LOGINJantung Safna, yang tadinya sudah berdegup kencang karena pelariannya dari rumah, kini seolah berhenti berdetak selama sedetik.
Ahh, mungkin itu sepatu milik adik perempuan Leo yang datang berkunjung? Atau mungkin sepatu pemotretan yang terbawa pulang? Namun, begitu pintu kamar itu sedikit terbuka, terdengar suara-suara yang membuat darah Safna mendidih sekaligus membeku di saat yang bersamaan. “Ahh, Leo, iya di situ. Pacarmu Safna ga bisa ngasih goyangan kayak gini, kan?” “Diam, Maya! Jangan pernah bahas Safna waktu kita sedang bercinta. Nama itu membuatku mual, aku tidak mau mendengarnya saat aku sedang menikmati semua tubuhmu!” “Bagus, itu baru Leo yang aku kenal.” “Sayang, sekarang gantian, biar aku yang di atas. Aku udah tidak tahan lagi, sebentar lagi aku udah keluar ini. Desah yang keras ya, buat aku benar-benar terbang ke langit!” Sekujur tubuh Safna gemetar hebat saat dia mendengar percakapan itu. Dia tidak ingin melihat siapa yang ada di dalam kamar. Namun, rasa ingin tahunya memaksanya harus melakukan itu. Dan… Di atas ranjang king size yang seprainya sudah berantakan itu, Leo sedang berada di atas seorang wanita. Punggung pria itu, punggung yang sering Safna peluk, terlihat bergerak teratur mengikuti ritme gairah mereka. Leo menunduk, mencium leher wanita di bawahnya dengan penuh nafsu, sesuatu yang bahkan tidak pernah dia lakukan pada Safna. Dan ketika wanita itu memiringkan wajahnya sedikit ke arah pintu, Safna merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di kepalanya. Wajah cantik dengan riasan yang sedikit luntur itu sangat dia kenal. I-itu… Itu Kak Maya, tunangan Edgar. Pacarnya dan calon kakak iparnya, dua orang yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga dan masa depannya, kini sedang bergumul layaknya binatang di depan matanya sendiri. Tanpa sadar, tangan Safna mengepal erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. Dia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Dia akan mendobrak pintu itu, menjambak rambut Maya, dan menampar wajah Leo hingga pria itu sadar betapa brengseknya dia. Safna mengambil napas panjang, bersiap untuk melangkah maju dan meluapkan kemurkaannya. Namun, belum sempat dia menyentuh gagang pintu, sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang dengan sangat cepat. "Jangan buat keributan di sini," bisik suara bariton yang sangat familier tepat di telinga kirinya. Tubuh Safna menegang kaku. Aroma woody dan mint yang maskulin itu langsung menusuk indra penciumannya, memicu respons trauma yang baru saja dia alami satu jam yang lalu. Edgar. Pria itu menarik tubuh Safna menjauh dari pintu kamar dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan. Safna meronta sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang udara, dan tangannya berusaha mencakar lengan yang mengunci tubuhnya. Namun, Edgar menyeret Safna mundur, membawanya keluar dari unit apartemen itu seolah Safna hanyalah sebuah boneka kain yang ringan. Di lorong apartemen yang sunyi dan dingin, Edgar akhirnya melepaskan bekapan tangannya, namun dia tetap mencengkeram lengan atas Safna agar gadis itu tidak kabur kembali ke dalam. "Lepaskan aku! Kenapa Kakak bawa aku keluar, sih?" desis Safna dengan suara tertahan, takut didengar oleh penghuni unit lain. "Biarkan aku masuk, Kak, Aku mau labrak mereka berdua. Lagian, Kakak kenapa ada di sini? Kakak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, hah?" Edgar berdiri menjulang di hadapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah pemandangan tunangannya yang berselingkuh bukanlah hal yang mengejutkan baginya. Dia merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan gerakan santai yang membuat Safna semakin gila. "Aku tahu," jawab Edgar dengan nada tenang yang mengerikan. "Aku sudah tahu sejak lama kalau mereka bermain api di belakang kita." Mata Safna membelalak lebar. "Maksudnya??" "Tidak ada satu hal pun di hidupmu atau hidup Maya yang luput dari pengawasanku, Safna. Aku tahu kapan mereka bertemu, di mana mereka tidur, dan seberapa sering mereka melakukannya." "Kalau Kakak tahu, kenapa Kakak diam saja? Kenapa juga Kakak biarkan aku datang ke sini? Kakak sengaja, kan? Kakak sengaja membiarkan aku melihat semua ini supaya aku hancur abis Kakak cium aku tadi, terus aku lihat pacarku sendiri lagi selingkuh sama calon Kakak? Jawab, Kak, jawab pertanyaanku!" Edgar melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga Safna harus mendongak untuk menatap matanya. "Karena kamu butuh bukti, Safna." Edgar sambil menyentuh pipi Safna dengan punggung jarinya, mengabaikan gadis itu yang berusaha menepisnya. "Kalau aku hanya memberitahumu lewat kata-kata, kamu tidak akan percaya. Kamu terlalu mencintai model sampah itu. Jadi, aku biarkan kamu melihat sendiri betapa murahannya pria yang selama ini kamu banggakan sebagai pelindungmu." Safna merasa lututnya benar-benar lemas sekarang. Kenyataan bahwa Edgar telah merancang momen ini membuatnya merasa sangat bodoh dan tidak berdaya. "Sekarang kamu lihat, kan?" lanjut Edgar, suaranya melembut tapi terdengar manipulatif. " Leo mengkhianatimu demi Maya. Maya mengkhianati pertunangan kami. Di dunia ini, tidak ada yang tulus padamu, Safna. Mereka semua pembohong." Pria itu mencondongkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Safna yang basah. "Cuma aku, satu-satunya pria yang setia padamu. Cuma aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu demi wanita lain. Hanya aku, Safna." Safna menggelengkan kepalanya lemah, berusaha menepis pengaruh kata-kata Edgar. Lalu, tanpa menunggu persetujuan Safna, Edgar menarik gadis itu menuju lift. Safna hanya bisa pasrah, kakinya melangkah gontai mengikuti tarikan tangan Edgar. Dia berdiri di sudut, memeluk dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya yang berantakan di dinding logam lift. Riasan tipisnya luntur, matanya bengkak, dan cardigan-nya terlihat konyol di atas piyama tidurnya. Sesampainya di lobi, Edgar terus menggandeng tangan Safna, tidak mempedulikan tatapan aneh dari petugas keamanan yang tadi mengizinkan Safna naik. Safna menatap kosong ke arah lampu-lampu jalan yang berkedip, air matanya terus mengalir dalam diam. Rasa sakit di dadanya begitu sesak hingga dia kesulitan bernapas. Bayangan Leo dan Maya yang sedang bercinta terus berputar di kepalanya dan entah kenapa, dia malah merasa Edgar memang terobsesi padanya, tapi sekaligus melindunginya. "Jangan menangisi sampah seperti dia," suara Edgar memecah keheningan di dalam mobil. Safna tidak menjawab dan bahkan tidak menoleh. "Mulai sekarang, lupakan dia," lanjut Edgar, matanya fokus ke jalan namun tangannya terulur untuk menggenggam tangan Safna yang dingin di atas pangkuan. "Udah ya, Safna, minimal kamu tahu kalau pacarmu itu brengsek dan suka main di belakang!" Safna membiarkan tangan Edgar menggenggamnya hingga sampai di rumah. Pun sesampainya di kamar, Edgar membawakan Safna susu hangat, roti, dan potongan-potongan buah agar dia bisa makan dengan tenang. Selanjutnya, Edgar bilang ke Safna kalau dia begadang sampai Safna benar-benar tidur pulas. Namun, sebelum Safna menjawab, Edgar lebih dulu mendekat. “Udah ya, Adik Kecil, aku nggak akan ganggu kamu. Tidur aja, ya, tidur yang nyenyak. Kalau butuh apa-apa, langsung telepon. Ingat, besok kamu kerja, jadi jangan nangis sampai larut malam!” Safna hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Yang ada di pikirannya hanyalah satu pertanyaan, kenapa Edgar tiba-tiba berubah seperti ini? Bukannya kemaren dia sangat jahat padanya, bahkan tega menjadikannya obsesi? Atau mungkin, Edgar sengaja membiarkannya tidur lebih dulu, agar nanti malam dia bisa melakukannya lagi?Langit malam dipenuhi cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan di ballroom hotel mewah itu. Musik lembut mengalun mengiringi para tamu yang mulai memenuhi ruangan. Suasana resepsi terasa hangat dan elegan—didominasi warna putih dan emas yang membuat semuanya terlihat begitu megah.Di tengah ballroom, Edgar berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membungkus tubuh tingginya sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun sorot matanya hari itu berbeda. Lebih lembut. Lebih hidup.Untuk pertama kalinya… Edgar benar-benar terlihat bahagia tanpa perlu menyembunyikannya.Sementara di sisi lain ruangan, Safna baru saja keluar dari bridal room ditemani Mila dan Sofia. Gadis itu mengenakan gaun putih panjang dengan detail mutiara halus di bagian dada. Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai kecil yang membingkai wajahnya.Mila langsung memegang dada dramatis. “Ya ampun… cantik banget. Kalau aku cowok, aku nikahin kamu juga sekarang.”Safna langsung tertawa kecil me
Safna langsung membeku. Jantungnya berdetak aneh saat melihat cara Edgar menatapnya. Terlalu tenang. Terlalu serius. Dan itu justru membuat perutnya terasa melilit.“Kak… aku cuma bercanda,” gumam Safna pelan sambil tertawa kecil untuk menutupi gugupnya.Namun, Edgar tidak ikut tertawa. Pria itu justru perlahan melepaskan pelukannya lalu berdiri dari sofa. Safna mengernyit bingung melihat Edgar berjalan menuju meja dekat jendela apartemen. Tangannya mengambil sesuatu dari sana—kotak kecil berwarna hitam.Safna langsung terdiam. Untuk beberapa detik, otaknya seperti berhenti bekerja.“Kak Ega.” Suaranya mengecil.Edgar kembali mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Safna. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada drama berlebihan. Hanya ketenangan khas Edgar yang justru membuat semuanya terasa lebih nyata.“Sebenarnya aku ingin melakukannya nanti,” ujar Edgar pelan. “Tapi karena kamu terus menyindir saya….”Safna menutup mulutnya perlahan saat Edgar berdiri tepat di depannya.
Aroma kopi yang kuat langsung menyambut Edgar begitu ia memasuki kafe langganan mereka sore itu. Suasana tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung yang duduk santai sambil menikmati akhir pekan. Namun, perhatian Edgar langsung tertuju pada dua orang yang sudah menunggunya di sudut ruangan.Jayden duduk sambil memainkan sendok kecil di gelas kopinya, sementara Jane terlihat sibuk menatap layar tablet di depannya.“Kalian cepat juga,” ujar Edgar sambil menarik kursi di hadapan mereka.Jayden mendengus pelan. “Yang benar itu kamu yang telat.”“Lima menit.”“Buat orang yang biasanya datang paling duluan, itu udah aneh,” balas Jayden santai.Jane akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Edgar beberapa detik. “Kamu kelihatan capek.”Edgar menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Memang.”Tidak ada basa-basi panjang. Mereka sudah terlalu lama berteman untuk sekadar saling menanyakan kabar formal.Pelayan datang mengantarkan pesanan Edgar. Setelah suasana sedikit tenang, Jayden akhirnya menyi
Apartemen itu sunyi. Edgar berdiri di depan jendela besar ruang tamunya sambil memandang lampu kota yang masih menyala di tengah malam. Jasnya sudah ia lepaskan sejak tadi, dasi pun tergeletak sembarangan di sofa. Namun, meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, matanya sama sekali tidak bisa terpejam.Jam digital di meja menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Edgar mengembuskan napas pelan lalu berjalan kembali ke kamar. Ia sudah mencoba tidur hampir satu jam… dan gagal total. Ranjang king size itu terasa terlalu luas. Terlalu kosong.Pria itu merebahkan tubuhnya lagi sambil memijat pelipisnya pelan. Aneh. Dulu saat Safna kuliah di luar negeri selama bertahun-tahun, ia masih bisa menjalani hari seperti biasa. Tidak segelisah ini. Tidak seperti sekarang… saat gadis itu sebenarnya hanya berjarak beberapa kilometer darinya.Edgar memejamkan mata sejenak.Namun, yang muncul justru wajah Safna. Tawanya. Suaranya. Cara gadis itu menatapnya tadi malam saat ia dipaksa pindah dari rum
“Om mohon, Edgar, cabut tuntutan kamu pada Maya. Dia sudah menanggung semua kesalahannya. Om, janji…Maya tidak akan mengacau lagi.”Edgar memejamkan mata lalu menghela napas pelan saat mengingat percakapannya dengan Harlan siang tadi di kantor. “Pak, Anda yakin akan mencabut tuntutan pada Maya?” tanya Malik sambil mengemudi. Malik melirik atasannya yang masih bersandar pada jok mobil sambil memejamkan matanya.Ravendra terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Ya. Tapi, buatkan perjanjian dengan om Harlan, Malik. Perjanjian hitam di atas putih.”Malik sedikit mengernyit mendengar jawaban itu. Mobil masih melaju membelah jalanan sore yang mulai padat. Cahaya matahari yang meredup masuk samar melalui kaca mobil, membuat suasana di dalam terasa tenang… tapi berat.“Perjanjian seperti apa, Pak?” tanya Malik hati-hati.Edgar membuka matanya perlahan. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tenang seperti biasa.“Kalau Maya kembali mendekati Safna, mengganggu keluargaku, atau mencoba mel
Langit siang itu mendung. Awan abu-abu menggantung rendah, membuat suasana rumah sakit jiwa yang berdiri di pinggir kota itu terasa semakin suram. Bangunannya besar, dicat putih pucat dengan pagar tinggi yang mengelilingi area luar. Terlihat bersih dan tenang… tapi justru ketenangan itu terasa tidak nyaman.Safna berdiri di samping Edgar dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Sejak turun dari mobil tadi, ia belum banyak bicara. Entah kenapa langkahnya terasa berat.“Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang,” ujar Edgar pelan sambil meliriknya.Safna menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Meski begitu, Edgar tetap memperhatikan wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berjalan masuk bersama seorang polisi yang mendampingi mereka.Lorong rumah sakit itu sunyi. Hanya suara langkah kaki dan sesekali suara samar dari ruangan lain yang terdengar. Safna tanpa sadar mendekat sedikit pada Edgar. Pria itu langsung menyadarinya. Tangannya bergerak pelan, menggenggam tang







