登入Aeloria berdiri di depan gerbang sekolah sambil berkali-kali melirik jam tangannya. Hari ini ia sengaja datang lebih awal karena punya rencana setelah pulang sekolah, tetapi ada satu hal yang lebih penting: memastikan Alaric tidak terlambat menjemputnya lagi. Gadis itu merapikan tali tasnya, lalu mengembuskan napas kesal ketika melihat beberapa siswa sudah berjalan melewatinya. “Kalau dia telat lagi, gue sumpahin kunci mobilnya hilang,” gumamnya. “Nyumpahin siapa, Sayang?” Aeloria langsung menoleh. Alaric berdiri beberapa langkah darinya dengan dua gelas minuman di tangan, sementara senyum jahil sudah menghiasi wajahnya. Gadis itu memeriksa jam tangannya, lalu kembali menatap Alaric dengan ekspresi curiga. “Elo datang tepat waktu?” Alaric mengangkat pergelangan tangannya. “Lima menit lebih awal, malah.” Aeloria menyipitkan mata. “Tumben. Elo habis kesambet apa?” “Gue cuma nggak mau ditinggal pacar sendiri.” “Bagus. Berarti otak elo masih bisa dipakai.” Alaric menyerahkan sala
Aeloria menatap layar jam di dinding kelas dengan alis berkerut. Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, tetapi Alaric belum juga muncul di depan kelas seperti yang dijanjikannya pagi tadi. Gadis itu memasukkan buku ke dalam tas dengan gerakan kasar, sementara Freyana dan Vania berdiri di dekat pintu sambil memperhatikannya. “Elo nggak pulang duluan?” tanya Vania. “Nunggu siapa lagi kalau bukan cowok nggak tahu waktu itu?” gerutu Aeloria. Freyana menyeringai. “Katanya kalau Alaric telat, elo bakal pulang naik ojek.” “Gue bisa berubah pikiran!” “Ya udah, pulang aja.” Aeloria menyambar tasnya, lalu berjalan keluar kelas. “Memangnya gue takut?” Namun, langkahnya melambat begitu tiba di koridor. Ia melirik ke arah tangga, berharap melihat sosok Alaric yang biasanya muncul dengan senyum menyebalkan dan sapaan manisnya. Tidak ada siapa-siapa selain beberapa siswa yang sedang bergegas menuju gerbang. Aeloria mengeluarkan ponselnya, kemudian memasukkannya kembali ke tas ta
Aeloria baru saja meletakkan novel di atas meja ketika Freyana datang menghampiri dengan wajah penuh semangat. Vania menyusul di belakangnya sambil membawa buku catatan, lalu menarik kursi hingga berdecit di lantai kelas. Aeloria mengangkat kepala perlahan, menatap kedua sahabatnya bergantian, kemudian menghela napas panjang. “Kenapa kalian berdua mukanya kayak habis menang undian?” tanyanya. Freyana menyeringai. “Hari ini kita pulang bareng, terus mampir ke kafe baru dekat sekolah.” “Nggak mau.” “Gue belum selesai ngomong!” “Jawaban gue juga belum berubah.” Vania duduk di samping Aeloria, lalu melirik novel yang terbuka di atas meja. “Elo mau menghabiskan waktu sama buku terus? Sesekali keluar, kek. Lagian, Alaric juga katanya mau ikut.” Aeloria langsung menutup novelnya. “Nah, itu masalahnya. Kenapa harus ada dia?” Freyana menepuk meja sambil tertawa. “Pacar sendiri malah dianggap masalah!” “Memang masalah. Kalau dia ikut, pasti berisik, terus ganggu gue makan, ter
Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana menjatuhkan diri di kursi sebelah sambil membawa dua bungkus camilan. Gadis itu menyodorkan salah satunya, tetapi Aeloria hanya melirik sekilas sebelum mengeluarkan novel dari tasnya. Pagi ini ia punya satu misi penting: menyelesaikan bacaan tanpa gangguan siapa pun, terutama pacarnya yang hobi mencari perkara. “Elo baca novel lagi?” tanya Freyana. Aeloria membalik halaman. “Menurut elo gue lagi baca buku resep?” “Galak amat. Gue cuma nanya.” “Pertanyaan elo nggak penting.” Freyana mendengus, lalu membuka camilannya sendiri. “Semoga Alaric kuat, ya, punya pacar kayak elo.” “Kalau nggak kuat, suruh aja putus.” “Yakin?” Aeloria menurunkan novel dan menatapnya tajam. “Freyana Jasmine, jangan mulai!” Tawa Freyana langsung pecah. Sebelum Aeloria sempat melempar sesuatu kepadanya, suara langkah terdengar dari pintu kelas. Alaric muncul bersama Kaizen, membawa sebuah kantong kertas yang langsung membuat Freyana menyenggol
Pagi itu, Aeloria duduk di bangku taman sekolah sambil membaca novel barunya. Sesekali ia membalik halaman, lalu mengernyit ketika suara tawa dari sekelompok siswa di dekatnya semakin keras. Ia menarik napas panjang, berusaha mengabaikan keributan itu, sampai sebuah bayangan menutupi halaman yang sedang dibacanya. “Pagi, Sayang.” Aeloria tidak mengangkat kepala. “Kalau elo mau duduk, duduk. Kalau mau berisik, sana pergi.” Alaric menarik kursi kosong di sebelahnya, kemudian meletakkan sekotak susu cokelat di dekat tangan Aeloria. “Gue bawain minum.” “Gue punya minum.” “Yang elo punya tinggal setengah.” Aeloria melirik botol minumnya, lalu kembali menatap novel. “Elo sekarang kerja jadi pengawas minuman gue?” “Kalau perlu, gue bisa jadi pengawas hidup elo.” Buku Aeloria langsung tertutup dengan suara keras. “Alaric, pagi-pagi jangan bikin gue masuk berita kriminal.” Alaric tertawa, bukannya takut. Ia menyandarkan punggung di bangku dan mengambil novel lain dari tasnya,
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi ketika Aeloria memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia sudah berdiri di depan kelas bersama Freyana dan Vania, sesekali melirik jam tangannya dengan wajah tidak sabar. Alaric berjanji akan menjemputnya tepat waktu untuk pergi ke toko buku, dan Aeloria tidak berniat menunggu lebih lama dari yang seharusnya. “Kalau pacar elo telat lagi, telepon gue. Biar gue yang marahin,” tawar Freyana sambil menyampirkan tas ke bahunya. Aeloria mendengus. “Nggak perlu. Mulut gue masih berfungsi dengan baik.” “Kasihan banget Alaric punya pacar kayak elo.” “Elo mau gue tinggal di sini?” Freyana langsung menggeleng, lalu tertawa sambil berjalan menjauh bersama Vania. Aeloria baru saja hendak mengeluarkan ponselnya ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Alaric turun dari kursi pengemudi dengan senyum lebar, kemudian melambaikan tangan seolah tidak melihat tatapan tajam yang langsung diarahkan kepadanya. “Lima menit,” kata Aeloria begitu Alaric m







