MasukKeheningan itu tidak lagi terasa canggung. Bagi Jasmin, berada di sisi Reyan seperti menemukan tempat beristirahat setelah berlari terlalu lama. Bahunya yang menjadi sandaran membuat tubuhnya perlahan rileks, seolah semua beban yang menekan bisa dibagi.
“Aku kadang mikir,” suara Jasmin keluar lirih, “kalau aja aku nggak pernah ketemu kamu, hidupku mungkin tetap sama. Datar, kosong, dan… dingin.”Reyan menoleh sedikit, matanya mengamati wajah Jasmin yang masih menempel di bahSenyum di Balik Topeng**Acara charity gala itu selalu diadakan setiap tahun.Bagi sebagian orang, itu malam untuk menunjukkan kekayaan dan pengaruh.Bagi Reyan, itu malam yang penuh perang diam—antara penampilan dan kenyataan.Jasmin berdiri di depan cermin panjang di ruang rias, mengenakan gaun berwarna biru tua yang sederhana tapi elegan. Rambutnya diikat rapi ke belakang, menekankan garis rahangnya. Bibirnya dioles tipis, mata tajam namun lembut.“Sudah siap?” suara Reyan terdengar dari belakang.Jasmin menoleh. Ia melihatnya mengenakan setelan hitam klasik, dasi abu gelap, tapi matanya… mata itu tetap membawa ketegangan yang sulit disembunyikan.“Aku tidak pernah siap untuk menghadapi dunia,” balas Jasmin pelan, menahan senyum kecil.Reyan mendekat, menatapnya. “Kamu tampak… seperti milikku.”Jasmin menahan tawa. “Jangan bicara seperti itu di sini. Semua orang akan menatap kita seperti drama.”Hening. Mereka
Jejak yang Tidak Pernah Hilang**Pagi itu tidak ada firasat buruk.Langit cerah. Udara bersih setelah hujan semalam. Bahkan suasana kantor terasa lebih ringan dibanding minggu-minggu sebelumnya.Jasmin baru saja duduk di ruangannya ketika ponselnya bergetar.Satu notifikasi.Lalu dua.Lalu sepuluh.Alisnya berkerut.Ia membuka salah satu pesan dari asisten marketing.“Kak, ini harus segera dilihat.”Tautan berita.Judulnya sederhana.Terlalu sederhana.“Direktur Muda dan Wanita yang Pernah Jadi Adiknya Sendiri?”Darah Jasmin terasa turun.Ia membuka artikelnya.Foto lama.Foto saat acara keluarga dua tahun lalu. Saat mereka masih benar-benar hanya kakak dan adik tiri di mata publik. Reyan berdiri agak jauh darinya. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kedekatan yang mencurigakan.Tapi narasinya dipelintir.Kedekatan yang
Meja Makan yang Terang**Rumah keluarga Reyan berdiri megah di kawasan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Bangunannya tidak berlebihan, tapi setiap detailnya menunjukkan kekuasaan yang sudah mapan—bukan baru.Jasmin berdiri di depan gerbang besi hitam itu dengan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya.“Masih bisa kabur,” gumamnya pelan pada diri sendiri.“Sudah terlambat.”Suara Reyan datang dari belakangnya.Ia mengenakan setelan kasual rapi, jauh lebih santai daripada biasanya, tapi tetap terlihat seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan ruangan.“Kamu sengaja datang tanpa suara?” tanya Jasmin.“Kamu kelihatan seperti mau lari.”“Aku mempertimbangkan.”Reyan tersenyum tipis.“Kamu bilang tidak takut ruang makan formal.”“Aku tidak bilang tidak tegang.”Hening sejenak.Reyan mendekat, suaranya merendah.“Kamu tidak sendirian.”
Setelah Kemenangan**Kemenangan itu tidak terasa seperti perayaan.Lebih seperti napas panjang yang akhirnya dilepaskan setelah ditahan terlalu lama.Sore hari setelah voting, kantor tetap berjalan seperti biasa. Laporan tetap masuk. Rapat tetap dijadwalkan. Email tetap berdatangan tanpa peduli pada drama yang baru saja terjadi.Tapi bagi Reyan, ada sesuatu yang berubah.Bukan pada kursinya.Pada dirinya.Ia berdiri di depan jendela ruang kerja, jasnya sudah dilepas, dasinya longgar. Di bawah sana, kota tetap bergerak. Mobil-mobil kecil seperti titik cahaya yang tak pernah berhenti.Pintu diketuk pelan.“Masuk.”Jasmin melangkah masuk, kali ini tanpa sorotan kamera, tanpa tatapan dewan.Hanya mereka berdua.“Kamu masih di sini,” katanya.“Masih,” jawab Reyan.Ia berbalik. Tatapannya lebih ringan dari pagi tadi, tapi ada garis baru di sana. Garis seseorang yan
Hari Pemungutan Suara**Pagi itu datang dengan langit yang terlalu cerah.Seolah kota tidak tahu bahwa di salah satu gedung tertinggi pusat bisnis, sebuah keputusan sedang menunggu untuk dijatuhkan.Reyan berdiri di depan cermin ruang gantinya. Jas hitam. Dasi abu gelap. Rambutnya disisir rapi, tapi ada garis lelah di sudut matanya yang tidak bisa disamarkan.Ia menatap refleksinya beberapa detik lebih lama dari biasanya.“Ini hanya rapat,” gumamnya pelan.Tapi bukan hanya itu.Hari ini bukan tentang angka.Bukan tentang laporan kuartal.Ini tentang legitimasi.Tentang apakah ia masih dipercaya memimpin.Dan jauh di dalam dadanya, ada satu pertanyaan yang tidak ia ucapkan keras-keras:Apakah aku akan menyesal setelah ini?Ponselnya bergetar.Nama Jasmin muncul.Ia mengangkatnya tanpa ragu.“Kamu sudah berangkat?” suara Jasmin terdengar lebih
Harga Sebuah Nama**Voting itu dijadwalkan lebih cepat dari dugaan.Dua hari.Hanya dua hari sebelum dewan menentukan apakah Reyan tetap memimpin—atau “beristirahat sementara” demi stabilitas.Istilah yang terdengar sopan.Tapi artinya jelas.Digantikan.⸻Reyan berdiri di depan jendela ruang kerjanya ketika asistennya masuk.“Pak, beberapa pemegang saham mulai ragu. Mereka bilang tekanan media terlalu besar.”“Berapa persen?” tanya Reyan tanpa menoleh.“Belum pasti. Tapi… Frederick aktif sekali menghubungi mereka.”Reyan tersenyum tipis.“Tentu saja.”Asisten itu ragu sejenak.“Pak… dengan segala hormat, apakah semua ini sepadan?”Pertanyaan itu polos.Tapi nyata.Reyan akhirnya menoleh.“Kamu sudah bekerja denganku berapa lama?”“Lima tahun.”“Selama itu, pernahkah aku membuat keputusan gegabah?”







