แชร์

Bab 4. Dia Cemburu

ผู้เขียน: Shappire
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-15 22:45:21

Safna menatap sebal pada pria yang ada di seberang sana, lebih tepatnya berjarak satu meja darinya. Malam ini ia hanya ingin beristirahat di rumah saja. Namun, Edgar memintanya untuk datang ke pesta perusahaan Vantera Grup yang dipenuhi klien-klien besar. 

 Lampu-lampu kristal membuat ballroom terlihat megah, tetapi tidak dengan suasana hatinya. Safna menarik napas lalu dikeluarkan secara perlahan. Ia tidak pernah suka dengan pesta semacam itu karena menurutnya membosankan. Safna mengedarkan pandangannya dan menemukan keberadaan Albert– papanya sedang menyapa klien. 

 Selain tidak suka dengan pesta seperti itu, Safna juga takut jika identitasnya terbongkar karena banyak media. Saat sedang mengamati sekelilingnya, netra hazel gadis itu menangkap siluet perempuan yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut.

 “Tentu saja Maya ada di sini. Dia, kan, tunangan Kak Ega,” gumam Safna dengan sedikit ketus. Bukan karena cemburu, tetapi saat melihat paras cantiknya mengingatkan Safna pada sebuah pengkhianatan beberapa waktu lalu. 

 Sejak malam itu, Safna harus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Seakan semuanya baik-baik saja. Tentu saja atas permintaan paksa Edgar yang sayangnya tidak bisa ditolak oleh Safna dan sampai sekarang belum tahu apa alasan kakaknya itu.

 Bahkan, ia tetap bertemu Leo dan bersikap seperti biasa. Sebenarnya sudah muak dan jijik pada pria itu. Namun, ia teringat ucapan Edgar yang mengatakan ‘Berpura-puralah seolah kamu belum tahu. Akan ada pertunjukan besar yang mereka tidak tahu. Bersabarlah hingga saat itu tiba’.

 “Tcih! Dia benar-benar memainkan perannya,” ujar Safna saat melihat Edgar meraih pinggang Maya sehingga terlihat begitu romantis. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh padanya.

 Sebenarnya, Safna masih belum percaya jika Edgar mencintainya sebagai wanita bukan sebagai adiknya. Ini sulit masuk ke dalam otak kecilnya. Namun, saat teringat pria itu melakukan hal tidak senonoh mau tidak mau akhirnya percaya.

 “Halo adik ipar. Long time no see.”

 Safna yang hendak mengambil kue menoleh. Tangan yang sudah terulur kembali ditarik lalu memberikan sedikit senyuman yang dipaksa. Ia tidak menemukan Edgar di sana–hanya Maya.

 “Bagaimana London sekarang? Sudah lama aku nggak ke sana,” ujar Maya kembali mencari perhatian Safna. 

 “Nggak banyak berubah.”

 Maya terkekeh saat mendengar jawaban Safna yang sedikit ketus padanya. Namun, ia tidak heran karena sejak dulu Safna memang begitu padanya.

 “Well, Safna being Safna. Ternyata London nggak mengubahmu.”

 Safna menghela napasnya pelan. Ia tidak suka dengan basa basi ini.

 “Kalau udah nggak ada keperluan lagi, aku permisi,” ujar Safna yang mulai sesak di dalam gedung megah itu. Ia hanya ingin mencari udara segar untuk bernapas sejenak.

 Safna beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban dari Maya. Namun, baru beberapa langkah ia mendengar sebuah bisikan tepat di telinganya.

 “Bagaimana kalau media tahu bungsu keluarga Reinhardt ada di sini? Bukankah itu bisa menjadi headline bagi mereka? Aku yakin berita nya langsung viral,” bisik Maya sambil menyeringai.

 Safna mengepalkan tangan. Ia menoleh dan tersenyum pada Maya.

 “Silakan kalau kamu bosan hidup. Kamu pasti tahu kalau Kak Edgar nggak suka ada yang menyentuh dan menjatuhkanku. Walau itu kamu–yang katanya tunangan.”

 Safna menarik satu sudut bibirnya saat melihat Maya mengeraskan rahang. Ia yakin jika perempuan itu sedang menahan kesal karena apa yang dikatakan adalah kebenaran. 

 Dengan langkah santai Safna meninggalkan ballroom menuju balkon. Gadis itu menarik napas lalu membuangnya pelan. Ia menatap city light yang menjadi panorama indah dan menenangkan. Sayangnya malam ini tidak ada bintang karena cuacanya mendung.

 “All is well,” gumam Safna memberikan afirmasi positif pada hatinya yang sedang gelisah.

 *** 

 Safna menghapus make up-nya saat baru tiba di rumah. Pesta malam ini membuatnya lelah dan langsung ingin merebahkan tubuhnya di kasur. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan sudah ia tebak jika yang masuk adalah Edgar. Siapa lagi yang masuk tanpa mengetuk pintu selain kakaknya itu.

 Ekor matanya melirik Edgar yang berjalan sambil melonggarkan dasi lalu duduk di bibir ranjangnya.

 “Kalau capek langsung ke kamar kamu aja, Kak. Ngapain ke sini,” ujar Safna tanpa menatap Edgar. Ia hanya tidak ingin berurusan dengan pria itu malam ini.

 “Kenapa kamu pulang duluan?” tanya Edgar yang terdengar kesal.

 “Lalu aku harus menunggu kamu? Jelas itu nggak mungkin, bukan?”

 Terdengar decakan dari belakang, tetapi Safna tidak peduli. Ia tetap melanjutkan kegiatannya. Namun, matanya tetap memperhatikan gerak-gerik Edgar dari cermin di depannya. Tidak ada yang tahu jika pria itu tiba-tiba mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukan?

 “Kembalilah ke kamarmu. Aku mau istirahat.”

 Edgar mengangkat kepalanya lalu menarik satu sudut bibirnya saat Safna mengusirnya secara halus. Alih-alih keluar kamar, ia justru merebahkan tubuh kekarnya di tengah ranjang sambil merentangkan tangannya.

 “Kakak menginap di sini,” ujar Edgar tanpa beban sambil memejamkan matanya.

 Safna meletakkan kapas di meja dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang langsung menarik perhatian Edgar. 

 “Kamu jangan gila, Kak! Mama dan papa ada di rumah jangan seenaknya.”

 “Jadi, kalau mama dan papa nggak di rumah boleh?” tanya Edgar sambil menyeringai. 

 “Ya-ya nggak juga. Pokoknya nggak boleh! Mau ada mereka atau nggak tetap nggak boleh,” ucap Safna dengan tergagap. Matanya masih menatap Edgar dari cermin.

 Safna memutar badannya, tetapi masih duduk di kursi saat melihat Edgar mendekat. Pria itu bahkan kini sudah menunduk, menyamakan tingginya dengan Safna.

 “Awas jangan dekat-dekat,” ujar Safna sambil mendorong pelan dada bidang sang kakak. “Walaupun Leo ketahuan selingkuh, bukan berarti aku mau sama kamu, Kak Ega!” 

 Edgar terkekeh saat melihat wajah ketus adiknya. Namun, baginya justru gadis itu terlihat sangat lucu. Tanpa aba-aba ia mengangkat Safna dan mendudukan di meja rias. Tindakannya hampir saja membuat Safna berteriak jika tidak ingat kedua orang tuanya ada di rumah.

 Pria itu mengungkung Safna supaya sang adik tidak kabur. Tangannya terulur meraih dagu Safna saat gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya.

 “Aku tahu kamu belum mencintaiku. Tapi, aku pastikan sebentar lagi kamu akan jatuh cinta padaku.”

 Safna memutar kedua bola matanya– muak dengan ucapan Edgar.

 “Terserah kamu aja, Kak. Sekarang cepat keluar!”

 Rasanya Safna ingin pergi sekarang juga dari rumah itu. Namun, ia tidak tahu harus membuat alasan apa jika orang tuanya bertanya. Dan satu hal yang pasti, Edgar tidak akan pernah membiarkan rencananya terealisasikan.

 Jika saja Leo tidak berkhianat, sudah pasti sekarang Safna meminta perlindungan pada sang kekasih.

 “Sudah kubilang, aku akan menginap di sini. Aku akan memberi hukuman karena tadi sore siang kamu membiarkan Leo memelukmu,” ucap Edgar sambil mengeraskan rahang karena cemburu.

 Safna menaikkan satu alisnya. “Kamu bilang kalau aku disuruh bersikap biasa aja. Aku sudah seperti biasanya. Lebih aneh kalau aku menghindar, bukankah justru itu membuat dia curiga?” 

 Sebenarnya Safna juga enggan dipeluk oleh Leo. Ia merasa jijik dengan tubuh pria itu.

 Safna melihat tangan Edgar terkepal dan wajah pria itu memerah. Ia yakin jika sebentar lagi Edgar bisa meluapkan amarahnya. Safna menahan napas. Gadis itu tahu, jika sudah begini tidak ada yang dapat menghentikannya, bahkan jika itu dirinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 48. Edgar Menggoda Safna

    Safna berjalan menuju ruangan kepala divisinya. Ia tersenyum saat mendapatkan sapa dari rekan tim lainnya.“Sepada, Kak Fitri,” ujar Safna menyembulkan kepala setelah mengetuk pelan pintu ruangan itu.“Masuk, Na.”Safna masuk sambil tersenyum pada perempuan yang berusia enam tahun di atasnya. “Ini berkas sesuai permintaanmu yang perlu ditandatangani bos besar.”Fitri memijit pelan kepalanya lalu menatap Safna dengan puppy eyes. “Boleh tolong kamu aja yang minta tanda tangan? Kerjaan aku lagi numpuk banget.”Safna menghela napas pelan. “Emang boleh diwakili?” “Boleh, kok.”“Baiklah,” jawab Safna dengan terpaksa.Fitri langsung tersenyum senang dan merentangkan tangannya hendak memeluk Safna. Namun, Safna menghindar.“Kakak berhutang traktir makan siang hari ini pokoknya,” ujar Safna lalu meninggalkan ruangan itu. “Siap. Terima kasih banyak, Safna yang cantik,” teriak Fitri sebelum Safna benar-benar keluar dari sana.Safna tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan. Namun, badannya

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 47. Tepat

    Jane mengerjap setelah mendengar ucapan Edgar yang menurutnya tidak masuk akal.“Jangan bercanda, Ed, nggak lucu. Kasihan Safna masa nggak diakui adik,” ujar Jane sambil menggelengkan kepala dan terkekeh, tetapi hanya sebentar. Tawanya terhenti saat melihat wajah datar Edgar dan diamnya Jayden. Jane merasa ada yang salah.“Jangan bilang itu beneran?” tanya Jane yang masih belum dijawab oleh mereka. “Oke. Apa aku ketinggalan banyak informasi?” Edgar menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara. “Safna bukan adik kandungku, itu faktanya. Aku rasa kalian harus tahu. Jangan tanya bagaimana bisa karena aku nggak berniat menjelaskannya. Dan satu lagi, jangan sampai hal ini bocor sebelum waktunya.”“Sejak kapan kamu tahu?” tanya Jane masih mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya.“Saat aku kecelakaan.” Edgar tahu Jane terkejut dan butuh penjelasan. Namun, ia tidak mau membahasnya lebih jauh. Baginya, fakta itu sudah cukup ia bagikan pada Jane. “Oke. Lebih baik sekarang ki

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 46. Bukan Adik Kandung

    Katakan pada Kak Edgar, nggak perlu mengirim atau membuatku sibuk lagi di luar negeri karena kita sudah putus.Kalimat terakhir Leo sebelum pergi masih terngiang di kepala Safna bahkan setelah pria itu menghilang dari pandangannya.Jadi, Leo tahu jika semua ulah Edgar. Tapi, kenapa dia nggak pernah nolak? Apa karena itu kesempatan bagus untuk kariernya, jadi dia nggak pernah menolak?Safna menggigit bibirnya pelan.Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ia sebenarnya ingin menanyakannya langsung tadi. Namun, percakapan mereka sudah terlalu berat. Dan sebelum Safna sempat membuka topik itu, Leo sudah lebih dulu pamit pergi menuju bandara.Pria itu bahkan belum benar-benar beristirahat setelah penerbangan panjangnya.Safna sempat ingin menahannya. Setidaknya menyuruhnya tidur beberapa jam dulu sebelum kembali terbang. Namun, langkah itu tidak pernah benar-benar ia lakukan. Karena sekarang… ia bukan siapa-siapa lagi bagi Leo.Safna menatap berkas-berkas yang belum di

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 45. Closure

    Pagi itu Safna keluar rumah sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia sudah bersiap berangkat ke kantor, tas kerjanya menggantung di bahu sementara ponsel ada di genggaman. Udara pagi masih terasa sejuk ketika ia menuruni anak tangga teras. Bahkan ia sudah melihat taksi online nya sudah tiba depan.Langkah Safna berhenti sebelum benar-benar keluar halaman. Seseorang berdiri di dekat mobil itu. Awalnya Safna hanya mengira tamu atau mungkin rekan kerja Edgar yang datang terlalu pagi. Namun, ketika orang itu bergerak sedikit dan wajahnya tertangkap cahaya matahari pagi, napas Safna langsung tertahan.“Leo?” Nama itu keluar hampir seperti bisikan.Pria itu berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jaket yang terlihat kusut dan ransel yang masih menggantung di satu bahu. Rambutnya sedikit berantakan, bahkan ada lingkar gelap samar di bawah matanya seolah ia tidak tidur semalaman. Leo menatap Safna tanpa berkedip. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Safna benar-benar tidak menyangka

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 44. Kemarahan Leo

    “Berikan ponselnya pada Safna, Pak Edgar yang terhormat. Jangan karena Anda kakak nya sehingga bisa berbuat sesukanya!” geram Leo dari seberang sana saat sudah kehabisan kesabaran.Edgar terkekeh, baginya kemarahan Leo tidak ada apa-apanya. “Kalau saya bilang dia tidak mau berbicara denganmu, bagaimana?” tanya Edgar dengan santai dan satu tangannya membuka berkas yang ada di meja.“Safna tidak mungkin seperti itu kalau bukan Anda yang melarangnya. Saya sudah mengalah berkali-kali. Saat Safna disuruh pulang waktu jalan dengan saya. Saat Safna disuruh memilih Anda atau saya. Tapi, sekarang saya sudah muak. Saya tidak akan mengalah, apalagi jika Safna mengakhiri hubungan kita atas perintah Anda!” Safna menegang di tempatnya. Ia tidak menyangka Leo akan berbicara sekeras itu pada Edgar.“Oh, ya?” tanya Edgar sambil melirik Safna yang langsung memalingkan wajahnya.“Tapi, saya rasa Safna tidak berpikir sama denganmu. Bagaimana jika aku katakan itu atas keputusannya sendiri?” ucap Edgar s

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 43. Ayo Putus

    Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.Safna terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia tidak benar-benar tidur semalaman. Kalimat Edgar masih menggantung di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.Itu jadi konsumsi publik.Safna menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang aneh—bukan marah, bukan sedih sepenuhnya. Lebih seperti lelah yang menumpuk terlalu lama. Ia bangkit dan meraih ponselnya. Notifikasi dari Leo memenuhi layar.Leo: Kamu sudah tidur?Leo: Jangan lupa makan.Leo: Aku kangen banget.Safna membaca satu per satu tanpa ekspresi. Tidak ada yang salah dari Leo. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada pengakuan dosa.Dan mungkin itu yang membuat semuanya terasa semakin sunyi. Ia sadar satu hal. Ia tidak bisa terus meminta kejelasan dari Edgar sementara dirinya sendiri masih menggantungkan seseorang di ujung sana.Itu tidak adil. Bukan pada Leo, bukan juga dirinya.Safna duduk di tepi ranjang. Tangannya sedikit gemetar saat membuka ruang obrolan itu. Ia tidak ingin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status