Share

Bab 8.

Penulis: Neny nina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 15:11:31

Bab 8: Mendapatkan Bantuan

"Aku akan menghajar orang yang berani menyentuh properti keluargaku dengan paksa!" gumam Eden dengan suara rendah namun penuh amarah. Langkahnya berat menapak tanah, mata menyala dengan kemarahan saat melihat pintu rumah kosong yang sudah dikenalnya sejak kecil terbuka lebar.

Namun langkahnya terhenti seketika saat seorang wanita keluar sambil membawa mesin pembersih. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berkilau, wajahnya cantik seperti bidadari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian. Selama hidupnya di kota itu, Eden belum pernah melihat sosok seindah itu.

"Mimpi apa aku semalam..." gumamnya seraya mengucek matanya meskipun tidak terasa gatal. Wajahnya yang tadinya memerah karena marah kini mulai memerah karena pemalu.

"Apa dia orangnya yang mengambil rumah ini?" tanya Eden dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan ia tidak sadar kalau tangannya yang tadinya mengepalkan tinju sudah mulai rileks.

"Iya, Bos! Tadi ada dua orang lagi bersamanya. Pasti mereka sedang di dalam. Mau kami usir saja atau langsung pukul Bos?" tanya salah satu anak buahnya dengan wajah gagah berani.

"Plakk!" Sebuah tamparan keras menghantam pipi pemuda itu, membuatnya terpeleset sedikit ke samping.

"Awwh...." dia mengerang pelan sambil mengusap pipinya yang mulai memerah dan membengkak.

"Kurang ajar! Kamu berani memukul calon Nyonyamu?!" teriak tertahan Eden dengan wajah marah tapi mata tetap terpaku pada wanita di depan sana.

"Apa?! Calon... calon Nyonya?!" pemuda itu terkejut seketika, mata melotot tidak percaya.

Eden tersenyum lebar, matanya menyala dengan semangat baru yang tidak pernah ada sebelumnya. "Betul sekali! Kamu tidak salah dengar. Dia calon Nyonyamu! Ayo kita ke sana—jangan banyak bicara dan jangan membuat wajah marah lagi!"

Sambil mengayunkan tangan untuk memimpin kelompoknya, Eden berjalan dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di belakangnya, pemuda sipembawa pesantadi hanya bisa mengikuti sambil menggerutu pelan, "Dasar buaya darat... Lihat cewek cantik saja langsung lupa marah dan lupa kalau rumah ini milik keluarganya!"

Tadinya, dari kejauhan Selena sudah melihat ada beberapa pemuda bergerombol berjalan ke arah rumah itu. Mesin pembersih yang dia pegang langsung dia matikan dan ditempatkan di sisi tembok.

"Di zaman ini, sangat sulit mencari pekerjaan. Mungkin mereka datang untuk mencari pekerjaan. Kalau begitu, aku akan membantu mereka. Aku akan memberi mereka pekerjaan lalu memberikan upah yang layak untuk mereka," pikir Selena dengan hati yang penuh harap. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena berkeringat.

"Siti, Yesi! Sepertinya kita kedatangan bantuan. Ayo kita keluar," ajaknya kepada kedua wanita yang sedang berkutat membersihkan lantai dan dinding menggunakan alat canggih. Keduanya mengikuti Selena yang mulai mengintip dari balik tirai jendela.

"Sepertinya mereka bukan mau membantu kita, Nyonya... mereka datang dengan wajah yang marah dan beberapa orang bahkan membawa tongkat kayu, Nyonya," bisik Siti dengan suara cemas, tangannya menggenggam lengan Selena sedikit kuat.

"Kalau begitu, kamu tunggu di dalam saja. Biar aku saja yang keluar menghadap mereka. Kalau ada yang salah, kamu dan Yesi segera cari jalan keluar dan hubungi bantuan," kata Selena dengan tenang sebelum membuka pintu dan melangkah keluar dengan wajah yang tetap ramah.

Saat Selena melambaikan tangan untuk menyapa, Lelaki bernama Eden itu langsung tersenyum ramah dan berjalan lebih cepat mendekatinya. Anak buahnya yang tadinya wajah marah kini mulai bingung melihat sikap bos mereka yang tiba-tiba berubah total.

"Halo, Nona cantik. Apa yang kamu lakukan di rumah kosong ini?" tanya Eden dengan senyum yang dibuat selembut mungkin, bahkan ia mencoba merapikan rambutnya yang pendek padahal tidak perlu.

Selena tersenyum ramah, membuat hati Eden langsung berdebar kencang. Siti dan Yesi yang tadi ketakutan melihat wajah marah anak buah Eden akhirnya bernapas lega dan menyusul keluar rumah. Mereka berdiri di belakang Selena dengan sikap siap siaga.

"Tuan-tuan, apa Tuan-tuan sedang mencari pekerjaan?" tanya Selena dengan sopan, bahkan ia sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.

"Pekerjaan?" Eden tertegun seketika. Pikirannya yang tadinya penuh dengan cara untuk merayu Selena kini kosong total. Ia menoleh ke belakang melihat anak buahnya yang juga sama-sama terkejut.

Melihat keterkejutan Eden dan teman-temannya, Selena sedikit heran. "Apa aku salah bicara? Atau mereka bukan untuk mencari kerja?" pikirnya sambil mengerutkan kening pelan.

Sedangkan pembawa pesan dan yang lain saling melempar pandang karena merasa geli dengan pertanyaan Selena yang jauh dari dugaan mereka. Mereka akhirnya tidak bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak. Namun tawa mereka terpaksa berhenti mendadak karena bos mereka menatap dengan tatapan mematikan yang membuat bulu kuduk mereka merinding. Akhirnya mereka menundukkan kepala dan menutup mulut dengan cepat.

Eden kembali menatap ramah kepada Selena yang sedang menunggu jawaban darinya dengan sabar.

"Sebenarnya kami—"

"Nanti saja bicaranya," potong Selena dengan ramah. "Sekarang mari masuk dulu. Kebetulan lantainya sudah kami bersihkan sehingga tidak berdebu lagi. Tunggulah di ruang depan saja ya, kami akan memasak makanan. Kita makan dulu, setelah makan kita bicarakan tentang pekerjaan. Ok?"

"Makan?!" gumam pembawa pesan dan teman-temannya dengan hati yang sangat bahagia. Mata mereka bersinar karena sudah tidak makan sejak pagi hari. Mereka sudah tidak sabar untuk makan dan beberapa di antaranya bahkan sudah menggosok perut yang keroncongan.

"Ayo. Mari masuk," ajak Selena dengan ramah sambil membuka pintu lebih lebar.

Si pembawa pesan dan teman-temannya langsung bergegas masuk tanpa menunggu perintah Eden. Mereka melewati bos mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarang anak buahnya yang sudah lupa diri karena lapar.

"Dasar rakus, kalau dengar kata makan, lupa kalau aku ini bos mereka dan lupa tujuan kita datang ke sini!" gerutu Eden dengan suara pelan sebelum memasuki rumah dengan hati yang penuh rasa penasaran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 8.

    Bab 8: Mendapatkan Bantuan "Aku akan menghajar orang yang berani menyentuh properti keluargaku dengan paksa!" gumam Eden dengan suara rendah namun penuh amarah. Langkahnya berat menapak tanah, mata menyala dengan kemarahan saat melihat pintu rumah kosong yang sudah dikenalnya sejak kecil terbuka lebar. Namun langkahnya terhenti seketika saat seorang wanita keluar sambil membawa mesin pembersih. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berkilau, wajahnya cantik seperti bidadari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian. Selama hidupnya di kota itu, Eden belum pernah melihat sosok seindah itu. "Mimpi apa aku semalam..." gumamnya seraya mengucek matanya meskipun tidak terasa gatal. Wajahnya yang tadinya memerah karena marah kini mulai memerah karena pemalu. "Apa dia orangnya yang mengambil rumah ini?" tanya Eden dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan ia tidak sadar kalau tangannya yang tadinya mengepalkan tinju sudah mulai rileks. "Iya, Bos! Tadi ada dua or

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 7

    Rumah Kosong   "Sekarang kita mau kemana, Nyonya? Apa kita akan kembali ke rumah orang tua Nyonya?" tanya Siti, matanya penuh kekhawatiran. Selena menatap jauh, ingatan tentang cerita yang pernah dia baca menghampiri. Di dalamnya, bahkan mayat sang tokoh tak pernah diterima oleh keluarganya—akhirnya hanya Siti yang setia menguburkannya di tengah hutan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia akan kembali dengan status yang belum jelas? "Untuk sekarang, kita tidak akan kembali ke sana, Siti. Kita akan mulai dari nol, membangun kehidupan baru di sini." "Iya, Nyonya! Kita pasti bisa!" ucap Siti dengan semangat yang sedikit meredakan kesedihan di hati Selena. "Saya juga akan mengikuti dan selalu mendukung Nyonya!" suara lain menyela. Wanita yang baru saja diselamatkan itu berdiri tegak di sisi mereka. "Siapa nama kamu?" tanya Selena dengan lembut. "Nama saya Yesi, Nyonya."

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 6

    Mentari tengah hari memancarkan panasnya seolah ingin mencairkan segala yang ada di bawahnya. Keringat seperti mutiara kecil mulai menetes dari ubun-ubun Selena, mengalir perlahan di lehernya yang terlihat lembut, menjalar ke arah dadanya—menambah pesona wanita berambut panjang yang biasanya terlihat anggun itu. Zarek menelan liur tanpa sadar, mata terfokus pada kulit putihnya yang kini mengkilap karena dibasahi keringat.Namun, rasa terbakar di dadanya akibat harga diri yang terinjak membuat darahnya mendidih. Matanya yang biasanya tajam kini memerah karena amarah, dan dengan gesaan kasar, dia melemparkan batangan emas ke lantai restoran—suara "KLENG!" menggema di ruangan itu."Jangan anggap kamu cantik saja bisa seenaknya menghina diriku!" Suaranya tercekik karena menahan kemarahan, giginya terkunci rapat. Tapi Selena hanya menatapnya dengan wajah yang tetap tenang."Siapa bilang aku menghina kamu? Aku cuma membayarkan harga untuk membebaskan pelayan yang sedang ditindas oleh orang

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 5. Tiba-tiba diajak pulang

    Selena dan Siti sudah berjalan melewati pasar tradisional. Dari semua tempat yang ia kunjungi, dia tidak menemukan makanan yang enak. Atau sekedar aroma makanan enak yang biasa ia hirup dan makan selama berada di dunia. Tapi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi dia tidak sarapan, meronta mintak diisi."Ayo kita makan dulu," ajak Selena."Baiklah Nyonya. Aku juga sudah lapar."Mereka pergi ke sebuah kedai nasi. Mereka memilih restoran mewah."Mau makan apa, Nona?" tanya pelayan kedai."Berikan kami makanan andalan restoran ini.""Baik Nyonya," kata pelayan itu dan bergegas ke dapur restoran untuk memberitahu koki agar menyiapkan menu andalan restoran itu.Tidak berapa lamanya, pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada mereka. Banyak menu yang terhidang di atas meja. Tapi semua itu tidak menggugah seleranya. Bagaimanapun Selena tetap mengisi perutnya yang lapar. Mereka berdua makan makanan itu.Saat mereka sedang makan, terdengar ada keributan di dapur restoran, setelah b

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 4. Tiba-tiba Diusir

    Salah seorang kepercayaan Zarek datang memberikan perintah langsung dari Zarek."Dimana nyonya Selena," tanya Riker kepada Siti. "Saya di sini." Selena sudah berdiri di depannya dengan sebuah tas besar yang berisi baju dan perlengkapannya."Anda siapa?" tanya pria itu dengan kening berkerut karena heran. Namun hati kecilnya memuji kecantikan wanita yang mengaku sebagai Selena."Saya Selena. Ada apa?""Dari suaranya benar nyonya Selena. Tapi kenapa badannya bisa kurus dalam semalam?" batinnya"Iya. Ini adalah Nyonya Selena. Nyonya minum ramuan pelangsing yang bisa membuat butuhnya langsing dalam semalam," beber Siti memastikan kalau yang dihadapannya adalah betul Selena."Ah. Biarinlah. Mau dia Nyonya atau bukan, yang penting dia juga akan pergi dari rumah ini," batinnya lagi."Ok. Saya mendapat perintah dari tuan Zarek. Demi keselamatan calon pewaris yang sedang dikandung Nyonya Liana, terpaksa Nyonya Selena harus pergi dari rumah ini.""Katakan pada Zarek. Aku memang akan pergi dari

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab3. Kejutan selanjutnya ( Tiba-tiba menjadi langsing)

    Waktu terus berputar. Obat pelangsing yang diminum Selena sebelum tidur, mulai bekerja saat Selena sedang terlelap.Di alam mimpi, Selena berada di tempat sebelum ia terdampar ke dunia Fiksi. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri perselingkuhan Damian dengan Lili sahabat karibnya. Mereka asik bercumbu di dalam kamar kost kekasihnya itu. Karena tidak tahan mendengar suara desahan kenikmatan dua manusia yang sedang dirasuki hawa nafsu itu, Selena menendang pintu kostan itu. Jika dengan kekuatan biasa, pintu itu tidak akan terbuka. Yang ada kakinya akan merasa sakit. Tapi karena dia punya ilmu bela diri dan tenaga dalam yang kuat, pintu itu terbuka. Dua orang yang sedang bertelanjang tampak terkejut dan segera meraih selimut untuk menutup tubuh mereka."Zizi! Ini hanya kekilafanku. Maaf, Sayang ...."Zizi, melemparkan kue ulang tahun yang sudah ia siapkan untuk memberi kejutan Demian tepat di mukanya. Mukanya belepotan oleh kue tart yang berwarna putih bercampur dengan coklat. Apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status