ログイン
"Jangan!”
Gadis itu bergumam dengan mata terpejam. Ia merasa ada sosok pria berada di dekatnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan napas berat pria itu di telinganya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Akan tetapi, tubuh pria itu tidak asing baginya, bahkan aroma parfum yang menempel pada tubuh pria itu seolah sangat dikenali. “Shh.” Terdengar suara desisan keluar dari bibir ranum seorang gadis yang sedang terbaring gelisah di ranjang empuk queen size dengan seprai berwarna merah muda. Tangannya meremas bedcover yang ada di kedua sisi gadis itu. Gadis itu ingin menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat. Sentuhan itu terlalu nyata hingga membuat tubuhnya seolah terbakar. “Aah.” Safna merutuki dirinya karena menikmati sentuhan dari orang yang jelas-jelas tidak dikenalnya. “Ternyata cuma mimpi aja!” Tidak lama kemudian ia tersadar dan membuka mata. Gadis itu menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingin, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia masih menguap lebar saat berdiri di depan wastafel, membasuh wajah dengan air dingin untuk mengusir sisa kantuk. Saat itulah, ketika ia mengangkat wajah dan menatap cermin, napasnya tercekat di tenggorokan. "A-apa ini?" Matanya melebar, memindai pantulan dirinya sendiri dengan horor. Di sana, tercetak jelas di kulit lehernya yang putih. Bukan hanya satu, tapi tiga bercak kemerahan yang sangat spesifik. Tanda itu menjalar dari bawah telinga hingga ke tulang selangka, seolah membentuk jejak kepemilikan yang biadab. Jantung Safna berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan panik. Tangannya gemetar saat meraba tanda itu. Tidak sakit, hanya sedikit perih dan panas. "Nggak mungkin, semalam aku kunci pintu," bisiknya pada bayangannya sendiri. Suaranya bergetar. "Aku tidur sendirian. Aku yakin banget aku kunci pintu!" Siapa? Siapa yang bisa masuk ke kamarnya, melakukan hal ini padanya saat ia terlelap, dan pergi tanpa meninggalkan jejak selain tanda memalukan ini? Di rumah ini hanya ada dirinya dan... "Kak Edgar," gumam Safna. Tidak. Tidak mungkin Edgar. Edgar adalah kakaknya, meski kakaknya itu kadang bersikap dingin, otoriter, dan menyebalkan, tapi dia tetap kakaknya. Safna melirik jam dinding. Pukul 07.15. Dia sudah terlambat. Hari ini ada meeting penting di kantor, dan sialnya, Edgar yang akan memimpin langsung. Dengan tangan yang masih gemetar, Safna menyambar concealer dari meja riasnya. Dia memoleskan cairan kental itu berlapis-lapis di atas tanda merah itu, menepuk-nepuknya dengan kasar, berdoa agar warnanya tertutup sempurna. Setelah dirasa cukup samar, dia mengenakan kemeja kerja berwarna navy dengan kerah tinggi, lalu memadukannya dengan blazer untuk perlindungan ganda.Namun, Safna tidak pernah tahu bahwa Edgar adalah anak angkat yang diadopsi oleh orang tuanya dan selalu ingin melindunginya setiap saat.
*** Suasana di ruang rapat utama Vantera Group terasa lebih mencekam dari biasanya. Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni, Edgar Reinhardt duduk dengan mengenakan setelan jas charcoal yang pas badan, rambutnya disisir rapi ke belakang. Biasanya, Edgar akan fokus pada layar proyektor atau berkas di hadapannya saat manajer pemasaran melakukan presentasi. Tapi hari ini, ada yang salah. Mata elang Edgar tidak tertuju pada grafik penjualan di layar, melainkan lurus ke arah Safna yang duduk di sisi kiri meja, tiga kursi darinya. Safna berusaha keras untuk tidak membalas tatapan itu. Dia pura-pura sibuk mencatat poin-poin presentasi di iPad-nya, meski jemarinya mengetuk layar tanpa pola yang jelas. Dia bisa merasakan tatapan Edgar seperti sinar laser yang menembus pakaiannya, membakar kulitnya. "Bagaimana menurutmu, Safna?" Suara bariton Edgar memecah keheningan, membuat Safna tersentak kaget hingga penanya tergelincir dari tangan. "Y-ya, Pak?" Semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya. "Saya tanya pendapatmu tentang strategi pasar untuk kuartal ini. Kamu dari tadi menunduk terus. Ada yang menarik di meja?" Wajah Safna memanas. "Maaf, Pak. Menurut saya, strateginya sudah cukup komprehensif. Hanya perlu penekanan di segmen digital." "Hmm." Edgar hanya bergumam, matanya menyipit sedikit, seolah menelanjangi kebohongan Safna. "Cukup. Rapat selesai. Semuanya boleh kembali bekerja. Kecuali kamu, Safna." Jantung Safna serasa berhenti berdetak. Satu per satu karyawan membereskan barang mereka dan keluar ruangan, beberapa memberikan tatapan simpati pada Safna, mengira dia akan dimarahi habis-habisan karena tidak fokus. Safna memberanikan diri mendongak. "Ada apa, Kak? Eh, maksudku, Pak Edgar? Kalau soal tadi, aku minta maaf. Aku cuma kurang tidur." "Kurang tidur?" Kenapa? Ada nyamuk nakal yang mengganggumu semalam?" Jemari Edgar yang panjang dan kokoh menyentuh kerah kemeja Safna, tepat di bagian leher, di tempat dia menyembunyikan tanda itu. "Gerah sekali pakai baju tertutup begini, Safna. AC di sini kurang dingin?" Edgar bertanya sambil menggesekkan ibu jarinya pelan di atas kain kerah. Sentuhan itu. Aroma parfum woody dan mint yang menguar dari tubuh Edgar. Safna mengenalnya, aroma yang sama yang samar-samar tercium di bantalnya pagi ini. Ini sentuhan yang sama yang menghantuinya dalam mimpi buruk yang terasa nyata. "Jangan sentuh!" Safna menepis tangan Edgar kasar, lalu berdiri mendadak hingga kursinya berdecit nyaring. "Ini kantor, Pak. Tolong profesional." Edgar tidak marah tangannya ditepis. Dia justru menyeringai tipis. Seringai yang membuat Safna ingin menangis. "Profesional? Aku hanya merapikan kerahmu yang berantakan, Adikku sayang. Kenapa kamu sepanik ini? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan di balik kerah itu?" "Aku mau kembali kerja," pamit Safna, lalu buru-buru menyambar iPad-nya dan setengah berlari keluar dari ruang rapat. Sisa hari itu dihabiskan Safna dalam ketakutan paranoid. Dia menghindari Edgar sebisa mungkin. Saat jam pulang kantor tiba, dia adalah orang pertama yang kabur menuju lift. Orang tua mereka, Papa Albert dan Mama Sofia, sedang di luar kota untuk urusan bisnis selama seminggu. Dia menghela napas lega saat mobil taksi online-nya memasuki pekarangan rumah. Rumah mewah bergaya klasik itu terlihat sepi. Mobil sedan hitam milik Edgar belum terparkir di garasi. Bagus lah, artinya dia belum pulang. Safna langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Dia masuk, menutup pintu, dan memutar kuncinya dua kali. Klik. "Aman," desisnya. "Kunci ini baru diganti bulan lalu. Nggak mungkin rusak." Safna melempar tasnya ke sofa, lalu membersihkan wajahnya. Dia menggosok lehernya kuat-kuat dengan kapas pembersih, menghapus concealer yang menempel seharian. Tanda merah itu masih ada, warnanya kini berubah menjadi agak keunguan, makin terlihat jelas di kulitnya yang pucat. "Sialan," umpatnya lirih. "Siapa sih pelakunya, dia pasti sakit jiwa!" Safna mengganti pakaian kerjanya dengan piyama satin panjang yang sopan, lalu duduk di tepi ranjang, mencoba menghubungi Leo, kekasihnya. Leo adalah model yang sedang naik daun, jadwalnya padat, tapi biasanya dia selalu menyempatkan diri membalas pesan Safna. Tut... Tut... Panggilan tidak diangkat. Pesan WA yang dikirim sejak siang pun masih centang satu. "Kemana sih kamu, Leo? Aku butuh kamu," keluh Safna, melempar ponselnya ke kasur dengan frustrasi. Baru saja dia hendak membaringkan tubuh untuk istirahat, suara yang paling dia takuti terdengar. Cklek. Suara kunci diputar. Mata Safna membelalak, tertuju pada gagang pintu kamarnya. Dia melihatnya dengan jelas—gagang perak itu bergerak turun perlahan. Pintu terbuka. Di ambang pintu, Edgar berdiri. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kini lengan bajunya digulung sebatas siku, dasinya sudah longgar, dan jasnya tersampir di lengan. Di tangan kanannya, dia memegang serenceng kunci perak. "K-kak Ega..." Suara Safna tercekat. "K-kamu mau ngapain ke dalam kamar aku?"“Kak, kalau kamu terus begini yang ada aku jadi takut bukan jatuh cinta. Kalau kamu benar-benar peduli harusnya berhenti memaksaku. Lagi pula, perasaanmu bukan tanggung jawabku,” ujar Safna lirih saat melihat mata tajam dan dingin milik Edgar. Edgar menggertakan giginya. Sekali lagi ia harus mendapatkan penolakan dari Safna. Namun, bukan itu yang menyentil hatinya. Adiknya yang dulu selalu berlindung dibalik badannya, tapi kini justru kini ia yang membuat gadis itu merasa tidak aman dan ketakutan. Dua kali ia melihat wajah tertekan Safna, malam itu dan sekarang. Edgar menarik kedua lengannya–menjauh dari Safna. Ia mengambil kunci mobil yang ada di ranjang lalu keluar kamar Safna sambil membanting pintu hingga membuat sang adik terlonjak. Edgar menuruni anak tangga menggunakan kaki panjangnya mengabaikan panggilan dari sang papa. Begitu tiba di halaman, ia langsung masuk mobil dan mengemudikannya. Edgar bahkan tidak tahu kemana tujuannya saat ini. Ia hanya ingin melampiaskan amar
Safna menatap sebal pada pria yang ada di seberang sana, lebih tepatnya berjarak satu meja darinya. Malam ini ia hanya ingin beristirahat di rumah saja. Namun, Edgar memintanya untuk datang ke pesta perusahaan Vantera Grup yang dipenuhi klien-klien besar. Lampu-lampu kristal membuat ballroom terlihat megah, tetapi tidak dengan suasana hatinya. Safna menarik napas lalu dikeluarkan secara perlahan. Ia tidak pernah suka dengan pesta semacam itu karena menurutnya membosankan. Safna mengedarkan pandangannya dan menemukan keberadaan Albert– papanya sedang menyapa klien. Selain tidak suka dengan pesta seperti itu, Safna juga takut jika identitasnya terbongkar karena banyak media. Saat sedang mengamati sekelilingnya, netra hazel gadis itu menangkap siluet perempuan yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut. “Tentu saja Maya ada di sini. Dia, kan, tunangan Kak Ega,” gumam Safna dengan sedikit ketus. Bukan karena cemburu, tetapi saat melihat paras cantiknya mengingatkan Safna pada sebuah
Jantung Safna, yang tadinya sudah berdegup kencang karena pelariannya dari rumah, kini seolah berhenti berdetak selama sedetik. Ahh, mungkin itu sepatu milik adik perempuan Leo yang datang berkunjung? Atau mungkin sepatu pemotretan yang terbawa pulang? Namun, begitu pintu kamar itu sedikit terbuka, terdengar suara-suara yang membuat darah Safna mendidih sekaligus membeku di saat yang bersamaan. “Ahh, Leo, iya di situ. Pacarmu Safna ga bisa ngasih goyangan kayak gini, kan?” “Diam, Maya! Jangan pernah bahas Safna waktu kita sedang bercinta. Nama itu membuatku mual, aku tidak mau mendengarnya saat aku sedang menikmati semua tubuhmu!” “Bagus, itu baru Leo yang aku kenal.” “Sayang, sekarang gantian, biar aku yang di atas. Aku udah tidak tahan lagi, sebentar lagi aku udah keluar ini. Desah yang keras ya, buat aku benar-benar terbang ke langit!” Sekujur tubuh Safna gemetar hebat saat dia mendengar percakapan itu. Dia tidak ingin melihat siapa yang ada di dalam kamar. Namun, rasa ingi
Edgar tidak menggubris teriakan Safna. Dia melangkah masuk dengan tenang, lalu menutup pintu di belakangnya. Klik. Dia menguncinya dari dalam, lalu memasukkan kunci itu ke saku celananya. Safna mundur, merangkak naik ke atas kasur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang king size itu. "Kak, pliss, jangan gila ya! Ini kamar aku, atau aku aduin ke keamanan. Cepat keluar, Kaaaakkk!?" Edgar berjalan mendekat dan berhenti tepat di tepi ranjang, menatap Safna yang meringkuk ketakutan. "Kenapa dikunci, hm? Apa kamu takut ada nyamuk yang masuk lagi?" "Kak Ega, please..." Air mata Safna mulai menggenang. "Jangan kayak gini. Kita saudara, Kak." Edgar tertawa kecil, lalu meletakkan satu lututnya di atas kasur. "Saudara? Kalau kita saudara, kenapa tubuhmu bereaksi begitu jujur pada sentuhanku semalam, Safna?" Darah Safna berdesir hebat. Pengakuan itu. "Jadi kemarin malam, itu benar kamu, Kak?" Safna menatap Edgar dengan pandangan jijik dan tidak percaya. "Kamu yang lakuin ini? Aku ng
"Jangan!” Gadis itu bergumam dengan mata terpejam. Ia merasa ada sosok pria berada di dekatnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan napas berat pria itu di telinganya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Akan tetapi, tubuh pria itu tidak asing baginya, bahkan aroma parfum yang menempel pada tubuh pria itu seolah sangat dikenali. “Shh.” Terdengar suara desisan keluar dari bibir ranum seorang gadis yang sedang terbaring gelisah di ranjang empuk queen size dengan seprai berwarna merah muda. Tangannya meremas bedcover yang ada di kedua sisi gadis itu. Gadis itu ingin menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat. Sentuhan itu terlalu nyata hingga membuat tubuhnya seolah terbakar. “Aah.” Safna merutuki dirinya karena menikmati sentuhan dari orang yang jelas-jelas tidak dikenalnya. “Ternyata cuma mimpi aja!” Tidak lama kemudian ia tersadar dan membuka mata. Gadis itu menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingi







