Compartir

6. Cemburu?

Autor: Roshliendh
last update Fecha de publicación: 2026-11-04 11:56:32

Gavin masih duduk manis, menunggu gadisnya turun dari lantai dua. Sesekali, dia melirik sinis ke arah tamu yang tak tahu diri itu. Bagaimana tidak? Orang itu datang tanpa permisi, lalu berteriak-teriak di rumah orang lain.

Kalau saja gue sudah jadi menantu di rumah ini, sudah pasti gue usir dia, batin Gavin.

Gavin memang terlalu percaya diri. Dia yakin bisa mendapatkan hati Forza. Awalnya, Gavin berniat melakukan pendekatan terlebih dahulu, sebelum mengutarakan perasaannya. Namun, melihat semakin banyak pria yang berpotensi menjadi saingannya, ditambah Forza yang terlalu pintar menebak perasaannya, Gavin akhirnya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada gadis itu. Toh, Forza sudah telanjur mengetahui perasaannya. Karena itu, Gavin memutuskan untuk semakin gencar mendekatinya, agar tidak ada lagi celah bagi pria mana pun yang ingin mendekati gadisnya.

“Berangkat sekarang, yuk, Bay.”

Suara Forza membuyarkan lamunan Gavin. Pria itu langsung terpana, saat melihat gadis pujaannya berjalan menuruni anak tangga. Seketika, Gavin kembali jatuh cinta kepada gadis yang sama untuk kesekian kalinya.

Forza terlihat sangat cantik mengenakan dress. Ini untuk pertama kalinya, Gavin melihat gadis itu tampil begitu feminin. Biasanya, Forza lebih sering terlihat tomboy.

“Bunda, Forza berangkat dulu, ya. Pak Gavin, Forza tinggal, ya.”

Forza mencium tangan bundanya, lalu tersenyum ke arah Gavin yang masih diam membeku menatapnya. Jantung Gavin seolah jungkir balik dibuatnya.

Setelah Forza keluar, Gavin pun berpamitan kepada bunda gadis itu, “Kalau begitu, Gavin juga pamit, ya, Bu. Mau siap-siap nge-shift.”

Gavin mencium punggung tangan bunda Forza. Dalam hati, dia menyebut perempuan itu sebagai bucamer, alias bunda calon mertua. Bolehlah dia menganggapnya calon mertua, meskipun perjuangannya untuk mendapatkan hati Forza masih panjang. Berharap saja dulu, siapa tahu suatu hari nanti menjadi kenyataan.

“Iya, hati-hati di jalan, Nak Gavin. Kalau ada waktu, main lagi, ya.”

“Pasti Bu. Gavin pamit dulu."

****

Pukul tujuh malam, sebelum berangkat ke rumah sakit, Gavin sengaja mampir ke Café D&G, tempat gadis pujaan hatinya akan tampil. Dengan mengenakan topi dan kacamata hitam, Gavin yakin Forza tidak akan mengenalinya.

Dia memasuki kafe dan memilih tempat duduk di sudut paling pojok, agar bisa leluasa memandang Forza saat tampil nanti.

Tak lama kemudian, tim Forza naik ke panggung dan mulai menyapa para pengunjung. Namun, Forza belum terlihat. Hanya ada Ubay, teman yang tadi menjemputnya di rumah, yang sedang mencoba gitarnya.

Dua lagu telah dinyanyikan, tetapi Forza belum juga muncul. Hingga tiba-tiba, lampu kafe padam. Tak lama kemudian, terdengar alunan gesekan biola yang begitu merdu.

Di depan sana, Gavin melihat seorang gadis mengenakan dress selutut berwarna toska. Rambutnya dibiarkan tergerai, dengan sebuah jepit rambut di sisi kanan yang semakin mempercantik penampilannya.

Forza berjalan perlahan, sambil terus menggesekkan bow pada senar biolanya. Alunan musik itu berpadu dengan suara seorang pria yang sedang melamar kekasihnya.

Gavin benar-benar terpesona, melihat penampilan Forza yang berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak begitu anggun dan cantik.

Diam-diam, Gavin memotret gadisnya menggunakan ponsel. Sungguh, Forza terlihat begitu sempurna di matanya. Gadis itu benar-benar, berhasil membuat semua orang menatapnya dengan kagum.

Gavin melirik jam tangannya. Pukul 20.15 WIB, sebenarnya dia masih betah berada di kafe. Dia ingin sekali mendengar suara Forza saat bernyanyi. Namun, mau bagaimana lagi? Dia tidak boleh melupakan tugas utamanya, sebagai seorang dokter. Dengan sangat terpaksa, Gavin akhirnya meninggalkan kafe.

*****

Pagi ini, tepat pukul 08.00 WIB, Gavin memasuki kelas Forza, di fakultas tempat gadis itu menempuh pendidikan. Hari ini, jadwalnya mengajar di kelas tersebut.

“Selamat pagi, semuanya,” sapa Gavin.

“Pagi, Pak!” jawab para mahasiswa serempak.

“Ada yang tidak hadir hari ini?”

Gavin bertanya sambil memandang ke arah mahasiswa. Matanya menyapu seisi ruangan, diam-diam mencari keberadaan Forza.

“Forza, Pak. Surat keterangan dari rumah sakit, ada di meja.” jawab Abell, sahabat Forza.

“Forza sakit apa?”

Gavin mengambil surat keterangan sakit, dari rumah sakit yang terletak di atas meja, lalu membacanya dengan saksama.

Bukannya semalam dia baik-baik saja? Kenapa sekarang sampai dirawat inap? Aku benar-benar cemas memikirkannya, batin Gavin.

“Dia punya masalah lambung, Pak. Kata bundanya, semalam dia mengalami kolik, lalu pingsan dan tidak sadar-sadar. Makanya, dia dibawa ke rumah sakit.” jelas Abell.

Penjelasan itu membuat Gavin semakin panik.

Bagaimanapun, aku harus menemui gadisku, aku tidak akan tenang mengajar, kalau terus memikirkannya. Khusus hari ini, biarlah aku memberikan tugas saja. Aku harus segera ke rumah sakit, batinnya lagi.

“Hari ini, saya akan memberikan tugas membuat makalah secara berkelompok. Di sini sudah saya tuliskan pembagian topik untuk setiap kelompok. Nanti, ketua kelas tolong bagikan kepada teman-teman kalian, ya. Saya ada keperluan di luar, jadi untuk sementara perkuliahan hari ini, saya ganti dengan tugas.”

Gavin menyerahkan selembar kertas berisi catatan pembagian tugas.

“Nanti, hasilnya dikumpulkan melalui ketua kelas dan diletakkan di meja saya. Pada pertemuan berikutnya, setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusinya. Untuk kelompok yang ingin memasukkan Forza sebagai anggota, silakan hubungi dia nanti untuk menentukan bagian yang akan dikerjakannya. Ada yang ingin ditanyakan?”

“Tidak ada, Pak.”

“Baiklah. Saya permisi dulu, selamat pagi.”

Gavin langsung menuju tempat parkir. Hatinya benar-benar tidak tenang setelah mendengar kabar bahwa Forza sakit. Saat ini, dia hanya ingin segera menemui gadis itu.

Tanpa membuang waktu, Gavin melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di sana, Gavin langsung menuju IGD untuk mencari tahu, di kamar mana Forza dirawat.

“Suster Via.” panggilnya kepada salah satu perawat yang dikenalnya di IGD.

“Ya, Dok. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Suster Via.

“Pasien yang datang semalam atas nama Forza Shanum, ada di mana?” tanya Gavin langsung pada intinya.

“Sebentar, Dok.”

Suster Via mengetikkan nama Forza pada layar komputer.

“Ruang Anggrek 115, Dok,” jawabnya.

“Oke, terima kasih.”

Gavin langsung bergegas menuju ruang Anggrek 115.

“Ngapain tuh Dokter Gavin?” bisik salah seorang perawat.

“Katanya, tanya kamar pasien yang namanya Forza.”

“Tumben banget.”

“Mungkin masih kerabatnya. Sudahlah, nggak usah kepo urusan orang.”

Gavin masih sempat mendengar percakapan, beberapa perawat yang penasaran dengan kedatangannya. Namun, dia tidak ambil pusing, terserah mereka mau membicarakan apa, tujuannya saat ini hanya satu, menemui gadisnya.

Setibanya di ruang Anggrek 115, Gavin mengetuk pintu sebelum membukanya perlahan. Di dalam ruangan, hanya ada Forza yang sedang tidur seorang diri. Gavin melangkah mendekat, lalu menatap wajah, gadis pujaan hatinya yang tampak pucat dan lemah.

Dia duduk di kursi di samping ranjang, menemani Forza yang masih terlelap dengan mata indahnya terpejam.

Hampir dua jam, Gavin duduk manis menemani gadis itu. Hingga akhirnya, Forza perlahan membuka matanya.

Forza terkejut saat melihat Gavin duduk di sampingnya, tersenyum sambil menatapnya.

“Loh, Pak Gavin, kok bisa ada di sini?”

“Saya menjenguk PJ mata kuliah saya yang sedang sakit. Memangnya salah?” tanya Gavin.

Forza menggeleng, “Nggak, Pak. Saya cuma kaget. Maaf.”

Meski wajahnya pucat, di mata Gavin Forza tetap terlihat cantik, “Iya, nggak apa-apa, Za. Gimana tidurnya? Pulen banget, sampai saya datang pun kamu nggak dengar,” ujar Gavin sambil menunjukkan senyum termanisnya.

Siapa tahu, dengan senyum itu, gadisnya bisa langsung jatuh hati kepadanya. Berusaha terus, boleh, kan?

“Saya habis minum obat, Pak. Jadi, tidurnya lumayan pulas. Bapak nggak mengajar, ya? Bukannya sekarang jadwal Bapak?”

Gavin sudah bisa menebak bahwa Forza pasti akan menanyakan hal itu. Gadis itu tentu penasaran. Memang aneh, seorang Gavin yang terkenal tepat waktu dan disiplin justru meninggalkan kelasnya, semua itu hanya karena Forza.

“Iya, tadi saya kasih tugas makalah. Nanti kamu juga dapat informasinya. Saya langsung ke sini begitu tahu kamu sakit. Maaf, ya, sampai lupa nggak bawa apa-apa, kamu mau apa? Biar saya belikan.” Gavin menjawab dengan jujur.

“Nggak perlu repot-repot, Pak. Terima kasih. Saya nggak pengin apa-apa. Perut saya masih mual,” jawab Forza.

“Lagian, kenapa kamu sampai telat makan, sih? Calon dokter kok punya masalah lambung. Nanti gimana kalau lagi operasi, terus asam lambungmu naik?”

“Calon dokter juga manusia, kali Pak. Lagian, saya juga sudah sehat. Nanti sore bisa pulang,” jawab Forza santai.

Gavin menatapnya lekat-lekat. Inilah salah satu hal yang membuatnya heran terhadap Forza. Gadis itu selalu bersikap santai seolah-olah tidak memikirkan apa pun, padahal sebenarnya ada begitu banyak hal yang memenuhi pikirannya.

“Sehat apaan? Orang kamu masih pucat begitu. Kamu mesti dirawat inap dua sampai tiga hari lagi, baru boleh pulang,” ujar Gavin.

“Lama amat, Pak! Saya nggak bisa ninggalin kuliah dan pekerjaan saya.”

Benar, kan? Kelihatannya santai, tetapi ternyata ada saja yang dipikirkannya.

“Kamu kan, bisa izin sakit Za. Jangan memaksakan diri buat kuliah atau kerja. Za, kamu keluar saja dari pekerjaanmu, nanti saya bantu carikan pekerjaan lain buat kamu, gimana?”

“Saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya, Pak. Saya nggak bisa keluar begitu saja.” tolak Forza.

Belum sempat Gavin membalas, pintu kamar rawat inap terbuka. Bunda Forza dan Fahri masuk ke dalam ruangan.

Gavin segera berdiri dan menyalami bunda Forza dengan sopan.

“Eh, ada Nak Gavin. Kalau tahu Gavin sudah di sini, Bunda tadi bisa menyusul belakangan. Bunda mau mengantar Fahri sekolah dulu, tapi akhirnya Fahri bolos karena Bunda takut Forza butuh sesuatu,” jelas bunda Forza.

“Forza nggak sakit parah Bun, masih bisa jalan sendiri, Fahri saja yang senang karena nggak sekolah.”

Gavin terkekeh mendengar ucapan gadisnya. Sedang sakit pun, Forza masih sempat mengomel.

“Fahri, kan, mau jagain Kakak. Fahri nggak bisa bobok kalau ingat Kakak digendong Pak RT. Fahri takut Kakak mati,” jawab Fahri polos.

Ya ampun, ini anak bahasanya bikin geleng-geleng kepala saja. Kakakmu nggak boleh mati, Dek. Dia harus jadi ibu dari anak-anak gue dan hidup sampai tua bersama gue, protes Gavin dalam hati.

“Enak saja mati! Kalau Kakak mati, nanti nggak ada yang ngelonin kamu lagi, dong,” balas Forza.

Aduh, ini lagi. Yang sakit malah ngegas juga. Mana bahasanya bikin gue mupeng. Gue juga mau kali, Za, dikelonin sama kamu. Ups! Apaan, sih, Vin? Ngawur banget Vin! Dia aja belum nerima lo! Gavin merutuk dalam hati.

Untung saja dia tidak mengucapkan isi pikirannya dengan lantang. Bisa-bisa dia langsung masuk daftar hitam sebagai calon menantu di mata bunda Forza.

“Kok kamu nggak ngabarin saya kalau sakit? Jadi, malah ngerepotin Pak RT, kan? Lain kali, kalau ada apa-apa, kabarin saya, ya. Biar nggak ngerepotin orang lain.” Gavin spontan melontarkan kalimat itu.

Seketika, ibu dan anak yang berada di hadapannya langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya.

Gavin merutuk dalam hati. Kenapa juga dia harus mengatakan hal seperti itu? Kenapa begitu mudah dirinya terbakar api cemburu hanya karena mendengar bahwa Forza digendong Pak RT? Forza menatapnya heran, lalu bertanya dengan nada polos.

“Bapak juga orang lain, kan?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   8. Cemburu Sama Bubur

    DegForza kembali merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, apalagi saat kedua mata Gavin, menatap Forza penuh arti. Forza merasakan gelenyar aneh di tubuhnya, perasaan aneh itu tiba – tiba Forza rasakan, perasaan aneh yang baru pertama kali Forza rasakan. Bukan hanya Forza, karena Gavin pun saat ini merasakan hal yang sama, jantungnya sudah kebat – kebit tak terkendali, Gavin benar – benar sudah jatuh cinta, pada gadis di depannya itu.Gavin tersenyum manis pada Forza, senyum yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun, bahkan Forza juga baru pertama kali melihatnya. Senyumnya saat ini sungguh berbeda dari biasanya, Forza benar – benar dibuat meleleh oleh senyumnya.“Ekhem yang asik saling memandang sampai lupa sama mamahnya.” Tegur mamah Ranti.Forza dan Pak Gavin sama – sama kaget, berasa ketangkap basah sama satpol PP, mereka jadi salah tingkah dan membuat ke dua ibu mereka tertawa geli melihat tingkah anak –anaknya.“Vin kamu temani Forza dul

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   7. Cinta Sendiri

    “Bapak juga orang lain ‘kan?” kata Forza yang saat ini menatapnya, membuat Gavin jadi salting, dia bingung mau jawab apa, tatapan mata indah Forza membuat jantung Gavin berdetak makin cepat.“Saya dosen kamu, saya juga orang yang akan dekat dengan kamu.” Jawab Gavin sambil menaik turunkan kedua alisnya, sengaja menggoda Forza, sudah kepalang basah, Gavin pasrah saja, biarkan bunda Forza tahu kalau dia sudah jatuh cinta sejatuh - jatuhnya pada putrinya.“Maksud Bapak?” Tanya Forza, membuat Gavin mendengus kesal, gadisnya ini padahal paling cerdas di Fakultasnya, tapi selalu lola jika urusan hati, membuat Gavin harus lebih extra sabar lagi, karena dia selalu nggak peka dengan semua kode cinta dari Gavin.“Nggak usah di pikirin, Fahri ikut abang ke kantin yuk, mau ice cream nggak?” Gavin mencoba mengalihkan pembicaraan, karena atmosfer di ruang rawat Forza sudah tak enak untuknya.“Mau bang, ayo.” Jawab Fahri.“Bu, saya bawa Fahri ke kantin yah sebentar.” Pamit Gavin.“Iyah nak Gav

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   6. Cemburu?

    Gavin masih duduk manis, menunggu gadisnya turun dari lantai dua. Sesekali, dia melirik sinis ke arah tamu yang tak tahu diri itu. Bagaimana tidak? Orang itu datang tanpa permisi, lalu berteriak-teriak di rumah orang lain.Kalau saja gue sudah jadi menantu di rumah ini, sudah pasti gue usir dia, batin Gavin.Gavin memang terlalu percaya diri. Dia yakin bisa mendapatkan hati Forza. Awalnya, Gavin berniat melakukan pendekatan terlebih dahulu, sebelum mengutarakan perasaannya. Namun, melihat semakin banyak pria yang berpotensi menjadi saingannya, ditambah Forza yang terlalu pintar menebak perasaannya, Gavin akhirnya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada gadis itu. Toh, Forza sudah telanjur mengetahui perasaannya. Karena itu, Gavin memutuskan untuk semakin gencar mendekatinya, agar tidak ada lagi celah bagi pria mana pun yang ingin mendekati gadisnya.“Berangkat sekarang, yuk, Bay.”Suara Forza membuyarkan lamunan Gavin. Pria itu langsung terpana, saat melihat gadis pujaannya b

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   5. Pengakuan di tengah luka

    "Maaf, Pak Adhitama yang terhormat, jika saya lancang ikut campur urusan rumah tangga Anda, tapi saya tidak bisa diam saja, saat melihat seorang wanita disakiti seperti ini," ujar Gavin dengan suara dingin, dalam, dan penuh wibawa. Tangannya mencengkeram, pergelangan tangan ayah Forza dengan sangat kuat.Ya, tangan yang menahan tamparan itu adalah tangan Gavin. Sejak tadi, ia berdiri di belakang Forza, siap menjadi perisainya."Pak Gavin? Anda... kenapa bisa ada di sini?" tanya Ayah Forza terkejut bukan main, melihat kehadiran Gavin. Wajahnya langsung pucat, ia mengenal Gavin sebagai putra dari rekan bisnisnya yang paling besar."Saya datang bersama putri Anda, Forza," jawab Gavin, tatapannya tajam menusuk, ia melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar."Maafkan saya, Pak. Tadi saya tidak melihat Anda, maaf karena Anda harus melihat semua ini. Ini hanya masalah keluarga kecil." Ayah Forza merasa tak enak hati dan langsung mencoba merendahkan suaranya."Nggak masalah, Pak Adhitama.

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   4. Modus Gavin

    Setiap harinya, Gavin makin gencar mendekati Forza. Bukan lagi sekadar dosen yang memperhatikan mahasiswinya, tapi sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya dan setiap melihat Forza berdekatan dengan laki-laki lain, rasa cemburu itu datang begitu saja tanpa bisa dikontrol, membakar dadanya. Seperti siang ini, dari balik jendela ruangannya di lantai dua, Gavin memperhatikan Forza yang sedang duduk santai di taman kampus, bersama teman-temannya. Ada Abell, Nadia dan dua laki-laki, salah satunya Alfa. Mereka tertawa, namun mata Gavin langsung menangkap satu hal yang membuat rahangnya mengeras. Saat tiba-tiba ada yang merangkul bahu Forza dengan akrab, sambil tertawa. Siapa lagi kalau bukan Alfa, karena hanya dia yang selalu mencari celah untuk dekat-dekat dengan Forza. Gavin mengepalkan tangannya di atas meja, ia tidak suka, sangat tidak suka. "Harus gue pisahin," gumamnya pelan. Gavin segera berusaha mencari cara, agar gadisnya pergi dari taman itu. Setelah bebera

  • Terjebak Cinta Dua Dosen   3. PDKT Aja dulu

    Sementara itu, di tempat lain, lebih tepatnya di ruang Dekan, empat sahabat yang berprofesi sebagai dosen sekaligus dokter sedang berkumpul. Ruangan itu milik Pradhika Abhimanyu, tapi sudah seperti basecamp mereka berempat.Gavin duduk santai sambil memainkan ponselnya, di depannya ada Reno yang sedang asik games, Dimas yang fokus pada laptopnya, dan Dhika yang duduk di kursi dekan dengan posisi paling berwibawa menatap Gavin."Lu beneran suka sama Forza, ya Vin?" tanya Dhika tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya menatap Gavin dengan tatapan menyelidik, khas seorang dekan.Gavin menghela napas panjang, "Bosen jawabnya Dhik, itu mulu yang ditanya.""Menurut lu Dhik, si Gavin sampai minta bantuan lu, biar semester ini bisa masuk ke kelas Forza, karena apa kalau bukan karena beneran suka?" kata Reno menimpali sambil tertawa jahil, "Dia tuh sampai rela tukeran jadwal sama Bu Arum. Bu Arum yang killer aja bisa dia rayu."Dhika ikut tertawa kecil, "Gue nggak habis pikir aja Ren. Seorang Ga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status