LOGINSafna menatap sebal pada pria yang ada di seberang sana, lebih tepatnya berjarak satu meja darinya. Malam ini ia hanya ingin beristirahat di rumah saja. Namun, Edgar memintanya untuk datang ke pesta perusahaan Vantera Grup yang dipenuhi klien-klien besar.
Lampu-lampu kristal membuat ballroom terlihat megah, tetapi tidak dengan suasana hatinya. Safna menarik napas lalu dikeluarkan secara perlahan. Ia tidak pernah suka dengan pesta semacam itu karena menurutnya membosankan. Safna mengedarkan pandangannya dan menemukan keberadaan Albert– papanya sedang menyapa klien. Selain tidak suka dengan pesta seperti itu, Safna juga takut jika identitasnya terbongkar karena banyak media. Saat sedang mengamati sekelilingnya, netra hazel gadis itu menangkap siluet perempuan yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut. “Tentu saja Maya ada di sini. Dia, kan, tunangan Kak Ega,” gumam Safna dengan sedikit ketus. Bukan karena cemburu, tetapi saat melihat paras cantiknya mengingatkan Safna pada sebuah pengkhianatan beberapa waktu lalu. Sejak malam itu, Safna harus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Seakan semuanya baik-baik saja. Tentu saja atas permintaan paksa Edgar yang sayangnya tidak bisa ditolak oleh Safna dan sampai sekarang belum tahu apa alasan kakaknya itu. Bahkan, ia tetap bertemu Leo dan bersikap seperti biasa. Sebenarnya sudah muak dan jijik pada pria itu. Namun, ia teringat ucapan Edgar yang mengatakan ‘Berpura-puralah seolah kamu belum tahu. Akan ada pertunjukan besar yang mereka tidak tahu. Bersabarlah hingga saat itu tiba’. “Tcih! Dia benar-benar memainkan perannya,” ujar Safna saat melihat Edgar meraih pinggang Maya sehingga terlihat begitu romantis. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. Sebenarnya, Safna masih belum percaya jika Edgar mencintainya sebagai wanita bukan sebagai adiknya. Ini sulit masuk ke dalam otak kecilnya. Namun, saat teringat pria itu melakukan hal tidak senonoh mau tidak mau akhirnya percaya. “Halo adik ipar. Long time no see.” Safna yang hendak mengambil kue menoleh. Tangan yang sudah terulur kembali ditarik lalu memberikan sedikit senyuman yang dipaksa. Ia tidak menemukan Edgar di sana–hanya Maya. “Bagaimana London sekarang? Sudah lama aku nggak ke sana,” ujar Maya kembali mencari perhatian Safna. “Nggak banyak berubah.” Maya terkekeh saat mendengar jawaban Safna yang sedikit ketus padanya. Namun, ia tidak heran karena sejak dulu Safna memang begitu padanya. “Well, Safna being Safna. Ternyata London nggak mengubahmu.” Safna menghela napasnya pelan. Ia tidak suka dengan basa basi ini. “Kalau udah nggak ada keperluan lagi, aku permisi,” ujar Safna yang mulai sesak di dalam gedung megah itu. Ia hanya ingin mencari udara segar untuk bernapas sejenak. Safna beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban dari Maya. Namun, baru beberapa langkah ia mendengar sebuah bisikan tepat di telinganya. “Bagaimana kalau media tahu bungsu keluarga Reinhardt ada di sini? Bukankah itu bisa menjadi headline bagi mereka? Aku yakin berita nya langsung viral,” bisik Maya sambil menyeringai. Safna mengepalkan tangan. Ia menoleh dan tersenyum pada Maya. “Silakan kalau kamu bosan hidup. Kamu pasti tahu kalau Kak Edgar nggak suka ada yang menyentuh dan menjatuhkanku. Walau itu kamu–yang katanya tunangan.” Safna menarik satu sudut bibirnya saat melihat Maya mengeraskan rahang. Ia yakin jika perempuan itu sedang menahan kesal karena apa yang dikatakan adalah kebenaran. Dengan langkah santai Safna meninggalkan ballroom menuju balkon. Gadis itu menarik napas lalu membuangnya pelan. Ia menatap city light yang menjadi panorama indah dan menenangkan. Sayangnya malam ini tidak ada bintang karena cuacanya mendung. “All is well,” gumam Safna memberikan afirmasi positif pada hatinya yang sedang gelisah. *** Safna menghapus make up-nya saat baru tiba di rumah. Pesta malam ini membuatnya lelah dan langsung ingin merebahkan tubuhnya di kasur. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan sudah ia tebak jika yang masuk adalah Edgar. Siapa lagi yang masuk tanpa mengetuk pintu selain kakaknya itu. Ekor matanya melirik Edgar yang berjalan sambil melonggarkan dasi lalu duduk di bibir ranjangnya. “Kalau capek langsung ke kamar kamu aja, Kak. Ngapain ke sini,” ujar Safna tanpa menatap Edgar. Ia hanya tidak ingin berurusan dengan pria itu malam ini. “Kenapa kamu pulang duluan?” tanya Edgar yang terdengar kesal. “Lalu aku harus menunggu kamu? Jelas itu nggak mungkin, bukan?” Terdengar decakan dari belakang, tetapi Safna tidak peduli. Ia tetap melanjutkan kegiatannya. Namun, matanya tetap memperhatikan gerak-gerik Edgar dari cermin di depannya. Tidak ada yang tahu jika pria itu tiba-tiba mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukan? “Kembalilah ke kamarmu. Aku mau istirahat.” Edgar mengangkat kepalanya lalu menarik satu sudut bibirnya saat Safna mengusirnya secara halus. Alih-alih keluar kamar, ia justru merebahkan tubuh kekarnya di tengah ranjang sambil merentangkan tangannya. “Kakak menginap di sini,” ujar Edgar tanpa beban sambil memejamkan matanya. Safna meletakkan kapas di meja dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang langsung menarik perhatian Edgar. “Kamu jangan gila, Kak! Mama dan papa ada di rumah jangan seenaknya.” “Jadi, kalau mama dan papa nggak di rumah boleh?” tanya Edgar sambil menyeringai. “Ya-ya nggak juga. Pokoknya nggak boleh! Mau ada mereka atau nggak tetap nggak boleh,” ucap Safna dengan tergagap. Matanya masih menatap Edgar dari cermin. Safna memutar badannya, tetapi masih duduk di kursi saat melihat Edgar mendekat. Pria itu bahkan kini sudah menunduk, menyamakan tingginya dengan Safna. “Awas jangan dekat-dekat,” ujar Safna sambil mendorong pelan dada bidang sang kakak. “Walaupun Leo ketahuan selingkuh, bukan berarti aku mau sama kamu, Kak Ega!” Edgar terkekeh saat melihat wajah ketus adiknya. Namun, baginya justru gadis itu terlihat sangat lucu. Tanpa aba-aba ia mengangkat Safna dan mendudukan di meja rias. Tindakannya hampir saja membuat Safna berteriak jika tidak ingat kedua orang tuanya ada di rumah. Pria itu mengungkung Safna supaya sang adik tidak kabur. Tangannya terulur meraih dagu Safna saat gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya. “Aku tahu kamu belum mencintaiku. Tapi, aku pastikan sebentar lagi kamu akan jatuh cinta padaku.” Safna memutar kedua bola matanya– muak dengan ucapan Edgar. “Terserah kamu aja, Kak. Sekarang cepat keluar!” Rasanya Safna ingin pergi sekarang juga dari rumah itu. Namun, ia tidak tahu harus membuat alasan apa jika orang tuanya bertanya. Dan satu hal yang pasti, Edgar tidak akan pernah membiarkan rencananya terealisasikan. Jika saja Leo tidak berkhianat, sudah pasti sekarang Safna meminta perlindungan pada sang kekasih. “Sudah kubilang, aku akan menginap di sini. Aku akan memberi hukuman karena tadi sore siang kamu membiarkan Leo memelukmu,” ucap Edgar sambil mengeraskan rahang karena cemburu. Safna menaikkan satu alisnya. “Kamu bilang kalau aku disuruh bersikap biasa aja. Aku sudah seperti biasanya. Lebih aneh kalau aku menghindar, bukankah justru itu membuat dia curiga?” Sebenarnya Safna juga enggan dipeluk oleh Leo. Ia merasa jijik dengan tubuh pria itu. Safna melihat tangan Edgar terkepal dan wajah pria itu memerah. Ia yakin jika sebentar lagi Edgar bisa meluapkan amarahnya. Safna menahan napas. Gadis itu tahu, jika sudah begini tidak ada yang dapat menghentikannya, bahkan jika itu dirinya.“Kak, kalau kamu terus begini yang ada aku jadi takut bukan jatuh cinta. Kalau kamu benar-benar peduli harusnya berhenti memaksaku. Lagi pula, perasaanmu bukan tanggung jawabku,” ujar Safna lirih saat melihat mata tajam dan dingin milik Edgar. Edgar menggertakan giginya. Sekali lagi ia harus mendapatkan penolakan dari Safna. Namun, bukan itu yang menyentil hatinya. Adiknya yang dulu selalu berlindung dibalik badannya, tapi kini justru kini ia yang membuat gadis itu merasa tidak aman dan ketakutan. Dua kali ia melihat wajah tertekan Safna, malam itu dan sekarang. Edgar menarik kedua lengannya–menjauh dari Safna. Ia mengambil kunci mobil yang ada di ranjang lalu keluar kamar Safna sambil membanting pintu hingga membuat sang adik terlonjak. Edgar menuruni anak tangga menggunakan kaki panjangnya mengabaikan panggilan dari sang papa. Begitu tiba di halaman, ia langsung masuk mobil dan mengemudikannya. Edgar bahkan tidak tahu kemana tujuannya saat ini. Ia hanya ingin melampiaskan amar
Safna menatap sebal pada pria yang ada di seberang sana, lebih tepatnya berjarak satu meja darinya. Malam ini ia hanya ingin beristirahat di rumah saja. Namun, Edgar memintanya untuk datang ke pesta perusahaan Vantera Grup yang dipenuhi klien-klien besar. Lampu-lampu kristal membuat ballroom terlihat megah, tetapi tidak dengan suasana hatinya. Safna menarik napas lalu dikeluarkan secara perlahan. Ia tidak pernah suka dengan pesta semacam itu karena menurutnya membosankan. Safna mengedarkan pandangannya dan menemukan keberadaan Albert– papanya sedang menyapa klien. Selain tidak suka dengan pesta seperti itu, Safna juga takut jika identitasnya terbongkar karena banyak media. Saat sedang mengamati sekelilingnya, netra hazel gadis itu menangkap siluet perempuan yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut. “Tentu saja Maya ada di sini. Dia, kan, tunangan Kak Ega,” gumam Safna dengan sedikit ketus. Bukan karena cemburu, tetapi saat melihat paras cantiknya mengingatkan Safna pada sebuah
Jantung Safna, yang tadinya sudah berdegup kencang karena pelariannya dari rumah, kini seolah berhenti berdetak selama sedetik. Ahh, mungkin itu sepatu milik adik perempuan Leo yang datang berkunjung? Atau mungkin sepatu pemotretan yang terbawa pulang? Namun, begitu pintu kamar itu sedikit terbuka, terdengar suara-suara yang membuat darah Safna mendidih sekaligus membeku di saat yang bersamaan. “Ahh, Leo, iya di situ. Pacarmu Safna ga bisa ngasih goyangan kayak gini, kan?” “Diam, Maya! Jangan pernah bahas Safna waktu kita sedang bercinta. Nama itu membuatku mual, aku tidak mau mendengarnya saat aku sedang menikmati semua tubuhmu!” “Bagus, itu baru Leo yang aku kenal.” “Sayang, sekarang gantian, biar aku yang di atas. Aku udah tidak tahan lagi, sebentar lagi aku udah keluar ini. Desah yang keras ya, buat aku benar-benar terbang ke langit!” Sekujur tubuh Safna gemetar hebat saat dia mendengar percakapan itu. Dia tidak ingin melihat siapa yang ada di dalam kamar. Namun, rasa ingi
Edgar tidak menggubris teriakan Safna. Dia melangkah masuk dengan tenang, lalu menutup pintu di belakangnya. Klik. Dia menguncinya dari dalam, lalu memasukkan kunci itu ke saku celananya. Safna mundur, merangkak naik ke atas kasur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang king size itu. "Kak, pliss, jangan gila ya! Ini kamar aku, atau aku aduin ke keamanan. Cepat keluar, Kaaaakkk!?" Edgar berjalan mendekat dan berhenti tepat di tepi ranjang, menatap Safna yang meringkuk ketakutan. "Kenapa dikunci, hm? Apa kamu takut ada nyamuk yang masuk lagi?" "Kak Ega, please..." Air mata Safna mulai menggenang. "Jangan kayak gini. Kita saudara, Kak." Edgar tertawa kecil, lalu meletakkan satu lututnya di atas kasur. "Saudara? Kalau kita saudara, kenapa tubuhmu bereaksi begitu jujur pada sentuhanku semalam, Safna?" Darah Safna berdesir hebat. Pengakuan itu. "Jadi kemarin malam, itu benar kamu, Kak?" Safna menatap Edgar dengan pandangan jijik dan tidak percaya. "Kamu yang lakuin ini? Aku ng
"Jangan!” Gadis itu bergumam dengan mata terpejam. Ia merasa ada sosok pria berada di dekatnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan napas berat pria itu di telinganya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Akan tetapi, tubuh pria itu tidak asing baginya, bahkan aroma parfum yang menempel pada tubuh pria itu seolah sangat dikenali. “Shh.” Terdengar suara desisan keluar dari bibir ranum seorang gadis yang sedang terbaring gelisah di ranjang empuk queen size dengan seprai berwarna merah muda. Tangannya meremas bedcover yang ada di kedua sisi gadis itu. Gadis itu ingin menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat. Sentuhan itu terlalu nyata hingga membuat tubuhnya seolah terbakar. “Aah.” Safna merutuki dirinya karena menikmati sentuhan dari orang yang jelas-jelas tidak dikenalnya. “Ternyata cuma mimpi aja!” Tidak lama kemudian ia tersadar dan membuka mata. Gadis itu menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingi







