แชร์

Terjebak Cinta Kakak Angkatku
Terjebak Cinta Kakak Angkatku
ผู้แต่ง: Shappire

Bab 1. Tanda Merah

ผู้เขียน: Shappire
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-15 22:43:48

"Jangan!”

Gadis itu bergumam dengan mata terpejam. Ia merasa ada sosok pria berada di dekatnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan napas berat pria itu di telinganya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Akan tetapi, tubuh pria itu tidak asing baginya, bahkan aroma parfum yang menempel pada tubuh pria itu seolah sangat dikenali.

“Shh.”

Terdengar suara desisan keluar dari bibir ranum seorang gadis yang sedang terbaring gelisah di ranjang empuk queen size dengan seprai berwarna merah muda. Tangannya meremas bedcover yang ada di kedua sisi gadis itu.

Gadis itu ingin menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat.

Sentuhan itu terlalu nyata hingga membuat tubuhnya seolah terbakar.

“Aah.” Safna merutuki dirinya karena menikmati sentuhan dari orang yang jelas-jelas tidak dikenalnya. “Ternyata cuma mimpi aja!”

Tidak lama kemudian ia tersadar dan membuka mata. Gadis itu menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingin, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia masih menguap lebar saat berdiri di depan wastafel, membasuh wajah dengan air dingin untuk mengusir sisa kantuk.

Saat itulah, ketika ia mengangkat wajah dan menatap cermin, napasnya tercekat di tenggorokan.

"A-apa ini?"

Matanya melebar, memindai pantulan dirinya sendiri dengan horor.

Di sana, tercetak jelas di kulit lehernya yang putih. Bukan hanya satu, tapi tiga bercak kemerahan yang sangat spesifik. Tanda itu menjalar dari bawah telinga hingga ke tulang selangka, seolah membentuk jejak kepemilikan yang biadab.

Jantung Safna berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan panik. Tangannya gemetar saat meraba tanda itu. Tidak sakit, hanya sedikit perih dan panas.

"Nggak mungkin, semalam aku kunci pintu," bisiknya pada bayangannya sendiri. Suaranya bergetar. "Aku tidur sendirian. Aku yakin banget aku kunci pintu!"

Siapa? Siapa yang bisa masuk ke kamarnya, melakukan hal ini padanya saat ia terlelap, dan pergi tanpa meninggalkan jejak selain tanda memalukan ini?

Di rumah ini hanya ada dirinya dan...

"Kak Edgar," gumam Safna.

Tidak.

Tidak mungkin Edgar.

Edgar adalah kakaknya, meski kakaknya itu kadang bersikap dingin, otoriter, dan menyebalkan, tapi dia tetap kakaknya.

Safna melirik jam dinding. Pukul 07.15. Dia sudah terlambat. Hari ini ada meeting penting di kantor, dan sialnya, Edgar yang akan memimpin langsung.

Dengan tangan yang masih gemetar, Safna menyambar concealer dari meja riasnya. Dia memoleskan cairan kental itu berlapis-lapis di atas tanda merah itu, menepuk-nepuknya dengan kasar, berdoa agar warnanya tertutup sempurna.

Setelah dirasa cukup samar, dia mengenakan kemeja kerja berwarna navy dengan kerah tinggi, lalu memadukannya dengan blazer untuk perlindungan ganda.

Namun, Safna tidak pernah tahu bahwa Edgar adalah anak angkat yang diadopsi oleh orang tuanya dan selalu ingin melindunginya setiap saat.

***

Suasana di ruang rapat utama Vantera Group terasa lebih mencekam dari biasanya.

Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni, Edgar Reinhardt duduk dengan mengenakan setelan jas charcoal yang pas badan, rambutnya disisir rapi ke belakang.

Biasanya, Edgar akan fokus pada layar proyektor atau berkas di hadapannya saat manajer pemasaran melakukan presentasi.

Tapi hari ini, ada yang salah.

Mata elang Edgar tidak tertuju pada grafik penjualan di layar, melainkan lurus ke arah Safna yang duduk di sisi kiri meja, tiga kursi darinya.

Safna berusaha keras untuk tidak membalas tatapan itu. Dia pura-pura sibuk mencatat poin-poin presentasi di iPad-nya, meski jemarinya mengetuk layar tanpa pola yang jelas. Dia bisa merasakan tatapan Edgar seperti sinar laser yang menembus pakaiannya, membakar kulitnya.

"Bagaimana menurutmu, Safna?" Suara bariton Edgar memecah keheningan, membuat Safna tersentak kaget hingga penanya tergelincir dari tangan.

"Y-ya, Pak?"

Semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya.

"Saya tanya pendapatmu tentang strategi pasar untuk kuartal ini. Kamu dari tadi menunduk terus. Ada yang menarik di meja?"

Wajah Safna memanas. "Maaf, Pak. Menurut saya, strateginya sudah cukup komprehensif. Hanya perlu penekanan di segmen digital."

"Hmm." Edgar hanya bergumam, matanya menyipit sedikit, seolah menelanjangi kebohongan Safna. "Cukup. Rapat selesai. Semuanya boleh kembali bekerja. Kecuali kamu, Safna."

Jantung Safna serasa berhenti berdetak.

Satu per satu karyawan membereskan barang mereka dan keluar ruangan, beberapa memberikan tatapan simpati pada Safna, mengira dia akan dimarahi habis-habisan karena tidak fokus.

Safna memberanikan diri mendongak. "Ada apa, Kak? Eh, maksudku, Pak Edgar? Kalau soal tadi, aku minta maaf. Aku cuma kurang tidur."

"Kurang tidur?" Kenapa? Ada nyamuk nakal yang mengganggumu semalam?" Jemari Edgar yang panjang dan kokoh menyentuh kerah kemeja Safna, tepat di bagian leher, di tempat dia menyembunyikan tanda itu.

"Gerah sekali pakai baju tertutup begini, Safna. AC di sini kurang dingin?" Edgar bertanya sambil menggesekkan ibu jarinya pelan di atas kain kerah.

Sentuhan itu.

Aroma parfum woody dan mint yang menguar dari tubuh Edgar.

Safna mengenalnya, aroma yang sama yang samar-samar tercium di bantalnya pagi ini. Ini sentuhan yang sama yang menghantuinya dalam mimpi buruk yang terasa nyata.

"Jangan sentuh!" Safna menepis tangan Edgar kasar, lalu berdiri mendadak hingga kursinya berdecit nyaring. "Ini kantor, Pak. Tolong profesional."

Edgar tidak marah tangannya ditepis. Dia justru menyeringai tipis. Seringai yang membuat Safna ingin menangis. "Profesional? Aku hanya merapikan kerahmu yang berantakan, Adikku sayang. Kenapa kamu sepanik ini? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan di balik kerah itu?"

"Aku mau kembali kerja," pamit Safna, lalu buru-buru menyambar iPad-nya dan setengah berlari keluar dari ruang rapat.

Sisa hari itu dihabiskan Safna dalam ketakutan paranoid. Dia menghindari Edgar sebisa mungkin.

Saat jam pulang kantor tiba, dia adalah orang pertama yang kabur menuju lift. Orang tua mereka, Papa Albert dan Mama Sofia, sedang di luar kota untuk urusan bisnis selama seminggu. Dia menghela napas lega saat mobil taksi online-nya memasuki pekarangan rumah. Rumah mewah bergaya klasik itu terlihat sepi. Mobil sedan hitam milik Edgar belum terparkir di garasi.

Bagus lah, artinya dia belum pulang.

Safna langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Dia masuk, menutup pintu, dan memutar kuncinya dua kali.

Klik.

"Aman," desisnya. "Kunci ini baru diganti bulan lalu. Nggak mungkin rusak."

Safna melempar tasnya ke sofa, lalu membersihkan wajahnya. Dia menggosok lehernya kuat-kuat dengan kapas pembersih, menghapus concealer yang menempel seharian.

Tanda merah itu masih ada, warnanya kini berubah menjadi agak keunguan, makin terlihat jelas di kulitnya yang pucat.

"Sialan," umpatnya lirih. "Siapa sih pelakunya, dia pasti sakit jiwa!"

Safna mengganti pakaian kerjanya dengan piyama satin panjang yang sopan, lalu duduk di tepi ranjang, mencoba menghubungi Leo, kekasihnya.

Leo adalah model yang sedang naik daun, jadwalnya padat, tapi biasanya dia selalu menyempatkan diri membalas pesan Safna.

Tut...

Tut...

Panggilan tidak diangkat.

Pesan WA yang dikirim sejak siang pun masih centang satu.

"Kemana sih kamu, Leo? Aku butuh kamu," keluh Safna, melempar ponselnya ke kasur dengan frustrasi.

Baru saja dia hendak membaringkan tubuh untuk istirahat, suara yang paling dia takuti terdengar.

Cklek.

Suara kunci diputar.

Mata Safna membelalak, tertuju pada gagang pintu kamarnya. Dia melihatnya dengan jelas—gagang perak itu bergerak turun perlahan.

Pintu terbuka.

Di ambang pintu, Edgar berdiri. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kini lengan bajunya digulung sebatas siku, dasinya sudah longgar, dan jasnya tersampir di lengan. Di tangan kanannya, dia memegang serenceng kunci perak.

"K-kak Ega..." Suara Safna tercekat. "K-kamu mau ngapain ke dalam kamar aku?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 98

    Langit siang itu mendung. Awan abu-abu menggantung rendah, membuat suasana rumah sakit jiwa yang berdiri di pinggir kota itu terasa semakin suram. Bangunannya besar, dicat putih pucat dengan pagar tinggi yang mengelilingi area luar. Terlihat bersih dan tenang… tapi justru ketenangan itu terasa tidak nyaman.Safna berdiri di samping Edgar dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Sejak turun dari mobil tadi, ia belum banyak bicara. Entah kenapa langkahnya terasa berat.“Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang,” ujar Edgar pelan sambil meliriknya.Safna menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Meski begitu, Edgar tetap memperhatikan wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berjalan masuk bersama seorang polisi yang mendampingi mereka.Lorong rumah sakit itu sunyi. Hanya suara langkah kaki dan sesekali suara samar dari ruangan lain yang terdengar. Safna tanpa sadar mendekat sedikit pada Edgar. Pria itu langsung menyadarinya. Tangannya bergerak pelan, menggenggam tang

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 97

    Pintu ruang kerja Edgar tertutup pelan begitu Safna masuk ke dalam. Gadis itu masih membawa tablet dan beberapa map tipis di tangannya. Wajahnya terlihat lelah setelah meeting panjang hampir dua jam, tapi yang paling jelas justru ekspresi kesalnya.Edgar yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung mendekat begitu melihat Safna.“Akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan.Safna mendelik kecil. “Kak Ega senang banget, ya, bikin aku malu.”Edgar mengernyit samar. “Karena telepon tadi?”“Bukan cuma tadi,” sahut Safna sambil meletakkan map di sofa dengan sedikit lebih keras dari biasanya. “Kak Malik sampai hampir datang ke ruang meeting. Semua orang lihat.”Edgar langsung melirik Malik yang berdiri tidak jauh dari pintu.Malik mengangkat kedua tangannya cepat. “Saya belum sempat masuk, Nona. Baru sampai depan ruangan langsung disuruh balik.”Lagi pula itu perintah Pak Edgar. Tentu hanya dapat dikatakan dalam hati oleh Malik.Safna menghela napas panjang. “Tetap aja.”Edgar berjalan mendeka

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 96

    “Kak, kan tadi aku bilang jangan diganggu dulu. Aku baru mulai meeting satu divisi. Meetingnya berhenti gara-gara kamu nelpon. Mereka takut kalau itu penting,” ujar Safna pelan tapi jelas dengan nada sedikit ketus.“Aku cuma–”“Nanti aku kabari lagi. Jangan suruh Kak Malik datang ke sini atau aku nggak mau makan sama kamu. Lagian makan siang masih lama.”“Sayang–”“Udah ya, pokoknya jangan ganggu aku dulu. Tahu nggak si kak? Aku malu. Mereka nungguin aku selesai telfon,” ucap Safna sambil melirik rekan kerja di ruang meeting yang sedang menatapnya.Safna benar-benar merasa tidak enak. Walau mereka bilang tidak masalah, tapi percayalah… mereka mengatakan seperti itu karena takut dipecat oleh Edgar. Sedangkan di ruangannya Edgar tidak dapat menyela ucapan Safna. Entah kenapa sekarang Safna semakin bawel padanya.Safna langsung menutup telponnya begitu saja lalu tersenyum pada mereka. “Maaf, ya, jadi ketunda meetingnya.”“Nggak papa, daripada nanti gaji kita yang dipotong,” ujar salah

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 95

    “Semua bukti sudah kamu serahkan ke polisi?” tanya Edgar di jok belakang. Pagi ini ia akan menemui Maya di kantor polisi. Tadinya Safna ingin ikut, tapi pria itu melarangnya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan melihat dari Maya yang menurutnya cukup gila.“Sudah, Pak. Anda yakin ini bikin dia jera?” tanya Malik sambil mengemudikan mobilnya.“Harus. Dia harus jera. Buat dia mendekam di penjara dan tidak ada celah untuk lolos.”“Baik, Pak.”Mobil berhenti tepat di depan gedung kantor polisi. Pagi itu tidak terlalu ramai, tapi cukup sibuk. Beberapa petugas lalu lalang, kendaraan keluar masuk halaman dengan ritme yang teratur. Berbeda dengan ketegangan yang diam-diam ikut turun bersama Edgar dari dalam mobil.Malik mematikan mesin, lalu menoleh sedikit ke belakang. “Sudah siap, Pak?”Edgar tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras, namun ekspresinya tetap tenang seperti biasa.“Tidak ada yang perlu disiapkan,” jawabnya akhirnya singkat.Ia mem

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 94

    Keesokan paginya, suasana lobi kantor yang biasanya rapi dan tenang berubah menjadi riuh. Beberapa karyawan berdiri berkelompok, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke satu arah yang sama. Suara sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar cepat, tidak teratur—berbeda dari ritme kerja yang biasanya terkontrol.Di tengah semua itu— Maya berdiri. Rambutnya tidak serapi biasanya. Make up-nya masih ada, tapi sedikit berantakan. Matanya tajam, terlalu tajam, dengan emosi yang tidak lagi disembunyikan.“Kalian semua lihat, kan?!” suaranya meninggi, menggema di seluruh lobi. “CEO kalian itu… munafik!”Beberapa karyawan langsung saling pandang. Tidak ada yang berani mendekat, tapi tidak ada juga yang benar-benar pergi.Maya tertawa. Tiba-tiba. Pendek. Kering. Tidak wajar.“Lucu ya…” lanjutnya sambil menggeleng pelan. “Dia hancurin aku, terus sekarang dia santai-santai pacaran sama adiknya sendiri!”Bisik-bisik langsung semakin ramai. “Adik angkat!” sahut seseorang pelan dari belakang.May

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 93

    Safna menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya menetes pelan membasahi bahu. Handuk putih masih melilit kepalanya, tapi ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia berdiri di sana. Tatapannya kosong, seolah yang ia lihat di cermin bukan dirinya. Ucapan papanya–Albert masih terngiang. Belum lagi penjelasan dari Sofia yang masih belum dapat dicerna.“Kamu juga bukan anak kandung kami.”Safna menutup matanya. Namun, bukannya hilang—suara itu justru semakin keras. Disusul oleh suara Sofia yang lebih lembut, tapi justru lebih menghancurkan.“Mama mengadopsi kalian dari panti asuhan yang sama. Jika saja Edgar tidak mengalami geger otak ringan saat kecil. Pasti dia ingat saat kami mengadopsi kamu yang baru umur dua bulan saat itu.”Napas Safna tertahan. Perlahan, matanya kembali terbuka. Ia menatap dirinya lagi.Wajah yang selama ini ia kenal tiba-tiba terasa asing.“Jadi, selama ini…” gumamnya lirih.Tangannya terangkat pelan, menyentuh pipinya sendiri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status