LOGINDua tahun kemudian ...Abby memandangi foto pernikahannya dan Zac dengan air mata yang masih menetes. Seharusnya semua tidak jadi seperti ini.Dia seharusnya pergi sejak awal menyadari kehamilan atau mungkin justru sejak dirinya mulai merasakan getaran berbeda di hatinya terhadap Zac.Lelaki itu terlalu naif sehingga terjerat dalam cinta palsu Abby, tetapi bahkan ketika mengetahui itu, dia tetap saja bergeming dan mencintai Abby serta berusaha melupakan kejahatan yang dilakukannya.Zac hanyalah lelaki baik hati yang tersakiti sehingga melampiaskan segalanya dengan cara yang salah. Namun, Abby tersentuh kala sang mertua kembali setelah menjenguk lelaki itu. Raut sendu tergambar di wajahnya?“Apa yang dia katakan?” tanya Abby, penasaran.Sudah sekian kali ayah mertuanya dan juga Gin datang mengunjungi Zac. Mereka bahkan sudah bertanya banyak hal, apakah kasus yang dia hadapi bisa ditangguhkan dengan sejumlah jaminan. Namun, Zac menolak keras niat mereka.“Bagaimana pun aku telah melakuk
Tepat setelah perbincangannya melalui telepon dengan Ashton, Abby merasakan segalanya terjadi begitu cepat. Beberapa petugas kepolisian mendatangi kediaman keluarga Emerson dan membeberkan bukti yang mereka terima mengenai kasus yang dia lakukan terhadap keluarga Anderson.Tersangkanya tentu saja hanya Amanda. Sementara putrinya, Monica, masih belum diketahui keberadaannya dan menghilang layaknya ditelan bumi.Gin membaca berita yang menjadi headline itu dengan seringai puas. Dia sejak awal telah mengetahui banyak rahasia, tentang Alice yang ternyata adalah bibinya, lalu Ashton yang selama ini menjadi layaknya malaikat pencabut nyawa bagi Amanda dan Robert Marra, serta Jude yang merupakan kakak dari Tamara, asisten pribadi Abby di kantor.Itulah sebabnya mereka seolah bersinergi untuk membalaskan dendam atas apa yang telah menimpa James dan Selena serta menjadi pelindung bagi Abby dan Gin.Abby tak percaya begitu mudah semua terkuak dan kini tiba saatnya dia mengatakan pada Zac tentan
Abby masih terganggu dengan ucapan Garry saat makan malam. Dia akan mendapatkan bagian sang ayah dari bisnis yang dikerjakan oleh mereka berdua dulu, tetapi bukan itu yang dia mau.Beruntungnya, Abby masihlah wanita cerdas yang sudah memperkirakan segala yang akan dia hadapi. Dia sempat merekam percakapan antara dirinya dan Garry, dan mendengarkannya berulang kali membuat perasaan Abby semakin tak karuan.Pagi ini, beberapa kali dia keluar masuk kamar mandi karena memuntahkan apa saja yang dia makan. Bahkan saat tak ada lagi yang bisa dia keluarkan, rasa mual yang dia rasakan makin menjadi.Dia jadi curiga dengan apa yang dirasakannya saat ini.“Al, katakan padaku dengan jujur, apakah saat itu, para dokter sudah melakukan aborsi? Katakan apakah janin itu sudah mereka keluarkan?” tanya Abby pada Alice yang meluangkan waktu untuk menjenguknya. Namun, Alice memilih untuk tak mengatakan apa pun.Sebenci apa pun Abby terhadap Zac dan keluarga Emerson, tak seharusnya janin itu jadi korban.
Abby dan Zac sudah berada di ruang makan bersama Garry, tetapi dia tak melihat keberadaan Amanda di mana pun. Abby memutuskan untuk mencari, tetapi tak ingin menunjukkan pada semua bahwa dia memang ingin tahu bagaimana kondisi Amanda setelah mengetahui putrinya menghilang.“Apa saja yang kalian lakukan sampai tak becus menghabisi tikus-tikus itu! Sekarang aku kehilangan jejak putriku.” Wanita itu terisak. “Bagaimana pun caranya, cari dan temukan putriku. Aku tidak peduli dengan Sidney. Aku hanya inginkan Monica. Apakah kau dengar?”Abby sudah cukup mendengar semua. Meski tidak sedari awal, tetapi potongan percakapan antara Amanda dan siapa pun melalui telepon, membuatnya berpikir.Benar jika Alice mengatakan bahwa Amanda-lah yang culas. Dia ingin memiliki segalanya bahkan tak peduli dengan lainnya. Semua hanya tentang dirinya. Lantas bagaimana Garry menghadapi itu semua?Bagaimana bisa dia bertahan sekian lama hidup bersama wanita yang tidak mencintainya? Bahkan di balik punggungnya t
“Apakah hari ini kau ada kesibukan? Ayah dan Ibu meminta kita datang untuk makan malam bersama. Tapi jika kau enggan, tak masalah jika kita todak datang,” ujar Zac sembari bercukur sementara Abby membereskan pakaian kerja Zac yang baru saja selesai dicuci.Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya, membereskan segalanya sendiri. Padahal ada beberapa pelayan yang siap membantu atau melakukan semua untuknya. Untuk sekarang, dia merasa ingin mengerjakan semua, bahkan mengurus segala kebutuhan Zac baik di rumah dan kantor.Gerakannya terhenti kala mendengar perkataan Zac. Seketika itu juga, dia teringat kejadian di hari pernikahannya. Seharusnya dia tak perlu takut dan cukup menanyakan pada Garry apa yang membuat pria itu begitu yakin akan ucapannya. Bisa jadi, kalo ini merupakan kesempatan baginya.Hal lain yang membuat Abby harus melakukannya adalah keterangan Gin, yang mengatakan kalau semua yang terjadi pada keluarga mereka adalah akibat ayah Sidney, Robert Marra. Jika benar, lantas
Alice merasa lega karena dia memilik insting yang cukup bagus terlebih jika itu mengenai sahabatnya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Abby sekarang. Bisa jadi lebih buruk dari ini. Perasaannya tak enak kala mengetahui Abby memintanya untuk mengantar ke sebuah lokasi mencurigakan. Banyak hal yang dia dengar tentang distrik itu. Kriminalitas tinggi, penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Satu lagi yang membuat Alice cemas adalah tingginya tingkat aborsi.Abby mungkin tak akan melakukan itu, tetapi bagaimana jika iya?Alice lantas mengikuti ke mana arah sang sahabat melangkah dan ketika memasuki sebuah gang terpencil, barulah dia tahu kalau instingnya memang tepat. Dia kini menodongkan senjata ke arah para pria berpakaian layaknya dokter dan pegawai medis—Alice tak yakin kalau mereka benar-benar seorang yang berprofesi di bidang tersebut. Seorang dokter tak mungkin akan mengotori titelnya demi perbuatan amoral yang mereka kerjakan sekarang.“Aku adalah detektif Denver,
Abby mengingat pertemuan dengan Ashton, lalu kejadian tak terduga di mana Zac tiba-tiba muncul di kediamannya, serta bagaimana pria itu mengungkapkan perasaan dan kekalutannya menjalani hubungan dengan Sidney, membuatnya seperti orang tak waras.Benarkah Zac merasa kalut? Atau jangan-jangan itu han
Zac dan Sidney, masih dengan topik yang sama, saling melempar argumen satu sama lain. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah, atau setuju dengan keinginan lainnya. Abby bisa memaklumi itu. Andai dirinya menjadi Sidney, dia pun akan melakukan hal yang sama, melindungi kekasihnya dari wanita
Abby terdiam mendengar suara yang tentu saja tak asing di telinga. Sudah menghabiskan air mata selama seharian, dan kini tampak ada yang mulai menggenang lagi. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya dengan suara parau dan wajah sendu. Bukan raut kemarahan yang terulas di wajahnya, melainkan haru, tetap
Abby tepekur sendiri, memikirkan apa yang dikatakan Alice tentang adiknya. Sebegitu sulitkah untuk menemukan pemuda itu? Haruskah dirinya sendiri yang turun tangan dan mencari? Sungguh, dirinya tengah dihajar habis-habisan oleh ujian yang tak kunjung henti. Dia kuat, masih sama sepe







