menyembunyikan sesuatu. Sedangkan si cewek membangun 'benteng' pertahanan. Komunikasi mereka sedang buntu."

Maorielle sibuk mencoretkan poin-poin analisisnya hingga ia merasakan sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di atas bukunya. Sebuah langkah kaki yang ritmis berhenti tepat di samping bangku mereka.

"Memperhatikan 'benteng' orang lain, tapi lupa menutup benteng sendiri?"

Suara yang sangat familiar itu membuat bulu kuduk Maorielle berdiri. Ia mendongak dan seketika terpaku.

Khai berdiri di sana. Namun, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Sore ini, ia mengenakan kaus olahraga hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya, celana pendek lari, dan sebuah jam tangan sporty. Rambutnya nampak basah oleh keringat, dan napasnya masih sedikit memburu, menandakan ia baru saja menyelesaikan putaran larinya.

"Pak Khai?" Erina bersuara lebih dulu, matanya membelalak kaget melihat sisi atletis dosennya.

Khai hanya memberikan senyuman manis pada Erina. Matanya kembali tertuju langsung pada Maorielle yang masih memegang pulpen. Ia sedikit membungkuk, menumpukan kedua tangannya di lutut agar wajahnya sejajar dengan Maorielle. Aroma segar khas maskulin yang bercampur dengan hawa panas tubuh menyeruak masuk ke indra penciuman gadis yang masih terbengong itu.

"Sudah berapa subjek yang kamu 'bedah' sore ini, Mao?" tanya Khai dengan senyum tipis yang mematikan.

Maorielle mencoba menelan ludah, suaranya mendadak hilang. "Baru... baru tiga, Pak."

Khai melirik buku catatan Maorielle, lalu kembali menatap matanya. "Saya sudah lewat di depan kalian sebanyak empat kali. Di setiap putaran, kamu terlalu sibuk melihat orang di kejauhan sampai tidak menyadari ada subjek yang lebih dekat yang sedang mengobservasi balik."

Khai menegakkan tubuhnya kembali, mengambil botol air mineral dari bangku sebelah dan meminumnya dengan sekali teguk. Jakunnya bergerak naik turun. Maorielle tanpa sadar memperhatikannya. Sebuah observasi non-verbal yang sangat tidak profesional.

"Lanjutkan tugas kalian," ucap Khai sambil mulai berlari kecil lagi untuk melakukan cooling down. Namun, sebelum menjauh, ia menoleh sedikit ke arah Maorielle.

"Dan Mao? Hapus coretan di pinggir kertasmu. Menggambar pola spiral berulang saat sedang bekerja itu tandanya kamu sedang terdistraksi... mungkin karena kehadiranku?" Khai berlalu pergi, meninggalkan Maorielle yang terpaku melihat pola spiral yang memang tanpa sadar ia gambar.

Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore.

"Mao! Mao! Memanggilku seperti kita ini akrab!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Adegan dari Jendela

    Kantin mulai sedikit lengang ketika mereka selesai. Matahari sudah naik lebih tinggi, membuat halaman kampus terlihat lebih terang dari sebelumnya.“Ayo ke taman,” ajak Erina, berdiri sambil membawa minumannya.Maorielle mengangguk. “Boleh.”Taman kampus dipenuhi mahasiswa yang duduk santai di bawah pohon. Angin siang berhembus pelan, membawa suasana yang lebih ringan dibandingkan ruang kelas. Maorielle dan Erina baru saja duduk ketika Arvan datang menghampiri.“Kalian di sini ternyata,” katanya santai, lalu ikut duduk di dekat mereka.Obrolan pun mengalir ringan. Tidak ada yang serius. Hanya candaan kecil, cerita acak, dan tawa yang sesekali muncul.“Aku bilang juga tadi lighting-nya kurang,” kata Arvan, masih membahas acara kemarin.Maorielle terkekeh. “Kamu dari tadi itu-itu saja.”“Ya soalnya kamu tidak mau mengakui,” balas Arvan cepat.Maorielle menggeleng, lalu tanpa sadar menatap ke arah lain sejenak. Di lantai atas gedung sebelah. Jendela itu. Kelas Khai. Ia tidak berpikir ban

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Saujana

    Setelah kelas selesai, Maorielle merapikan bukunya perlahan. Suara kursi yang digeser dan obrolan mahasiswa yang kembali ramai memenuhi ruangan, tapi ia tetap tenang di tempatnya.“Ayo kantin?” ajak Erina.“Kamu duluan saja. Aku ke ruang dosen,” jawab Maorielle.Erina mengangguk. “Jangan lama-lama.”Maorielle hanya tersenyum kecil, lalu berjalan keluar kelas.Lorong menuju ruang dosen terasa lebih sepi dibandingkan area lain. Langkahnya bergema pelan di lantai. Sementara pikirannya mulai beralih ke urusan yang harus ia selesaikan, menemui Dosen Angin.Ia berhenti di depan pintu ruang dosen. Tangannya baru saja hendak mengetuk ketika sesuatu membuatnya terdiam. Sebuah lagu. Pelan. Hampir seperti hanya menjadi latar. Tapi cukup jelas untuk dikenali. Saujana.Maorielle membeku di tempat. Nada pembukanya yang lembut langsung terasa familiar di telinganya. Ia tidak salah dengar. Itu lagu favoritnya. Ia pernah menyebutkannya sekali. Hanya sekali. Saat kelas Khai ketika membedah lagu.Tapi s

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Tas Baru

    Mobil Khai berhenti pelan di depan rumah Maorielle. Mesin masih menyala, tapi suasana di dalamnya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti perjalanan tadi menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai, tapi juga tidak perlu dipaksakan.Maorielle membuka sabuk pengamannya.“Terima kasih,” ucapnya pelan.Khai hanya mengangguk. “Hati-hati.”Singkat. Seperti biasa.Maorielle sempat ragu sejenak, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi ia belum langsung turun. Ada jeda kecil. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi akhirnya tidak.Maorielle membuka pintu, lalu turun. Begitu kakinya menyentuh halaman, suara langkah lain terdengar dari arah gerbang. Maorielle menoleh. Raviel dan mama. Keduanya baru saja pulang, masing-masing membawa beberapa kantong belanja. Langkah Maorielle langsung melambat.Sementara itu, dari dalam mobil, Khai yang menyadari keberadaan mereka ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Raviel dan mama, lalu ia mengangguk sopan. Sebuah sapaa

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Pulang

    Maorielle mengangkat kepala perlahan, melirik ke arah Khai. Dan seperti kebetulan, Khai juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat Maorielle langsung memalingkan wajah, pura-pura fokus ke panggung. Pipinya mulai terasa hangat.Di sampingnya, Arvan masih berbicara pada Erina tentang penampilan berikutnya.“…katanya nanti ada kolaborasi sama musik modern juga—”Tapi suara itu seperti memudar di telinga Maorielle. Karena pikirannya masih tertahan pada pria yang tak jauh darinya.“Kenapa?” bisik Erina tiba-tiba.Maorielle tersentak kecil. “Apaan?”“Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Erina menyipitkan mata. “Serem tau.”Maorielle langsung menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa.”“Tuh kan,” Arvan ikut menimpali ringan. “Dari tadi juga gue ngerasa.”Maorielle berdeham kecil, berusaha menenangkan ekspresinya. Lalu perlahan, tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Tipis. Diam-diam.Pertunjukan masih berlangsung. Tepuk tangan mulai terdengar di be

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Pertunjukan Tari

    Suara teman-temannya, hiruk pikuk parkiran, bahkan angin yang lewat. Semua seperti menjauh sejenak.Maorielle mencium bunga itu untuk menandakan bahwa Maorielle menyukainya. Seorang dosen melakukan hal ini di kampus? Gerutu Maorielle meski hatinya senang.Siang itu lapangan kampus berubah jadi panggung terbuka. Musik tradisional bercampur modern mengalun dari pengeras suara, mengiringi para penari yang bergerak luwes di tengah lingkaran penonton.Mahasiswa duduk lesehan berkelompok, membentuk barisan-barisan santai di atas rumput.Maorielle duduk di salah satu barisan depan, bersila dengan tas di sampingnya. Matanya sesekali mengikuti gerakan penari, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Di sebelahnya, Arvan sedang bercerita sesuatu. Entah tentang acara radio atau komentar ringan soal penampilan di depan.“Bagian itu tadi bagus banget, lighting-nya dapet,” ujar Arvan, santai.Maorielle mengangguk kecil. “Iya, lumayan.” Jawabannya pendek.Arvan melirik sekilas, seperti menyadari ad

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Bunga

    Maorielle tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa hangat. Ia tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengetik.Maorielle: Aku merasa kamu menyukaiku. Tapi, ketika melihatmu dengan cewek lain. Aku merasa sangat kecewa. Jadi aku menjauh agar aku tidak kecewa lebih jauh dan lebih dalam lagi.Kali ini, balasan dari Khai datang lebih lama. Seolah ia benar-benar memikirkan jawabannya. Atau mungkin… memikirkan ulang apa yang Maorielle lakukan selama ini.Khai: Cewek lain?Maorielle menahan napas. Degup jantungnya kembali menguat. Ia menatap kalimat itu lama. Dia tidak ingin langsung ke intinya. Cewek itu Mei. Ia mengetik, pelan, mencari kata yang tepat.Maorielle: Kamu terlihat sangat nyaman dan akrab dengan Mei.Maorielle melepar ponselnya ke tempat tidur. Dia tidak bisa melihat jawaban yang dia tulis. Dia tidak ingin menyesal menulis jawaban itu dan menghapusnya.Tak berapa lama ponselnya kembali bergetar

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Sepanjang Kelas

    Senin pagi datang dengan cara yang terlalu biasa. Langit cerah, lorong kampus kembali ramai, dan suara langkah kaki bercampur dengan obrolan ringan mahasiswa yang baru memulai minggu mereka. Namun bagi Maorielle, semuanya terasa sedikit berbeda.Maorielle datang ke kelas Khai lebih awal da

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Ritme yang Patah

    Maorielle terdiam. Ia melihat Erina yang berjarak dua orang dari mereka, sedang melompat kegirangan sambil meneriakkan nama Arvan. Sementara itu, di atas panggung, Arvan tampak seperti sedang berperang dengan drumnya. Setiap pukulan pada snare terdengar seperti luapan emosi yang tertahan.

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Hening yang Paling Berisik

    Di kamar, Maorielle menahan napas. Ia tahu Erina sedang mengumpulkan keberanian di ujung telepon sana. Erina lebih berani daripada dirinya. Erina berani menelpon Arvan ketika siaran. Jika itu Maorielle dia hanya akan diam, tidak akan berani mendekati duluan pada orang yang disuka."Aku cum

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Komposisi Hujan

    Khai memandang ke arah kanan di mana terdapat cahaya paling terang di area itu. Jendela besar yang menjulang dari pertengahan dinding hingga langit-langit. Mereka duduk bersisian memandang jendela yang sama. Ke arah langit yang kelabu dan ribuan jarum air yang menghantam kaca dengan ritme yang ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status