Share

Part 95

Author: Senia Dea
last update publish date: 2026-10-24 16:49:16

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi ketika Aeloria memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia sudah berdiri di depan kelas bersama Freyana dan Vania, sesekali melirik jam tangannya dengan wajah tidak sabar. Alaric berjanji akan menjemputnya tepat waktu untuk pergi ke toko buku, dan Aeloria tidak berniat menunggu lebih lama dari yang seharusnya.

“Kalau pacar elo telat lagi, telepon gue. Biar gue yang marahin,” tawar Freyana sambil menyampirkan tas ke bahunya.

Aeloria mendengus. “Nggak perlu. M
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 97

    Aeloria baru saja duduk di bangkunya ketika Freyana menjatuhkan diri di kursi sebelah sambil membawa dua bungkus camilan. Gadis itu menyodorkan salah satunya, tetapi Aeloria hanya melirik sekilas sebelum mengeluarkan novel dari tasnya. Pagi ini ia punya satu misi penting: menyelesaikan bacaan tanpa gangguan siapa pun, terutama pacarnya yang hobi mencari perkara. “Elo baca novel lagi?” tanya Freyana. Aeloria membalik halaman. “Menurut elo gue lagi baca buku resep?” “Galak amat. Gue cuma nanya.” “Pertanyaan elo nggak penting.” Freyana mendengus, lalu membuka camilannya sendiri. “Semoga Alaric kuat, ya, punya pacar kayak elo.” “Kalau nggak kuat, suruh aja putus.” “Yakin?” Aeloria menurunkan novel dan menatapnya tajam. “Freyana Jasmine, jangan mulai!” Tawa Freyana langsung pecah. Sebelum Aeloria sempat melempar sesuatu kepadanya, suara langkah terdengar dari pintu kelas. Alaric muncul bersama Kaizen, membawa sebuah kantong kertas yang langsung membuat Freyana menyenggol

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 96

    Pagi itu, Aeloria duduk di bangku taman sekolah sambil membaca novel barunya. Sesekali ia membalik halaman, lalu mengernyit ketika suara tawa dari sekelompok siswa di dekatnya semakin keras. Ia menarik napas panjang, berusaha mengabaikan keributan itu, sampai sebuah bayangan menutupi halaman yang sedang dibacanya. “Pagi, Sayang.” Aeloria tidak mengangkat kepala. “Kalau elo mau duduk, duduk. Kalau mau berisik, sana pergi.” Alaric menarik kursi kosong di sebelahnya, kemudian meletakkan sekotak susu cokelat di dekat tangan Aeloria. “Gue bawain minum.” “Gue punya minum.” “Yang elo punya tinggal setengah.” Aeloria melirik botol minumnya, lalu kembali menatap novel. “Elo sekarang kerja jadi pengawas minuman gue?” “Kalau perlu, gue bisa jadi pengawas hidup elo.” Buku Aeloria langsung tertutup dengan suara keras. “Alaric, pagi-pagi jangan bikin gue masuk berita kriminal.” Alaric tertawa, bukannya takut. Ia menyandarkan punggung di bangku dan mengambil novel lain dari tasnya,

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 95

    Bel pulang sekolah baru saja berbunyi ketika Aeloria memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia sudah berdiri di depan kelas bersama Freyana dan Vania, sesekali melirik jam tangannya dengan wajah tidak sabar. Alaric berjanji akan menjemputnya tepat waktu untuk pergi ke toko buku, dan Aeloria tidak berniat menunggu lebih lama dari yang seharusnya. “Kalau pacar elo telat lagi, telepon gue. Biar gue yang marahin,” tawar Freyana sambil menyampirkan tas ke bahunya. Aeloria mendengus. “Nggak perlu. Mulut gue masih berfungsi dengan baik.” “Kasihan banget Alaric punya pacar kayak elo.” “Elo mau gue tinggal di sini?” Freyana langsung menggeleng, lalu tertawa sambil berjalan menjauh bersama Vania. Aeloria baru saja hendak mengeluarkan ponselnya ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Alaric turun dari kursi pengemudi dengan senyum lebar, kemudian melambaikan tangan seolah tidak melihat tatapan tajam yang langsung diarahkan kepadanya. “Lima menit,” kata Aeloria begitu Alaric m

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 94

    Bel masuk baru saja berbunyi ketika Aeloria melangkah ke kelas dengan wajah kusut. Rambutnya yang tergerai sedikit berantakan karena angin, sementara satu tangannya sibuk merapikan tali tas yang terus melorot dari bahunya. Freyana yang sedang duduk di atas meja langsung menyambutnya dengan senyum lebar, seolah sudah menunggu kesempatan untuk mengganggu sahabatnya itu. “Tumben banget muka elo kayak orang habis ditagih utang,” goda Freyana. Aeloria meletakkan tasnya di kursi, lalu melirik tajam. “Pagi-pagi jangan cari masalah, deh.” “Gue cuma nanya. Semalam jalan sama Alaric, kan? Kok bukannya makin bahagia, elo malah kelihatan kayak mau ngajak berantem satu sekolah?” “Karena pacar gue nyebelin!” Vania yang baru datang langsung menarik kursi di sebelah mereka. “Alaric ngapain lagi?” “Dia jemput gue telat lima belas menit!” Aeloria membuka buku dengan gerakan kasar. “Lima belas menit, Van! Terus pas gue omelin, dia malah senyum-senyum sambil bilang kangen. Emangnya gue bisa disogok

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 93

    Aeloria mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai mobil sambil melirik Alaric yang duduk di sebelahnya. Sejak mereka menyerahkan surat Elvan kepada petugas yang menangani kasus itu, cowok tersebut terus menerima kabar dari Kaizen dan orang-orang yang membantu pencarian. Aeloria sudah berusaha bersabar selama hampir satu jam, tetapi semakin lama menunggu, semakin tipis pula kesabarannya. “Kalau elo masih bilang kita harus nunggu, gue sumpahin elo tidur di teras rumah gue malam ini,” gerutunya. Alaric menoleh, lalu menahan senyum melihat wajah pacarnya yang sudah ditekuk. “Gue belum ngomong apa-apa, Sayang.” “Justru itu! Dari tadi elo diem, natap jalan, terus ngelihatin HP. Kalau ada yang mau elo omongin, omongin aja. Jangan bikin gue penasaran!” “Galak banget.” Alaric mengulurkan tangan, mengusap pelan puncak kepala Aeloria. “Katanya mau semuanya cepat selesai. Gue juga mau itu.” Aeloria menepis tangannya, meskipun beberapa detik kemudian jemarinya justru menyelip di antara jem

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 92

    Aeloria duduk gelisah di ruang tunggu sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Sejak menyerahkan informasi dari pria yang mengenal Elvan, ia belum mendapat kabar terbaru tentang langkah berikutnya. Alaric duduk di sebelahnya, sementara Kaizen sedang berbicara dengan petugas yang menangani penyelidikan. “Kalau mereka bilang kita harus menunggu lagi, gue bisa gila,” gerutu Aeloria sambil melipat kedua tangan di dada. Alaric meliriknya. “Elo udah bilang begitu dari tadi.” “Terus? Elo mau gue bilang apa? Terima kasih sudah membuat gue duduk di sini sampai pantat gue rata?” Alaric menahan tawa. “Gue bisa beliin elo makanan kalau kita selesai.” “Gue bisa beli sendiri!” “Iya, Sayang. Tapi gue mau beliin.” Aeloria mendecakkan lidah, lalu menyandarkan kepala ke bahu Alaric selama beberapa detik. Begitu menyadari apa yang dilakukannya, ia langsung menegakkan badan dan pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Alaric tidak menggodanya, tetapi senyum tipis di wajahnya membuat Aeloria ingin mencubitny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status