Share

Bab 2. Heels Perempuan

Penulis: Shappire
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 22:44:21

Edgar tidak menggubris teriakan Safna. Dia melangkah masuk dengan tenang, lalu menutup pintu di belakangnya.

 Klik.

 Dia menguncinya dari dalam, lalu memasukkan kunci itu ke saku celananya.

 Safna mundur, merangkak naik ke atas kasur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang king size itu. "Kak, pliss, jangan gila ya! Ini kamar aku, atau aku aduin ke keamanan. Cepat keluar, Kaaaakkk!?"

 Edgar berjalan mendekat dan berhenti tepat di tepi ranjang, menatap Safna yang meringkuk ketakutan. "Kenapa dikunci, hm? Apa kamu takut ada nyamuk yang masuk lagi?"

 "Kak Ega, please..." Air mata Safna mulai menggenang. "Jangan kayak gini. Kita saudara, Kak."

 Edgar tertawa kecil, lalu meletakkan satu lututnya di atas kasur. "Saudara? Kalau kita saudara, kenapa tubuhmu bereaksi begitu jujur pada sentuhanku semalam, Safna?"

 Darah Safna berdesir hebat. Pengakuan itu.

 "Jadi kemarin malam, itu benar kamu, Kak?" Safna menatap Edgar dengan pandangan jijik dan tidak percaya. "Kamu yang lakuin ini? Aku nggak tahu lagi, kamu udah bener-bener sakit jiwa, Kak! Aku ini adikmu, Kak Edgar!?"

 Edgar merangkak naik ke atas kasur, mengurung Safna dengan kedua lengannya yang kekar di sisi tubuh gadis itu.

 "Berhenti berpura-pura tidak tahu, Safna," bisik Edgar tepat di depan bibir Safna, napas hangatnya menerpa kulit wajah gadis itu. "Malam ini, aku tidak akan menahannya lagi. Pintunya sudah terkunci, dan kuncinya ada padaku. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."

 "LEPAS!!" Safna menjerit, mengumpulkan sisa tenaganya untuk mendorong dada bidang Edgar.

 "Selama ini akulah yang selalu melindungimu dari dunia luar dan menghajar siapa pun yang berani mengganggumu, jadi sudah sepantasnya kamu jadi milikku, Safna."

 Edgar tidak menunggu jawaban Safna lagi dan langsung mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir gadis itu.

 Tubuh Safna gemetar hebat seperti orang yang sedang kedinginan parah, dan isak tangisnya pecah begitu saja memenuhi ruangan. Gadis itu menangis histeris karena ketakutan yang luar biasa, napasnya tersengal-sengal seolah pasokan oksigen di ruangan itu menipis.

 "Kumohon hentikan semua ini, Kak, kenapa harus aku yang jadi pemuas hasratmu itu? Aku takut banget, Kak, plisss, tolong jangan lakukan ini padaku..." rintih Safna di sela-sela tangisnya yang memilukan.

 Gerakan Edgar terhenti seketika saat mendengar suara tangisan adiknya yang terdengar begitu putus asa. Pria itu membeku di tempatnya, membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

 Cengkeraman tangan Edgar pada pergelangan tangan Safna perlahan mulai melonggar. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Safna yang kini terlihat sangat hancur dan ketakutan setengah mati padanya.

 "Udah, berhenti nangis!"

 Edgar menghela napas kasar seolah sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, pria itu menjauhkan tubuhnya dan turun dari ranjang, membiarkan Safna yang langsung meringkuk memeluk lututnya sendiri.

 Setelah itu, Edgar membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu kamar. 

 Begitu sosok Edgar menghilang di balik pintu, Safna langsung melompat turun dari ranjang dengan kaki yang masih lemas.

 Dengan tangan yang gemetar tak terkendali, Safna menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas sofa. Dia memasukkan dompet dan ponselnya dengan gerakan cepat dan kasar, tidak peduli jika barang-barangnya berantakan di dalam sana.

 Safna bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya dan hanya menyambar cardigan rajut tebal untuk menutupi piyama tidurnya.

 Gadis itu membuka pintu kamar perlahan-lahan dan mengintip ke arah lorong yang gelap dan sepi. Pintu kamar Edgar yang berada di ujung lorong terlihat tertutup rapat, memberikan sedikit rasa lega di hati Safna. Tanpa membuang waktu lagi, Safna berlari menuruni anak tangga dengan langkah seribu, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa memancing perhatian Edgar.

 Sesampainya di pintu utama, Safna memutar kunci yang masih menggantung di lubangnya dengan panik.

 Sambil terus berjalan cepat menyusuri jalanan perumahan elit yang sunyi, Safna merogoh ponsel dari dalam tasnya. Jari-jarinya yang licin oleh keringat dingin menari di atas layar ponsel untuk memesan taksi online.

 Setelah mendapatkan pengemudi, dia segera menekan nomor panggilan cepat yang terhubung ke ponsel Leo.

 Safna menempelkan ponsel ke telinganya sambil terus menoleh ke belakang dengan paranoid. Panggilan itu tersambung, namun tidak ada jawaban dari seberang sana hingga akhirnya masuk ke kotak suara.

 "Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku, Leo?" gumam Safna dengan frustrasi sambil mencoba menelepon ulang kekasihnya.

 Akan tetapi, hasilnya tetap sama, Leo tidak menjawab panggilan teleponnya meskipun Safna sudah mencoba berkali-kali. Gadis itu mulai merasa putus asa, dia sangat membutuhkan Leo saat ini sebagai tempat pelariannya. Leo adalah satu-satunya orang yang bisa melindunginya dari kegilaan Edgar.

 Sebuah mobil MPV berwarna abu-abu akhirnya berhenti tepat di depan Safna. Tanpa banyak bicara, Safna langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil tersebut.

 "Tolong antarkan saya ke Apartemen Sky View secepat mungkin, Pak," ujar Safna kepada sopir taksi dengan napas yang masih terengah-engah.

 Mobil itu pun melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang di malam hari.

 Safna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang sambil terus menatap layar ponselnya yang gelap. Puluhan panggilan tak terjawab sudah dia lakukan ke nomor Leo, tetapi tidak ada satu pun yang mendapatkan respon.

 Safna mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berpikir positif. Ah, mungkin Leo sudah tertidur lelap karena kelelahan setelah seharian melakukan pemotretan. Wajar jika Leo tidak mendengar dering teleponnya karena sekarang sudah lewat tengah malam. 

 Begitu mobil taksi berhenti di depan lobi apartemen mewah tempat tinggal Leo, Safna langsung membayar ongkosnya dan keluar dengan terburu-buru. Dia berjalan cepat melewati lobi apartemen dan sempat tertahan sebentar oleh petugas keamanan karena penampilannya yang berantakan. Namun, Safna berhasil meyakinkan petugas itu setelah menunjukkan bukti foto kebersamaannya dengan Leo dan menyebutkan nomor unit apartemen kekasihnya.

 Safna masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 15 dengan tidak sabar.

 Pintu lift terbuka dan Safna melangkah keluar menyusuri lorong lantai 15 yang sunyi senyap. Langkah kakinya terasa berat namun penuh harapan saat mendekati unit nomor 1509 yang berada di ujung lorong. Safna membayangkan Leo akan memeluknya erat dan menenangkannya setelah dia menceritakan semua kejadian mengerikan ini.

 Safna berhenti tepat di depan pintu kayu kokoh berwarna cokelat tua itu. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya sebelum mengangkat tangannya ke arah panel kunci digital. Dia menekan kombinasi angka yang merupakan tanggal jadian mereka berdua dengan hati-hati.

 Gadis itu mendorong pintu apartemen secara perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa mengejutkan Leo. Namun, apa yang pertama dilihat Safna, membuatnya terkejut bukan main.

 Di samping sepatu sneakers Leo, terdapat sepasang heels berwarna merah dan sebuah pakaian dalam wanita.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 48. Edgar Menggoda Safna

    Safna berjalan menuju ruangan kepala divisinya. Ia tersenyum saat mendapatkan sapa dari rekan tim lainnya.“Sepada, Kak Fitri,” ujar Safna menyembulkan kepala setelah mengetuk pelan pintu ruangan itu.“Masuk, Na.”Safna masuk sambil tersenyum pada perempuan yang berusia enam tahun di atasnya. “Ini berkas sesuai permintaanmu yang perlu ditandatangani bos besar.”Fitri memijit pelan kepalanya lalu menatap Safna dengan puppy eyes. “Boleh tolong kamu aja yang minta tanda tangan? Kerjaan aku lagi numpuk banget.”Safna menghela napas pelan. “Emang boleh diwakili?” “Boleh, kok.”“Baiklah,” jawab Safna dengan terpaksa.Fitri langsung tersenyum senang dan merentangkan tangannya hendak memeluk Safna. Namun, Safna menghindar.“Kakak berhutang traktir makan siang hari ini pokoknya,” ujar Safna lalu meninggalkan ruangan itu. “Siap. Terima kasih banyak, Safna yang cantik,” teriak Fitri sebelum Safna benar-benar keluar dari sana.Safna tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan. Namun, badannya

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 47. Tepat

    Jane mengerjap setelah mendengar ucapan Edgar yang menurutnya tidak masuk akal.“Jangan bercanda, Ed, nggak lucu. Kasihan Safna masa nggak diakui adik,” ujar Jane sambil menggelengkan kepala dan terkekeh, tetapi hanya sebentar. Tawanya terhenti saat melihat wajah datar Edgar dan diamnya Jayden. Jane merasa ada yang salah.“Jangan bilang itu beneran?” tanya Jane yang masih belum dijawab oleh mereka. “Oke. Apa aku ketinggalan banyak informasi?” Edgar menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara. “Safna bukan adik kandungku, itu faktanya. Aku rasa kalian harus tahu. Jangan tanya bagaimana bisa karena aku nggak berniat menjelaskannya. Dan satu lagi, jangan sampai hal ini bocor sebelum waktunya.”“Sejak kapan kamu tahu?” tanya Jane masih mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya.“Saat aku kecelakaan.” Edgar tahu Jane terkejut dan butuh penjelasan. Namun, ia tidak mau membahasnya lebih jauh. Baginya, fakta itu sudah cukup ia bagikan pada Jane. “Oke. Lebih baik sekarang ki

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 46. Bukan Adik Kandung

    Katakan pada Kak Edgar, nggak perlu mengirim atau membuatku sibuk lagi di luar negeri karena kita sudah putus.Kalimat terakhir Leo sebelum pergi masih terngiang di kepala Safna bahkan setelah pria itu menghilang dari pandangannya.Jadi, Leo tahu jika semua ulah Edgar. Tapi, kenapa dia nggak pernah nolak? Apa karena itu kesempatan bagus untuk kariernya, jadi dia nggak pernah menolak?Safna menggigit bibirnya pelan.Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ia sebenarnya ingin menanyakannya langsung tadi. Namun, percakapan mereka sudah terlalu berat. Dan sebelum Safna sempat membuka topik itu, Leo sudah lebih dulu pamit pergi menuju bandara.Pria itu bahkan belum benar-benar beristirahat setelah penerbangan panjangnya.Safna sempat ingin menahannya. Setidaknya menyuruhnya tidur beberapa jam dulu sebelum kembali terbang. Namun, langkah itu tidak pernah benar-benar ia lakukan. Karena sekarang… ia bukan siapa-siapa lagi bagi Leo.Safna menatap berkas-berkas yang belum di

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 45. Closure

    Pagi itu Safna keluar rumah sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia sudah bersiap berangkat ke kantor, tas kerjanya menggantung di bahu sementara ponsel ada di genggaman. Udara pagi masih terasa sejuk ketika ia menuruni anak tangga teras. Bahkan ia sudah melihat taksi online nya sudah tiba depan.Langkah Safna berhenti sebelum benar-benar keluar halaman. Seseorang berdiri di dekat mobil itu. Awalnya Safna hanya mengira tamu atau mungkin rekan kerja Edgar yang datang terlalu pagi. Namun, ketika orang itu bergerak sedikit dan wajahnya tertangkap cahaya matahari pagi, napas Safna langsung tertahan.“Leo?” Nama itu keluar hampir seperti bisikan.Pria itu berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jaket yang terlihat kusut dan ransel yang masih menggantung di satu bahu. Rambutnya sedikit berantakan, bahkan ada lingkar gelap samar di bawah matanya seolah ia tidak tidur semalaman. Leo menatap Safna tanpa berkedip. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Safna benar-benar tidak menyangka

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 44. Kemarahan Leo

    “Berikan ponselnya pada Safna, Pak Edgar yang terhormat. Jangan karena Anda kakak nya sehingga bisa berbuat sesukanya!” geram Leo dari seberang sana saat sudah kehabisan kesabaran.Edgar terkekeh, baginya kemarahan Leo tidak ada apa-apanya. “Kalau saya bilang dia tidak mau berbicara denganmu, bagaimana?” tanya Edgar dengan santai dan satu tangannya membuka berkas yang ada di meja.“Safna tidak mungkin seperti itu kalau bukan Anda yang melarangnya. Saya sudah mengalah berkali-kali. Saat Safna disuruh pulang waktu jalan dengan saya. Saat Safna disuruh memilih Anda atau saya. Tapi, sekarang saya sudah muak. Saya tidak akan mengalah, apalagi jika Safna mengakhiri hubungan kita atas perintah Anda!” Safna menegang di tempatnya. Ia tidak menyangka Leo akan berbicara sekeras itu pada Edgar.“Oh, ya?” tanya Edgar sambil melirik Safna yang langsung memalingkan wajahnya.“Tapi, saya rasa Safna tidak berpikir sama denganmu. Bagaimana jika aku katakan itu atas keputusannya sendiri?” ucap Edgar s

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 43. Ayo Putus

    Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.Safna terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia tidak benar-benar tidur semalaman. Kalimat Edgar masih menggantung di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.Itu jadi konsumsi publik.Safna menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang aneh—bukan marah, bukan sedih sepenuhnya. Lebih seperti lelah yang menumpuk terlalu lama. Ia bangkit dan meraih ponselnya. Notifikasi dari Leo memenuhi layar.Leo: Kamu sudah tidur?Leo: Jangan lupa makan.Leo: Aku kangen banget.Safna membaca satu per satu tanpa ekspresi. Tidak ada yang salah dari Leo. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada pengakuan dosa.Dan mungkin itu yang membuat semuanya terasa semakin sunyi. Ia sadar satu hal. Ia tidak bisa terus meminta kejelasan dari Edgar sementara dirinya sendiri masih menggantungkan seseorang di ujung sana.Itu tidak adil. Bukan pada Leo, bukan juga dirinya.Safna duduk di tepi ranjang. Tangannya sedikit gemetar saat membuka ruang obrolan itu. Ia tidak ingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status