Mag-log inFlash drive itu diputar keesokan malamnya.Sinta yang mengatur perangkatnya — laptop yang tidak pernah terhubung ke internet, sistem operasi yang berjalan dari memori eksternal, layar yang dimiringkan sehingga tidak bisa dilihat dari sudut mana pun kecuali dari depan langsung.Cara orang yang sudah terlalu lama hidup dengan waspada.Kami duduk melingkar.Semua orang yang perlu ada sudah ada.Sinta menekan play.Rekaman itu dimulai dengan suara latar.Bukan hening — ada suara AC, suara kertas yang sesekali digeser, suara kota dari kejauhan yang masuk melalui apa yang kemungkinan jendela yang sedikit terbuka.Lalu suara pertama.Suara laki-laki.Dalam. Terukur. Tidak terburu-buru.Aku belum pernah mendengar suaranya — tapi dari cara semua orang di ruangan itu sedikit berubah posisinya, aku tahu.Rafael.Atau Hendra Kusuma.Nama mana pun yang ia pakai — suaranya sama."Kau sudah melihat filenya."Bukan pertanyaan.Lalu suara kedua — laki-laki juga, lebih muda, sedikit lebih gugup meski be
Pagi datang terlalu cepat.Atau terlalu lambat.Aku tidak yakin yang mana — hanya tahu bahwa ketika aku membuka mata, langit di luar jendela masih abu-abu dan tubuhku belum merasa cukup istirahat tapi pikiran sudah terlalu terjaga untuk kembali tidur.Kotak-kotak itu ada di meja ruang tengah.Aku tahu tanpa harus melihat.Dara sudah bangun ketika aku keluar.Membuat nasi goreng — bukan karena ada yang minta, tapi karena itu yang ia lakukan ketika situasi di luar kendalinya. Memasak. Merapikan. Memberi struktur pada hal-hal kecil yang bisa distrukturkan ketika hal-hal besar tidak bisa.Aku kenal kebiasaan itu.Dulu pernah menganggapnya berlebihan.Sekarang mengerti kenapa."Jonathan?" tanyaku."Sudah bangun dari tadi." Dara tidak menoleh dari wajan. "Di luar."Aku menatap pintu belakang yang sedikit terbuka.Keluar.Jonathan duduk di anak tangga teras belakang.Kopi di tangan. Mata di suatu titik di halaman belakang Dara yang tidak ada apa-apanya selain rumput yang tidak terlalu terawat
Di dalamnya tidak ada yang spektakuler.Tidak ada dokumen tebal. Tidak ada flash drive. Tidak ada amplop cokelat berisi foto-foto yang akan mengubah segalanya dalam satu momen dramatis.Hanya tiga lembar kertas yang sudah menguning di tepinya.Satu buku catatan kecil dengan sampul hitam yang sudah kusam.Dan sebuah kunci.Kecil. Logam. Tanpa label.Aku menatap isi kotak itu lebih lama dari perlu — seperti kalau kutatap cukup lama, sesuatu akan menjelaskan dirinya sendiri.Tidak ada yang menjelaskan apa pun.Jonathan mengulurkan tangan."Boleh?"Aku menyerahkan tiga lembar kertas itu padanya. Mengambil buku catatan untuk diriku sendiri.Sampulnya terasa tipis di tangan — lebih tipis dari yang kukira, seperti buku yang tidak pernah diisi penuh. Aku membukanya di halaman pertama.Tulisan tangan ayahku.Aku tidak pernah lupa tulisan tangannya — kecil, miring ke kanan, huruf-huruf yang selalu terlihat seperti terburu-buru meski ia tidak pernah terlihat terburu-buru dalam hidupnya.Tanggal
Butuh dua hari untuk Jonathan mengatur semuanya.Bukan karena lokasinya jauh.Tapi karena ia tidak mau ada yang tahu kami pergi ke sana.Ia mengganti rute tiga kali. Memakai dua kendaraan berbeda. Memastikan tidak ada yang mengikuti sejak kami keluar dari rumah Dara sampai kami parkir di gang sempit tiga ratus meter dari tempat ibuku sekarang.Sebuah rumah kontrakan kecil di Tangerang.Bukan milik siapa pun yang terhubung dengan kami.Orang Jonathan yang mengaturnya — dua orang yang bergantian jaga, tidak mencolok, tidak berseragam. Kalau tidak tahu, mereka terlihat seperti tetangga biasa yang kebetulan sering duduk di teras.Aku tahu.Jadi terlihat seperti apa pun kecuali biasa.Ibuku membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.Ia sudah tahu kami datang — Jonathan memberitahunya sejam sebelumnya melalui saluran yang tidak bisa dilacak, cara yang tidak ia jelaskan padaku dan aku tidak tanya."Clara."Satu kata.Tapi cara ibuku mengucapkan namaku berbeda dari siapa pun.Seperti napas ya
Rio datang tanpa kabar lebih dulu.Motornya tua — bunyi mesinnya sudah terdengar dari ujung jalan sebelum orangnya terlihat. Jaket kulit yang warnanya sudah pudar di bagian bahu. Rambut yang tampak seperti tidak pernah benar-benar disisir atau memang sengaja dibiarkan begitu.Ia berdiri di depan pintu dan menatap Jonathan dengan cara yang tidak menyembunyikan apa pun."Kau yang telepon tengah malam itu.""Ya," jawab Jonathan.Rio menatapnya beberapa detik lagi.Lalu masuk tanpa dipersilakan.Dara tidak banyak bicara.Ia menyeduh kopi — empat cangkir tanpa ditanya siapa pun mau atau tidak — lalu duduk di sudut ruangan dengan posisi yang jelas mengatakan aku di sini tapi ini bukan urusanku sepenuhnya.Rio memilih kursi yang paling dekat dengan pintu.Aku perhatikan itu.Kebiasaan orang yang selalu menyiapkan jalan keluar."Jadi," Rio meletakkan tangannya di atas lutut. "Kalian mau apa."Bukan pertanyaan yang ramah. Tapi bukan juga permusuhan. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu l
Tempatnya warung nasi di pinggir jalan.Bukan kafe. Bukan restoran. Bukan tempat yang ada di aplikasi mana pun atau bisa ditemukan kalau tidak tahu harus mencarinya. Meja plastik. Kursi yang satu kakinya diganjal lipatan kardus. Kipas angin di sudut yang berputar terlalu lambat untuk benar-benar membantu.Rio yang tahu tempatnya.Kami datang lebih awal — Jonathan selalu datang lebih awal — dan duduk di meja paling belakang yang punggungnya menghadap tembok. Kebiasaan yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi.Aku memesan teh botol karena itu yang paling tidak memerlukan keputusan.Jonathan tidak memesan apa-apa.Rio duduk di sebelahku dengan ekspresi orang yang tidak yakin keputusannya semalam adalah keputusan yang baik tapi sudah terlanjur.Kami menunggu.Ia datang pukul tujuh lewat empat menit.Perempuan.Itu yang pertama mengejutkanku — entah kenapa aku tidak membayangkan perempuan. Mungkin karena Rio tidak pernah menyebut kata ganti apa pun. Mungkin karena aku terlalu terbiasa dengan







