LOGINMalam itu, Clara hanya ingin melupakan hidupnya yang hancur. Ia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sampingnya—tenang, dingin, dan terlalu tajam untuk diabaikan—bukan sekadar orang asing. Satu malam bersama Jonathan seharusnya berakhir saat matahari terbit. Namun ketika Clara mencoba kembali ke hidupnya, ia justru dikejar oleh orang-orang yang mengincarnya. Pesan ancaman. Mobil hitam. Pengawasan yang sudah berlangsung berminggu-minggu—tanpa ia sadari. Dan Jonathan… sudah tahu semuanya. Ternyata Clara bukan korban kebetulan. Ia pernah menandai transaksi mencurigakan di perusahaan lamanya—transaksi yang ternyata terkait pencucian uang dan jaringan kekuasaan yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan. Sekarang ia menjadi target. Dan satu-satunya orang yang berdiri di antara dirinya dan bahaya itu adalah pria yang bahkan lebih berbahaya dari musuh-musuhnya sendiri. Jonathan bukan penyelamat. Ia adalah pengendali permainan. Pria yang melihat dunia sebagai papan catur. Pria yang tidak pernah bergerak tanpa rencana. Pria yang menjadikan Clara—tanpa ia sadari—sebagai bagian dari strateginya. Di balik tatapan tenangnya, Jonathan menyimpan rahasia dan kekuasaan yang tak tersentuh hukum. Sementara di sisi lain, seorang pria bernama Rafael mulai mendekat, mengingatkan Clara bahwa ia bukan sekadar pion… melainkan kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar. Semakin Clara mencoba menjauh, semakin ia menyadari satu hal yang mengerikan: Ia tidak hanya terjebak dalam dunia gelap Jonathan. Ia terikat di dalamnya. Dan dalam permainan pria paling berbahaya itu, cinta bukan kelemahan. Ia adalah senjata.
View MoreAku tidak seharusnya berada di tempat itu.
Bar itu terlalu mahal untuk seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan. Musiknya terlalu keras untuk seseorang yang kepalanya masih dipenuhi suara perpisahan.
Dan gaun hitam yang kupakai—terlalu berani untuk perempuan yang baru saja ditinggalkan tunangannya tiga minggu lalu.
Tapi malam itu, aku tidak ingin menjadi masuk akal.
Aku hanya ingin berhenti merasa hancur.
“Apa yang kau rayakan?” tanya bartender sambil menyodorkan menu.
“Tidak ada,” jawabku. “Itu sebabnya aku di sini.”
Ia tersenyum kecil dan menuangkan minuman yang tidak kupesan.
Cairan bening itu terasa pahit di tenggorokan. Aku memejamkan mata, membiarkan panasnya turun perlahan.
Sampai seseorang duduk di kursi sebelahku.
Aku tahu sebelum melihatnya.
Beberapa pria datang dengan suara keras. Dengan tawa. Dengan parfum menyengat.
Pria ini datang dengan tenang.
“Biasanya orang minum untuk melupakan,” suaranya rendah, datar. “Kau terlihat seperti ingin menghancurkan sesuatu.”
Aku menoleh.
Setelan hitam. Potongan rapi. Jam tangan yang harganya mungkin lebih mahal dari sewa apartemenku setahun. Wajahnya tidak tersenyum, tapi juga tidak dingin.
Terlalu terkendali.
“Aku tidak ingin bicara,” kataku singkat.
Ia mengangguk. Tidak tersinggung. Tidak memaksa.
“Baik.”
Lalu ia benar-benar diam.
Itu justru membuatku gelisah.
Pria biasanya mencari perhatian. Bertanya terlalu banyak. Berusaha terlihat menarik.
Pria ini hanya duduk. Mengamati ruangan seolah ia memilikinya.
Beberapa menit berlalu.
Ponselku bergetar.
Aku mengernyit. Nomor tidak dikenal.
Kubuka pesannya.
Jangan pulang sendirian malam ini.
Darahku terasa mengalir lebih lambat.
Aku tidak memberikan nomor ini pada siapa pun di tempat ini.
Aku menoleh tanpa sadar ke pria di sampingku.
Ia masih memutar gelasnya pelan.
“Wajahmu berubah,” katanya tanpa melihatku. “Pesan yang tidak menyenangkan?”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Kau mengawasi ponselku?”
“Aku mengawasi ekspresimu.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu tepat.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Itu bukan urusanmu.”
“Belum,” katanya tenang.
Belum.
Satu kata itu membuat bulu kudukku berdiri.
Aku berdiri dari kursi. “Aku harus pergi.”
Pria itu ikut berdiri, tapi menjaga jarak.
“Boleh kuberi saran?”
“Aku tidak membutuhkannya.”
“Kau membutuhkannya,” katanya lembut. “Jangan keluar lewat pintu depan.”
Aku membeku.
Bar itu punya satu pintu utama. Semua orang keluar dari sana.
“Apa maksudmu?”
Ia akhirnya menatapku penuh.
Tatapannya bukan menggoda. Bukan hangat.
Menghitung.
“Di luar ada dua pria yang sudah memperhatikanmu sejak dua puluh menit lalu,” katanya pelan. “Salah satunya memotretmu.”
Napas tersangkut di tenggorokanku.
“Itu tidak lucu.”
“Aku tidak bercanda.”
Ia mengeluarkan ponselnya, mengetuk layar sekali, lalu memutar layarnya menghadapku.
CCTV.
Tampilan pintu depan bar.
Dua pria berdiri di seberang jalan. Salah satunya memang mengangkat ponsel.
Tanganku mulai dingin.
“Bagaimana kau—”
“Aku punya akses,” jawabnya singkat.
Tentu saja.
Pria seperti ini selalu punya akses.
“Apa mereka temanmu?” tanyaku.
Ia menatap layar beberapa detik lebih lama.
“Tidak.”
Keheningan jatuh di antara kami.
“Kalau begitu kenapa kau peduli?” tanyaku.
Itu pertanyaan yang seharusnya sederhana.
Namun ia tidak langsung menjawab.
Seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang boleh ia katakan.
“Aku tidak suka melihat seseorang masuk ke masalah tanpa tahu ia sedang melangkah ke mana.”
Jawaban itu… terlalu umum.
“Kau tidak mengenalku.”
“Benar.”
“Tapi kau memperhatikanku.”
Ia mengangguk sekali.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku lebih takut daripada fakta bahwa ada dua pria di luar sana.
“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.
Aku ragu.
“Clara.”
Ia menyebut namaku pelan, seolah mencobanya.
“Jonathan.”
Nama itu terdengar familiar. Entah dari mana.
“Kalau aku keluar lewat pintu belakang?” tanyaku.
“Aku akan ikut.”
Aku menegang. “Aku tidak meminta pengawal.”
“Kau tidak mendapatkannya,” jawabnya tenang. “Kau mendapat saksi.”
Saksi?
“Kau pikir mereka akan melakukan sesuatu?”
“Aku pikir,” katanya pelan, “kau tidak seaman yang kau kira.”
Ponselku bergetar lagi.
Pesan kedua.
Kami hanya ingin bicara.
Tanganku gemetar.
Jonathan melihat perubahan itu.
“Kali ini apa?” tanyanya.
Aku menunjukkan layar ponsel.
Rahangnya mengeras—hanya sedikit. Hampir tak terlihat.
Tapi aku melihatnya.
“Kau mengenal mereka,” kataku pelan.
Ia tidak menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Jonathan,” suaraku lebih rendah sekarang. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Ia menatapku lama.
Lalu berkata, “Jika aku mengatakan kau sedang diawasi, kau tidak akan percaya.”
Dunia terasa mengecil.
“Diawasi oleh siapa?”
Tatapannya berubah.
Bukan takut.
Bukan panik.
Berbahaya.
“Itu tergantung,” katanya pelan, “pada siapa yang lebih dulu menemukanmu.”
Napas tercekat.
“Menemukanku untuk apa?”
Ia melangkah mendekat—tidak menyentuh, hanya cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.
“Untuk menggunakamu.”
Suara musik terasa jauh sekarang.
Segalanya terasa jauh.
“Aku tidak punya apa-apa untuk digunakan,” kataku.
Ia menatapku dengan cara yang membuatku sadar satu hal—
Aku mungkin tidak tahu siapa diriku sebenarnya.
“Kau yakin?” tanyanya pelan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Aku tidak yakin lagi.
Pintu belakang terbuka.
Udara malam menyentuh kulitku.
Jonathan berdiri di sampingku, tenang seperti biasa.
“Clara,” katanya sebelum kami melangkah keluar.
“Ya?”
“Setelah malam ini, hidupmu mungkin tidak akan sama lagi.”
Aku ingin menertawakannya.
Menganggapnya dramatis.
Tapi pesan ketiga masuk tepat saat itu.
Kami tahu kau bersama siapa.
Darahku membeku.
Dan ketika aku mengangkat kepala—
Dua mobil hitam berhenti di ujung gang.
Mesin masih menyala.
Lampu menyala.
Menunggu.
Jonathan tidak terlihat terkejut.
Itulah yang paling menakutkan.
Jam menunjukkan 01.47 dini hari.Ruang server utama hanya diterangi cahaya monitor dan lampu indikator yang berkedip pelan seperti detak jantung mesin.Jonathan berdiri di depan layar pusat kendali jaringan.Tangannya tidak gemetar.Itu justru yang paling mengkhawatirkan.Clara masuk tanpa suara. Ia sudah tahu di mana menemukannya.“Jangan bilang kau hanya mengecek sistem,” katanya pelan.Jonathan tidak menoleh.“Aku sudah memberi Rafael cukup kesempatan.”Layar di depannya menampilkan peta transaksi lintas negara. Perusahaan cangkang. Aliran dana. Beberapa rekening luar negeri yang selama ini hanya rumor.“Kau menyusup ke sistem perbankan?” Clara mendekat.“Bukan menyusup,” jawab Jonathan datar. “Aku membuka pintu yang sudah lama ingin kubuka.”Clara membaca cepat.Ia mengerti pola itu.Jika data ini bocor ke regulator internasional, Rafael bukan hanya kehilangan perusahaan.Ia bisa kehilangan kebebasannya.“Ini bukan sekadar tekanan pasar,” Clara berbisik. “Ini penghancuran total.”
Skandal itu muncul pukul 09.05 pagi.Bukan di media gosip.Di portal finansial paling kredibel.Judulnya singkat.“Direktur Perwalian Diduga Pernah Memanipulasi Sistem Asuransi 7 Tahun Lalu.”Nama Clara tercantum jelas.Ruang kantor mendadak sunyi.Jonathan membaca artikel itu tanpa ekspresi.Tapi tangannya berhenti di tengah halaman.Tujuh tahun lalu.Kasus klaim medis.Rumah sakit swasta.Data internal diubah.Sistem override manual.Nominal besar.Kasus ditutup diam-diam karena “error teknis”.Ia tahu ini bukan kebetulan.Ini Rafael.Clara masuk lima menit kemudian.Ia tahu.Jonathan tidak perlu bertanya.“Kau mau jelasin?” suaranya tenang.Terlalu tenang.Clara menutup pintu.Mengunci.Ia berdiri beberapa detik sebelum bicara.“Waktu itu ibuku butuh operasi jantung.”Jonathan diam.“Asuransinya tidak menanggung prosedur itu. Mereka bilang kondisi pre-existing.”Suara Clara stabil.Tapi matanya tidak.“Aku kerja sebagai analis sistem saat itu. Aku tahu celahnya.”Sunyi.“Aku tidak
Serangan itu tidak datang dalam bentuk berita.Tidak dalam bentuk ancaman.Tapi dalam bentuk amplop cokelat yang diletakkan di meja Clara pagi itu.Tanpa pengirim.Tanpa sidik jari.Ia membukanya sendirian.Foto.Rumah kecil di pinggiran kota.Ibunya.Sedang keluar dari klinik.Clara membeku.Ibunya seharusnya tinggal jauh dari semua ini.Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang alamat baru itu.Kecuali—Satu orang.Jantungnya menegang.Di dalam amplop ada secarik kertas.“Kau pintar. Tapi kau lupa bahwa semua orang punya titik lemah.”Tidak ada tanda tangan.Tidak perlu.Clara langsung tahu.Ia tidak memberi tahu Jonathan.Belum.Ia menyetir sendiri ke rumah ibunya sore itu.Rumah itu tampak biasa.Terlalu biasa untuk menjadi target permainan raksasa korporasi.Ibunya membuka pintu dengan senyum hangat.“Tumben kamu datang tanpa kabar.”Clara memeluknya lebih lama dari biasanya.Terlalu lama.“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya ibunya.“Aku baik.”Tapi itu bohong kecil.Karena sek
48 jam.Clara membiarkan 36 jam berlalu sebelum membalas pesan Rafael.Singkat.Temui aku. Kita bisa bicara soal aliansi.Ia sengaja memilih kata “aliansi”.Bukan “kesepakatan”.Bukan “pengkhianatan”.Rafael membalas kurang dari satu menit.Bagus. Aku tahu kau rasional.Clara tersenyum tipis.Rasional.Ya.Tapi bukan untuknya.Jonathan tahu rencana itu.Ia berdiri di ruang kerjanya ketika Clara menjelaskan.“Aku akan pura-pura menerima.”“Risikonya besar,” kata Jonathan datar.“Aku tahu.”“Dia tidak akan datang tanpa pengamanan.”“Aku juga tidak.”Sunyi.Ada ketegangan lain di antara mereka.Bukan tentang Rafael.Tentang kepercayaan.“Kau yakin?” tanya Jonathan lebih pelan.Clara mendekat.“Kali ini, kau yang harus percaya padaku.”Itu kalimat yang dulu selalu ia ucapkan pada Clara.Sekarang terbalik.Jonathan menatapnya lama.Lalu mengangguk pelan.Pertemuan berlangsung di rooftop gedung parkir pribadi milik Rafael.Angin malam cukup keras.Lampu kota berkelip di bawah.Rafael datang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.