LOGINDi kota Madrid yang dipenuhi keluarga bangsawan, konglomerat, dan rahasia kekuasaan, Academia Real de Velmora berdiri sebagai simbol prestise tertinggi. Tempat para pewaris kerajaan bisnis dididik untuk menjadi penguasa masa depan. Dan tempat orang miskin seperti Valeria Flores seharusnya tidak berada. Valeria hanya ingin lulus dengan tenang. Setelah keluarganya hancur karena perjudian ayahnya, ia hidup bersama ibunya yang trauma terhadap pria kaya dan dunia penuh kekuasaan. Dengan sisa tabungan dan kerja kerasnya, Valeria berhasil masuk akademi elit paling bergengsi di Spanyol. Namun semuanya runtuh saat seorang pria duduk di sebelahnya pada hari pertama sekolah. Alejandro Valencia—pemimpin Elite Council. Pewaris keluarga Valencia. Pria kaya yang bahkan guru tidak berani lawan. Dan jugamasa lalu yang paling ingin Valeria lupakan. Pria yang lebih suka menghancurkan masalah daripada membicarakannya. “Aku tidak butuh kau menyelamatkanku,” ujar Valeria dingin. “Tapi aku ingin,” jawab Alejandro tenang. bagi Alejandro, masa depan tidak pernah rumit. Hanya akan ada Valeria pada kehidupan yang sudah ia rencanakan diam-diam untuk mereka berdua sejak lama. Di tempat paling elit dan paling kejam untuk jatuh cinta, kebencian lama, luka masa lalu, dan cinta yang tidak pernah mati perlahan bertabrakan.
View MoreLucien meminum kopinya pelan sambil memandangi halaman belakang akademi dari balkon.Di bawah sana, beberapa siswa masih berlatih olahraga berkuda di arena pribadi Velmora. Suara derap kaki kuda terdengar samar bersama hembusan angin sore.Valeria berdiri tidak jauh darinya, diam, tenang. Tetapi pikirannya jelas penuh.Lucien meliriknya sekilas. “Kau sedang memikirkan untuk kabur?” tanyanya santai.Valeria menatap kaleng kopi di tangannya. “Sedikit.”“Pilihan bagus.”Valeria mengangkat alis kecil. “Aku kira kau teman Alejandro.” sindirnya “Aku memang temannya.” Lucien terkekeh pendek.“Makanya aku tahu dia merepotkan.”Respon itu membuat Valeria hampir tersenyum lagi.Namun sebelum sempat bicara, suara pintu balkon terbuka. Dan entah kenapa, Valeria langsung tahu siapa yang datang bahkan sebelum menoleh.Alejandro.Langkahnya pelan mendekat, tatapan abu-gelap itu langsung tertuju pada Valeria begitu ia masuk.Lucien memperhatikan itu sambil mendecakkan lidah pelan.“Menyeramkan,” gum
Alejandro menatap ayahnya tanpa berkedip.Tatapannya dingin.Namun bukan dingin biasa, Lucien mengenalnya cukup lama untuk tahu satu hal, Alejandro benar-benar tidak suka saat seseorang mulai ikut campur urusan Valeria.Dan Rafael Valencia baru saja melakukannya. “Jangan libatkan dia,” tantang Alejandro rendah.Rafael merapikan ujung manset jasnya perlahan.Gerakan kecil, tenang dan elegan. “Kau bicara seolah aku akan memakannya.”“Ayah lebih buruk dari itu.”Lucien menahan napas kecil, Berani sekali. Namun Rafael justru tertawa pelan. “Sudah lama kau tidak bicara setajam ini padaku.” Karena biasanya putranya itu hanya diam.Alejandro tidak menjawab, karena ia tahu ayahnya. Kalau Rafael mulai tertarik pada sesuatu, maka itu tidak akan berhenti hanya karena diminta.Dan itu masalahnya. Valeria tidak cocok masuk ke dunia keluarganya. Tidak cocok disentuh permainan keluarga Valencia, Rafael akhirnya melangkah melewati Alejandro. “Aku hanya ingin melihat gadis yang membuat putraku berubah
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Valeria langsung menyadari perubahan kecil itu.Bahu Alejandro menegang tipis. Tatapannya yang tadi masih relatif tenang kini berubah tajam dan datar seperti permukaan kaca.Ekspresi yang membuat orang otomatis berhenti bicara.“Siapa?” tanyanya dengan nada suara rendah. Siswa itu tampak gugup.“Saya tidak tahu… tapi mereka ada di lobby utama.” Alejandro tidak langsung bergerak.Jemarinya mengetuk meja sekali, kebiasaan kecil itu muncul lagi, ia sedang berpikir, atau sedang menahan sesuatu.Lucien yang sejak tadi diam akhirnya berdiri dari kursinya sambil memasukkan tangan ke saku celana.“Kalau mereka datang langsung ke sekolah,” ujarnya santai, “berarti ini bukan urusan ringan.”Valeria memperhatikan mereka bergantian—Ada sesuatu yang aneh.Sangat aneh. Cara semua orang bereaksi terhadap nama keluarga Valencia tidak terdengar seperti keluarga biasa, lebih seperti seseorang baru menyebut badai.Alejandro akhirnya meraih blazernya dari sandaran ku
“Keputusan kelompok tidak bisa diganggu gugat.” Guru itu menutup tabletnya pelan setelah pengumuman selesai.“Evaluasi berlangsung selama satu bulan. Nilai kelompok akan memengaruhi ranking individu kalian.”Suasana kelas langsung dipenuhi suara diskusi kecil. Beberapa siswa terlihat puas karena mendapat rekan pintar, sebagian lain tampak tegang.Dan Valeria…Ia hanya diam. Tatapannya masih tertuju pada layar digital di depan kelas yang menampilkan nama kelompoknya, Alejandro Valencia, Valeria FloresItu terlihat salah.Sangat salah.“Kalau mau pingsan, lakukan nanti saja,” bisik Lucien santai dari kursi depan.Valeria menghela napas pendek. “Aku tidak akan pingsan.” kesal nya.“Bagus. Karena setengah sekolah mungkin iri padamu sekarang.”“Itu bukan hal baik.”Lucien tersenyum kecil. “Memang bukan.” Jujur sekali Lucien menyukai momen ini, karena ia tidak perlu lagi dikaitkan dengan kekasih tersembunyi Alejandro.Valeria memijat pelipisnya pelan. Sementara di sampingnya, Alejandro terl
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.