MasukRuang kelas terasa sedikit berangin karena beberapa jendela terbuka. Sesekali terdengar bunyi gesekan ranting pohon yang saling bergesekan. Pemandangan yang monoton yang menambah keseriusan suasana di dalam ruangan. Khai melangkah maju, menjauh dari mejanya. Cahaya dari proyektor di belakang membiaskan bayangan panjang pria itu.
"Cukup teorinya," suara Khai bergema pelan namun tegas. Ia mematikan proyektor dengan remot di tangan. "Minggu ini, saya ingin kalian keluar dari zona nyaman. Saya tidak butuh ringkasan buku atau hafalan definisi."
Khai berjalan ke arah papan tulis, lalu menuliskan satu kata besar dengan spidol hitam: OBSERVASI.
"Tugas kelompok," lanjutnya sambil meletakkan spidol itu kembali. Dia berjalan di sepanjang lorong barisan kursi.
"Cari tempat publik. Amati orang yang sedang berinteraksi tanpa kalian mengganggu mereka, catat komunikasi nonverbal yang terjadi. Bagaimana satu lirikan mata, atau satu gerakan jari bisa mengubah makna sebuah percakapan."
Khai kemudian berhenti tepat di barisan Maorielle. Ia menghadap sedikit pada Maorielle, membuat refleks Maorielle menarik bukunya ke dada.
"Dan khusus untuk kalian, calon psikolog," Khai menatap Maorielle dengan intensitas yang sulit dibaca.
"Jangan hanya mencatat apa yang dilihat. Catat apa yang kalian rasakan dari interaksi itu. Terkadang, bahasa tubuh adalah kebohongan yang paling rapi. Saya ingin kalian membongkarnya." Khai sedikit mendekatkan kepalanya.
"Pastikan kalian tidak terlihat sedang mengamati. Jika subjek menyadari mereka sedang diobservasi, perilaku mereka akan berubah. Mereka akan memakai 'topeng."
Khai kembali ke depan kelas dan merapikan tumpukan kertasnya. "Batas waktu pengumpulan hari Jumat depan. Deskripsikan tempatnya dengan detail. Suhu udara, bau lingkungan, hingga benda-benda di sekitar subjek. Semakin detail, semakin baik."
Sebelum menutup kelas, Khai melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Maorielle yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. "Satu lagi," tambah Khai sambil mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki.
"Jangan pilih tempat yang terlalu sepi. Karena di tempat yang sepi, kalianlah yang akan menjadi subjek observasi bagi orang lain tanpa kalian sadari."
Mao dan Erina saling menatap sejenak, lalu kembali melempar pandangan ke arah Khai. Kalimat penutup itu menggantung di udara.
***
Awan mendung yang menggantung sejak pagi akhirnya mulai hilang, menyisakan hawa lembap yang menempel di selasar lantai satu. Maorielle dan Erina berdiri di dekat papan pengumuman. Sejak beberapa hari ini mereka saling argumen yang belum menemui titik temu.
"Stasiun, Mao! Pikirkan potensinya," desak Erina sambil menggerakkan tangannya heboh. "Orang-orang di sana sedang terburu-buru, ada perpisahan, ada pertemuan kembali. Itu gudang emosi non-verbal!"
Maorielle menggeleng tegas, jemarinya sibuk merapikan tasnya. "Terlalu chaos, Er, suasananya terlalu bising. Juga terlalu jauh."
"Kalau begitu kafe?" tawar Erina lagi.
"Kafe itu terlalu dibuat-buat. Orang-orang di kafe biasanya sadar dengan citra diri mereka karena ada cermin atau jendela kaca di mana-mana," balas Mao praktis. Ia menghela napas, matanya menatap lapangan hijau yang luas di depan gedung. "Kita butuh tempat di mana orang merasa benar-benar bebas, tapi tetap dalam jangkauan pengamatan kita."
Erina memutar bola matanya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Taman kampus? Tempatnya luas dan biasanya orang ke sana untuk berinteraksi santai dan berolah raga sore".
Mao terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Taman itu memang memiliki akustik alami yang tenang dan sudut-sudut yang sempurna untuk seorang observer. "Oke, taman itu kedengarannya masuk akal. Hari ini Kamis kan? Sekarang saja kita ke sana?"
"Sepakat!" Erina menjentikkan jarinya.
Udara sore di taman kampus terasa begitu hidup. Matahari yang mulai turun menciptakan siluet panjang dari pepohonan mahoni yang berjajar rapi. Bunyi gesekan sepatu para pelari di lintasan semen berpadu dengan tawa mahasiswa yang duduk berkelompok di atas rumput.
Maorielle dan Erina memilih bangku beton yang sedikit menjorok ke dalam bayangan pohon peneduh, memberi mereka jarak pandang yang luas tanpa terlihat terlalu mencolok. Maorielle segera membuka buku catatannya, sementara Erina mulai memasang mode detektif.
"Oke," bisik Erina, menunjuk dengan dagunya ke arah sepasang mahasiswa yang duduk di dekat kolam. "Si cowok terus-menerus menggaruk tengkuknya, sementara si cewek melipat tangan di dada. Analisis?"
Maorielle memperhatikan dengan saksama. "Si cowok merasa inferior atau sedang menyembunyikan sesuatu. Sedangkan si cewek membangun 'benteng' pertahanan. Komunikasi mereka sedang buntu."
Maorielle sibuk mencoretkan poin-poin analisisnya hingga ia merasakan sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di atas bukunya. Sebuah langkah kaki yang ritmis berhenti tepat di samping bangku mereka.
"Memperhatikan 'benteng' orang lain, tapi lupa menutup benteng sendiri?"
Suara yang sangat familiar itu membuat bulu kuduk Maorielle berdiri. Ia mendongak dan seketika terpaku.
Khai berdiri di sana. Namun, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Sore ini, ia mengenakan kaus olahraga hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya, celana pendek lari, dan sebuah jam tangan sporty. Rambutnya nampak basah oleh keringat, dan napasnya masih sedikit memburu, menandakan ia baru saja menyelesaikan putaran larinya."Pak Khai?" Erina bersuara lebih dulu, matanya membelalak kaget melihat sisi atletis dosennya.
Khai hanya memberikan senyuman manis pada Erina. Matanya kembali tertuju langsung pada Maorielle yang masih memegang pulpen. Ia sedikit membungkuk, menumpukan kedua tangannya di lutut agar wajahnya sejajar dengan Maorielle. Aroma segar khas maskulin yang bercampur dengan hawa panas tubuh menyeruak masuk ke indra penciuman gadis yang masih terbengong itu.
"Sudah berapa subjek yang kamu 'bedah' sore ini, Mao?" tanya Khai dengan senyum tipis yang mematikan.
Maorielle mencoba menelan ludah, suaranya mendadak hilang. "Baru... baru tiga, Pak."
Khai melirik buku catatan Maorielle, lalu kembali menatap matanya. "Saya sudah lewat di depan kalian sebanyak empat kali. Di setiap putaran, kamu terlalu sibuk melihat orang di kejauhan sampai tidak menyadari ada subjek yang lebih dekat yang sedang mengobservasi balik."
Khai menegakkan tubuhnya kembali, mengambil botol air mineral dari bangku sebelah dan meminumnya dengan sekali teguk. Jakunnya bergerak naik turun. Maorielle tanpa sadar memperhatikannya. Sebuah observasi non-verbal yang sangat tidak profesional.
"Lanjutkan tugas kalian," ucap Khai sambil mulai berlari kecil lagi untuk melakukan cooling down. Namun, sebelum menjauh, ia menoleh sedikit ke arah Maorielle.
"Dan Mao? Hapus coretan di pinggir kertasmu. Menggambar pola spiral berulang saat sedang bekerja itu tandanya kamu sedang terdistraksi... mungkin karena kehadiranku?" Khai berlalu pergi, meninggalkan Maorielle yang terpaku melihat pola spiral yang memang tanpa sadar ia gambar.
Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore.
"Mao! Mao! Memanggilku seperti kita ini akrab!"
Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli
Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap
Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt
Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov
Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat







