Compartir

7. Cinta Sendiri

Autor: Roshliendh
last update Fecha de publicación: 2026-11-04 23:47:46

“Bapak juga orang lain ‘kan?” kata Forza yang saat ini menatapnya, membuat Gavin jadi salting, dia bingung mau jawab apa, tatapan mata indah Forza membuat jantung Gavin berdetak makin cepat.

“Saya dosen kamu, saya juga orang yang akan dekat dengan kamu.” Jawab Gavin sambil menaik turunkan kedua alisnya, sengaja menggoda Forza, sudah kepalang basah, Gavin pasrah saja, biarkan bunda Forza tahu kalau dia sudah jatuh cinta sejatuh - jatuhnya pada putrinya.

“Maksud Bapak?” Tanya Forza, membuat Gavin mendengus kesal, gadisnya ini padahal paling cerdas di Fakultasnya, tapi selalu lola jika urusan hati, membuat Gavin harus lebih extra sabar lagi, karena dia selalu nggak peka dengan semua kode cinta dari Gavin.

“Nggak usah di pikirin, Fahri ikut abang ke kantin yuk, mau ice cream nggak?” Gavin mencoba mengalihkan pembicaraan, karena atmosfer di ruang rawat Forza sudah tak enak untuknya.

“Mau bang, ayo.” Jawab Fahri.

“Bu, saya bawa Fahri ke kantin yah sebentar.” Pamit Gavin.

“Iyah nak Gavin, silahkan.” Jawab bunda Forza tersenyum.

Gavin pun membawa Fahri keluar ruang rawat inap, menuju kantin.

“Bunda kenapa senyam – senyum gitu?” Tanya Forza pada bunda karena sejak kepergian Gavin dan Fahri bundanya malah senyam - senyum menatap Forza membuatnya bingung.

“Bunda merasa kalau nak Gavin itu ada rasa sama kamu Za, nggak mungkin ‘kan kalau hanya seorang dosen sampai segitunya perhatian sama kamu, apa lagi tadi dia bilang kalau dia akan jadi orang yang dekat dengan kamu Za.”

“Bunda nggak usah aneh – aneh, Forza nggak mau mikirin begituan, karena tujuan hidup Forza sekarang ingin membahagiakan Bunda, Firza dan Fahri. Jadi Bunda jangan berharap lebih kalau Forza akan memikirkan itu.” Jelas Forza.

“Za, kamu juga berhak bahagia, jika ada pria yang menawarkan kebahagiaan untuk kamu, jangan pernah menolaknya nak, apalagi Bunda lihat nak Gavin begitu tulus sama kamu nak.”

“Bunda, udah ya jangan bahas itu dulu, Forza masih belum ingin membahasnya bun.”

Forza dan bundanya saling diam, menyelami pikiran masing – masing, hingga terdengar suara pintu yang terbuka.

Ceklek

Pintu terbuka dan masuklah dua pria beda generasi yang menenteng kantong palstik.

“Bunda, lihat Fahri jajannya banyak banget.” Kata Fahri pada bundanya.

“Loh, kamu kok ngrepotin bang Gavin sih sayang.”

“Nggak kok bu, lagian cuman jajan beginian saja. Oya Za tadi mamah saya telfon kebetulan lagi ada di sini, mungkin sebentar lagi mamah ke sini buat jenguk kamu.” Kata Gavin tersenyum, Forza sendiri terkejut mendengarnya.

“Jenguk saya?” Tanya Forza.

Gavin mengangguk, “Iyah, mamah pengen ketemu sama kamu dan juga Ibu.” Jawab Gavin kembali menunjukkan senyumnya, senyum yang bikin Forza stress.

“Ibu jadi nggak enak nak Gavin, sudah ngrepotin mamahnya nak Gavin.”

“Nggak apa bu, lagian kebetulan mamah lagi di sini.” Jawab Gavin.

Tok tok tok

Pintu ada yang mengetuk, Gavin berjalan untuk membukanya, yang ternyata mamahnya Gavin.

“Selamat siang." Sapa mamah Gavin, saat sudah memasuki ruang rawat inap, "Loh, Fatma ‘kan?” mamah Gavin tampak terkejut saat melihat bunda Forza.

“Siang.” Jawab bunda Forza yang sama – sama terkejutnya, “Ranti ya?”

“Astaga, hampir tiga puluh tahun lebih akhirnya kita ketemu juga Fat, apa kabar?” kata mamah Ranti – mamahnya Gavin yang langsung memeluk bundanya Forza.

Baik Forza maupun Gavin terkejut, jika dua wanita paruh baya, di depan mereka sudah saling mengenal, sejak tiga puluh tahun yang lalu, sejak Forza dan Gavin belum lahir ke dunia.

“Baik, kamu tetap masih cantik saja seperti dulu ya Ran.” Kata bunda Forza.

“Kamu bisa saja, kamu juga cantik kok. Tunggu dulu, kamu ibunya Forza ya Fat?” tanya mamahnya Gavin.

“Iya Ran, Forza anakku.”

“Ya ampun, dunia sempit amat ya Fat.”

Mamah Ranti menatap Forza dan tersenyum manis, seperti senyum anaknya.

“Hai sayang, kamu pasti Forza ya. Kenalin saya mamah Ranti mamahnya Gavin.” Sapa mamah Gavin.

“Salam kenal tante, saya Forza Shanum.” Jawab Forza, berusaha sesopan mungkin.

“Jangan panggil tante, panggil Mamah saja yah kan kamu anak sahabat mamah.” Kata mamah Ranti kembali tersenyum.

What? Mamah? Nggak salah nih, ya ampun lihat tuh putra tante senyam senyum sendiri mendengar ucapan tante. Heemm tapi mau bagaimana lagi, aku harus menghargai beliau sebagai sahabat bunda, bukan karena mamahnya pak Gavin jadi okelah aku panggil mamah, batin Forza.

“Iya tan, eh mah.” Jawab Forza dengan canggung.

Gila manggil mamah depan anaknya langsung, membuat jantungku jumpalitan tak karuan, rutuk Forza dalam hatinya.

Forza dan Gavin, hanya menjadi pendengar setia, saat ke dua ibu hebat mereka sedang asyik bernostalgia masa sekolah dulu, saat di kampung.

Dari obrolan beliau berdua Forza dan Gavin baru tahu, ternyata mamah Ranti banyak berhutang budi pada Bunda dan Eyang Forza, karena keluarga Bunda lah yang sudah membiayai pendidikan dan juga hidup mamah Ranti dan adiknya yang seorang Polisi.

Sayangnya, sebelum mamah Ranti membalas kebaikan keluarga Bunda Fatma, secara mendadak Eyang dan Bunda pindah ke luar kota, saat mamah Ranti juga sedang ada pekerjaan di luar kota, sehingga tidak bisa menemui keluarga Eyang dan Bunda Forza.

Mamah Ranti sudah berusaha mencari keberadaan keluarga Eyang Forza, namun nihil tak juga di temukan, sampai akhirnya saat ini mereka di pertemukan karena ketidaksengajaan.

“Gimana kabar dek Braga, sudah punya anak berapa Ran? Pasti sekarang jabatannya sudah tinggi ya.” Tanya bunda Fatma.

“Braga baik, dia punya 2 orang anak Fat dan sekarang menjabat sebagai Kapolres, semua berkat jasa Ayah dan juga kamu, yang selalu memberi semangat setiap Braga berlatih. Braga pasti senang, saat tahu aku sudah bertemu denganmu Fat, dia selalu memikirkan kamu, karena pindah begitu mendadak, kami takut terjadi sesuatu, mengingat pesaing bisnis Ayah banyak. Oya gimana kabar Ayah dan Ibu? aku kangen sekali Fat, karena beliau lah yang memberikan kebahagiaan buat aku dan Braga.” Kata mamah Ranti panjang lebar.

“Ayah dan Ibu sudah nggak ada Ran, mereka sudah bahagia di atas sana.” Jawab Bunda Fatma, membuat mamah Ranti terkejut.

"Aku ingin ke makamnya Fat.” Mamah Ranti menangis tersedu, mendengar jika kedua orang yang sudah berjasa dalam hidup beliau, sudah tiada.

“Boleh nanti aku antar ke sana Ran, udah ah jangan nangis lagi, malu tuh sama anak kita yang sudah besar.” Kata Bunda Fatma tersenyum.

“Aku sampai lupa kalau ada anak – anak Fat, saking bahagianya bisa ketemu sama kamu dan sedih karena nggak bisa ketemu Ayah Ibu.”

“Gavin, kenapa nggak dari dulu kamu ajak mamah ketemu sama Forza dan keluarganya, kalau dari dua tahun lalu ‘kan mamah udah ketemu sahabat mamah.”

“Dua tahun?” cicit bunda.

“Iya Fat, jadi Gavin tuh dari dua tahun lalu, kerjaannya kalau habis pulang dari kampus, cerita mahasiswinya terus yang namanya Forza, aku sampai penasaran kaya apa yang namanya Forza, sampai buat anak saya tobat dari playboynya dan sabar banget buat deketin dia, karna katanya kalau buru – buru takut lari, jadi selama dua tahun Gavin cinta sendiri, karena Forza tidak juga membalasnya.” Celoteh mamah Ranti diselingi tawa yang membuat wajah putranya memerah.

Forza menatap Gavin, dia benar – benar tak menyangka jika dosennya benar - benar sudah menaruh rasa padanya sejak Ospek, sekarang Forza percaya karena yang berkata mamah Ranti, nggak mungkin beliau berbohong.

“Mamah, udah dong jangan bikin malu Gavin.” Forza tersenyum mendengar suara manja dosennya ini, sungguh Forza baru pertama kali melihatnya manja, rasanya geli lihat wajah dan tingkah merajuk dosennya itu.

“Ngapain harus malu, Fatma dan Forza harus tahu, kalau kamu ini sudah jadi bucinnya Forza dari dua tahun lalu, tapi masih saja sembunyi – sembunyi sampai sekarang, aku heran loh Fat, biasanya perempuan yang ngejar Gavin, tapi Forza malah nggak tertarik sama sekali, makanya pas dengar lagi opname di sini, aku langsung pengen ketemu, sama gadis yang nggak mau ngelirik, anak aku sama sekali dan ternyata memang cantiknya luar biasa, jual mahalnya juga, sama kayak kamu dulu Fat.” Mamah Ranti tertawa, begitu juga Bunda.

Forza hanya diam saja mendengarkan Mamah Ranti yang bicara panjang lebar, Forza melirik Gavin yang ternyata sedang menatapnya juga.

Deg

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   8. Cemburu Sama Bubur

    DegForza kembali merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, apalagi saat kedua mata Gavin, menatap Forza penuh arti. Forza merasakan gelenyar aneh di tubuhnya, perasaan aneh itu tiba – tiba Forza rasakan, perasaan aneh yang baru pertama kali Forza rasakan. Bukan hanya Forza, karena Gavin pun saat ini merasakan hal yang sama, jantungnya sudah kebat – kebit tak terkendali, Gavin benar – benar sudah jatuh cinta, pada gadis di depannya itu.Gavin tersenyum manis pada Forza, senyum yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun, bahkan Forza juga baru pertama kali melihatnya. Senyumnya saat ini sungguh berbeda dari biasanya, Forza benar – benar dibuat meleleh oleh senyumnya.“Ekhem yang asik saling memandang sampai lupa sama mamahnya.” Tegur mamah Ranti.Forza dan Pak Gavin sama – sama kaget, berasa ketangkap basah sama satpol PP, mereka jadi salah tingkah dan membuat ke dua ibu mereka tertawa geli melihat tingkah anak –anaknya.“Vin kamu temani Forza dul

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   7. Cinta Sendiri

    “Bapak juga orang lain ‘kan?” kata Forza yang saat ini menatapnya, membuat Gavin jadi salting, dia bingung mau jawab apa, tatapan mata indah Forza membuat jantung Gavin berdetak makin cepat.“Saya dosen kamu, saya juga orang yang akan dekat dengan kamu.” Jawab Gavin sambil menaik turunkan kedua alisnya, sengaja menggoda Forza, sudah kepalang basah, Gavin pasrah saja, biarkan bunda Forza tahu kalau dia sudah jatuh cinta sejatuh - jatuhnya pada putrinya.“Maksud Bapak?” Tanya Forza, membuat Gavin mendengus kesal, gadisnya ini padahal paling cerdas di Fakultasnya, tapi selalu lola jika urusan hati, membuat Gavin harus lebih extra sabar lagi, karena dia selalu nggak peka dengan semua kode cinta dari Gavin.“Nggak usah di pikirin, Fahri ikut abang ke kantin yuk, mau ice cream nggak?” Gavin mencoba mengalihkan pembicaraan, karena atmosfer di ruang rawat Forza sudah tak enak untuknya.“Mau bang, ayo.” Jawab Fahri.“Bu, saya bawa Fahri ke kantin yah sebentar.” Pamit Gavin.“Iyah nak Gav

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   6. Cemburu?

    Gavin masih duduk manis, menunggu gadisnya turun dari lantai dua. Sesekali, dia melirik sinis ke arah tamu yang tak tahu diri itu. Bagaimana tidak? Orang itu datang tanpa permisi, lalu berteriak-teriak di rumah orang lain.Kalau saja gue sudah jadi menantu di rumah ini, sudah pasti gue usir dia, batin Gavin.Gavin memang terlalu percaya diri. Dia yakin bisa mendapatkan hati Forza. Awalnya, Gavin berniat melakukan pendekatan terlebih dahulu, sebelum mengutarakan perasaannya. Namun, melihat semakin banyak pria yang berpotensi menjadi saingannya, ditambah Forza yang terlalu pintar menebak perasaannya, Gavin akhirnya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada gadis itu. Toh, Forza sudah telanjur mengetahui perasaannya. Karena itu, Gavin memutuskan untuk semakin gencar mendekatinya, agar tidak ada lagi celah bagi pria mana pun yang ingin mendekati gadisnya.“Berangkat sekarang, yuk, Bay.”Suara Forza membuyarkan lamunan Gavin. Pria itu langsung terpana, saat melihat gadis pujaannya b

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   5. Pengakuan di tengah luka

    "Maaf, Pak Adhitama yang terhormat, jika saya lancang ikut campur urusan rumah tangga Anda, tapi saya tidak bisa diam saja, saat melihat seorang wanita disakiti seperti ini," ujar Gavin dengan suara dingin, dalam, dan penuh wibawa. Tangannya mencengkeram, pergelangan tangan ayah Forza dengan sangat kuat.Ya, tangan yang menahan tamparan itu adalah tangan Gavin. Sejak tadi, ia berdiri di belakang Forza, siap menjadi perisainya."Pak Gavin? Anda... kenapa bisa ada di sini?" tanya Ayah Forza terkejut bukan main, melihat kehadiran Gavin. Wajahnya langsung pucat, ia mengenal Gavin sebagai putra dari rekan bisnisnya yang paling besar."Saya datang bersama putri Anda, Forza," jawab Gavin, tatapannya tajam menusuk, ia melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar."Maafkan saya, Pak. Tadi saya tidak melihat Anda, maaf karena Anda harus melihat semua ini. Ini hanya masalah keluarga kecil." Ayah Forza merasa tak enak hati dan langsung mencoba merendahkan suaranya."Nggak masalah, Pak Adhitama.

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   4. Modus Gavin

    Setiap harinya, Gavin makin gencar mendekati Forza. Bukan lagi sekadar dosen yang memperhatikan mahasiswinya, tapi sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya dan setiap melihat Forza berdekatan dengan laki-laki lain, rasa cemburu itu datang begitu saja tanpa bisa dikontrol, membakar dadanya. Seperti siang ini, dari balik jendela ruangannya di lantai dua, Gavin memperhatikan Forza yang sedang duduk santai di taman kampus, bersama teman-temannya. Ada Abell, Nadia dan dua laki-laki, salah satunya Alfa. Mereka tertawa, namun mata Gavin langsung menangkap satu hal yang membuat rahangnya mengeras. Saat tiba-tiba ada yang merangkul bahu Forza dengan akrab, sambil tertawa. Siapa lagi kalau bukan Alfa, karena hanya dia yang selalu mencari celah untuk dekat-dekat dengan Forza. Gavin mengepalkan tangannya di atas meja, ia tidak suka, sangat tidak suka. "Harus gue pisahin," gumamnya pelan. Gavin segera berusaha mencari cara, agar gadisnya pergi dari taman itu. Setelah bebera

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   3. PDKT Aja dulu

    Sementara itu, di tempat lain, lebih tepatnya di ruang Dekan, empat sahabat yang berprofesi sebagai dosen sekaligus dokter sedang berkumpul. Ruangan itu milik Pradhika Abhimanyu, tapi sudah seperti basecamp mereka berempat.Gavin duduk santai sambil memainkan ponselnya, di depannya ada Reno yang sedang asik games, Dimas yang fokus pada laptopnya, dan Dhika yang duduk di kursi dekan dengan posisi paling berwibawa menatap Gavin."Lu beneran suka sama Forza, ya Vin?" tanya Dhika tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya menatap Gavin dengan tatapan menyelidik, khas seorang dekan.Gavin menghela napas panjang, "Bosen jawabnya Dhik, itu mulu yang ditanya.""Menurut lu Dhik, si Gavin sampai minta bantuan lu, biar semester ini bisa masuk ke kelas Forza, karena apa kalau bukan karena beneran suka?" kata Reno menimpali sambil tertawa jahil, "Dia tuh sampai rela tukeran jadwal sama Bu Arum. Bu Arum yang killer aja bisa dia rayu."Dhika ikut tertawa kecil, "Gue nggak habis pikir aja Ren. Seorang Ga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status