Home / Young Adult / Terjebak Cinta Ketua Geng / Part 33 — Jangan Takut, Gue Ada

Share

Part 33 — Jangan Takut, Gue Ada

Author: Senia Dea
last update publish date: 2026-09-18 19:58:13

Bel istirahat berbunyi tepat ketika Aeloria menutup buku dan langsung berdiri dari kursinya. Ia memasukkan alat tulis ke dalam tas kecil, lalu menoleh ke arah Freyana dan Vania yang masih membereskan meja. Perutnya sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu, tetapi ia terlalu malas mengaku kalau dirinya memang sudah kelaparan.

“Cepetan.”

Freyana mengangkat wajah. “Lah, lo yang paling lama kalau siap-siap.”

“Gue udah selesai dari tadi.”

Vania menunjuk tas Aeloria. “Itu resletingnya aja belum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 110

    Aeloria menatap halaman novel di tangannya dengan alis berkerut. Sejak bel istirahat berbunyi, ia sengaja pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan beberapa bab yang tertunda. Suasana tenang dan deretan rak buku membuatnya bisa membaca tanpa harus mendengar ocehan Freyana maupun Vania. Setidaknya, itu rencananya. "Ael." Aeloria pura-pura tidak mendengar. "Aeloria Valeska." Ia membalik halaman dengan santai. "Perpustakaan, bukan pasar. Bisa diam nggak?" Seseorang menarik kursi di hadapannya. Aeloria mengangkat wajah dan langsung mendapati Alaric sedang duduk sambil menahan senyum. "Lo ngapain di sini?" "Mau nemenin pacar gue." "Gue lagi baca." "Gue tahu." "Kalau tahu, kenapa masih ganggu?" Alaric menyandarkan punggungnya. "Gue cuma duduk." Aeloria memutar bola mata, lalu kembali menunduk. Ia mencoba mengabaikan keberadaan cowok itu, meskipun sesekali matanya menangkap Alaric yang sibuk memperhatikan sekeliling perpustakaan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Aeloria

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 109

    Aeloria sedang berjalan menuju kantin bersama Freyana dan Vania ketika langkahnya mendadak melambat. Dari kejauhan, ia melihat Alaric berdiri di dekat koridor bersama seorang siswi perempuan. Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu sambil sesekali melihat lembaran kertas yang dipegang siswi itu. Aeloria mengalihkan pandangan, lalu kembali berjalan seolah tidak melihat apa-apa. Namun, matanya beberapa kali melirik ke arah mereka. "Lo kenapa?" tanya Freyana. "Nggak kenapa-kenapa." Vania mengikuti arah pandang Aeloria, kemudian menyeringai kecil. "Oh, pantesan jalannya mendadak lelet." Aeloria langsung menoleh tajam. "Mulut lo bisa nggak, sih, nggak usah berisik?" Freyana menahan tawa. "Padahal kita belum ngomong apa-apa." "Makanya jangan mulai." Ketiganya melanjutkan perjalanan menuju kantin. Aeloria memilih duduk di salah satu meja, lalu membuka botol minumnya dengan gerakan sedikit kasar. Ia berusaha fokus pada obrolan kedua temannya, tetapi bayangan Alaric yang masih bera

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 108

    Aeloria menatap hasil dekorasi kelas yang baru saja selesai dipasang. Kedua tangannya bertolak pinggang, sementara matanya menyipit melihat salah satu hiasan kertas yang menggantung miring di sudut papan. Dia sudah mengingatkan teman-temannya agar memasang semuanya dengan rapi, tetapi tetap saja ada yang tidak mengikuti instruksinya. “Siapa yang masang ini?” Vania mengangkat tangan pelan. “Gue.” Aeloria menoleh tajam. “Kenapa miring?” “Kayaknya tadi udah lurus.” “Kayaknya? Elo masang dekorasi pakai perasaan?” Freyana yang sedang merapikan meja langsung tertawa. Vania mengambil kursi untuk memperbaiki hiasan tersebut, sementara Aeloria mengawasi dari bawah dengan ekspresi serius. Dia baru mengangguk puas setelah posisi hiasan itu benar-benar lurus. “Nah, gitu. Susah, kan, kalau dikerjain dengan benar?” “Elo tuh kalau jadi guru pasti muridnya pada pindah sekolah,” celetuk Vania. “Bagus. Berarti kelas gue bakal lebih tenang.” Freyana kembali tertawa. Aeloria mengambil tasnya da

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 107

    Pagi itu, Aeloria tiba di sekolah dengan suasana hati yang cukup baik. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa, melainkan karena dia berhasil menyelesaikan novel yang dibacanya semalam. Bahkan, sepanjang perjalanan menuju kelas, sudut bibirnya sempat terangkat ketika mengingat akhir cerita yang menurutnya memuaskan. Namun, suasana hati itu langsung berubah ketika melihat meja belajarnya dipenuhi kertas warna-warni. Aeloria berhenti di depan bangku. “Ini apaan?” Freyana yang sedang menggunting kertas menoleh. “Oh, itu bahan dekorasi buat acara sekolah. Tadi ketua kelas nitip di meja elo.” “Kenapa meja gue?” “Katanya biar gampang dibagiin.” Aeloria meletakkan tasnya dengan sedikit keras. “Gampang buat siapa? Buat dia, iya. Buat gue, enggak!” Vania yang duduk di belakangnya terkekeh. “Baru pagi udah marah.” “Gue belum marah. Ini masih pemanasan.” Freyana mengambil beberapa lembar kertas dari meja Aeloria. “Tenang, kita kerjain bareng. Elo tinggal bantu gunting bagian yang ini.”

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 106

    Aeloria berdiri di depan gerbang sekolah sambil berkali-kali melihat jam tangannya. Sudah hampir lima belas menit sejak bel pulang berbunyi, tetapi Alaric belum juga muncul. Tangannya yang memegang tali tas mulai mengetuk-ngetuk lengan, sementara wajahnya semakin masam setiap kali melihat motor yang lewat tanpa berhenti. “Elo yakin Alaric bakal jemput?” tanya Freyana. Aeloria meliriknya tajam. “Kalau nggak yakin, gue udah pulang dari tadi.” “Ya, siapa tahu dia ada urusan.” “Kalau ada urusan, bisa ngomong. Susah banget, sih, ngasih kabar?” Vania yang berdiri di samping Freyana mengangkat bahu. “Mungkin masih di kelas.” Aeloria mengeluarkan napas kasar. Dia sudah berusaha menghubungi Alaric lewat panggilan telepon, tetapi belum mendapat jawaban. Bukan karena dia tidak bisa pulang sendiri, melainkan karena mereka sudah sepakat Alaric akan menjemputnya hari ini. “Udah, kalian pulang aja. Gue tunggu sebentar lagi.” Freyana mengangguk, lalu melambaikan tangan sebelum pergi bersama V

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 105

    Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapannya. Gadis itu mengernyit, melirik kotak tersebut, lalu menatap sahabatnya dengan curiga. “Apaan ini?” “Buka aja.” “Kalau isinya cicak, gue masukin ke tas elo.” “Ya ampun, Ael! Mana mungkin gue ngasih elo cicak?” “Elo pernah masukin permen karet ke rambut gue waktu kelas sepuluh. Jadi, jangan tanya kenapa gue nggak percaya sama elo.” Vania yang sedang merapikan buku langsung tertawa. Freyana mendengus kesal, lalu mendorong kotak itu lebih dekat. Dengan ekspresi seolah sedang melakukan pemeriksaan barang bukti, Aeloria membuka tutupnya dan menemukan beberapa penjepit buku berbentuk bunga kecil. “Lucu, kan?” ujar Freyana. “Gue lihat kemarin, terus kepikiran elo.” Aeloria mengambil salah satunya dan memeriksa bagian belakangnya. “Lumayan. Tapi kenapa bunganya warna kuning? Gue nggak terlalu suka kuning.” “BALIKIN!” Aeloria buru-buru menutup kotak itu dan menariknya menjauh. “Elo sendiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status