ANMELDENGina, seorang wanita muda yang bekerja sebagai manajer aktor papan atas, harus terus bersabar menghadapi Rajendra Bimasena, sosok lelaki arogan dan seenaknya yang selalu membuatnya kewalahan. Di depan publik, Rajen dikenal sebagai aktor sempurna dengan citra yang nyaris tanpa cela. Namun di balik layar, hanya Gina yang mengetahui sisi buruknya. Berkali-kali Gina ingin mengundurkan diri, tetapi Rajen selalu menahannya. Hingga perlahan, rahasia tentang trauma dan masa lalu kelam Rajen mulai terungkap. Mampukah Gina tetap bertahan ketika ia akhirnya mengetahui alasan di balik sikap Rajen selama ini?
Mehr anzeigenPonsel yang tergeletak sembarangan di pinggir ranjang terus berdering. Lagu After Dark milik grup Orion berulang kali terdengar, perlahan mengusik seseorang yang masih terlelap di balik selimut.
Dengan malas, pemilik ponsel itu meraba-raba permukaan kasur. Tangannya bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya menemukan benda yang terus berisik tersebut. Tanpa melihat layar, ia langsung mengangkat panggilan. "Hallo..." sapanya dengan suara serak. Kedua matanya bahkan masih terpejam. "Batalin semua jadwal gue hari ini." Suara berat dari seberang telepon membuat wanita itu mengernyit. Ia justru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. "Siapa lo? Ganggu tidur gue aja." "Barusan lo bilang apa?" Nada suara pria itu berubah lebih tajam. "Lo tanya siapa gue?" Wanita tersebut masih belum membuka mata. "Heh, gue bos lo! Amnesia lo?" Barulah ia tersadar. Gina membuka mata dan menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat layar. Rajensinting. Gina mengusap wajahnya yang masih kusut. "Iya, sorry. Gue baru bangun. Nggak sadar kalau lo yang nelpon." "Terserah. Intinya, batalin semua jadwal gue hari ini." Mendengar itu, Gina langsung duduk. "Kenapa? Lagi PMS lo?" "Jangan asal ngomong." Rajen mengembuskan napas. "Gue cuma lagi nggak mau pergi." Gina mengerutkan kening. Hari ini Rajen memiliki jadwal pemotretan majalah. Membatalkannya secara mendadak bukan perkara sederhana. "Lo ada pemotretan hari ini. Gue nggak bisa ngebatalin seenaknya." "Gue tahu." "Tapi lo tetap nggak mau?" "Iya." Hening sejenak. Kemudian suara Rajen terdengar lebih rendah. "Gue cuma minta satu hari. Jangan bikin gue pergi." Gina menyipitkan mata. Ia sudah hafal nada tersebut. Rajen sedang menggunakan rasa malasnya sebagai senjata. "Oh, yaudah." Senyum licik perlahan muncul di wajah Gina. "Nanti gue bilang ke mereka kalau lo lagi males dan nggak niat kerja. Biar mereka tahu kalau lo ternyata nggak sesuci itu di belakang kamera." "Gina..." "Pokoknya gue jemput jam satu siang. Jangan sampai gue datang terus lo belum siap." Rajen tidak langsung menjawab. Namun, sebelum panggilan berakhir, pria itu justru bertanya, "Lo udah sarapan?" "Hah?" "Gue tanya, lo udah sarapan belum?" "Belum." "Nah, kan." Rajen terdengar menghela napas. "Setiap bangun tidur, lo langsung kerja. Harusnya makan dulu." Gina tanpa sadar tersenyum kecil. "Iya..." "Jangan cuma bilang iya." "Lo kalau perhatian kenapa harus galak, sih?" "Gue nggak perhatian." Jawabannya terlalu cepat hingga Gina terkekeh. "Iya, iya. Terserah lo." "Udah. Gue tutup." Klik. Gina menatap layar ponselnya beberapa detik. "Dasar gengsian." Ia hendak kembali merebahkan tubuh, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu: pemotretan. Mata Gina langsung membesar. "Sial!" --- Wanita itu bernama Astagina Dirandra, atau biasa dipanggil Gina. Usianya dua puluh tujuh tahun. Ia baru lulus kuliah setahun lalu dari jurusan manajemen dan sempat bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan kuliner. Sayangnya, perusahaan itu bangkrut. Gina kemudian menganggur hampir enam bulan sebelum menemukan lowongan sebagai manajer artis. Tanpa berpikir panjang, ia mengirimkan lamaran. Keputusan itulah yang mengubah hidupnya. Bukan menjadi lebih baik. Setidaknya, menurut Gina. Sebab, artis yang harus ditanganinya bernama Rajendra Bimasena. Rajen adalah aktor kelas atas dengan wajah yang hampir selalu muncul di layar televisi. Di depan kamera, ia dikenal sopan, tenang, murah senyum, dan nyaris tanpa cela. Namun, Gina mengenal sisi lain pria itu. Rajen sebenarnya hanya dingin, tidak suka basa-basi, sangat menjaga privasi, dan yang paling menyebalkan—gengsian setengah mati. Sudah hampir enam bulan Gina menjadi manajernya. Selama itu pula, ia mulai memahami bahwa sebagian besar omelan Rajen sebenarnya adalah bentuk perhatian yang dibungkus dengan gengsi. Gina lupa makan? Rajen akan mengomel. Gina bekerja sampai larut malam? Rajen akan menyuruhnya pulang. Gina datang ke kantor dalam keadaan demam? Rajen bisa memarahinya habis-habisan, lalu diam-diam mengirimkan makanan dan obat ke apartemennya. Ketika ditanya, jawabannya selalu sama. "Gue cuma nggak mau manajer gue sakit." Begitulah Rajen. Ia tidak pernah benar-benar kasar kepada Gina. Hanya saja, pria itu tampaknya tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan kepedulian dengan cara normal. --- Pukul satu siang, Gina tiba di apartemen Rajen. Ia menekan bel, namun tidak ada jawaban. Setelah beberapa kali bel ditekan, akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan Rajen yang muncul dengan rambut berantakan dan wajah bantalnya. "Lo baru bangun?" "Tunggu lima menit." "Pemotretan satu jam lagi." Gina menyilangkan tangan di dada. "Cepetan siap-siap sebelum gue beberin semua kejelekan lo ke media." Rajen hanya mendengus sebelum kembali masuk. Lima menit kemudian, ia keluar dengan penampilan yang sudah rapi. Pemotretan berlangsung hampir dua jam. Di depan kamera, Rajen kembali menjadi sosok yang berbeda. Senyumnya sempurna, gesturnya profesional, dan setiap arahan fotografer diikuti tanpa banyak protes. "Ya! Perfect!" Setelah sesi pemotretan terakhir selesai, Rajen masih meluangkan waktu untuk berfoto dan memberikan tanda tangan kepada beberapa staf. Baru setelah itu ia pamit dan menghampiri managernya. "Heh, Astaga!" Gina langsung menoleh. "Hah? Astaga apa?" Rajen menatapnya. Gina langsung mengerti. "Oh, lo manggil gue?" Rajen mengangguk. "Sialan! Nama gue Astagina! As-ta-gi-na! Udah berapa kali gue bilang nama gue bukan Astaga?" "Gue tahu." "Terus kenapa masih dipanggil begitu?" "Karena lucu." Rajen tertawa kecil. Namun, tawa singkat itu membuat Gina terdiam. Ia jarang sekali melihat pria tersebut tertawa tanpa dibuat-buat. Rajen kembali memasang wajah datarnya. "Ngomong-ngomong, jadwal gue udah kosong, kan?" "Siapa bilang?" Rajen mengerutkan kening. "Lo bilang setelah pemotretan gue bebas." "Gue nggak pernah bilang begitu." Gina menyalakan mesin mobil. "Kita harus ketemu Pak Sony. Katanya ada project baru buat lo." Rajen langsung menghela napas. "Project apa?" Gina tersenyum tipis. "Nanti juga lo tahu." "Kenapa nggak bilang dari awal?" "Karena gue tahu lo bakal protes." Rajen menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya beralih ke jendela. "Gue nggak suka keputusan tentang pekerjaan gue dibuat tanpa ngomong sama gue." Nada suaranya terdengar lebih serius kali ini. Gina melirik melalui kaca spion. Ia tahu Rajen memang tidak suka kehilangan kendali atas hidupnya. "Tenang. Lo cuma perlu datang dan dengar penjelasannya." "Kalau gue nggak mau?" Gina tersenyum miring. "Gue tinggal bilang ke Pak Sony kalau artis kesayangannya sedang tantrum." Rajen menoleh tajam. "Jangan macam-macam." Gina tertawa kecil lalu memperbesar volume musik untuk menghindari omelan berikutnya. Namun, ia belum tahu bahwa project yang menunggu mereka hari itu bukanlah pekerjaan biasa. Dan keputusan yang akan dibuat Rajen setelah mendengar penjelasan Pak Sony akan membawa mereka ke sebuah tempat yang bahkan belum pernah Gina dengar sebelumnya. Sebuah desa terpencil, bernama Desa Getih.Rajen menatap Gina dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan refleks menyentuh bagian belakang kepalanya yang sejak tadi terasa nyeri. "Lo semalam mukul gue?! Gila lo!" Gina menundukkan wajahnya sedikit. Ia merasa bersalah, tetapi tetap berusaha menjelaskan kejadian tersebut. "Ya. Lo ngetuk-ngetuk pintu apartemen gue kayak hantu." Nada suaranya mengecil. "Gue juga takutnya ada orang cabul, psikopat, atau pembunuh. Ya udah, gue bawa wajan aja buat alat perlindungan diri." Gina menggaruk pelipisnya. "Untung gue nggak bawa pisau. Kalau pisau yang gue bawa, lo pasti udah gue tusuk." Rajen terdiam. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Sialan! Pantes kepala gue sakit banget." Gina hanya meringis kecil. "Sorry, namanya juga refleks." Untuk beberapa saat, suasana kembali hening. Gina memperhatikan Rajen yang kembali menyantap supnya. Wajah lelaki itu masih terlihat lelah, tetapi kali ini ekspresinya tidak sekaku biasanya. "Lo beneran lagi nggak ada masalah, kan?" t
Rajen mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kedua matanya karena sayup-sayup terdengar suara lagu yang diputar sangat keras."Ini gue masih di bar? Kayaknya gue mabuk banget sampai nggak ingat apa-apa", batinnya bingung.Rajen perlahan bangkit dari karpet bulu yang menjadi alas tidurnya sejak semalam. Ia mengucek kedua matanya sembari berusaha mengingat kejadian setelah dirinya mabuk. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru terasa semakin pusing. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rajen berusaha berdiri sambil berpegangan pada sofa. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung mencari toilet karena rasa mual di perutnya semakin menjadi."Oh, lo udah sadar?" tanya Gina santai dari tempat duduknya. Ia melirik Rajen yang berjalan seperti orang kehilangan arah. "Mau muntah? Itu toiletnya ada di ujung."Rajen yang belum mampu berpikir jernih hanya mengangguk. Ia segera mempercepat langkahnya menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin memunta
Gina membelalakkan matanya, tak menyangka Rajen akan mengatakan sesuatu yang sangat frontal. "Hah? Lo mau nginep di apartemen gue? Lo gak lagi kesambet, kan?" "Gue masih sadar kok ini. Gimana, boleh?" "Stress! Ini makanan lo, terus lo balik ke apartemen lo lagi sebelum gue digrebek fans lo." Ia menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya. Namun Rajen hanya diam, membuat Gina kehilangan kesabaran. Bungkusan itu pun dilempar begitu saja ke arah Rajen. Rajen tersentak dan hampir saja memarahi Gina. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu apartemennya. Rajen memandang pintu tersebut cukup lama. “Cuma lo yang berani bersikap kayak gini ke gue.” Ia membungkuk mengambil bungkusan makanan tadi. “Gue kira lo sama kayak wanita lainnya di luar sana... ternyata lo beda.” Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Rajen terlihat sedikit melunak sebelum ia kembali ke apartemennya. Di dalam kamar, Gina justru merasa bersalah. Ia memang kesal kepada Rajen, tetapi buk
“Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!" Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di kerama












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.